Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 265. Berlatih


__ADS_3

Dengan kepergian dua penjaga terakhir, seorang pria yang sejak awal bersembunyi segera masuk ke dalam penjara bawah tanah. Dengan mengencangkan jubah hitamnya yang kusam. Berjalan dengan hati-hati saat ia menghindari para penjaga di dalam lorong.


Begitu pria itu masuk ke dalam penjara. Suara-suara yang ambigu mulai terdengar. Suara-suara teriakan, rintihan dan suara keputusasaan lainnya terdengar di udara. Meskipun malam telah tiba, masih banyak tahanan yang masih menerima hukuman. Para penjaga tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan pengakuan yang mereka harapkan.


Mengabaikan semua suara yang menggema di seluruh ruangan, pria itu melangkah maju dengan pasti. Menuju tempat terdalam dalam penjara bawah tanah itu.


"Hei kenapa makananmu tidak pernah dimakan hah!" Suara bentakan terdengar dari ujung lorong. Pria itu memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatan nya. Dan benar saja, pria yang ada di dalam sel penjara itu adalah Pei Zhong Min, majikannya. Pria itu segera bersembunyi agar tidak ketahuan karena ada seorang penjaga yang berada di depan sel tahanan Pei Zhong Min.


Pria itu memandang Pei Zhong Min dengan tatapan yang rumit. Ini masih satu hari majikannya ditahan di tempat ini. Namun penampilan majikannya sangat kontras dari hari-hari biasa.


Pakaian putihnya sudah bernoda darah. Terdapat luka bekas cambukan di beberapa tempat. Wajahnya yang tampan juga sudah dinodai dengan warna biru dan hitam di bagian mata dan pipinya. Bagaimana bisa majikannya berakhir seperti itu?


Pei Zhong Min hanya diam tanpa menanggapi. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun. Ia hanya duduk di lantai tanpa alas. Menekuk kaki kanannya sementara kaki kiri lurus ke depan. Namun meskipun ia telah berada dalam kondisi yang sedemikian, wajahnya masih sama angkuhnya seperti biasanya.


"Ada apa?" Seorang penjaga lain datang setelah mendengar keributan.


"Dia tidak makan makanannya lagi." Jawab prianitu berbalik dengan kesal. Membanting piringnya ke atas kerangjang makanan setelah menunjukannya kepada rekannya.


"Eh... Biarkan saja. Dia telah biasa makan makanan mewah sejak masih muda. Bagaimana dia bisa tahan dengan makanan penjara?"


"Kamu benar. Tapi sangat sia-sia memberikan makanan padanya."


"Ya sudah. Kalau dia tidak mau lebih baik tidak perlu mengirim padanya lagi sebelum makanan sebelumnya habis."


Penjaga itu berpikir sebentar sebelum mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu." Lalu ia memandang Pei Zhong Min yang masih mengabaikannya dan berbicara dengan sombong. "hei dengar, kalau kamu tidak memakan makanan ini, aku tidak akan mengirim makanan lagi kemari. Kamu harus tahu di luar sana bahkan masih banyak orang yang kesulitan dengan makanan. Kamu masih punya nasib baik dengan makan teratur sebelum kamu mati setelah hari berkabung Ibu Suri berakhir." Ucapnya tanpa henti. "Hei kau dengar tidak?!" Lanjutnya sambil berteriak. Ia merasa apa yang dia lakukan sangat sia-sia.

__ADS_1


"Sudahlah biarkan saja dia. Lagipula tidak ada bedanya dia makan apa tidak. Bukankah dia akan segera mati? Lebih baik makanan ini diberikan pada orang lain yang bisa menghargainya."


"Kamu benar." Pria itu mengambil kembali piring yang berisi makanan sisa pagi hari dan menukarnya dengan makanan yang baru saja ia masukkan. "Begini lebih baik. Huh!" Penjaga itu mendengus.


"Sudahlah jangan buang waktu untuk orang yang sudah akan mati. Di sini baunya uh! Ayo keluar." Saat mengatakannya, rasa jijik sangat terlihat di wajahnya. Meskipun para penjaga ini berada di dalam penjara bawah tanah ini cukup lama, mereka masih tidak bisa terbiasa dengan baunya.


Kedua penjaga itu mendengus dan segera pergi tanpa berbalik sedikit pun. Mereka masih berbicara hingga mereka lenyap di tikungan lorong.


Melihat kedua penjaga yang sudhs pergi, pria itu segera keluar dari persembunyiannya dan pergi menghadap Pei Zhong Min.


"Yang Mulia. Tolong hukum bawahan ini. Bawahan ini tidak kompeten." Pria itu dengan segera berlutut di depan sel penjara Pei Zhong Min. Ia berhasil lolos dari penangkapan karena ia tidak ikut dalam pemberontakan di istana. Ia sedang menjalankan misi lain di luar ibukota. Saat ia tidak menyangka akan menerima kabar jika pemberontakan dapat digagalkan dan semua orang, termasuk junjungannya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah.


