
Dila selesai sholat berjamaah di masjid, saat dia merasa yakin untuk memberitahu Semuanya pada Vivi yang sebenarnya.
dia bergegas pulang untuk menelpon Vivi, dia tau jika ini bisa membatalkan semua rencana sahabatnya itu.
tapi kebahagiaan Vivi adalah yang utama, Dila pun menelpon Vivi sambil menemani Fatin bermain.
terdengar suara sambungan telpon, dan tak lama terdengar suara seorang wanita di seberang.
"assalamualaikum Dila!! ada apa ini tumben telpon duluan, ada angin apa nih?" tanya Vivi dengan nada suara yang sangat bahagia.
"tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya pada calon pengantin ini minta kado apa?" tanya Dila tersenyum.
"eh kok aneh sih, kasih surprise dong kamu gak asik nih," jawab Vivi.
"iya iya maaf, Vivi aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Dila dengan takut.
"ada apa Dila? kenapa suaramu begitu serius," tanya Vivi.
"apa kamu bahagia dengan pernikahan ini, setelah tau masa lalu calon suamimu?" tanya Dila yang seakan tercekat ketika ingin mengatakan segalanya.
"aku bahagia Dila, bagaimana pun dirinya aku menerimanya dengan sepenuh hati, tak peduli dia memiliki masa lalu seburuk apapun," jawab Vivi.
"kamu wanita yang baik Vivi, tapi mulai sekarang berhentilah merokok dan mengunakan Vape, ingat kamu pasti ingin punya anak kan," kata Dila mengalihkan pembicaraan.
"anjr*t aku sudah berhenti dari lama, oh ya jika kamu punya kenalan cowok, boleh dong kenalkan pada iim, kasihan dia sering terluka terlebih setelah kejadian dengan Andi, padahal aku sudah memeringatkan dia tentang pria itu," kata Vivi.
"memang ada apa?" tanya Dila.
"iim kemarin melakukan aborsi karena dia hamil dengan Andi, dan pria itu dengan gampang bilang jika dia melakukan vasektomi jadi dia tak mengakui bayi itu, karena terluka iim melakukan hal gila itu, dan ternyata setelah di selidiki oleh mas Ridwan, ternyata malam itu iim di jual oleh Andi so brengsek itu pada seorang pria tua hidung belang," kata Vivi dengan marah.
"innalilahi wa ilaihi Raji'un, ya Allah... sekarang bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja? maaf aku tak pernah ada di sisi kalian," kata Dila sedih.
"iya Dila, kita punya masalah masing-masing, dan sekarang kondisinya sangat baik, terlebih dia sudah mulai menuju ke arah yang baik, setelah mendengarkan ceramah ustadz Sulaiman Ahmad," jawab Vivi.
"Alhamdulillah ... setidaknya dia tak seburuk kondisiku yang hampir berkali-kali berusaha membunuh diriku sendiri," kata Dila.
"aku tau karena kamu mengalami hal besar di usia mu, mas Ridwan sudah cerita segalanya, maafkan kami yang juga tak ada saat kamu terpuruk," kata Vivi.
"tak apa-apa, aku mengerti dan aku butuh suasana baru dan tenang," saut Dila.
dia pun melanjutkan pembicaraan, saat ustadz Ahmad masuk Dila tersenyum dan menekan loud speaker.
"jadi sekarang sudah ada yang baru atau masih menunggu untuk sembuh dulu?" tanya Vivi.
"Alhamdulillah... aku sudah memiliki imam yang baik dan sempurna, pria yang bisa menerima ku apa adanya, dia yang memberikan cahaya di hidupku yang suram ini," jawab Dila melihat ustadz Ahmad.
"benarkah? kamu harus mengajaknya ke pernikahan ku," kata Vivi semangat.
"tentu, kami akan datang," jawab ustadz Ahmad.
"ya!!!! itu tadi suara kekasih mu, suaranya sangat berat Dila!!!" kata Vivi semangat.
"dasar kamu ini, kalau begitu aku akhiri ya, maaf jika menganggu, terima kasih atas undangannya, assalamualaikum...."
"waalaikum salam..." jawab Vivi sebelum mematikan ponselnya.
Dila pun tersenyum malu melihat kearah suaminya itu, "aduh ibu jangan malu begitu, Abi jadi tak bisa menahannya," goda ustadz Ahmad.
__ADS_1
"ih... abu ngomong apa sih, masih sore," kata Dila mengenggam tangan ustad Ahmad.
"aku tak tahan lapar loh sek, kamu memikirkan apa, dan kenapa wajahmu merah begitu?" tanya ustadz Ahmad.
Dila pun merasa malu, pasalnya dia sudah salah sangka, "mas ih .. ya sudah kalau begitu aku akan membuatkan mas makanan tolong titip Fatin sebentar ya," pamit Dila.
"baiklah ibu .... kami tunggu disini sambil main," jawab ustadz Ahmad.
di tempat lain, Hendra pulang ke desa, dia menginap di rumah salah satu budenya.
"bude, aku mau tanya apa benar bapak Yono meninggal dunia, kenapa tak ada satupun yang mengatakan apapun padaku?" tanya Hendra dengan sedih.
