Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 172


__ADS_3

Pei Shi Liang menyadari bahwa dirinya akan menjadi pusat perhatian jika datang bersama dengan putra mahkota Kekaisaran Shixian yang dari Xing Xi ia mendengar jika dia adalah salah satu, bukan, kebenarannya adalah bahwa ia adalah Putra Mahkota nomer satu yang menjadi incaran bagi para putri bukan hanya yang berasal dari Kekaisaran Shao melainkan juga dari kekaisaran tetangga yang diundang.


Itulah sebabnya ia menolak ajakan untuk berangkat bersama ketika putra Mahkota Shixian itu mengajaknya untuk berangkat bersama setelah mereka selesai dengan sarapan mereka. Namun lagi-lagi Xian Zi Xuan memiliki banyak cara dan alasan agar ia menurutinya dan tidak menolak ajakannya.


Saat ini mereka telah sampai di tempat acara. Ada banyak orang di sini. Jika ia masih menolak untuk melepaskannya di depan banyak orang, dia harus memikirkan nama baiknya beberapa kali sebelum melakukannya. Lagipula diperhatikan oleh banyak mata wanita yang terbakar cemburu dan iri hati sangat membuat tidak nyaman. Dia harus segera pergi dan menjauh dari Xian Zi Xuan sejauh-jauhnya mulai saat ini.


"Kita telah sampai di tempat acara Yang Mulia. Saya rasa Anda tidak akan tersesat dan mengikutiku ke tempat para putri berada kan?" Pei Shi Liang melirik dengan jengah pemuda yang sejak pagi menempel padanya tanpa bisa ia hindari sama sekali.


"Bagaimana jika kamu duduk bersamaku saja? Di Tempatku akan selalu ada tempat untukmu."


"Tidak, terima kasih. Aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal." Pei Shi Liang tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dan langsung bergegas pergi.


Xian Zi Xuan tidak marah menerima penolakan dari Pei Shi Liang lagi dan lagi. Apalagi ia juga bukannya sungguh-sungguh meminta gadis itu duduk di tempatnya atau akan menghancurkan reputasinya. Ia tidak akan pernah melakukan hal yang akan merusak gadis pujaannya. Ia akan menempatkan nya di sisinya dengan cara yang terhormat. Suatu hari nanti.


"Kakak, kenapa kakak datang bersama dengan Putri ke delapan Shao?" Xian Mu Xuan tidak bisa duduk diam lebih lama melihat kakaknya terlihat begitu akrab dengan gadis yang menjengkelkan di matanya.


"Ini bukan urusanmu. Pergi kembali ke tempatmu. Acara akan segera dimulai." Wajah sembrono Xian Zi Xuan yang ditunjukkan di depan Pei Shi Liang telah menghilang dna berganti dengan wajah arogan yang mendominasi.


"Kak, kakak bisa menyukai seorang gadis selain dia." Xian Mu Xuan biasanya sudah akan takut jika mendapat peringatan dari kakaknya itu. Meskipun kakaknya terlihat tabah di permukaan, dia adalah tipe orang yang cukup kejam dan tidak berperasaan jika sudah marah.


"Apa aku harus meminta pendapatmu sebelum aku melakukan sesuatu?" Xian Zi Xuan melirik sinis Xian Mu Xuan. Tidak ada yang bisa memerintahkan nya bahkan ayah mereka sendiri. Apalagi hanya seorang adik seperti Xian Mu Xuan yang hanya berbagi ayah yang sama dengannya.

__ADS_1


"Jawabannya adalah tidak. Apalagi untuk memilih siapa yang pantas berada di sisiku atau tidak. Tugasmu hanyalah memberikan penampilan terbaikmu dan menemukan suami yang kuat yang mampu membantu Shixian dalam menghadapi krisis tahun ini. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Bukankah saudaramu yang melakukan kesalahan besar yang menyebabkan Shixian menghadapi bencana?"


Xian Mu Xuan menggigit bibir bawahnya. Hidupnya sempurna jika dia tidak memiliki kakak laki-laki yang tidak berguna seperti kakaknya yang hanya bisa memberikan masalah padanya. Lalu ibunya yang selalu lebih mementingkan putra kesayangannya itu dan memintanya untuk menyelesaikan setiap masalah yang ditimbulkan oleh kakaknya.


"Aku mengerti kakak. Aku... Aku tidak akan mengecewakan ayah." Xian Zi Xuan hanya melirik Xian Mu Xuan sekilas sebelum melewati adiknya itu dengan acuh.


**


Pei Liu Wen dan An Jia Yun terkejut saat mereka memasuki istana dan mendpati bahwa kondisi istana cukup stabil. Seperti tidak ada kekacauan yang terjadi.


"Apakah kamu yakin anak buahmu melakukan hal dengan benar?" Pei Liu Wen berbisik di telinga An Jia Yun. "Kenapa di sini sangat tenang?"


"Aku telah membayar pembunuh bayaran terbaik. Mana mungkin bisa gagal? Apalagi hanya membunuh seorang bayi yang masih belum bisa melakukan apa-apa. Anak buahku juga telah memastikannya. Mana mungkin bisa gagal?" Jawab An Jia Yun tidak sabar.


"Aku juga merasa heran. Padahal aku sudah meminta orang untuk menyebarkan berita hilangnya pangeran kecil itu. Seharusnya mendengar berita seperti itu cukup membuat semua orang panik."


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Tidak ada. Kita sudah ada di istana. Jika kita bergerak mencurigakan, seseorang mungkin akan mencurigai kita."


"Lalu apa aku harus membiarkan Zhang Xi pada akhirnya menduduki tahta?"

__ADS_1


"Ish! Kamu terlalu berisik. Kita tunggu dan lihat saja. Bisa saja ketenangan ini hanya kamuflase."


"Benar-benar. Ayo kita segera masuk." Pei Liu Wen memikirkan apa yang dikatakan istrinya dan akhirnya kembali bersemangat. Ia segera berjalan ke arah taman istana. An Jia Yun segera mengikuti dan berjalan di sampingnya.


Di depan gerbang taman istana dijaga dengan ketat. Setiap orang diperiksa satu persatu setelah mereka menunjukkan tanda pengenal. Orang dengan tanda pengenal yang tidak terdaftar dalam catatan tamu undangan tidak diperkenankan masuk. Satu persatu orang diperiksa dengan teliti tanpa pengecualian. Bahkan para pangeran dan tamu undangan dari Kekaisaran tetangga pun mendapatkan perlakuan yang sama. Semua orang dan barang bawaan diperiksa.


"Mohon maafkan kami Raja Nan. Anda tidak diperkenankan masuk ke dalam ruang acara." Seorang penjaga senior berkata saat kedua penjaga yang berdiri di depan gerbang memblokir jalan Pei Liu Wen.


"Betapa berani! Aku adalah pangeran di Kekaisaran ini. Beraninya kalian menghalangiku masuk!" Pei Liu Wen emosi dan berteriak dengan marah.


"Mohon maafkan kami Yang Mulia. Kami hanya menjalankan perintah." Penjaga senior itu berkata dengan tegas tanpa menunjukkan keraguan. Ia mendapatkan perintah langsung dari Pei Zhang xi. Dilihat dari statusnya jelas Pei Zhang Xi yang lebih unggul dari Pei Liu Wen yang merupakan pangeran yang tidak menonjol dibandingkan dengan pangeran lainnya.


"Katakan padaku siapa yang memberi kalian keberanian untuk menahanku di sini?!"


Penjaga senior itu belum sempat menjawab saat Mo Han datang dan menengahi. Ia segera mengambil alih.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_172🍀~

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟


__ADS_2