
Memanggang roti harus pakai margarin
Tidak lupa selai coklat jadi isiannya
Mohon berikan dukungan pada novel Pria Idaman Lain
Tambahkan favorit, vote, jempol dan hadiahnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Debur ombak sayup-sayup terdengar, mentari mulai sedikit beranjak naik. Jam menunjukkan pukul 6.30 namun belum ada tanda-tanda pergerakan dari kamar pengantin baru. Tara dan Aryan belum keluar dari kamarnya, mungkin kelelahan karena acara resepsi atau pertempuran semalam.
Aryan terbangun terlebih dahulu, sejenak dia kaget melihat Tara di sampingnya. Biasanya dia hanya tidur bertemankan guling, sekarang sudah ada sang istri di sampingnya. Aryan menatap Tara yang masih tertidur.
"Kamu selalu terlihat cantik dan yang penting sekarang kamu sudah sah menjadi milikku." Aryan tersenyum bahagia.
Aryan membetulkan selimut untuk menutupi tubuh Tara yang polos, tidak tega rasanya jika pagi-pagi dia turn on dan menyerang Tara lagi. Aryan pikir bunga telang milik Tara yang memabukkan itu masih sakit.
Tara terbangun lalu mengeliat hingga membuat selimutnya terbuka, tentu saja keindahan dua buah loofah miliknya jadi terekspos. Tara kaget lalu menutupinya dengan selimut lagi.
"Sayang, apa kamu ingin menggodaku?" Goda Aryan. Sedari tadi Aryan menunggu Tara bangun sambil minum kopi di sofa kamar itu.
"Ma… Mas Aryan melihatnya?" Tanya Tara gugup.
"Kamu jangan bercanda, sayang! Semalam aku sudah melihat dan memakannya juga." Aryan tersenyum tanpa dosa.
"Maaas…" Teriak Tara.
"Iya, sayangku..." Jawab Aryan santai.
"Mas, bisakah kamu ambilkan bathrope untukku? Aku malu." Pinta Tara.
"Kenapa harus malu, sayang? Kan semalam mas sudah lihat semuanya." Aryan terus menggoda.
"Mas, masih agak perih. Tolong ambilkan bathrope dan jangan menyerangku dulu. Please…" Mohon Tara.
"Iya, sayang." Aryan mengambilkan bathrope untuk Tara.
"Pakailah, aku siapkan air hangat dulu untuk berendam." Aryan masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathtup untuk Tara.
Tara sudah mengenakan bathrope saat Aryan keluar dari kamar mandi. "Mas Aryan siapin bathup dan air hangat bukan untuk menyerangku lagi kan?" Tanya Tara curiga.
"Maunya sih pengen nyerang lagi, tapi kan masih sakit. Mas nggak akan nyakitin kamu, sayang." Ucap Aryan yakin.
"Mau mas gendong aja? Kalau jalan sendiri takutnya malah tambah sakit." Tawar Aryan.
Tara diam melihat Aryan. Dia khawatir kalau Aryan akan meminta jatah pagi, padahal miliknya masih perih.
"Jangan khawatir! Serius… Mas nggak akan minta kalau memang masih sakit. Mas gendong ya?" Terang Aryan.
Tara mengangguk setuju. "Tapi aku mau ambil baju ganti dulu, mas."
"Mas ambilin aja ya?" Tawar Aryan.
"Tapi kan!" Protes Tara.
"Udah… Nggak apa-apa. Mas ambilin, mau pakai yang mana?" Aryan membuka lemari dan bingung mau ambil baju yang mana. Asisten Tara memang telah menyiapkan beberapa baju ganti karena Tara dan Aryan akan tinggal lebih lama di resort itu. Keluarga dan teman-teman yang lain akan pulang siang nanti.
__ADS_1
Aryan mengambil pakaian dalam Tara dan tertawa. "Sayang, kamu mau pakai warna apa? Yang merah atau hitam." Aryan tersenyum nakal.
"Maaas! Katanya nggak mau minta, kenapa sekarang malah mulai mesum gitu?" Tara manyun.
"Iya… Iya… Maaf, sayang." Aryan berhenti menggoda. Aryan pun mengambilkan baju sesuai instruksi dari Tara.
Aryan meletakkan baju Tara di kamar mandi kemudian segera mengendong Tara menuju kamar mandi. Seperti janjinya, Aryan hanya mengendong Tara saja tanpa meminta lebih.
"Terima kasih, mas. Aku bersyukur memilih mas Aryan jadi suamiku, perhatian dan sabar jadi bikin gemes dan pengen nyubit." Tangan Tara bergaya seperti ingin mencubit.
"Kalau gemes jangan nyubit dong! Mendingan dicium aja." Protes Aryan.
"Itu sih mau mu, mas. Pasti habis cium terus minta lebih." Tebak Tara.
"Ha… ha… ha… Emangnya nggak boleh? Masa aku harus minta sama orang lain?" Aryan pura-pura cemberut.
"Eit… Jangan sembarangan ngomong, mas. Boleh sih boleh, tapi jangan sekarang."
"Ya udah, kamu berendam air hangat dulu biar bisa sedikit mengurangi rasa nyeri. Aku udah capek-capek gendong harus dapat upah dong!"
"Baru aja dipuji, mas, sekarang malah minta upah." Protes Tara.
"Entar kalau yang lain sudah pulang, mas minta jatah nyiram bunga telang."
"Bunga telang?" Tara bingung.
"Itu... Entar kamu searching sendiri aja di internet, sekalian cari juga buah loofah. Mas mau pesan sarapan dulu."
