Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 35_Sajna (Sayangku)


__ADS_3

Lebaran mempererat kekeluargaan


Tidak lupa makannya makan ketupat


Wahai reader berikanlah author dukungan


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Gala pov: Umpan telah dimakan, ikan terpancing dengan cepat. Bukti tambahan sudah terkumpul, aku mendapatkan senjata untuk menjauhkan Rani dari hidupku. Tara pasti khawatir dan bingung dengan kelakuanku tadi. Biarlah, aku akan memberikan kejutan untuk Tara.


"Gala, apa maksud kata-katamu tadi? Apa kamu marah padaku dan akan pergi dariku?" Tara mengirim pesan pada Gala.


Sejak tadi Gala sengaja mengabaikan Tara karena sedang berakting di depan Rani. Bahkan telepon Tara tidak dia jawab lagi agar aktingnya maksimal dan meyakinkan Rani. Gala sengaja merekam percakapannya dengan Rani sebagai bukti kuat untuk mengancam Rani.


"Gala, angkat teleponnya, please…"


"Gala, sajna... Please jelaskan padaku, kenapa tiba-tiba kamu bersama Rani?"


"Gala, kamu dimana? Kamu sedang apa dengan Rani? Please… Jangan membuat aku khawatir!"


Tara sudah mengirim empat pesan, namun tidak ada balasan dari Gala. Tara pun berusaha menelepon Gala lagi, tapi Gala tetap tidak mau menjawab telepon darinya.


Gala pov: Aku tahu kamu khawatir dan pasti cemburu, aku suka itu Tara. Aku tidak sabar bertemu dan melihat ekspresimu.


"Gala, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Atau kamu marah karena aku memilih mas Aryan?"


"Bukankah kamu yang menyuruhku melakukan sesuai rencana awal?."


"Lalu kenapa sekarang kamu ninggalin aku dan memilih pergi dengan Rani?."


"Gala, sajna... Jika tidak mau menjawab telepon, setidaknya cepat balas pesanku."


"Gala, kamu ada dimana?"


"Galaaa..."


"Sajnaaa…"


Tara yang panik membombardir Gala dengan banyak pesan bertubi-tubi. Diam-diam Tara pergi ke paviliun tempat Gala tinggal selama di kediaman Maheswari. Gala memang unik, dia meninggalkan rumahnya dan lebih senang tinggal di paviliun kediaman Maheswari agar dekat dengan Tara. Beruntung tidak ada orang yang melihat saat Tara menyelinap ke paviliun Gala.


Gala telah sampai di kediaman Maheswari, masih ada beberapa pegawai yang membereskan sisa-sisa acara. Suasana yang masih ramai membuat Gala memutuskan kembali ke paviliunnya, dia akan menemui Tara besok pagi saja. Gala masuk ke paviliunnya tanpa curiga, baru saja dia menyalakan lampu ruang tamu tiba-tiba Tara menegurnya.


"Aku kira kamu tidak ingat untuk pulang?" Sindir Tara.


Gala berusaha menahan senyum. "Tentu aku ingat pulang, tapi aku tidak mengingatmu."

__ADS_1


Kedua bola mata Tara berkaca-kaca menahan tangis, antara kecewa karena merasa dipermainkan Gala dan sedih karena dia tidak bisa tegas menentukan pilihan. Tara merasa dirinya terlalu serakah dan egois. Tanpa sadar air matanya menetes juga membasahi pipinya.


"Apa kata-kata cintamu padaku selama ini hanya bohong?" Suara Tara tercekat karena menahan tangis.


"Sedari tadi aku berusaha mempercayaimu. Aku yakin dan tidak pernah ragu padamu. Tapi, kamu malah tidak ingat denganku." Tara menangis.


Gala yang tak kuasa melihat tangis Tara akhirnya memeluk Tara. "Hey… Apa ini masih Tara yang aku kenal?"


"Maaf karena aku sudah keterlaluan menggodamu. Berhentilah menangis…" Gala mengecup puncak kepala Tara.


Tara tidak membalas pelukan Gala, dia masih bingung dan berusaha membaca keadaan saat ini.


Gala melepas pelukannya dan menatap mata Tara. "Sajna… Tenanglah, aku selalu setia padamu."


"Tapi kata-katamu dan sikapmu barusan menunjukkan sebaliknya." Tara masih belum paham.


"Aku selalu mengingatmu, aku tadi cuma bercanda, sajna."


"Lalu kenapa kamu bilang tidak boleh menganggumu karena kamu sedang bersama Rani?" Sanggah Tara.


"Apa kamu cemburu?" Gala masih menggoda.


"Tidak, buat apa aku cemburu, aku sudah punya mas Aryan." Tara ketus.


"Benar kamu tidak cemburu?"


"Baiklah, aku mau balik ke rumah Rani lagi dan menerima cintanya." Gala pura-pura akan pergi.


