Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 170


__ADS_3

Lu Jing Yu menatap Pei Zhang Xi yang tepat berada di depannya. Ia mendongak untuk melihat pria yang begitu dekat dengannya. Pei Zhang Xi yang saat ini sedang serius menggambar alis untuk Lu Jing Yu terlihat seratus kali lebih tampan di mata Lu Jing Yu sehingga Lu Jing Yu lagi-lagi terperdaya dan jatuh ke dalam pasonananya lagi dan lagi. Di matanya hanya ada Pei Zhang Xi tanpa ada tempat untuk orang lainnya.


Namun nyatanya, mata Pei Zhang Xi bahkan lebih dalam dari itu. Mata itu selain dipenuhi dengan bayangan Lu Jing Yu yang cantik, kedua mata tajam Pei Zhang Xi telah menghilang sepenuhnya dan berganti dnegan kelembutan yang sangat jarang terlihat dan bahkan dipenuhi dengan cinta.


Di permukaan yang dilihat semua orang adalah bahwa Pei Zhang Xi sedang serius menggambar alis untuk Lu Jing Yu, namun tidak ada yang tahu bahkan Lu Jing Yu sekalipun bahwa Pei Zhang Xi sebenarnya sedang memperhatikan setiap inci wajah cantik Lu Jing Yu. Ia harus menikmati keindahan istrinya terlebih dahulu sebelum semua orang melihatnya. Dengan begitu ia tidak akan merasa kerugian besar dengan menunjukkan Lu Jing Yu pada semua orang.


"Yang Mulia, apa belum selesai?" Lu Jing Yu bagaimanapun mendongak sejak awal. Lehernya mulai terasa pegal tidak peduli seberapa besar ia mencintai Pei Zhang Xi dan menyukai memperhatikan wajah suaminya itu.


"Sudah. Sekarang sudah terlihat bagus untukmu." Pei Zhang Xi meletakkan pensil alis tanpa mengalihkan pandangannya dari Lu Jing Yu. Tangannya juga mulai bergerak dan memegang ujung bibirnya dan bersiap untuk menciumnya sebelum Lu Jing Yu mendorongnya.


"Ada banyak orang yang melihat kita Yang Mulia." Lu Jing Yu menundukkan kepalanya dengan malu-malu. Di dua kehidupan nya, dia hanya pernah berhubungan dengan Pei Zhang Xi, jadi ia sangat mudah tersipu malu dengan hanya sedikit hal romantis saja.


"Jadi kalau tidak ada orang di sekitar, aku boleh melakukannya?" Pei Zhang Xi menggerakkan ibu jarinya di atas bibir lembut Lu Jing Yu yang hari ini memiliki warna merah yang cerah. Tampak menggoda seseorang untuk mencicipinya.


"Ti.."


"Kalian semua keluarlah." Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Pei Zhang Xi sudah memotongnya dan memerintahkan semua pelayan yang tersisa di dalam ruangan untuk keluar. Kebanyakan dari mereka adalah pelayan muda yang masih belum memiliki banyak pengalaman. Melihat kemesraan antara pasangan itu membuat pipi mereka memerah saat mereka keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan perlahan.


"Ah! Untung saja Yang Mulia membiarkan kita keluar. Jika tidak aku rasa aku akan menguap sebentar lagi melihat mereka." Salah satu pelayan berkata setelah ia menghela napas sambil mengipasi wajahnya yang terasa panas.


Belum lagi pelayan yang baru beberapa kali melayani Lu Jing Yu sejak Lu Jing Yu masuk ke dalam istana, Xiao Bei saja yang sudah sering melihat keduanya memamerkan cinta mereka masih merasa bahwa ia juga akan terbakar pada detik berikutnya.

__ADS_1


"Aku juga sama. Apa kamu melihat mata yang Mulia Putra Mahkota begitu lembut saat menatap Yang Mulia Putri Mahkota? Aku belum pernah melihat mata Yang Mulia. Tidak. Seharusnya aku juga tidak pernah melihat di mata pria manapun cinta yang begitu besar. Di mata Yang Mulia Putra Mahkota hanya ada yang Mulia Putri Mahkota. Begitu banyak cinta yang terlihat."


"Benar benar. Dan putri mahkota. Dia tampan seperti seorang gadis muda yang baru pertama kali jatuh cinta. Yang Mulia Putra dan Putri Mahkota benar-benar pasangan yang sangat serasi dan membuat orang iri."


