Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_akhirnya pulang juga


__ADS_3

setelah dokter memeriksa kondisi Dila, ternyata dia langsung di izinkan pulang.


ustadz Ahmad mendorong kursi roda Dila menuju ke mobil yang sudah terparkir, sedang Fatin duduk diam di pangkuan Dila.


"mau langsung pulang, atau kita makan dulu?" tanya ustadz Ahmad yang mengambil Fatin dan mendudukkan di kursi khusus di belakang.


"pulang saja ustadz, aku masih ingin istirahat, kasihan Fatin juga," jawab Dila.


"baiklah, oh ya Fatin nanti biarkan dia main sama mbak Fafa dulu ya, takut kamu kuwalahan karena Fatin yang begitu aktif," terang ustadz Ahmad.


"Fafa? siapa itu?" tanya Dila yang baru mendengar nama itu.


"dia adalah murid sekolah yang baru masuk ke dalam yayasan, dia anak seorang buruh tani yang miskin, makanya dia tinggal di yayasan, dia juga beberapa hari ini dia membantu mengurus Fatin saat umi sibuk di yayasan," jawab ustadz Ahmad yang mulai menjalankan mobil.


Dila langsung diam, entah kenapa mendengar ucapan ustadz Ahmad ada rasa nyeri di dadanya.


tapi Dila tak boleh memiliki cinta lagi, atau dia mungkin akan membawa nasib buruk pada semua orang.


"apa dia baik, kenapa dia bisa dekat dengan Fatin, aku tak mau di lupakan oleh Fatin, aku tak mau sendiri... karena aku butuh Fatin putri kecilku," batin Dila berontak.


ustadz Ahmad pun fokus mengemudi, sedang Dila sudah larut dalam pemikirannya.


tak terasa mobil pun sampai di yayasan, Anisa langsung menyambut Dila, keduanya pun berpelukan dengan hangat.


Dila melihat jika pengerjaan proyek pembangunan yayasan juga hampir selesai sepenuhnya.


dua gedung lantai dua hampir selesai, umi Chasanah juga langsung memeluk Dila, "selamat datang putri umi ..."


"iya umi ..." jawab Dila


ia menyapa semua pengurus dan penghuni yayasan yang menyambutnya, tapi Dila melihat jika Fatin di bawa pergi oleh seseorang.


"tunggu Fatin..." kata Dila yang ingin mengambil putri asuhnya itu.


"tidak Dila, kamu harus istirahat sampai kamu sembuh, kamu tak boleh melakukan pekerjaan berat, terutama mengendong Fatin," tegas ustadz Ahmad.


"kalau begitu kenapa tak membiarkan ku mati saja," jawab Dila dalam kesedihannya tanpa sadar menghempaskan tangan ustadz Ahmad.


"apa maksudmu?!" kaget ustadz Ahmad mendengar ucapan Dila.


"tunggu nak, sudah biar umi yang bicara pada Dila, Anisa tolong ambil Fatin dan bawa ke rumah, Ayas tolong bantu mbak Dila pergi ke kamar di rumah utama," perintah umi Chasanah.

__ADS_1


"baik umi," jawab keduanya.


umi pun meminta semua orang bubar, sedang ustadz Ahmad masih belum mengerti apa-apa.


"Ahmad, kenapa marah? bagaimana pun Fatin sudah di anggap putri oleh Dila, tak benar memisahkan mereka," tegur umi Chasanah.


"tapi umi, tak baik jika Dila yang masih terluka harus menjaga Fatin, karena bayi itu begitu lincah," kata ustadz Ahmad.


"itu memang benar, tak baik untuk kesehatan Dila, tapi kamu juga jangan lupa jika kesembuhan dan pusat kebahagiaan Dila adalah putri mu, Dila pasti tau harus bagaimana umi percaya hal itu," kata umi Chasanah.


"ya umi benar, aku terlalu khawatir hingga tanpa sadar menjauhkan Fatin dari Dila," jawab ustadz Ahmad yang pasrah karena dia kalah.


Anisa menghampiri kamar Fafa, ternyata gadis itu sedang memberikan susu, tapi wajah Fatin memerah.


"loh kenapa Fatin, sakit? kenapa wajahnya merah begini?"kaget Anisa karena tau jika bayi itu baik-baik saja.


"tidak mbak, tadi Fatin nangis kejer minta susu," jawab gadis muda itu.


"ya sudah kemarikan, biar aku yang menjaganya, sekarang kamu bersiap untuk mengaji bersama ustadz Ilham," kata Anisa yang memerintahkan wanita itu.


"baik ustadzah," jawab Fafa.


Anisa membawa Fatin dan juga tas milik balita itu, dia pun bergegas ke tempat Dila.


