Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
76. Malam Pernikahan


__ADS_3

Zhu Man Xie duduk di atas ranjang merah bertabur kelopak bunga mawar dengan penutup kepala merah yang menjuntai di depan wajahnya yang cantik. Di genggaman tangannya terdapat sisa rumahan kue kering yang digenggamkan oleh ibunya ketika ia meninggalkan kediaman. Wajahnya yang tertunduk ke bawah tidak menunjukkan bahwa ia sedang dalam kekacauan hati sekali lagi.


Pesta pernikahan memang berakhir. Suara petasan juga sudah tidak terdengar. Aroma anggur mengguar di udara. Suara tawa terbahak-bahak seakan mencolok Zhu Man Xie yang terduduk diam di ranjangnya dengan kegelisahan hatinya seiring bertambahnya waktu.  


Ini adalah tentang ambisinya. Yang telah mengalahkan akal sehat dan rasa cinta serta kagumnya. Ini adalah tentang dia yang telah membunuh rasa cinta demi ambisinya untuk menjadi seorang Ratu yang akan menjadi wanita paling mulia degan derajat paling tinggi di kekaisaran Shao sehingga semua orang akan menundukkan kepala mereka dengan hormat dimanapun ia berada. Diamankan tatapan iri semua wanita hanya akan tertuju padanya.


Dia tidak akan menyesal untuk hasil seperti itu meskipun ia harus mengorbankan semua hal untuk itu. Bahkan hati dan perasaannya. Ia akan melakukan segalanya demi ambisinya yang tanpa ampun.


"Permaisuri, pesta para pria baru saja selesai. Yang Mulia Raja Yuan akan segera datang. Hamba akan keluar sekarang." He Yuyao, pelayan yang dibawanya dari kediaman Menteri Zhu menghampirinya dengan hormat.


Zhu Man Xie hanya mengangguk ringan. Tidak ada yang menyadari bahwa ia menghela napas saat ia dengan penuh tekad akan membunuh segala perasaannya mulai sekarang. Yang ada, hanya tekad untuk menuju tahta tertinggi diserang Ratu.


Pei Qin Yang yang jarang mabuk malam ini mabuk berat salah meminum jamuan arak bersama para tamu pria lainnya. Dia masuk ke dalam kamar pengantin setelah menghilangkan sedikit mabuknya dengan meminum sup penghilang mabuk.


Pintu terbuka. Zhu Man Xie yang duduk memerasa tangannya di bawah lengan bajunya yang lebar. Matanya menunduk. Takut keraguan kembali menghinggapi hatinya yang ia kuatkan dengan susah payah.


"Maaf membuatmu menunggu lama Xie'er." Pei Qin Yang berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya yang tampan.


"Tidak apa-apa Yang Mulia."


"Baiklah. Xie'er memang gadis yang paling baik." Pei Qin Yang duduk di depan Zhu Man Xie, membuka penutup kepala merah yang menyembunyikan wajah cantiknya dengan sempurna.


Setelah penutup merah terbuka dengan sempurna. Wajah cantik Zhu Man Xie segera terekspos. Senyumnya yang malu-malu membuat wajahnya memerah menambah daya tarik yang mempesona.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik hari ini Xie'er." Pei Qin Yang meraih dagu Zhu Man Xie dan mengangkatnya ke arahnya. Mencium capung bibir merah yang menggoda milik istrinya.


"Malam ini Xie'er milik Yang Mulia sepenuhnya." Zhu Man Xie menatap Pei Qin Yang dengan senyum menawan. Membuat jantung Pei Qin Yang berdegup dengan kencang.


"Aku sangat senang akhir kita dapat menikah." Pei Qin Yang mengelus pipi lembut Zhu Man Xie. Zhu Man Xie mengambil arak pernikahan mereka. Menuangkan ke dalam dua cangkir dan memberikan satu pada Pei Qin Yang.