Sejak itu, ia telah mengawasi situasi dan mencari kesempatan untuk mengeluarkan Pei Zhong Min dari penjara. Namun baru kali ini ia memiliki kesempatan. Saat ia melihat keadaan junjungannya, ia merasa sangat bersalah dan tidak kompeten sebagai seorang bawahan.


Pei Zhong Min menoleh saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia melihat anak buahnya yang setia sedang berlutut di depan selnya. "Bangunlah. Cepat keluarkan aku dari sini."


***


Keadaan di dalam penjara bawah penjara yang suram dan dingin berbanding terbalik dengan keadaan yang ada di sebuah kamar di istana timur. Kaisar Pei An Long mungkin telah menyetujui usulannya untuk menghilangkan ingatan anggota keluarga para pemberontak yang bersedia melakukannya dan menggantinya dengan menancapkan kepercayaan kepada istana, tetapi Lu Jing Yu masih belum terlalu percaya diri untuk berhasil melakukan nya.


Bagaimana pun, pengalamannya menghipnotis Pei Zhang Xi hari itu adalah pengalaman pertama dan mungkim hanya sekedar kebetulan dan keberuntungan untuk nya. Apalagi tingkat keberhasilan hipnotis paling banyak tergantung pada kekuatan mental seseorang. Jika kekuatan mental orang itu kuat dan mampu melawan, akan sangat sulit mengendalikan pikiran mereka.


Selain itu, orang yang akan dia hipnotis bukanlah sembarang orang melainkan keluarga pemberontak yang memiliki kemungkinan besar bagi mereka untuk memberontak demi balas dendam suatu hari nanti. Jadi, untuk meminimalisir kemungkinan itu, ia harus dapat memastikan jika hipnotisnya berhasil tanpa celah.


Oleh karena itu, sejak Kaisar Pei An Long mengatakan bahwa ia akan mempertimbangkan keputusan nya, ia telah berlatih untuk menghipnotis beberapa orang yang tinggal di istana timur mulai dari pelayan sampai penjaga untuk berlatih. Ia akan meminta semua orang untuk mencoba melawan apa yang ingin dia katakan. Beberapa orang dapat dengan mudah dicuci otaknya oleh Lu Jing Yu tetapi beberapa dari mereka memiliki kekuatan mental dan kemampuan yang kuat sehingga Lu Jing Yu gagal menghipnotis mereka. Namun setiap kali gagal, Lu Jing Yu tidak menyerah melainkan terus berusaha menghipnotis orang itu hingga ia berhasil.

__ADS_1


Chu Fei adalah salah satu orang yang sangat sulit dia kalahkan. Ia telah mencoba menghipnotis Chu Fei sebanyak tiga kali tetapi ia masih saja gagal. Saat ini, setelah makan malam, ia kembali memangil Chu Fei untuk mencobanya lagi.


"Yang Mulia, tolong diamlah sebentar. Biarkan aku konsentrasi." Pei Zhang Xi sudah kesal setelah ia diabaikan sepanjang sore. Dia telah mencoba sabar dan berharap ia akan memiliki malam yang tenang bersama dengan Lu Jing Yu, namun nyatanya, istrinya ini benar-benar tidak berperasaan dan kembali mengabaikannya bahkan saat malam hari telah tiba. Jadi sebagai bentuk protesnya, ia dengan sengaja membuat keributan untuk membuat Lu Jing Yu terpaksa berhenti dan berganti memperhatikannya.


"Yu'er, kamu sudah melakukannya beberapa kali sejak tadi. Sekarang sebaiknya kamu pergi beristirahat dulu." Pei Zhang Xi berkata dengan serius.


"Tapi aku belum berhasil mengalahkan Chu Fei sejak tadi." Lu Jing Yu menghela napas. Jika ia tidak bisa mengalahkan Chu Fei, bagaimana jika ada orang yang memiliki kekuatan mental lebih besar dari Chu Fei yang menjadi lawannya nanti.


"Mungkin karena kamu sudah terlalu lelah." Pei Zhang Xi meraih tangan Lu Jing Yu. Melambaikan tangan pada Chu Fei untuk mengisyaratkan padanya untuk segera keluar dari ruangan itu.


"Huh! Tapi aku benar-benar khawatir jika aku gagal menjalankan tugas ini dan mengacaukan segalanya. Bayangkan jika aku gagal, mungkin saja seseorang akan diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam." Lu Jing Yu menghela napas. Saat ini ia memang sudah lelah.


"Jangan terlalu menyiksa diri. Jika ada yang bersikeras melawan, itu artinya mereka memang tidak memiliki niat untuk melepaskan semuanya. Kamu tidak perlu membuang waktu untuk orang seperti itu. Tempat yang paling tepat untuk mereka adalah di dalam penjara." Mendengar perkataan Pei Zhang Xi, Lu Jing Yu menghela napas. Apa yang dikatakan Pei Zhang Xi benar. Jika memang itu adalah pilihan mereka, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_265🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


__ADS_2