Dila masih terisak di kamarnya, entahlah dia begitu sedih, Ayas yang bingung berusaha mencari bantuan.


"kamu kenapa meninggalkan Dila sendiri, kamu tau Dila bisa nekat," kata Anisa yang bergegas lari sambil mengendong Fatin.


Dila masih terisak, sedang Fatin juga ikut menangis mendengar kepanikan yang terjadi.


mendengar tangisan dari putri asuhnya, Dila pun terbangun dan berusaha berdiri.


Anisa datang dengan ngos-ngosan, "ya Allah, kenapa kalian bisa sehati gini, nangisnya barengan, aduh... tolong ini putrimu, ya Allah... capek banget, ini bayi makan apa ..." kata Anisa ngos-ngosan.


Fatin pun berusaha untuk meraih Dila, begitupun Dila yang langsung mengendong dan menciumi putrinya itu.


"jangan tinggalkan ibu ..." lirih Dila yang masih terisak.


Fatin pun menyentuh pipi Dila, Anisa pun ikut haru melihatnya, bahkan Ayas tak mengira jika Dila begitu menyayangi Dila.


umi Chasanah datang dan mengusap punggung Anisa yang masih terisak menyaksikan hal itu.

__ADS_1


umi pun masuk dan menenangkan Dila, "maafkan Dila umi, Dila tak bisa jauh dari Fatin, Dila takut Fatin lupakan Dila ..." suara Dila yang masih gemetar.


"kalau begitu jadilah ibu Dila Fatin, ibu secara resmi, menikahlah dengan Ahmad," kata umi Chasanah menemukan celah.


"tidak bisa umi, aku wanita sial, aku wanita buruk tak pantas untuk ustadz Ahmad, aku pernah berzinah bahkan hamil di luar nikah, aku juga tak ingin mencemari nama ustadz, jadi aku cukup menjadi ibu asuh Fatin saja," jawab Dila.


tapi umi merasa sedih karena ternyata Dila masih memikirkan begitu besar kesalahannya di masa lalu.


"ya sudah, tapi umi masih berharap kamu bisa menjadi ibu sesungguhnya untuk Fatin, itupun jika kamu ingin terus bersama Fatin, terlebih jika suatu saat ustadz Ahmad menikah, pasti istrinya nanti tak akan mengizinkan mu mendekati Fatin," kata umi Chasanah pergi.


Dila terdiam sambil memeluk Fatin yang sudah tertidur karena lelah menangis.


Dila pun menidurkan fayinnfi ranjangnya, dan melepaskan baju panjang Fatin agar tak gerah.


tapi Dila melihat ada bekas merah seperti cubitan di kaki dan lengan Fatin.


bekas itu terlihat sangat jelas karena bayi mungil itu memiliki kulit putih yang sensitif.


"kenapa kulit mu merah nak,padahal kamu memiliki kulit sensitif," panik Dila yang langsung melihat semua tubuh putri kecilnya itu.


benar saja area ****** Fatin kecil merah karena iritasi, Dila pun segera mencari salep.


"ya Allah siapa yang tak bisa mengurus dirimu bak, kamu pasti kesakitan," kata Dila yang kembali menangis.


ustadz Ahmad yang mendengar pun mengurungkan niatnya untuk mengambil Fatin.


dia memilih mencari umi Chasanah untuk menanyakan sesuatu, pasalnya sekarang hatinya sedang gundah.


"assalamualaikum umi ..." kata ustadz Farid duduk di depan meja kerja umi Chasanah.


"waalaikum salam Ahmad, ada apa nak, kok lesu begitu, apa ada sesuatu?" tanya umi dengan sangat lembut.


"umi ... maafkan aku, mungkin aku egois karena tanpa sadar aku telah memberikan tempat pada wanita lain, karena kasih sayangnya pada putriku, maaf bukan maksudku menduakan cinta untuk Khadijah, umi," lirih ustadz Ahmad.


"ini tau kok nak, umi juga tak masalah akan hal itu, karena umi juga menyukai gadis seperti Dila yang begitu baik, dan yulia menyayangi Fatin," saut umi Chasanah.


"tapi sepertinya Dila tak akan pernah mau menerima ku," gumam ustadz Ahmad pesimis.


"kamu tau Ahmad, Dila bilang, karena dia tak pantas berada di samping mu karena dia merasa kotor, jadi tugas mu untuk membuat dia pantas merasa pantas menjadi istri dan ibu untuk mu dan Fatin," kata umi Chasanah.


"benarkah umi, insyaallah Ahmad pasti berusaha, dan sekarang Ahmad butuh restu dari umi untuk melakukannya,"

__ADS_1


"iya nak, umi merestui mu dan Dila untuk bersama," jawab umi Chasanah.


__ADS_2