
Mahi sedang berada di sebuah warung yang cukup terpencil, dia pun memilih duduk di tepian sungai sambil merendam kakinya.
"ada masalah lagi nak?" tanya penjaga warung yang seorang pria sepuh.
"bapak disini? terus yang jaga warung siapa?" tanya Mahi kaget.
"ada cucu Kakek, ada masalah apa nak, siapa tau kakek bisa bantu," tanya kakek itu dengan nada lembut.
"ah apa aku sebegitu mudah di tebak, maaf aku memang sedang tak dalam kondisi baik," jawab Mahi tersenyum
"paling gampang nak, adu semua keluh kesah mu pada sang pencipta, karena Allah yang memiliki semua solusi dalam hidup ini, pertolongannya pun pasti akan datang pada umatnya," kata kakek itu sambil menepuk bahu Mahi.
setelah merasa tenang, Mahi pun bangun dan segera kembali ke rumah, ternyata semua orang sedang berada di rumah.
Mahi heran melihat ada ustadz Ahmad, Hasan dan Husain berkumpul di ruang tamu.
"assalamualaikum..."
"waalaikum salam.." jawab ketiga pria itu.
"dari mana le?" tanya ustadz Ahmad melihat celana Mahi basah.
"tidak dari mana-mana Abi, saya permisi karena sudah dekat jam praktek," pamit Mahi yang segera masuk kedalam kamar.
ternyata Dila sedang berbincang dengan Fatin, Mahi pun mengetuk pintu dan kemudian mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Fatin.
"umi keluar dulu, ingat ya neng.." kata Dila yang kemudian pergi.
Fatin ingin mendekati Mahi, tapi pria itu segera pergi kedalam kamar mandi, Fatin pun menunggu suaminya itu keluar.
tapi saat Mahi keluar, pria itu nampak buru-buru, Fatin ingin berbicara dengan Mahi sebentar, "mas aku ingin bicara sebentar,"
"ada apa?" tanya Mahi yang sibuk mengemas beberapa berkas dan juga baju kemeja dan kaos ke dalam tasnya.
"mas mau kemana kok bawa baju ganti?" kaget Fatin.
"mau ke rumah sakit dek, memang mau kemana," jawab Mahi yang terus memilih beberapa berkas.
"mas aku ingin min-"
tiba-tiba ponsel Mahi berdering, ternyata itu panggilan dari Aline, karena ada kondisi darurat.
"ya halo Aline, ada apa?" kata Mahi yang langsung menerima telpon itu dan memberikan kode untuk Fatin diam.
__ADS_1
"siap, kenapa bisa, segera minta Reza menyiapkan ruang operasi, Lima belas menit lagi aku sampai di rumah sakit, dan terus lakukan yang terbaik sampai aku sampai disana," jawab Mahi yang masih belum mematikan ponselnya.
bahkan saat akan pergi, Mahi hanya mencium kening Fatin dan berlalu begitu saja.
"kita lanjutkan nanti malam bicaranya," kata Mahi yang langsung keluar kamar sambil terus berbicara di telepon.
Fatin pun tak mengerti harus berbuat apa lagi, pasalnya Mahi terus menghindar seperti ini.
"ini salah ku..."
Dila masuk kedalam kamar dan melihat Fatin masih menangis, dan sepertinya Mahi sangat terburu-buru ke rumah sakit.
"umi... mas Mahi masih marah ya.." tangis Fatin.
"tidak nak, dia mungkin buru-buru karena ada pasien, jangan sedih ya," kata Dila menenangkan putrinya itu.
Mahi benar-benar mengejar waktu, salah satu pasiennya mengalami serangan jantung.
Mahi pun segera berlari setelah sampai di rumah sakit, dan memeriksa kondisi dari pasien.
Mahi pun berusaha membuat kondisi pasien stabil, dan kemudian bayi bisa di lakukan operasi kecil pemasangan ring jantung.
setelah melakukan prosedur itu, Mahi merasa begitu lelah, Aline yang melihat nabi pun merasa kasihan.
"terima kasih ya Aline, bisakah hati ini jangan terlalu banyak pasien, aku sedang tak bisa terlalu fokus," kata Mahi yang memijat kepalanya.
"iya dokter, aku sudah memberitahu bagian pendaftaran, terlebih semalam kita melakukan lembur dadakan, oh ya mau makan siang atau tidak dokter," tanya Aline melihat jam tangannya.
