
Daun pepaya, daun sirih
Dibuat jamu, dicampur kunyit
Wahai reader yang terkasih
Masukkan novel Pria Idaman Lain jadi favorit
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia
.........
Acara makan malam telah selesai, para orang tua berkumpul dan berbincang-bincang di ruang keluarga. Para orang tua memberikan waktu anak-anak muda untuk saling mengenal, para anak muda bersantai di taman samping. Anand ingin mendekati Tara untuk minta maaf, namun dia kalah cepat dengan Aryan.
Aryan membuka pembicaraan. "Tara, tumben sekali kamu ceroboh dan bisa jatuh, kok bisa sih?"
"Tara nggak ceroboh kok kak, itu gara-gara aku yang nggak bisa jagain dia," Gala menyahut.
"Nggak! Ini bukan gara-gara kamu Gala. Kenapa sih begitu terus, aku nggak suka kalau kamu nyalahin diri sendiri terus." Tara memprotes.
"Kalau bukan karena aku nggak bisa langsung menumbangkan tuh kecoa, pasti kamu nggak akan terkena pukulan juga." Gala menyesal.
"Tara, kamu kena pukul? Kok aku nggak tahu sih? Bagian mana yang sakit, sudah diobati belum?" Aryan khawatir.
"Gimana mas Aryan bisa tahu? Kan kita nggak pernah bertemu. Jangankan bertemu, nomor HP aja nggak punya." Tara manyun dan pura-pura marah.
"Oh iya, dulu waktu ketemu aku selalu lupa minta nomor kamu. Nomor kamu berapa? Biar mas save sekarang."
"0821xxxxxxxx."
Diam-diam Anand pun ikut save nomor HP Tara.
"Okay, sudah di-save. Jadi dimana yang sakit? Sudah diobati belum?"
"Sudah mas, tadi langsung ke dokter. Setelah di rontgen hasilnya nggak ada masalah, jadi nggak perlu khawatir, besok pasti sudah sembuh."
"Gimana nggak khawatir, sampai kena pukul gitu. Memang siapa sih yang beraninya mukul cewek?"
Tara melirik ke arah Anand, yang dilirik bingung mau bersikap seperti apa. Anand merasa malu atas perlakuannya terhadap Tara.
"Itu kecoa mulutnya nggak pernah disekolahkan, terus beraninya mukul cewek. Kalau bukan karena Tara, sudah aku balas dia sampai babak belur." Gala emosi dan menyindir Anand.
"Kecoa?" Aryan bingung.
"Maksudnya orang yang mukul Tara, anggap aja dia kecoa. Kalau omongan dan kelakuannya meninggalkan luka, seperti kecoa kalau dipukul meninggalkan kuman penyakit." Gala masih emosi.
"Gala, sudah dong!" Tara menghentikan Gala.
"Habisnya, kesel banget aku tuh! Dia nuduh kamu yang enggak-enggak." Gala terus melirik ke arah Anand.
"Tara, siapa sih dia? Biar mas yang bantu beresin, takutnya nanti dia dateng ganggu kamu lagi." Aryan menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Ada pokoknya, mas. Sebaiknya nggak usah tahu siapa dia, takutnya masalahnya semakin rumit." Tara masih menutupi.
"Iya mas, sebaiknya nggak tahu aja, tapi kalau mau cari tahu sendiri juga nggak apa-apa sih." Gala memprovokasi.
"Galaaa..." Tara mencubit Gala.
Aryan sedikit cemburu dengan kedekatan Gala dan Tara. Dia berpikir, apakah dia harus segera mendekati Tara agar dia tidak kalah start.
Bi Tarti tiba-tiba datang. "Maaf, nona dan tuan muda sekalian dipanggil tuan Yoga untuk kumpul di ruang keluarga."
"Baik, bi. Kami akan segera ke sana." Tara menjawab.
