
Pei Shi Liang melangkahkan kakinya dengan ringan melewati taman kekaisaran. Ia ingin menemui Lu Jing Yu. Setelah Pei Shi Liang akhirnya mengakui dan menerima Lu Jing Yu sebagai kakak iparnya, ia selalu merasa bahwa kakaknya benar-benar tidak salah menikahi Lu Jing Yu yang ia nilai cakap dalam hal apapun dan selalu ingin bergaul dengan kakak iparnya ini.
Meskipun pada dasarnya Pei Shi Liang lebih menyukai memakai pakaian laki-laki daripada pakaian perempuan yang menurutnya snagat ribet dan terlalu berlebihan, saat berada di dalam istana ia akan tetap berpenampilan seperti gadis-gadis pada umumnya. Memakai hanfu cerah yang cantik dengan riasan tipis menghiasi wajahnya yang cantik serta disempurnakan dengan rambut yang diatur sedemikian rupa dengan beberapa jepit rambut yang indah.
Melihatnya sekilas, semua orang akan sepakat bahwa Pei Shi Liang adalah seorang gadis cantik yang manis. Wajahnya berbentuk lancip dengan mata sipit berbentuk bulan sabit. Alis matanya berbentuk dahan pohon willou seperti melambai dengan anggun. Bibirnya tipis namun berisi. Matanya cerah nan tajam. Hidungnya terbentuk dengan sangat indah. Tidak terlalu tinggi namu. Tidak juga rendah. Berbentuk kecil yang lucu. Melihatnya saja, seorang pemuda tidak diragukan lagi akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Namun jika seseorang memperhatikannya lagi, seseorang akan melihat tangannya yang lebih kokoh daripada gadis lainnya pada umumnya. Kedua lengan Pei Shi Liang memiliki massa otot yang dia dapatkan dari hasil latihannya selama ini. Juga, jika seseorang memperhatikan cara berjalan Pei Shi Liang, gadis ini berjalan bukan dengan anggun dan elegan seperti gadis bangsawan pada umumnya, dia berjalan dengan tegas dan tubuh yang tegap dan kokoh. Gadis pelayan, Xing Xi yang mengikutinya sejak muda bahkan masih saja kesulitan mengejarnya meskipun ia telah terbiasa dan mengikuti Pei Shi Liang sejak lama.
Melihat hal ini, Xian Mu Xuan mengernyitkan alisnya. Ia tidak pernah melihat seorang gadis yang begitu kasar dan sembrono seperti ini sebelumnya. Lihatlah bagaimana ia mengangkat ujung hanfunya. Begitu tidak tahu sopan santun. Bagaimana pun, Xian Mu Xuan adlah seorang putri yang dibesarkan dengan pelajaran etika di setiap tindakannya. Melihat ini ia benar-benar merasa tidak masuk akal.
Kemarin sore, Xian Mu Xuan dan Xia Zi Xuan telah memasuki istana. Sebelum mereka, beberapa utusan dari kerajaan sekitar juga sudah mulai berdatangan. Setiap utusan mendapatkan tempat tinggal yang baik di dalam istana hingga acar penobatan dilaksanakan keesokan harinya. Selama menunggu, mereka dipersilahkan untuk berjalan-jalan di istana kecuali memasuki Harem atau aula pengadilan. Dan hari ini, Xian Mu Xuan memutuskan untuk berjalan-jalan di taman Kekaisaran. Meskipun kerajaan mereka berdekatan, cuaca dan wilayah di kedua kekaisaran cukup berbeda. Jadi pasti Kekaisaran Shao memiliki jenis bunga yang mungkin tidak dimiliki oleh kekaisaran Shixian dan sebaliknya. Ia hanya tidak menyangka akan melihat gadis yang sangat aneh.
"Siapa dia?" Xian Mu Xuan bertanya pada gadis pelayannya.
"Menjawab tuan Putri, dia adalah Putri ke delapan, Putri Pei Shi Liang." Pelayan itu telah bergaul dengan cepat dan memperoleh beberapa informasi penting yang ada di istana.
__ADS_1
"Seorang putri?" Xian Mu Xuan mengangkat alisnya dengan bibir mengerucut.
