
Ruangan yang berada tepat di sebelah telah lama kosong saat Lu Jing Yu dan yang lainnya keluar. Lu Jing Yu makan meskipun hanya beberapa suap saja. Chu Fei dan Pengawal Lin bertugas untuk menyelesaikan makanan mereka. Jika makanan yang mereka pesan masih tersisa banyak, bisa saja mereka akan curiga jika mereka melakukan sesuatu di dalam ruangan karena mereka melarang para pelayan masuk tanpa perintah.
Pada saat keluar dari ruangan, Lu Jing Yu telah berhasil mengembalikan ketenangan nya. Ekspresi sombong dan angkuh khas nona muda bangsawan yang manja telah berhasil ia kembalikan. Dengan ekspresi angkuhnya, Lu Jing Yu berjalan keluar dari ruangan dan menuruni tangga. Di belakangnya, Chu Fei tidak kalah angkuhnya. Dari ketiganya, hanya pengawal Lin yang tidak menunjukkan wajah angkuh pada saat memandang semua orang. Namun ekspresi nya adalah dingin yang tak tersentuh. Laki-laki itu berjalan paling belakang. Dia juga yang membayar biaya sewa dan makanan pada pelayan yang menunggu di meja kasir saat mereka keluar dari restoran.
"Yang Mulia, apa lagi yang akan kita lakukan sekarang?" Chu Fei bertanya begitu mereka keluar dari restoran.
"Kita kembali ke istana terlebih dahulu. Hari sudah hampir petang. Tidak baik meninggalkan Hui'er terlalu lama."
"Yang Mulia benar. Lagipula Yang Mulia Putra Mahkota juga akan segera pulang. Dengan begitu akan lebih mudah melaporkan segalanya." Chu Fei mengangguk setuju. Ia berjalan di belakang Lu Jing Yu yang berjalan ke arah gang dimana kereta mereka diparkirkan di sebuah penginapan.
"Pengawal Lin, apakah kamu mengenali semua orang di dalam ruangan tadi?" Lu Jing Yu melirik Pengawal Lin yang berjalan paling belakang.
"Ya Yang Mulia. Meskipun hamba tidak mengenal seluruhnya karena suara mereka yang tidak begitu jelas, hamba bisa mengenali sebagian besar dari mereka." Jawab pengawal Lin.
"Itu bagus. Pekerjaan akan lebih ringan dengan itu. Lalu untuk sebagian yang lain, masih bisa diperiksa lagi setelah Yang Mulia mengetahuinya." Lu Jing Yu mengangguk puas sebelum ia naik ke atas kereta dibantu oleh Chu Fei.
Sementara Lu Jing Yu menjalankan misinya, Pei Zhang Xi juga dalam misi yang hampir sama. Namun Pei Zhang Xi mendapatkan hal yang lebih banyak bukti dari pertemuannya kali ini.
Saat ini, Pei Zhang Xi berada di dalam sebuah kedai teh di pinggir jalan. Bersama denga seorang pria paruh baya yang memiliki penampilan ya g sangat misterius. Tudung besar menutupi seluruh wajahnya hingga tidak ada sedikit pun bagian dari wajahnya yang terlihat. Namun dilihat dari bahan kain pakaiannya, dia jelas bukan berasal dari kalangan biasa.
Entah dari mana dan bagaimana cara pria itu mendapatkan semua bukti yang dia berikan pada Pei Zhang Xi, semua bukti itu lengkap dan akurat. Disertai dengan nama para saksi yang bisa dicari.
Namun memberikan semua barang itu dengan sangat mudah pada Pei Zhang Xi tanpa sedikitpun imbalan sangatlah mencurigakan. Pei Zhang Xi memandang semua bukti di atas meja dengan heran.
"Mengapa tuan memberikan semua ini pada saya?" Pei Zhang Xi menyesap tehnya saat ia bertanya.
"Mudah saja. Karena saya tidak menyukai perilaku mereka yang semena-mena. Mereka yang menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil sudah seharusnya diberantas." Jawab pria itu dengan santai meskipun kalimatnya sebenarnya cukup kejam.
__ADS_1
"Err... Baiklah. Tapi kenapa tuan memberikannya pada saya? Saya juga bukannya orang yang tidak memiliki kedudukan. Bagaimana jika saya menggunakan semua ini untuk kepentingan pribadi saya?" Bibir Pei Zhang Xi berkedut mendengar kalimat pria itu. Lalu, Pei Zhang Xi masih belum bisa menentukan apakah orang ini benar-benar berada di pihaknya atau pihak lawan, dia berniat untuk mencari informasi sekali lagi.
"Itu tidak mungkin. Aku sudah lama memperhatikan semuanya dan tahu siapa saja yang bermain kotor dan siapa yang tidak."