Tara pun meminta semuanya segera ikut berkumpul, sekalian menghindari pertanyaan Aryan. Jika tidak segera pergi dari taman, Tara tidak yakin apakah dia mampu meredam emosi Gala yang sebenarnya ingin memberi tahu Aryan tentang kelakuan Anand tadi siang.
.........
Semuanya berkumpul kembali di ruang keluarga untuk beramah-tamah. Tibalah saatnya Tuan Yoga dan Tuan Indra menyampaikan bagian inti dari acara makan malam dua keluarga ini.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, mari masuk ke topik inti malam ini." Tuan Yoga membuka suara.
"Tidak perlu basa-basi lagi, Anand, Aryan dengarkan baik-baik apa yang akan papa sampaikan." Tuan Indra yang akan menjelaskan lebih dahulu.
"Baik, pa." Anand dan Aryan menjawab dengan kompak.
"Termasuk nak Tara. Tolong dengarkan apa yang akan om sampaikan!" Pinta Tuan Indra pada Tara.
"Baik, om. Tara akan mendengarkan dengan baik-baik." Jawab Tara dengan sopan.
"Maksud kedatangan keluarga Cakra Wangsa kesini sebenarnya untuk membicarakan perjodohan antara keluarga Cakra Wangsa dan keluarga Maheswari."
Raut muka Tara langsung berubah mendengar penuturan tuan Indra. Tara takut jika Anand yang akan dijodohkan dengannya. Kalaupun dia dijodohkan dengan Aryan, Tara tidak mau jika Aryan hanya terpaksa karena menuruti keinginan orang tua. Tara akui, dia menyukai Aryan sejak pertemuan pertama, tapi Tara juga tidak yakin apakah Aryan juga menyukainya.
Anand menyahut. "Maaf, pa, om. Kita 'kan tidak saling mengenal sebelumnya, sekarang sudah bukan zamannya perjodohan lagi."
"Maaf, saya juga keberatan dengan perjodohan ini, apalagi sekarang saya masih SMA. Masih banyak ilmu dan cita-cita yang belum saya raih. Saya masih ingin membangun usaha dan nama Tara sendiri." Tara mengajukan keberatan.
"Kami para orang tua tidak ingin memaksa, tapi kami berkeinginan Tara berjodoh dengan salah satu anak dari om Indra." Tuan Yoga ikut ambil bicara.
"Baiklah, papa sudah bilang tidak memaksa. Jadi apakah boleh saya mengungkapkan apa yang saya inginkan?" Tara meminta ijin menyampaikan keinginannya.
"Iya, om. Tolong dengarkan apa yang kami inginkan juga." Aryan mendukung Tara.
"Baiklah, kami akan mendengarkan apa yang kalian inginkan. Keputusan ada di tangan kalian bertiga." Tuan Yoga mengalah.
"Aryan, coba mulai dari kamu dulu." Titah tuan Yoga.
"Saya sebenarnya tidak keberatan dengan perjodohan ini, hanya saja saya juga punya mimpi yang belum tercapai. Tentu saya harus menjadi lebih layak untuk menjadi menantu keluarga Maheswari, andai saja nanti Tara memilih saya." Aryan menjawab dengan mantap.
"Bagaimana dengan kamu Anand?" Tuan Yoga memberikan kesempatan bicara pada Anand.
"Sudah bukan zamannya perjodohan, om. Tapi bukan berarti saya menolak, biarkan kami menjalin pertemanan terlebih dahulu untuk lebih mengenal satu sama lain." Jawab Anand sedikit ragu.
"Lalu, bagaimana menurut kamu, Tara? Tuan Yoga meminta pendapat pada putrinya.
__ADS_1
"Kami bertiga sama-sama butuh waktu. Jika mas Aryan dan mas Anand berkenan menunggu, saya tidak masalah. Saya masih ingin melanjutkan kerjasama dengan butik mama dan kuliah sampai S2 untuk persiapan menjadi penerus papa." Tara menghela nafas, dia harus kuat menjadi dewasa lebih cepat.