"Benar Tuan Putri. Namun, putri ke delapan sejak muda memiliki minat pada seni beladiri dan terobsesi pada kakak tirinya, Yang Mulia Putra Mahkota dan merengek kepada Kaisar untuk mengizinkan nya berlatih beladiri daripada etika. Namun karena hal ini bertentangan dengan aturan, permintaan itu langsung dilarang oleh Kaisar. Siapa yang menyangka jika pada akhirnya Putri ke delapan ini bahkan mengancam akan mogok makan sebelum keinginan nya dipenuhi. Itulah sebabnya akhirnya karena tidak tega melihat putrinya menderita, Kaisar pun mengizinkan nya dengan syarat putri ke delapan tetap mempelajari Etika."
"Pantas saja tingkahnya begitu kasar. Aku ragu akan ada pangeran yang akan mau menikahi seorang putri yang seperti ini." Xian Mu Xuan melirik jijik Pei Shi Liang yang hanya terlihat punggung nya yang terlihat tegak di ujung jalan. Pelayan itu hanya diam tanpa berani menjawab. Sebagai seorang pelayan kecil seperti nya, ia tidak memiliki hak untuk menilai seorang putri bagaimanapun itu. Jika ada orang yang mendengarnya, tentu saja ia tidak akan sanggup menanggung akibatnya.
Di sisi lain istana yang biasanya damai, suara-suara yang ramai terdengar memeriahkan suasana. Suara dua orang dewasa yang sedang berbicara dengan seorang bayi yang belum bisa bicara dan bahkan hanya bisa berbaring di tempatnya. Namun meskipun tidak ada yang mengerti, bayi itu sepertinya menjawab setiap kali orang tuanya berbucara padanya dengan suara-suara yang lucu yang mampu membuat orang yang mendengarnya tidak bisa tidak berhenti tersenyum.
Besok adalah hari besar keluarga itu. Setelah hari itu, Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu akhirnya akan resmi menyandang gelar mereka yang diakui oleh semua kerajaan tetangga. Selain orang tuanya, sang bayi yang genap berusia satu bulan juga akan diberi nama pada hari itu. Dan karena besok adalah hari yang bahagia sekaligus menjadi hari yang penting dan sibuk, Pei Zhang Xi akhirnya memiliki hari liburnya setelah sebelumnya ia hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat karena harus mengawasi dan mengerjakan banyak hal.
"Itu karena Yang Mulia jarang kembali pada siang hari. Yang Mulia tidak mengetahui bagaimana nakalnya dia setiap harinya. Dia masih sangat kecil saja telah berhasil mencuri hati semua gadis di sini." Lu Jing Yu berbicara pada Pei Zhang Xi, namun pandangan matanya sejak awal tidak pernah beralih dari putranya yang balas menatapnya dengan membuk bibir mungilnya dan mengeluarkan suara yang lucu.
"Apa? Kamu protes tidak terima? Bukankah semua gadis pelayan di sini pada akhirnya menempatkanmu di mata mereka." Lu Jing Yu mencubit ringan pucuk hidung bayinya.
"Itu karena putra kita tampan. Dia adalah putraku. Tentu saja harus mewarisi ketampananku." Bayi yang masih terbaring itu seperti mengerti jik dia sedang dibela oleh ayahnya. Dia tersenyum lebar membuka mulutnya. Memperlihatkan giginya yang masih ompong.
__ADS_1
"Lihatlah dia begitu tampan. Tidak ada yang akan menolak pesonanya. Bukankah kamu juga terpesona pada pesonaku ini?" Pei Zhang Xi mengangkat alisnya yang tajam beberapa kali. Membuat Lu Jing Yu bergidik ngeri. Dengan alis yang tajam seperti pedang itu, ia terangkat seperti sebilah pedang yang siap menebas sesuatu.
Bunkan hanya Lu Jing Yu yang merasa aneh melihat ekspresi Pei Zhang Xi, bayi mereka juga merasakan hal sama dan mulai menangis keras. Dengan cepat air mata membasahi kedua pipi gembul bayi itu.
"Kenapa dia tiba-tiba menangis?" Pei Zhang Xi panik saat bayi yang sejak awal begitu damai dan bahagia tiba-tiba saja menangis.
Lu Jing Yu mengangkat bayi itu dan segera menempatkannya di atas pangkuannya untuk diberikan asi. Ia melakukannya dengan tenang tanpa merasa panik seperti Pei Zhang Xi sedikitpun karena ia tahu apa yang membuat putranya itu menangis.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_163🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