"Aku heran bagaimana kak Xiao Bei menghadapi pemandangan menyilaukan mata seperti itu setiap hari di masa lalu." Setelah seorang pelayan berkata, semua pelayan menoleh dan melihat Xiao Bei yang nyatanya sama dengan mereka. Memiliki wajah merah dan mata yang tak dapat ditebak apa yang ada di dalamnya.


"Ehem! Bukankah tidak baik menggosipkan junjungan kalian dnegan bebas? Jika kalian begitu banyak waktu luang, bersihkan kolam teratai sebelum kita akan pindah nanti."


"Uhuk! Maafkan kami kak Xiao Bei. Kami hanya tidak tahan."


"Huh! Utusan junjungan kita tidak ada hak bagi pelayan rendah seperti kita untuk ikut campur. Apalagi menilainya."


"Kami mengerti kak Xiao Bei. Kami tidak akan mengulanginya lagi."


Pei Zhang Xi mengernyitkan alisnya melihat reaksi Lu Jing Yu yang tidak ia duga sebelumnya. "Kenapa kamu tertawa begitu senang? Apa karena kamu akhirnya mengakui jika kemampuan ciumanku semakin baik?" Tanya Pei Zhang Xi narsis.


"Huh! Omong kosong apa? Coba lihat apa yang aku tertawakan." Lu Jing Yu memberikan cermin pada Pei Zhang Xi sebelum ia mengambil lap basah dan membersihkan pewarna bibir yang berantakan di sekitar bibir Pei Zhang Xi dengan lembut. Lu Jing Yu masih tidak bisa menahan senyumnya saat ia melihat betapa dalamnya mereka berciuman beberapa saat yang lalu hingga membuat semuanya berantakan.


"Yu'er, tidakkah kamu tahu jika hari ini kamu tampak sangat cantik sekali." Ucap Pei Zhang Xi tulus saat ia kembali memegang pipi Lu Jing Yu.


"Hentikan rayuan gombalmu Yang Mulia. Biarkan aku membersihkan bibirmu atau semua orang akan menertawakan mu nanti." Lu Jing Yu menepis tangan Pei Zhang Xi di pipinya. Tidak dapat ia pungkiri jika dirinya tersentuh mendengar pujian Pei Zhang Xi untuknya.

__ADS_1


"Aku tidak berbohong. Jika mungkin, bisakah kamu tidak keluar saja hari ini. Aku masih tidak rela membagi kecantikan mu dengan orang lain." Pei Zhang Xi berkata yang sesungguhnya. Ia masih tidak dapat membayangkan bagaimana jika pria lain melihat Lu Jing Yu dan mengaguminya. Ia benar-benar tidak rela!


"Yang Mulia. Jangan mulai kekanak-kanakan." Lu Jing Yu mengeringkan bibir Pei Zhang Xi yang telah selesai ia bersihkan. Ia juga bersiap untuk membersihkan bibirnya sendiri sebelum bisa ia perbaiki.


"Bagaimana kalau menggunakan cadar saja?" Ucap Pei Zhang Xi penuh harap. 'Dengan begitu kecantikanmu akan tersimpan hanya untukku.' Lanjut Pei Zhang Xi dalam hati.


"Tentu saja tidak bisa Yang Mulia. Ada ada saja."


"Tapi aku benar-benar tidak rela membiarkan mereka melihat kecantikan mu." Pei Zhang Xi memeluk Lu Jing Yu yang sedang memperbaiki pewarna bibirnya dari belakang.


"Lalu apa? Yang Mulia, mereka hanya bisa melihatku saja. Yang memiliki hatiku adalah Yang Mulia pada akhirnya kan? Tidak ada orang lain yang dapat melakukan nya selain Yang Mulia." Lu Jing Yu mengelus tangan Pei Zhang Xi. Ia sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Perasaan kritis untuk melindungi miliknya agar tidak ada orang lain yang berniat memiliki nya. Namun mereka sudah memilih jalan ini. Apapun halangan dan hambatan harus mereka hadapi bersama.


"Kamu benar. Mo Han juga telah melaporkan bahwa mereka sudah tidak sabar dan mulai bergerak. Kita harus segera berangkat. Jika kita terlambat, mungkin kita akan ketinggalan drama yang menyenangkan."


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_170🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2