Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_aku setegar karang


__ADS_3

Mela sudah berada di rumah, dan dia tak peduli dengan semua ucapan tetangga yang mengejeknya.


meski bayinya nanti lahir karena pemerkosaan tapi bayi itu tak bersalah sedikitpun.


Vivi datang memberikan asam Jawa matang yang khusus di petik untuk Mela yang sedang hamil muda.


"halo dek, bagaimana kabar kandungan mu," tanya Vivi dengan senang hati.


"Alhamdulillah sehat, aku bahkan sudah naik tujuh kilo, karena mbak Dila begitu memanjakan ku, dia bahkan menagis susu kehamilannya dengan ku," terang Mela


"iya, sebentar lagi dia akan menjadi ibu seutuhnya, tapi apa kamu yakin ingin menjadi istri mas Hendra, itu akan sangat membuatmu terluka," mohon Vivi agar adik sepupunya itu sadar.


"itu adalah hal terbaik untuk menebus dosanya, setiap hari dia harus ingat dosa yang pernah dia perbuat, terlebih lagi hidupku sudah sangat hancur, sekarang aku tanya apa gunanya wanita yang sudah di lecehkan sedemikian rupa, dan masih punya gak memilih jodohnya sendiri, itu mustahil mbak, jadi ini pilihan tepat, dan yang perlu mbak tau aku bukan gadis lemah karena sekarang aku sudah sangat tegar, sekuat batu karang, terlebih aku sudah mulai bisa mengancamnya sekarang," kata Mela.


"dia sudah dewasa, dan aku yang akan membuat Hendra menurut pada Mela, karena ada senjata rahasia," kata Ridwan.


"apa itu?" tanya Vivi dan Mela penasaran.


"yaitu menangislah atau pingsan di depan Hendra, pastikan kamu melakukannya dengan senatural mungkin, aku pastikan akan kukuh tuh pria busuk," kata Ridwan.

__ADS_1


"memang bisa seperti itu?" tanya Mela tak percaya


"coba saja, meski muka sanggar begitu tapi dia memiliki hati yang baik, cuma ketutup oleh hati iblisnya yang kebanyakan," kata Ridwan tertawa.


"itu tak lucu keles...." jawab kedua wanita itu.


Ridwan tertawa, sedang di yayasan ustadz Ahmad sedang di buat kesal, pasalnya Dila sedang asik main bersama anak-anak kecil di yayasan.


dan ustadz Ahmad sudah di cuekin selama dua jam tanpa mau di panggil atau di sentuh.


"umi sayang, kemarilah, istirahat dan makan dulu jangan terus main seperti ini," tegur ustadz Ahmad.


Dila malah terisak karena mendengar ucapan larangan dari suaminya, dan itu membuat ustadz Ahmad panik.


bukan masalah apa, dia tak ingin kena marah umi Chasanah lagi terlebih mertuanya Bu Wati juga sedang ada di yayasan karena ingin bertemu Fatin.


"loh ada apa ini?" tanya Bu Wati melihat Dila sesenggukan.


"Abi ustadz Ahmad memarahiku Bu, dia tak boleh aku main ..." adu Dila.

__ADS_1


"bukan seperti itu umi, tolong jangan menangis, maafkan aku ya ..." bujuk ustadz Ahmad yang panik.


Bu Wati tertawa, pasalnya Dila persis seperti dirinya saat hamil Arif, dua juga sangat mudah moody dan menangis, bahkan hanya karena hal kecil yang terjadi.


"Dila diam ya, itu Abi ustadz ingin membeli es krim, jika kamu tak berhenti menangis, biar nak ustadz membelikan ibu dan Fatin saja deh," kata Bu Wati


"aku juga mau, boleh ya Abi ustadz," kata Dila memohon.


"tentu apapun yang kamu inginkan dek, Bu saya titip Fatin ya, maaf jika merepotkan ibu," kata ustadz Ahmad


"tak apa-apa, karena ibu suka menjaga Fatin, terlebih kami mau mengunjungi ustadzah Anisah dan bayi Rafi," kata Bu Wati.


"baiklah Bu, hati-hati ya, dan ibu mau titip sesuatu?" tanya Dila


"tolong belikan jeruk, kiwi dan juga anggur," pesan bu wati.


"tapi itu buah kesukaan Fatin Bu?" tanya Dila heran.


"kenapa? ibu juga terbiasa karena Fatin kok sekarang, boleh kan nak ustadz?" tanya Bu Wati pada ustadz Ahmad.

__ADS_1


"tentu Bu, nanti kami akan membelikannya untuk ibu," Jawab ustadz Ahmad sebelum pergi.


__ADS_2