"Mmm. Bukankah Anda terlalu percaya diri terhadap penilaian sepihak anda? Sifat setiap orang selalu berubah-ubah setiap saat. Apakah anda tidak takut jika saya ternyata tidak seperti yang anda kira?"
"Sifat setiap orang bisa berubah. Tetapi karakter seseorang tidak akan pernah." Pria itu menjawab dengan percaya diri. Membungkam Pei Zhang Xi sehingga dia tidak bisa berkata-kata.
"Baiklah. Akalau begitu anggap saja seperti itu. Karena tuan telah mempercayakan semua ini pada saya, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menggunakannya dengan baik." Pei Zhang Xi akhirnya menyerah untuk menguji pria itu. Lagipula pria itu tidak membuatnya berada dalam kerugian bahkan memberikan banyak keuntungan baginya.
Setelah mencapai kesepakatan itu, kedua pria itu diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Keheningan antara dua laki-laki itu pecah saat Mo Han masuk ke dalam ruangan dan membisikkan beberapa kalimat di telinga Pei Zhang Xi yang membuat ekspresi pria itu berubah.
Pei Zhang Xi tidak mungkin meninggalkan Lu Jing Yu dan Pei Zhi Hui yang merupakan harta paling berharga nya tanpa pengawasan begitu saja. Tapi karena ia mengetahui jika istrinya itu tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, ia hanya bisa memerintahkan beberapa pengawal terlatih untuk mengikuti mereka dari jauh dan segera melapor jika ada sesuatu yang aneh.
"Lalu dimana putri Mahkota saat ini?"
"Yang Mulia masuk ke dalam toko pakaian ketika mereka melapor." Jawab Mo Han. Namun wajah Mo Han jelas menunjukan jika masih ada yang mengganjal di hatinya yang ingin dia katakan.
"Ada apa?" Pei Zhang Xi menyadari perubahan wajah Mo Han dan bertanya.
"Ini... Yang Mulia, putri Mahkota sepertinya melakukan sesuatu yang aneh." Jawab Mo Han agak ragu.
"Aneh?" Pei Zhang Xi mengerutkan alisnya.
"Ya Yang Mulia. Sebelumnya putri Mahkota terlihat seperti ingin pergi berbelanja. Namun setelah beberapa saat, putri Mahkota bahkan tidak pergi ke sebuah toko melainkan pergi ke sebuah gang kecil dengan pelayannya dan pengawal Lin. Di gang kecil itu, pengawal Lin bahkan sempat berlutut sebelum mereka tampaknya membicarakan sesuatu dengan serius." Mo Han menjelaskan seperti yang dilaporkan oleh anak buahnya.
__ADS_1
"Apa mereka tidak mendengar apa yang dikatakan putri Mahkota pada mereka?" Pei Zhang Xi menaikkan alisnya. Anak buahnya terlatih dan dapat dengan mudah menguping pembicaraan orang lain. Apalagi mereka berada di sebuah gang.
"Sayangnya tidak Yang Mulia. Sepertinya Yang Mulia Putri Mahkota sengaja memilih tempat yang tidak memberikan kesempatan orang lain untuk menguping." Alis tajam Pei Zhang Xi semakin menyatu. Apakah mungkin istrinya itu mampu melakukan seperti itu?
"Aku mengerti. Minta mereka untuk terus ikuti Putri Mahkota dan laporkan secara berkala mengenai apa saja yang dilakukan nya dan dimana saja dia berada."
"Baik Yang Mulia." Mo Han mengangguk dengan patuh sebelum ia kembali ke kuar dari ruangan.
Pei Zhang Xi kembali memusatkan perhatian nya pada pria yang ada di depannya yang terlihat santai dengan teh miliknya. Pei Zhang Xi tidak mengetahui jika sebenarnya pria itu mendengar semua pertukaran nya dengan Mo Han dengan jelas meskipun sebenarnya kedua orang itu melakukannya dengan nya dengan hati-hati saat mereka menggunakan suara yang sangat lemah.
"Mohon maaf tuan. Karena sepertinya tidak ada lagi yang akan kita bicarakan, saya mohon pamit terlebih dahulu." Pei Zhang Xi segera menyimpan semua barang di atas meja sebelum berdiri.
"Silahkan Yang Mulia." Laki-laki itu juga berdiri dan memberikan hormat. Menatap barang-barang yang dibawa Pei Zhang Xi dengan hati-hati hingga Pei Zhang Xi menghilang di balik pintu kedai.
"Hei pak tua! Hari ini anggap saja aku telah membayar budimu di masa lalu padaku. Aku hanya bisa membantu cucumu sampai di sini. Sisanya tergantung kemampuan dan keberuntungannya." Gumam pria tua itu entah berbicara pada siapa karena tatapan matanya memandang langit yang luas yang terlihat dari dalam kedai.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_245🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