"ya siapa yang tau ke jika kamu masih peduli, terlebih Dila juga sudah menikah kok," jawab bude Hendra.
"apa? dengan siapa? kenapa cepat sekali?" kaget Hendra tak terima.
"kalau tak salah dengan salah seorang ustadz terpandang, dan setelah menikahkan putrinya pak Yono keesokan harinya meninggal dunia karena serangan jantung," jawab sang bude.
Bu Eka merasa sedih, pasalnya Putranya begitu mencintai Dila tapi wanita itu tak pernah melihatnya.
"sudah kali mas, lebih baik cari wanita lain, banyak kok yang lebih baik dari gadis itu,"kata adik sepupu Hendra.
"benar itu Hendra, banyak gadis yang lebih baik di banding Dila yang tak seberapa itu," terang bude Hendra.
"iya Bude,"
********************
tak terasa sekarang adalah acara pernikahan dari Vivi, ustadz Ahmad dan Dila serta Fatin sudah berangkat ke daerah Mojokerto untuk memenuhi undangan gadis itu.
mereka juga di temani oleh ustadz Ilham dan Ryan, tak lupa Dila sudah memberikan hadiah untuk pasangan pengantin itu.
Dila dan ustadz Ahmad di bawa ke ruangan khusus untuk menunggu, Dila pun terpaksa mengikuti suaminya itu.
terlebih lagi mereka membawa Fatin yang mungkin lelah di dalam mobil selama perjalan cukup jauh.
"mas tinggal dulu ya, kamu di sini dengan Ryan ya," pamit ustadz Ahmad yang kini akan mengisi ceramah setelah menunggu selama satu jam.
"iya mas, Abi selamat kerja," kata Dila yang menirukan suara anak kecil.
ternyata ustadz Ilham menjadi orang yang mengabadikan momen ceramah ustadz Ahmad.
"Ryan tolong pegang Fatin sebentar aku ingin ke kamar mandi boleh," tanya Dila.
"tentu ibu," jawab Ryan yang menjaga Fatin.
Dila pun pamit, kebetulan saat Dila pergi datang Hendra yang menyapa Ryan, tak lama dia di panggil Andi karena harus membeli sesuatu.
Dila pun dengan ramah menyapa semua orang, terdengar suara tawa dari pengiring pengantin saat mendengar ceramah ustadz Ahmad.
setelah dua jam ceramah, akhirnya kini pada susunan acara doa, dan ustadz Ilham yang memimpin doa untuk pasangan pengantin dan juga keluarganya.
ustadz Ahmad kembali ke ruangannya bersama Dila, mereka pun di berikan makan siang sambil menunggu pengantin selesai berfoto dengan para tamu.
"mas, ayo kita bertemu mbak Vivi," ajak Dila.
"baiklah dek, Fatin ikut Abi saja ya," kata ustadz Ahmad mengendong putri kecilnya itu.
__ADS_1
Dila berjalan sambil di gandeng ustadz Ahmad, dan terus menunduk menuju ke pelaminan.
"assalamualaikum... ini saya bawa seseorang yang ingin bertemu pengantinnya, katanya sudah rindu," kata ustadz Ahmad.
"ah iya, salam kenal ya ustadzah," kata Vivi yang mengulurkan tangannya.
"aduh, aku jadi malu nih di panggil ustadzah padahal ilmu ku masih belum cukup," kata Dila tersenyum di balik cadarnya.
"Dila!!!" teriak Vivi yang langsung berpelukan dengan erat.
"ustadz dan Dila?" bingung Ridwan tak percaya.
"saya adalah pria yang melamarnya, dan berkat doa setiap malam, akhirnya bisa mempersuntingnya menjadi istri saya," jawab ustadz Ahmad.
"jadi imam yang kamu bahas itu, ustadz Sulaiman Ahmad," tanya Vivi tak percaya
"Alhamdulillah... selamat ya untuk kalian berdua, mas Ridwan tolong jaga sahabat ku ini ya," kata Dila
"pasti, dan ustadz aku ingin mengatakan sesuatu, tolong berhati-hati dan jaga istrimu," bisik Ridwan.
"saya sudah tau mas, mas tenang saja saya akan menjaganya karena dia separuh hidupku, dia segalanya untuk ku dan putri ku," kata ustadz Ahmad tersenyum.
Ridwan pun melihat sosok ustadz Ahmad yang berbeda jika membahas Dila.
mereka pun berdiri bersama, hendra nampak marah dan geram, pasalnya dia kalah dengan ustadz kampung seperti itu.
sedang abdi merasa kalah lagi dan lagi, "sepertinya aku harus benar-benar membawamu pergi dan menikmati mu,karena itu sudah menjadi obsesi ku, salah sendiri kamu begitu menggoda Dila ..." batin Andi menyeringai.
...************...
halo semua, hari ini author ingin memperkenalkan karya bagus dari teman author yuk..
sambil menunggu author up Monggo di baca dulu ya....
Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis : SkySal
Cuplikan...
"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.
"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.
"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.
"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.
"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.
"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.
__ADS_1
"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.
Penasaran kisah selengkapnya?