Aryan pergi meninggalkan Tara sendirian di kamar mandi. Tara masih berpikir seperti apa bunga telang itu dan apa maksud perkataan Aryan. Tara hanya pernah mendengar bunga telang bisa menjadi pewarna makanan, namun dia belum pernah melihatnya. Apalagi buah loofah, Tara belum pernah mendengar ataupun melihatnya.
Aryan telah memesan sarapan dan meminta sarapannya di antarkan ke kamar saja. Aryan keluar sebentar untuk menemui keluarga dan teman-temannya yang masih di resort.
"Aryan, kenapa sendirian aja nak?" Nyonya Gita mencari keberadaan Tara.
"Apa Tara masih kesakitan akibat ulahmu semalam?" Bisik Nyonya Gita.
Deg… Aryan kaget kenapa mamanya bisa tahu.
"Jangan kaget! Mama dan papa kan juga pernah muda." Nyonya Gita tersenyum dan menahan tawa.
"Aryan, kami pulang duluan ya… Jaga Tara baik-baik, jangan diserang mulu!" Nyonya Lita tertawa girang karena berhasil meledek menantunya itu.
Aryan hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ngomong-ngomong, Anand dimana, ma?" Mencari keberadaan saudara kembarnya.
"Sepertinya sudah pulang sejak pagi. Entah apa yang terjadi pada anak itu." Terang Nyonya Gita.
"Aryan, jangan sampai Tara salah suami ya!" Ancam Nyonya Lita.
"Mana mungkin, ma? Tara jauh lebih pandai membedakan aku dan Anand. Mama Gita aja bisa kalah." Jelas Aryan.
"Kamu yang giat usahanya! Mama sudah tidak sabar menunggu calon penerus Maheswari." Titah Nyonya Lita.
"Penerus Cakra Wangsa juga dong!" Nyonya Gita tidak mau kalah.
"Aduh… Oma-oma jangan ribut dulu dong! Belum juga punya anak udah direbutin aja." Aryan protes.
"Jeng Gita kan masih punya Anand, gimana kalau suruh Anand aja?" Nyonya Lita memberi saran.
"Bener tuh, ma." Aryan setuju.
"Aku juga mau dong cucu dari Aryan, lagian Anand belum jelas gitu. Mama nggak mau dapat cucu dari mantannya yang nggak jelas itu." Nyonya Gita malah emosi mengingat kesalahan Anand.
__ADS_1
"Jangan serakah dong, jeng!" Pinta Nyonya Lita.
"Udah, oma-oma jangan ribut ya! Entar aku buatin kembar." Aryan menengahi.
"Aamiin…" Jawab Nyonya Lita dan Nyonya Gita kompak.
Aryan hanya garuk-garuk kepala melihat kelakuan mama dan mama mertuanya. Setelah keluarga dan teman dekat pergi meninggalkan resort, Aryan kembali ke kamarnya.
"Kamu kemana aja, mas? Makanannya hampir dingin loh!" Sambut Tara.
"Kamu udah kangen sama aku?" Aryan mendekati Tara dan memeluknya dari belakang.
"Aku udah lapar, tapi nggak mau makan sendirian." Tara pasang wajah imut.
Aryan duduk dan bersiap untuk makan. "Apa masih nyeri?"
"Maaas… Ini kita mau sarapan loh! Kenapa malah bahas itu?"
Aryan menyuapkan makanan pada Tara. "Aaa… Jangan marah! Mas cuma khawatir aja."
Tara menerima suapan dari Aryan. "Aku bisa makan sendiri, mas."
"Sayang, kenapa kamu nggak biarin aku bersikap romantis sih?" Aryan mencubit pipi Tara.
"Harusnya aku dong yang suapin kamu, mas."
"Kamu mau suapin mas juga?"
"Iya dong…" Sahut Tara sembari menyendokkan makanan dan berniat menyuapi Aryan.
"Sayang, aku nggak mau disuapin makanan. Aku maunya kamu suapin pakai buah loofah dan bunga telang." Aryan senyum-senyum nggak jelas.
Tara yang penasaran segera mencari gambar buah loofah dan bunga telang di internet menggunakan ponselnya. Tara pun kaget saat melihat gambar bunga telang dan dia langsung tahu apa yang dimaksud suaminya itu.
"Maaas… Kenapa kamu jadi mesum sekali?" Teriak Tara.
"Aku mesum cuma sama istriku tercinta." Aryan menyuapi Tara lagi.
"Semua keluarga dan teman-teman dekat sudah pulang. Aku sudah mewakilimu saat mereka berpamitan tadi, makanya aku lama."
"Bukannya mereka akan pulang nanti siang? Terus kenapa mas nggak ngajak aku keluar tadi?"
"Nggak apa-apa, sayang. Mereka juga paham kok, kalau kamu kelelahan setelah acara resepsi."
"Baiklah. Habis ini kita jalan-jalan dan main ke pantai ya, mas?" Pinta Tara.
"As you wish, my queen." Aryan seperti menunduk memberi hormat.
"Gantengku…" Tara gemas dan menoel dagu Aryan.
"Sayang, kalau gemes dicium aja."
Tara mencium pipi Aryan dengan singkat, lalu melanjutkan sarapan. Aryan tersenyum bahagia sepanjang sarapan.
Tara pov: Aku bahagia kamu sangat perhatian dan romantis mas. Aku janji akan lebih perhatian dan lebih mencintaimu daripada kemarin. Semoga Gala bisa mengikhlaskan aku denganmu mas. Aku tidak bisa jika harus mengkhianatimu, banyak cinta yang telah kamu berikan padaku.
...………....
Reader yang penasaran dengan buah loofah, searching sendiri ya. Novel tentang kehidupan rumah tangga pasti tidak jauh dari adegan kemesraan, jadi mohon pembaca menyikapi dengan bijak. Terima kasih karena sudah berkenan mampir membaca novel Pria Idaman Lain.
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.