"Bukankah papa yang mendidik saya dengan keras agar mampu menjadi penerus papa? Saya rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas perjodohan."
"Jujur saja, saya takut hilang fokus. Saya juga belum layak menikah." Tara menjelaskan secara detail.
"Baiklah... Bagaimana Indra? Apa kamu ada solusi?" Tuan Yoga meminta pendapat Tuan Indra.
"Dari pendapatan mereka dapat aku simpulkan kalau mereka tidak keberatan dengan perjodohan ini. Kita hanya perlu menunggu sampai Tara lulus S2."
"Nanti jika Tara sudah lulus S2, baru kita bahas lagi tentang perjodohan ini. Kita juga tidak bisa memaksa anak-anak untuk menuruti ego kita." Tuan Indra sedikit sedih.
"Saya tidak menolak kok, om, hanya saja saya masih butuh waktu." Tara memberi penjelasan agar para orang tua tidak terlalu kecewa.
"Setelah nanti lulus S2, kalau boleh saya minta waktu satu tahun untuk untuk menentukan pilihan. Tentu jika mas Aryan dan mas Anand menyetujuinya." Tara meminta waktu lebih.
"Saya setuju dengan Tara. Sembari menunggu Tara lulus, kami berdua bisa memantaskan diri untuk menjadi pendamping Tara." Aryan memberikan dukungan.
"Saya juga setuju dengan pendapat Tara." Anand ikut menjawab.
"Baiklah, sudah aku putuskan untuk membuat sayembara untuk kalian berdua, Anand dan Aryan." Tuan Indra memberikan titah.
"SAYEMBARA???"
Anand, Aryan dan Tara menjawab serentak.
"Papa akan memberikan 60% saham atau kekayaan Cakra Wangsa pada salah satu dari kalian yang menikah dengan Tara." Tuan Indra menjelaskan.
"Tapi, om! Sayembara sama saja dengan lomba. Saya tidak mau dijadikan piala perlombaan. Saya butuh cinta bukan harta."
"Saya tidak mau mendapatkan cinta yang palsu. Jika seperti itu, lebih baik saya mencari cinta saya sendiri." Tara membantah.
"Bukan nak, bukan begitu maksud, om."
"Siapa saja yang berjodoh dengan kamu nanti, semoga kamu bisa memilih dengan bijak dan semoga kalian saling mencintai." Tuan Indra mencoba meyakinkan Tara.
"Om hanya ingin memberikan yang terbaik untuk menantu om, makanya om akan memberikan 60% kekayaan om. Lagi pula 60% itu tidak sebanding dengan apa yang papa kamu miliki, tentu om tidak mau kalah dong."
"Om harap kamu tidak tersinggung," pinta Tuan Indra.
"Baik, pa. Saya terima sayembaranya. Saya akan buktikan tanpa 60% dari papa, saya juga layak mendampingi Tara." Jawab Aryan tegas.
"Anand juga akan melakukan yang terbaik, pa," Anand tidak mau kalah.
"Okay, sepertinya pejuang kita sudah siap. Terserah nak Tara nanti akan pilih siapa. Om rasa ini sudah kesepakatan bersama, iya 'kan Yoga?" Tuan Indra bahagia.
"Iya, Indra. Kita tinggal tunggu waktu saja, semoga semuanya berjalan lancar sampai nanti saat tiba waktunya." Tuan Yoga juga bahagia.
Para nyonya senyum sumringah karena akan besanan, meskipun masih harus menunggu lama.
Gala pov: Sudah hilang kesempatanku untuk bersanding dengan Tara, seharusnya aku tak ikut pertemuan ini karena aku hanyalah orang luar yang dianggap keluarga. Tapi jika Tara bahagia, aku juga akan bahagia untuknya. Sebelumnya perjodohan ini benar-benat terjadi, aku akan selalu ada untuk kamu Tara. Aku masih berharap kamu akan merasakan cintaku padamu.
.................
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.