
Fatin pun merasa beruntung bertemu dengan gadis seperti Feby, sekarang dia tau kenapa Husain sampai menyukai gadis baik ini.
Fatin juga sudah merasa lebih baik karena tak terkena obat tidur lagi, dan dia berusaha untuk normal kembali.
dia pun bersiap untuk mengantarkan semua pesanan sesuai alamat, bahkan dia juga dapat pesanan dari rumah sakit tempat Mahi praktek.
dia semakin tak sabar ingin melihat suaminya itu, meski tak bisa memeluknya setidaknya dia bisa melihatnya dari kejauhan.
tak butuh waktu lama untuk Farhan dan Farah menemukan bukti kejahatan pria seperti Wihandoko.
mereka pun membuat pria itu di tahan oleh polisi dan tak bisa lepas lagi,bahkan semua polisi yang dia siap pun ikut terseret.
tak hanya itu, semua orang yang ikut terlibat dalam penculikan Fatin juga terserat.
Mahi pun merasa senang, bahkan tidak lebih dari dua puluh empat jam, kedua orang itu bisa menyelesaikan tugas ini.
Hendra dan keduanya sedang berada di rumah sakit, pasalnya mereka ingin menunjukkan sesuatu pada Mahi.
"selamat siang wakil direktur," sapa Farhan yang masuk terlebih dahulu.
"selamat siang om, dan Tante Maria silahkan duduk, dan bagaimana kabar kalian, ayah..." kata Mahi memeluk Hendra.
"Alhamdulillah baik, bagaimana pekerjaan kami, selesai dengan baik bukan?" tanya Farhan.
"bagaimana bisa om?" tanya mahi tak percaya.
"karena aku tak yakin dengan apa yang terjadi, terlebih jika mereka punya dendam bagaimana bisa mereka membunuh istrimu dengan mudah dan meninggalkan bukti dengan mudah, dan kebetulan kami sudah lama menyelidiki pria itu karena caranya berbisnis," jawab Farhan.
"beruntung sekali aku bertemu kalian,aku sudah menyiapkan tiket liburan satu keluarga ke Korea Selatan untuk om dan Tante, dan berserta uang sakunya juga," kata Mahi menyerahkan amplop itu.
"kamu yakin, bukankah ini rencana mu untuk Fatin?" tanya Farah.
"bagaimana bisa aku pergi, saat istriku saja tak ada di sisiku ...." lirih Mahi sedih.
Fatin sudah mengantarkan semua pesanan, tinggal milik area rumah sakit.
saat dia di lobi, dia meliht berita besar jika pria tua itu sudah di tangkap polisi beserta dengan semua anak buahnya.
Fatin pun terkejut karena perawat Dita yang menemuinya, "permisi mbak, apa ini kue yang tadi pesanan atas nama Dita?"
"iya mbak, ini kue atas pesanan Mbak Dita," jawab Fatin.
perawat Dita melihat terus wanita itu, suaranya mengingatkan perawat Dita pada sosok Fatin.
"apa ada yang salah mbak?" tanya Fatin yang masih menghitung uang.
"maaf suara mbak mengingatkan aku pada seseorang, dan sekarang bisakah membantuku mengantarkan ini kedalam, aku kerepotan karena semua teman ku sedang sibuk," mohon perawat Dita.
"baiklah, kebetulan ini adalah kloter terakhir," jawab Fatin yang dengan senang hati membantu wanita itu.
mereka menuju ke area tempat istirahat khusus perawat, setelah menaruh beberapa kotak, mereka lanjut ke area yang lain.
"terima kasih ya mbak, sekarang mbak bisa pulang," kata perawat Dita.
"baik, terima kasih ya, semoga nanti jadi langganan ya," kata Fatin yang kemudian pergi.
seorang perawat membawa cemilan itu masuk ke ruangan mahi yang kebetulan ada tamu.
"maaf dokter, ini ada sedikit cemilan dari perawat Dita," kata perawat yang lain.
__ADS_1
"wah ada acara apa? kok tumben?" tanya Mahi.
"katanya tadi, perawat Dita mendapat bonus yang besar jadi bagi-bagi saja," jawab perawat itu yang kemudian pamit.
"mari di cicipi om, dan Tante," kata Mahi mempersilahkan.
Mahi mengambil jajanan pastel yang selalu jadi kesukaannya, dan rasa pastel itu seakan menginggatkan pada Fatin.
"eh .. ini kue kok bisa mirip sama buatan menantu ya," kata Hendra yang langsung membuat Farhan,Farah dan Mahi menoleh.
Hendra pun juga sadar, "Fatin," panggilnya.
mereka berempat pun lari turun untuk mengejar wanita itu, tapi semua terlambat, tapi Mahi memilih mencari perawat Dita.
"kalian tau dimana perawat Dita?" tanya Mahi panik
"ada di ruangan istirahat dokter," jawab perawat itu.
Mahi pun bergegas ke ruang istirahat khusus itu, dan menemukan wanita itu sedang duduk bersama para suster yang lain.
"perawat Dita!" panggil Mahi.
"iya dokter, ada apa mencariku?" tanya perawat Dita.
"dimana kamu beli kue itu, dan aku minta nomor ponsel atau alamatnya, penting!" kata Mahi dengan frustasi.