Untuk membuat langkahnya berjalan lancar, ia sengaja memasukkan obat perangsang pada arak pernikahan mereka.


"Apakah kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya?" Pei Qin Yang bertanya dengan lembut. Mengusap kepala Zhu Man Xie halus. Zhu Man Xie menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Menyembunyikan senyum di wajahnya.


"Mari kita sempurnakan malam pernikahan kita." Pei Qin Yang meraih bahu Zhu Man Xie sebelum mendorongnya dengan pelan terbaring di atas ranjang mereka.


Selanjutnya, suara-suara yang ambigu yang terdengar.  Membuat para pelayan dan kasim yang menunggu di luar kamar menjauh beberapa langkah dengan wajah mereka yang merah.


🐾🐾🐾


Di kediaman raja yang lain, Pei Zhang Xi keluar dengan membanting pintu di belakangnya.  Wajah frustasinya menunjukkan betapa kesalnya dia.


Malam ini, selama perjalanan kembali dari kediaman Raja Tuan di kereta ia membujuk Lu Jing Yu untuk bersedia berhubungan intim dengannya. Setelah ia akhirnya meyakinkan Lu Jing Yu bahwa berhubungan intim selama kehamilan aman selama tidak berlebihan. Ia sudah membayangkan malam ini ia tidak akan lagi menyiksa diri sepanjang malam dengan hanya bisa memeluk tanpa bisa melakukan apapun yang sangat dia inginkan.


Pei Zhang Xi masuk ke dalam kamar mereka dengan bahagia. Senyum merekah di bibirnya seperti pengantin baru yang akan masuk ke dalam kamar penggantinya. Ia dengan tidak sabar menunggu Lu Jing Yu yang serang mandi. Lalu ia juga bergegas mandi setelah Lu Jing Yu selesai. Tetapi yang tidak dia harapkan adalah saat ia selesai mandi, ia mendapati Lu Jing Yu sudah tidur dengan lelap tanpa sedikitpun rasa bersalah di wajahnya yang tenang.


"Yang Mulia, apa Permaisuri  marah dan mengusir Yang Mulia lagi?" Mo Ting yang baru saja sampai mendengar suara pintu ditutup dengan keras dan mendapati wajah Frustasi dan marah yang menjadi satu tidak bisa tidak bertanya.  

__ADS_1


Kejadian saat ia diusir keluar oleh Lu Jing Yu hari itu tidak bisa tidak tersebar di kediaman meskipun hanya beberapa pekan dan penjaga yang mengetahuinya malam itu. Topik itu bahkan menjadi pembicaraan paling ramai diantara para pelayan.


Pei Zhang Xi yang seakan diingatkan akan aib dan kasialannya hari itu segera memelototi Mo Ting tanpa ampun.


"Kalau kamu diam, tidak akan ada yang menganggapmu bisu." Pei Zhang Xi memberikan tatapan galak sebelum berjalan dengan cepat ke arah taman. Sesuatu yang memanas di tubuhnya harus segera ia padamkan.


Melihat Yang Mulianya pergi dengan marah, Mo Ting menoleh dan bertanya pada Mo Han, "Kakak pertama ada apa dengan Yang Mulia? Apakah dia tidak terima diusir oleh  Permaisuri? Lalu kenapa marah padaku?"


"Lebih baik kamu menjaga mulutmu dari sekarang. Jika  tidak, aku tidak akan menghalangi bila Yang Mulia mengusirmu suatu hari nanti." Mo Han juga tidak menjelaskan lebih banyak. Dia pergi setelah mengatakan apa yang perlu ia katakan pada adiknya itu.


Mo Ting yang ditinggalkan dengan rasa tanya di benaknya menggaruk hidungnya tidak mengerti. Xiao Bei dan Chu Fei menggelengkan kepalanya menghadapi tingkat kepekaan Mo Ting yang rendah.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_76♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .

__ADS_1


__ADS_2