
Pei Shi Liang mengernyitkan alisnya saat ia masih tidak mengingat jika dia tidak pernah mengenal atau bertemu dengan tamu yang secara tiba-tiba mengunjungi nya. Padahal ia merasa sama sekali tidak mengenalnya.
"Selamat pagi Putra Mahkota Shixian." Pei Shi Liang berkata saat melihat Xian Zi Xuan duduk dengan tenang di aula utama paviliun nya. Lalu ia juga duduk di kursi di depannya.
"Selamat pagi Liang'er." Xian Zi Xuan tersenyum. Ia menjawab dengan sangat santai yang membuat Pei Shi Liang semakin terkejut mendengar panggilan akrab Xian Zi Xuan terhadapnya.
"Mohon maaf Putra Mahkota Shixian, kita tidak dekat satu sama lain. Jadi tolong jangan memanggil saya dengan akrab atau orang lain akan salah paham terhadap kita." Pei Shi Liang berkata dengan tegas.
"Liang'er, tolong jangan katakan itu atau Hatiku akan merasa sakit. Lagipula tidak masalah jika kita tidak dekat di masa lalu. Tetapi di masa depan kita akan dekat, jadi kenapa harus memikirkan apa yang dipikirkan orang?"
"Tapi..."
"Aku datang berkunjung pagi-pagi sekali dan belum sempat pergi sarapan. Sebagai tuan rumah yang baik tidakkah Liang'er akan mengundangku untuk sarapan bersama? Bukankah Liang'er juga beglum sarapan?" Xian Zi Xuan segera memotong ucapan Pei Shi Liang.
"Huh... Xing Xi, siapkan makanan tambahan untuk Putra Mahkota Shixian." Pei Shi Liang sengaja menekan nada bicaranya saat ia mengucapkan kata Makanan tambahan dan melirik Xian Zi Xuan dengan tajam. Namun Xian Zi Xuan masih mempertahankan senyumnya yang menjengkelkan.
Setelah Xing Xi keluar untuk menyiapkan makanan, Xian Zi Xuan tidak berbicara lagi, begitu juga dengan Pei Shi Liang yang suasana hatinya sedang kesal. Ia tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain Pei Zhang Xi. Ia juga tidak begitu suka berkumpul dengan putri lain maupun nona muda dan tuan muda. Menurutnya menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan mereka adalah hal yang sia-sia. Ia lebih memilih untuk berlatih beladiri dan juga melatih ilmu pedang.
Namun, Xian Zi Xuan yang melihat kediaman Pei Shi Liang justru merasa semakin tertarik padanya lagi. Ia mendekati Pei Shi Liang karena merasa jika gadis itu berbeda dengan putri maupun nona muda yang pernah ia temui. Dengan wajahnya yang tampan, ia akan selalu me jadi pusat perhatian dan sering diganggu oleh mereka jika dia tidak menunjukkan jika dirinya tidak tertarik dan dengan tegas menolak mereka semua yang mendekatinya. Gadis-gadis itu, yang sudah jelas terlihat jika mereka adalah gadis-gadis manja yang merepotkan. Gadis dengan tipe seperti itu biasanya tidak masuk akan dan akan membuatnya pusing.
Jadi saat melihat Pei Shi Liang yang berbeda, ia mulai penasaran dan meminta anak buahnya untuk mencari informasi mengenainya. Namun setelah ia mendekatinya sendiri, Pei Shi Liang lebih menarik dari informasi yang didapat nya. Ia mulai menyadari jika dia telah jatuh cinta padanya dan akan mendapatkan hatinya sesegera mungkin.
__ADS_1
"Berhenti melihat seperti itu. Apa Putra Mahkota Shixian tidak merasa bahwa itu tidak sopan?" Pei Shi Liang mengerutkan bibirnya. Ia merasa risih diperhatikan sedemikan rupa oleh laki-laki yang asing baginya. Namun lagi-lagi Xian Zi Xuan masih saja tersenyum bahkan senyumnya lebih menjengkelkan dari sebelumnya. Yang membuatnya semakin kesal.
"Apa salahnya? Aku menyukaimu." Xian Zi Xuan merubah posisinya. Berbicara dengan tenang seperti apa yang dikatakannya adalah hal yang sangat lumrah diucapkan oleh seorang pemuda di depan seorang gadis lajang.
"Kamu!" Pei Shi Liang tersedak kata-katanya dan tidak tahu harus mengatakan apa pada pemuda yang begitu tidak tahu malu ini.
Xing Xi yang baru kembali setelah melakukan tugasnya terkejut melihat wajah Pei Shi Liang yang terlihat sangat marah sedangkan wajah Xian Zi Xuan terlihat sangat tenang tanpa ada riak.
