Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
92. Mengatasi Ketakutan


__ADS_3

Pei Zhang Xi berdiri di belakang Lu Jing Yu dengan tangan yang memeluk pinggang istrinya itu. Matanya tertutup rapat seperti yang dikatakan Lu Jing Yu padanya. Keduanya berjalan ke tepi lantai tiga dengan perlahan dan bersama-sama. Jantung Pei ZHANG Xi. Berdebar kencang setiap kali langkah yang diambil oleh mereka.


Di depannya, Lu Jing Yu tidak berhenti mengatakan kata-kata untuk menguatkan dan memberi kepercayaan. Lu Jing Yu memberikan dorongan agar Pei Zhang Xi tidak terlalu banyak berpikir dan menduga-duga. Secara khusus Lu Jing Yu meminta Pei Zhang Xi untuk mengosongkan pikirannya untuk tidak memikirkan apa-apa.


Setiap langkah yang diambil Pei Zhang Xi terasa berat. Langkah demi langkah memberikan tekanan untuknya. Meskipun matanya tertutup, ia tahu kemana arah yang mereka tuju. Kakinya mulai gemetar. Di benaknya sudah tergambar bagaimana orang-orang berteriak di bawah menara dengan wajah mereka yang menakutkan.


Pei Zhang Xi ingin menghentikan semuanya dan berhenti berusaha. Tetapi saat ia mengingat perkataan Lu Jing Yu yang ingin melihat dunia bersamanya dimanapun mereka berada, ia pun membulatkan tekad. Apalagi saat ia mengingat bahwa ia juga segera menjadi seorang ayah. Akan sangat memalukan jika anaknya mengetahui jika ayahnya takut ketinggian.


Lu Jing Yu menghentikan langkahnya saat mereka berjarak satu meter dari pinggir lantai. Itu artinya masih jauh dari dinding pembatas. Pei Zhang Xi juga berhenti seperti Lu Jing Yu. Namun ia tidak mengatakan apapun atau berbuat apapun. Ia hanya diam dan menunggu.


"Yang Mulia, coba rasakan udara yang menerpa wajah kita." Ucap Lu Jing Yu saat ia mulai menghirup dalam-dalam aroma bunga yang harum bercampur dengan aroma anggur yang segar yang dibawa oleh angin.


"Bagaimana?"


"Segar. Udara di sini segar."


"Hem. Meskipun angin di sini lebih kencang dari angin yang ada di lantai bawah, tetapi aroma ya gak dibawa angin ini lebih segar. Karena berasal dari tempat yang jauh."


"Ya. Ada aroma anggur di sini. Di sebelah selatan sana seharusnya ada kebun anggur. Sekarang sedang musim buah. Jadi pasti aroma ini berasal dari sana." Jelas Pei Zhang Xi.


"Dimana ada perkebunan anggur? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Lu Jing Yu setelah melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Apakah tidak ada di sebelah selatan?" Pei ZHANG Xi mengernyitkan alisnya. Matanya masih tertutup jadi tidak mengetahui senyum lebar wanita di depannya.


"Mana? Tidak ada." Lu Jing Yu masih tersenyum.


"Yu'er perkebunan itu tidak mungkin hilang begitu saja kan? Apakah di sebelah barat?"

__ADS_1


"Tidak ada. Yang mulia kenapa tidak ada perkebunan anggurnya? Aku ingin melihatnya."


"Itu di sa...na..." Tanpa sadar Pei Zhang Xi membuka matanya dan menunjuk ke sebelah selatan, dimana perkebunan anggur terbentang luas. "Yu'er..." Pei Zhang Xi menoleh dan mendapati Lu Jing Yu yang tersenyum lebar.


"Bukankah pemandangan di sini indah Yang mulia?" Lu Jing Yu tersenyum saat ia melihat Pei Zhang Xi yang bingung.


"Ini memang indah. Aku tidak menyangka jika perkebunan itu akan terlihat seperti ini dari atas. Aku pikir itu hanya akan terlihat membosankan."