"baiklah, tapi tempatnya berada di pinggiran kota tempat kawasan karaoke," jawab perawat Dita.
"tak masalah, kasih saja," kata Mahi yang mulai tak sabar.
perawat Dita pun menulis alamat dan nomor telepon itu, dan setelah mendapatkan keduanya.
"dia beli di tempat ini, dan katanya area itu adalah tempat karaoke paling terkenal di kota ini," kata Mahi.
"memang kenapa, apa disana tidak ada tempat kost, sudah jangan berpikiran buruk dulu,mungkin dia ngekos atau gimana, toh ini juga belum tentu dia juga kan," kata Farah membuat pria itu tenang.
Fatin sampai di rumah kost itu, tapi dia kaget saat seorang pria muncul begitu saja di depannya.
"awas!!" teriak Fatin yang telat menarik rem motor matic.
jadilah pemuda itu tertabrak, alhasil mereka keduanya terjatuh, "aduh... sakit..." lirih Fatin.
pemuda itu pun segera membantu untuk mengangkat motor matic itu, Fatin pun di bantu berdiri.
"maaf ya mas, ya malah anda bantuin saya," kata Fatin.
"gak papa, salah saya juga, oh ya saya belum pernah melihat mbak disini?" tanya Roy.
"kebetulan saya saudara Feby," jawab Fatin.
"oh... kalau begitu hati-hati ya, jangan sembarangan menemui orang ya, jika ada yang tak beres kamu bisa memanggil namaku, Roy, ingat itu," kata pemuda itu sebelum pergi.
"Iya terima kasih..." jawab Fatin.
Fatin pun memutuskan untuk Menuntun sepeda motor itu, dan memakirkan di garasi kost.
dia pun segera masuk dan beristirahat, tapi ada sesuatu yang tak terduga.
ada sebuah mobil datang, ternyata itu adalah rombongan dari Husain,Hasan dan juga Dila.
__ADS_1
ya wanita itu tau jika putranya Hussin menyukai wanita, tapi saat sampai dia kaget karena tempat itu adalah tempat yang terkenal sebagai tempat hiburan malam.
Dila yang awalnya begitu senang berubah seratus delapan puluh derajat, pasalnya dia tak tau jika gadis yang di sukai putranya adalah gadis panggilan.
"dimana rumahnya?" tanya Hasan.
"mari umi, kita kedalam tak jauh dari sini?" jawab Husain.
pasalnya kemarin malam dia memutuskan untuk jujur tentang perasaannya.
dia pasti akan membuat kejutan untuk Feby, dan gadis itu akan sangat senang.
sesampainya di tempat kos Feby, gadis itu baru pulang dari tempat karaoke.
"Feby!" panggil Husain pada gadis yang sedang menghitung uang itu.
dia mengenakan baju kaos ketat menunjukkan belah dada, dan juga rok mini yang sangat pendek.
Hasan dan Dila kaget melihat gadis yang di sukai oleh Husain, "dia gadisnya Husain?" tanya Dila lemah.
Feby kaget melihat Husain datang bersama dengan pria yang mirip dengannya, dan juga seorang wanita bercadar.
"apa, kamu mau apa kesini lagi, sudah ku katakan jangan pernah datang, pergi!" bentak Feby
Dila kaget mendengar gadis itu berteriak pada Husain, tapi yang membuat Dila heran adalah putranya itu biasa-biasa saja.
"aku datang ingin melamar mu, jawab Husain.
"kau gila, aku tak mau menikah dengan mu, pergi," usir Feby
tak terduga Fatin keluar dengan mengenakan celana kulot dan kaos oblong lengan panjang.
"ada apa Feby?" tanya Fatin.
Hasan dan Dila langsung menoleh mendengar suara wanita itu, "neng Fatin?"
wanita itu turun dari lantai dua tempat kos itu, dan menghampiri Feby yang nampak marah.
"selamat sore mas Husain, ada apa ini? kenapa Feby marah?" tanya fatin dengan sopan.
"jangan ikut campur, aku ingin melamarnya sebagai istriku," jawab Husain.
"tapi aku tak mau, bahkan ibu mu saja tak mengatakan apapun," jawab Feby kesal.
Fatin melihat sosok Dila, yang begitu dia rindukan, ingin sekali Fatin berlari dan memeluknya.
tapi dua menahan rasa itu, karena tak ingin terluka seperti halnya Husain kemarin.
"itu benar, jika orang tua mu saja tak setuju, jangan pernah meminang seorang gadis, karena tentu kamu tak ingin gadis itu di jadikan orang lain di keluarga suaminya bukan," kata Fatin mengingatkan.
"ya, itu benar, maaf untuk saat ini umi tak bisa melakukannya,kita bahas nanti," kata Dila yang ingin kembali.
tapi mereka kaget melihat sosok Hendra, Farhan, Farah dan Mahi. "kalian datang ke sini mau apa?" tanya Dila
"mau mencari menantuku, dia belum meninggal dunia, karena yang kalian makamkan itu bukan Fatin tapi orang lain," jawab Hendra.
Fatin pun langsung menarik Feby masuk ke dalam kamar kos, meligar itu Mahi mengejar wanita itu.
Mahi menghadang Keduanya, Mahi terus mendekat kearah Fatin. dia pun mengalihkan wajahnya agar Mahi tak terus melihat dirinya.
__ADS_1