Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_ keluarga besar.


__ADS_3

kehamilan Dila kali ini berjalan kurang lancar, tapi beruntung meski beberapa kali pendarahan.


bayi perempuan itu lahir dengan selamat, Dila dan ustadz Ahmad sangat bahagia memiliki keempat orang anaknya.


Fatin sebagai kakak tertua sangat menyayangi adik-adiknya, sedang karena kelahiran yang hampir berdekatan.


membuat ketiga putra putri Dila seperti anak kembar tiga, terlebih tinggi yang hampir mirip.


Dila juga menetap di yayasan sambil membantu suaminya, bahkan dia sering menemani ustadz Ahmad ceramah jika memang dekat.


kehidupan keduanya sangat bahagia, tak pernah ada lagi krikil yang datang untuk mengoyak mahligai rumah tangga yang sudah sempurna itu.


perlahan Fatin, Hasan, Husain dan Husna tumbuh besar dalam lingkungan yang sangat kental dengan ilmu agama.


tak terasa Dila sudah makin menua seiring berjalannya waktu, dan kini dia sedang menikmati waktu berdua dengan ustadz Ahmad.


"umi sedang menunggu mereka pulang?" tanya ustadz Ahmad yang selesai membaca Alqur'an di sore hari.


"iya ayah, hari ini hari pertama Fatin mengajar, umi takut jika gadis kecil kita itu kesulitan," jawab Dila yang kemudian duduk di samping suaminya itu.


ustadz Ahmad tersenyum mendengar jawaban sang istri, pasalnya Fatin sudah dua puluh tiga tahun, dsn harus itu baru menyelesaikan kuliahnya di pendidikan agama Islam.


"assalamualaikum...." sapa Hasan dan Husain yang baru pulang dari mengajar pencak silat di pondok.


"waalaikum salam ustad-ustadz muda," kata ustadz Ahmad.


"Abi ini ngomong apa, kami hanya mengajari pencak silat Abi, lagi pula aku tak ada keinginan untuk melanjutkan jalan seperti Abi, mungkin Husain," terang Hasan.


"Abi tau kok, bagaimana pekerjaan mu nak?" tanya ustadz Ahmad.


"Alhamdulillah abi, semua restoran berjalan lancar, dan besok kami akan ada pembukaan cabang baru," jawab Hasan yang mengurus semua usaha milik Dila.


sedang Husain menjadi guru pengajar di yayasan, dia juga masih menempuh pendidikan S2.


"umi boleh tolong bantu pijat kepalaku, karena tiba-tiba pusing," kata Husain yang duduk di depan kaki Dila yang duduk di sofa

__ADS_1


"kamu masuk angin? bukankah kemarin waktu pulang dari malang untuk mengikuti study tour kamu baik-baik saja Husain?" tanya Dila khawatir


"iya umi, aku juga tak mengerti tapi tak masalah, mungkin karena aku yang kurang tidur, terlebih setelah pulang juga, aku ada UTS di kampus," jawab Husain.


"aduh adik aku kasihan, makanya jangan Maruk dek, jangan terlalu di grosir, ingat kamu itu juga butuh istirahat," jawab Hasan yang memberikan wejangan.


"iya iya tau," kata Husain.


tak lama Husna Almira Fadillah juga datang, gadis itu juga sedang sibuk mengerjakan tugas akhir sekolah yang membuatnya bolak-balik ke rumah temannya.


"Abi!!" teriak Husna yang langsung memeluk ustadz Ahmad.


"astaghfirullah... Husna tolong BBM mau masuk rumah itu salam dek,jangan malah teriak kayak begitu, ingat suara wanita itu aurat," kata Husain.


"iya maaf mas, assalamualaikum... Abi ... umi ... akhirnya tugas kami selesai, dan kelompok kami mendapatkan nilai sempurna, terima kasih ya Abi yang sudah membantu," terang Husna yang begitu ceria.


"Alhamdulillah ya dek, tapi kamu tak bersama neng Fatin pulangnya?" tanya Dila.


"ih umi mah sayangnya cuma sama neng Fatin," protes Husna.