"Yah. Bukankah aku sudah bilang? Sekarang apa yang Mulia masih takut?"


"Sepertinya iya. Tapi jika ada kamu di sini aku tidak akan takut apapun." Pei Zhang Xi kembali memeluk Lu Jing Yu. Dan bahkan membawa Lu Jing Yu lebih dekat dengan pinggir menara sehingga pemandangan semakin terlihat indah.


Quan Yuan melihat kedua orang yang berpelukan di atas menara dengan senyuman lega. Ia yakin hanya Permaisuri yang bisa membebaskan Yang Mulia dari trauma masa kecilnya.  


"Quan Yuan apakah Yang Mulia sudah tidak takut ketinggian sekarang? Bukankah mereka terlihat berdiri di tepi?" Mo Ting menggaruk dagunya.


Hari ini Mo Han yang biasanya mengurus semua keperluan Pei Zhang Xi pergi ke biro Yunguang untuk menggantikan Pei Zhang Xi mengurus masalah di sana sementara. Jadi hari ini ialah yang bertugas untuk memastikan segala sesuatunya lancar dan berjalan dengan baik untuk Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu. Xiao Bei terkikik mendengar ucapan Quan Yuan.


Mata Lu Jing Yu tertarik melihat para pekerja yang sedang sibuk menyiram pohon anggur di perkebunan. Ia melihat para pekerja mengambil air dari danau dan dimasukkan ke dalam dua bak kayu yang diangkat dengan sebuah kayu di pundaknya. Setelah mengisi bak penuh air, mereka harus membawa air itu melewati jalan menanjak untuk sampai di perkebunan.


Di antara para pekerja itu, ada seorang pria yang gak sudah cukup tua yang berjalan dengan kesusahan dengan membawa air. Saat melewati tanjakan ia akan terlihat sangat kepayahan. Mungkin karena lelah, ia menjadi tidak fokus dan akhirnya tersandung dan hampir terjatuh. Untung saja pekerja lain segera tenaga dan membantu.


"Yang Mulia, apakah mereka selalu bekerja seperti ini?" Lu Jing Yu mendongak dia bertemu dengan mata bingung Pei ZHANG Xi.


"Ya. Kenapa?"


"Bukankah ini akan sulit dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga jika harus bolak balik mengambil air dari danau sedikit demi sedikit?"

__ADS_1


"Memang. Tetapi tidak ada cara lain. Di sekitar sini tidak ada sungai yang bisa digunakan untuk aliran irigasi. Jadi hanya bisa mengandalkan air dari danau."


"Tolong antarkan aku ke sana. Aku ingin melihat dari dekat."


"Apa yang akan kamu lakukan di sana? Saat ini panas. Sebaiknya kita beristirahat dulu di paviliun. Makan siang kita juga pasti sudah siap. Nanti sore saja kita datang ke sana." Pei Zhang Xi melihat matahari yang bersinar terang di atas kepala.


"Tidak Yang Mulia. Aku juga tidak akan bisa beristirahat atau makan jika aku masih hanya menduga-duga saja tanpa mengetahui dengan jelas."


"Baiklah. Hmmm. Aku memang tidak bisa mengalah darimu." Pei Zhang Xi menarik Lu Jing Yu ke dalam pelukannya.


"Terima kasih Yang Muliaku tersayang. Emmuach." Lu Jing Yu sangat senang dan dengan reflek mencium pipi Pei Zhang Xi untuk mengucapkan terima kasihnya.


"Apa kamu tidak ingin pergi ke perkebunan sekarang dan berniat untuk mengubah rencana Yu'er?" Pei Zhang Xi tidak menyangka Lu Jing Yu akan berinisiatif mencium pipinya dan menyipitkan matanya.


"Tidak-tidak. Aku ingin ke lerkebunan sekarang. Ayo pergi." Lu Jing Yu dengan cepat menarik Pei Zhang Xi turun dari menara.  


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_92♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .

__ADS_1


__ADS_2