Bukan hanya Xing Xi yang terkejut. Bei Yin bahkan lebih terkejut lagi mendapati pangeran yang sejak muda ia ikuti telah berubah banyak hanya dalam sekejap mata. Ia tidak pernah melihat Xian Zi Xuan yang begitu tidak tahu malu. Ia mulai curiga jika pria tampan yang sedang duduk dengan santai dan matanya seperti dipenuhi dengan wajah Pei Shi Liang yang terlihat kesal bukanlah majikannya yang asli dan adalah seseorang yang telah menyamar. Namun wajahnya masih sama. Dan bahkan sifatnya masih normal seperti biasanya sebelum majikannya itu datang dan bertemu dengan Putri Ke delapan yang dua kali ini ia temui.
Bei Yin melirik Xian Zi Xuan dengan waspasa saat tiba-tiba pikiran bahwa majikannya mungkin telah dirasuki oleh roh lain yang dengan paksa menggantikan majikannya yang dingin.
"Ehem... Tuan Putri, Yang Mulia Putra Mahkota Shixian, makanan sudah siap." Xing Xi berdehem untuk mencairkan situasi yang terlihat aneh.
"Huft... Baiklah Yang Mulia Putra Mahkota Shixian. Saya akan menganggap semua yang terjadi di sini tidak pernah terjadi. Jadi tolong mulai jaga sikap anda mulai dari sekarang." Ucap Pei Shi Liang menatap Xian Zi Xuan dengan penuh ancaman.
"Baiklah. Sesuai dengan keinginan Liang'er." Jawab Xian Zi Xuan dengan santai. Pei Shi Liang hampir memuntahkan darah saat menyadari apa yang dikatakannya dengan sopan untuk memperingatkan Xian Zi Xuan nyatanya tidak mendapatkan hasil yang dia harapkan. Xian Zi Xuan sepertinya tidak mendengarkan peringatan nya.
Pei Shi Liang mengambil napas dalam-dalam sekali lagi untuk meredam amarahnya sebelum ia berdiri dan memimpin Xian Zi Xuan untuk pergi ke aula samping untuk memulai sarapan mereka.
***
__ADS_1
Wajah cantik Ratu Zhu terdistorsi saat ia mendengar apa yang terjadi di tempat Lu Jing Yu dari bibi pelayan yang dikirimnya. Ia telah melihat bagaimana Pei Zhang Xi yang begitu melindungi Lu Jing Yu dengan mata kepalanya sendiri. Namun ia tidak menyangka jika Pei Zhang Xi akan memilih melawannya secara terang-terangan hanya demi seorang wanita seperti Lu Jing Yu yang di matanya tidak memiliki kelebihan apapun selain keberuntungan yang baik.
"Yang Mulia Ratu. Mohon selamatkan hamba. Hamba telah dijual sebagai budak sejak hamba masih sangat muda. Dan sekarang hamba tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini untuk dituju. Jika hamba dipecat dari pekerjaan hamba, hamba akan dijual sebagai buruh kotor. Bahkan mungkin tidak akan ada yang akan menerima hamba dimana pun. Tolong selamatkan hamba Yang Mulia." Bibi pelayan itu berlutut di depan ratu Zhu. Dia sudah tua dan tidak akan ada yang mu mempekerjakannya karena dirinya tidak lagi memiliki tenaga. Jika dia harus meninggalkan istana, ia akan mati dengan segera di luar sana.
Ratu Zhu tersenyum melirik bibi pelayan yang memang terlihat tua itu. Dia telah berada di istana bahkan sebelum dirinya memasuki istana.
"Tenang saja. Karena kamu adalah salah satu bawahanku yang setia. Kamu sudah berada di istana ini sejak lama dan telah menunjukkan kesetiaan mu. Untuk itu Aku akan memberikan tempat yang layak untukmu." Ucap Ratu Zhu dengan senyuman. Namun saat pelayan itu mengangkat wajahnya dan melihat senyum di wajah Ratu Zhu, entah mengapa ia merasa jika senyum itu membahayakan. Senyum yang menakutkan.
"Yang Mulia Ratu..." Bibi pelayan itu mengira jika ia salah melihat dan mengulas senyumnya lagi dan bertanya.
"Kamu tenang saja. Bibi Wan, antar bibi Ruo ke kamarnya dan bantu berkemas. Tunjukkan bagaimana aku memperlakukan seorang bawahan yang setia." Ratu Zhu segera mengganti senyumnya. Ia tersenyum lembut penuh dengan kehangatan.
"Baik Yang Mulia Ratu." Setelah kedua bibi pelayan pergi, Ratu Zhu menarik senyumnya. Menggantinya dengan raut wajah menakutkan yang tanpa emosi saat ia melemparkan cangkir yang baru saja dipakainya ke lantai dengan keras hingga hancur berkeping-keping.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_169🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