Dila pun hanya tersenyum, "memang kenapa sih dek, umi kan memang selalu sayang neng, assalamualaikum umi," sapa Fatin yang baru pulang.


"Abi lihat umi, pasti selalu peluk neng Fatin," adu Husna.


"kenapa sih dek, umi kan milik neng Fatin memang, kamu sudah punya Abi loh," jawab Fatin yang memanas-manasi adik perempuannya itu.


"neng Fatin...." rengek Husna.


"sudah-sudah sekarang kalian masuk dan cepat mandi, sebentar lagi ashar, Abi mau ke masjid karena jadwal menjadi imam," kata ustadz Ahmad.


"Abi tolong titip salam untuk calon menantu ya," kata Hasan melirik Husna.


"calon menantu?" bingung ustadz Ahmad.


"sudah bi, nanti juga tau," tambah Husain.

__ADS_1


sedang Fatin masih fokus dengan Dila dan sedang berbagi cerita tentang kesehariannya.


Hasan dan Husain memang tau sesuatu, ya mereka pernah tak sengaja memergoki adik mereka sedang berbincang serius dengan salah seorang ustadz yang mengajar di yayasan.


sedang mendengar ucapan dari kakaknya, Husna hanya tersenyum malu saja, pasalnya keduanya tau apa yang di rasakan oleh Husna.


ustadz Ahmad sampai di masjid, dan langsung menuju ke tempat imaman. dan segera memimpin sholat.


setelah sholat selesai, ustadz Ahmad duduk bersama beberapa orang pimpinan di yayasan.


pasalnya mereka ingin memperlebar lagi kancah pendidikan di pondok agar bisa membantu para santri yang kurang mampu.


kebetulan ustadz Yusuf, ustadz Ilyas menyetujui, begitupun ustadz Ilham. "saya setuju ide mas Ahmad, terlebih pendidikan di pondok ini hanya sampai di kelas sembilan, seharusnya setidaknya harus sampai SMA, agar lebih baik," kata ustadz Yusuf.


"tapi kita harus memikirkan arsitektur dari bangunan nantinya, terlebih tak mudah menambah bangunan lagi, agar lebih efektif," terang ustadz Ilham.


"ustadz Ilham ini bagaimana, kita punya lulusan arsitek yang sangat berbakat meski dia lulusan sarjana hukum Islam," terang ustadz Ilyas


"ya Allah aku lupa, ustadz Ilyas benar, ada mas Abdullah ya, ya kita minta bantuan ustadz Abdullah saja," kata ustadz Ilham.


mereka semua pun setuju dengan usul yang di kemukakan, dan akan segera melaksanakan rencana mereka segera.


mas Abdullah Aziz, seorang pria lulusan terbaik universitas Islam di Madinah, kini mengajar sebagai tenaga di sekolah di bawah naungan yayasan milik ustadz Ahmad.


pria muda yang bias di panggil mas Abdul itu sepantaran dengan Fatin, dan adalah salah satu guru yang menjadi kesayangan ustadz Ahmad.


pria muda itu sedang bertukar pesan dengan seseorang sambil tersenyum, "assalamualaikum mas Abdul, ada wa ini kok senyum-senyum sendiri, pasti sedang kirim pesan dengan calon kakak ipar ya?" goda Rizky putra dari Arumi dan Rusdy.


"aduh kamu ini ngomong apa sih dek, sudah sangat gabung sama yang lain gih," kata mas Abdul.


akhirnya sore itu kegiatan ngaji kitab pun di mulai, ratusan santri sudah berjajar untuk mengikuti pengajian.


karena itu kegiatan wajib, tak hanya itu ada beberapa kegiatan yang lain, seperti ngaji tafsir dan yang lainnya.


Husna pun begitu senang selama menuju ke masjid, hingga kulsum mengejutkan gadis itu.

__ADS_1


"hayo lagi seneng nih, ayo segera berangkat,nanti kena marah umi mu lagi loh," kata kulsum tertawa.


"ih Tante kok gitu sih, ah aku telat kan," kata Husna yang berlari menuju ke aula tempat pengajian yang di pimpin oleh Dila.


__ADS_2