"tak usah, kamu makan duluan saja, saya mau sholat dulu," kata Mahi yang di angguk oleh Aline.
gadis itu pergi dari ruangan Mahi, "kenapa dokter tak pernah melihat ku, apa aku memang tak sebanding itu dengan istrinya, padahal usia kami sama," gumamnya.
Aline ingat benar bagaimana dia begitu terpukau oleh sosok nahi yang baru datang dan sudah menjadi dokter khusus.
bahkan dia makin kagum setelah tahu jika pemuda itu mendapatkan gelar miliknya dengan akselerasi.
Aline bahkan rela di pindahkan dari tempat awalnya menjadi asisten dari Mahi, tapi ternyata pria itu tak pernah memandangnya sebagai wanita.
tapi hanya menganggapnya sebagai asisten dan rekan kerja, bahkan Mahi akan menolak membicarakan tentang masalah pribadinya.
"hei kenapa disini, Ayo makan dulu, jam kita sangat padat kami tau," tegur Leli teman Aline dalam bekerja.
mereka menuju kantin, sedang Fahri memilih untuk sholat, dan mengadu semuanya pada Allah.
__ADS_1
beruntung setelah sholat hatinya merasa sedikit tenang dan plong, nahi pun mulai bekerja dengan rajin.
saat melakukan visit ke beberapa pasiennya yang rawat inap, tak sengaja nahi bertemu dengan orang tua Adelia.
"Mahi," panggil ibu Fatma.
"assalamualaikum ibu, bapak," sapa Mahi sopan.
"ya Allah tak menyangka kamu sudah jago dokter, dan makin tampan ya pak," puji Bu Fatma.
"iya Bu, maafkan perlakuan kami dulu ya nak," kata pak Doni.
"terima kasih ibu, iya pak tidak apa-apa, anda hanya berharap yang terbaik untuk putrinya, anda berdua sedang menjengguk keadaan Adila?" tanya Mahi.
"iya, dia belum sadar, apa kamu bisa membuatnya segera sadar Mahi, dia begitu malang saat ini, sudah kehilangan suaminya dan sekarang bayinya juga harus mati," kata Bu Fatma yang ingin menarik simpati dari Mahi.
"tapi maaf Bu, saya bukan dokter obgyn atau dokter luka dalam, kalau begitu saya mohon maaf dan permisi karena masih banyak yang harus saya kunjungi," kata nahi yang tak ingin berlama-lama disana.
kedua orang tua Adila pun tak mengira, jika anak dari narapidana seperti Mahi bisa sukses seperti ini.
"lihat pak, pemuda yang kita hina sekarang sudah sukses, tapi ibu rasa Adila akan cocok jika di panggil ibu nyonya dokter Mahi," kata bu Fatma.
"ibu benar, mumpung kita disini bersama Adila, sepertinya kita harus membuatnya tergila-gila pada putri kita ya, oh ya yang aku dengar jika sekarang keluarga itu juga sangat kaya, bukankah itu bagus untuk kita," kata pak Doni.
"bapak sangat benar," jawab Bu Fatma.
dia tak mengira jika suaminya itu punya pemikiran yang sana dengannya, dan itu akan sangat menguntungkan putri mereka nantinya.
Mahi pun hanya terus minum air, dia tak selera untuk makan apapun, sedang di rumah, Fatin pun melakukan hal yang sama.
"neng ayo makan dulu, nanti kamu sakit," bujuk Dila.
"tidak umi, mas Mahi pasti juga tidak makan, aku tak mau makan sampai mengajaknya bicara," kata Fatin.
"ini tau neng, tapi jika kamu sakit, bukankah itu akan membuat Mahi sangat sedih," kata Dila yang terus membujuk putrinya itu.
"maaf umi, tapi Fatin masih ingin sendiri," kata Fatin dengan nada memohon.
Dila pun mengerti dan meninggalkan putrinya itu di dalam kamar, dia keluar dan mengeleng pelan pada suaminya.
"tetap tak ingin makan, ya Allah ... mereka baru menikah tapi kenapa seperti ini," kata Dila sedih.
"sabar saja umi, mungkin ini ujian mereka agar cinta yang akan terjalin lebih kuat lagi," kata ustadz Ahmad
__ADS_1
"semoga ya Abi," jawab Dila.