Belum sempat Tara menyelesaikan ucapannya, bibir Gala sudah berhasil mendarat dibibir Tara. Namun Tara tidak membalas ciuman Gala.


"Apa kamu tidak percaya padaku?" Tanya Gala.


"Aku belum memaafkanmu. Kamu masih hutang penjelasan." Tara masih cemberut.


Gala malah memeluk Tara. "Aku suka kamu yang sedang cemburu. I love you, sajna."


Tara meronta ingin lepas dari pelukan Gala. Namun Gala tidak membiarkan Tara lepas dari pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, kamu menggemaskan sekali kalau cemburu. Kamu masih mau dengar penjelasanku 'kan?"


Tara diam dan membiarkan Gala terus memeluknya.


"Tenanglah… Aku akan menceritakan semuanya. Tapi jangan ribut atau nanti akan ada orang yang mendengar dan melihat kita berdua." Gala menenangkan Tara.


"Cepat ceritakan!" Tara sudah tidak sabar.


"Intinya… Aku berhasil menjebak Rani agar dia mengakui bahwa dia yang menyebarkan foto dan ujaran kebencian untuk merusak reputasimu. Yang paling penting lagi, aku sudah punya banyak bukti untuk mengirimnya ke balik jeruji besi." Papar Gala.


"Kamu 'kan sudah berjanji tidak akan mengusut kasus ini ataupun melaporkannya ke pihak berwajib. Dia temanku, aku tidak mau dia semakin membenciku." Protes Tara.


"Apa dia memikirkan perasaanmu juga? Dia bukanlah teman, tapi dia musuh dalam selimut." Jelas Gala.

__ADS_1


"Iya, tapi dia seperti itu juga karena salahku yang serakah ingin memilikimu juga." Jawab Tara ngeyel menyalahkan dirinya sendiri.


"Bukankah kamu sudah bilang akan menjadi seperti yang Rani katakan tentangmu. Apa sekarang kamu berubah pikiran? Apa kamu ingin membuangku, mengusirku dari sisimu?" Tangan Gala mengguncang bahu Tara.


Tara menautkan tangannya pada leher Gala dan memberinya ciuman lembut untuk mengungkapkan rasa cintanya. Gala pun membalas ciuman Tara.


Tara menghentikan ciumannya. "Jika aku ingin kamu pergi dari sisiku, lalu untuk apa aku menyelinap kesini di saat pertunanganku dengan mas Aryan baru selesai digelar?" Kata Tara.


"Aku hanya tidak ingin memperbesar masalah, lagipula masalahnya juga sudah teratasi." Terang Tara.


"Dengarkan sampai aku selesai bicara! Aku tidak benar-benar ingin membawa kasus ini ke jalur hukum. Aku hanya ingin mengunakan semua bukti yang ku punya untuk mengusirnya dari hidupku."


"Kamu cintaku satu-satunya, tidak ada yang lain. Meski aku tidak bisa memilikimu seutuhnya."


Tara langsung memeluk Gala lagi, bersembunyi di dadanya yang bidang. Matanya terpenjam merasakan kehangatan dalam pelukan Gala.


Tara pov: Aku sudah gila. Aku mencintai dua pria sekaligus. Aku tidak benar-benar tidak bisa melepaskan salah satu.


"Aku juga sudah memberitahu dia kalau kamu pun sudah tahu bahwa dia yang sudah jahat padamu." Gala menjelaskan.


"Tapi kamu sudah bikin aku panik dan cemburu, aku belum memaafkanmu."


"Jelaskan dulu bagaimana kamu menjebak Rani!" Titah Tara.


"Nanti kamu dengarkan sendiri saja hasil rekamannya. Beruntung aku selalu siap dengan spy cam recorder."


"Apa kamu sekarang menjadi agen mata-mata?" Sahut Tara.


"Itu untuk keadaan mendesak saja. Aku harus berjaga-jaga."


"Apa kamu berlaku romantis pada Rani saat menjebaknya tadi?" Tara menyelidik.


"Aku tidak pandai berakting, mana mungkin aku bersikap romantis padanya. Aku hanya bersilat lidah saja." Papar Gala.


"Jangan-jangan kamu berkata buruk tentangku?" Tanya Tara.


"Iya, aku bilang padanya kalau kamu yang mendekati aku, ha... ha... ha..."


"Padahal jelas-jelas akulah yang selalu mengejarmu dan baru sekarang kamu bisa ku gapai."


"Tara, kenapa kamu diam?"


"Aku hanya enggan melepaskan pelukan ini. Tapi aku harus segera kembali ke kamar." Jawab Tara.


"Aku juga enggan melepasmu. Tapi benar kamu harus kembali daripada muncul masalah jika ada orang yang tahu kamu disini sedang berpelukan denganku."


"Baiklah, aku akan kembali." Tara pamit.


"Good nite, sajna." Gala mengecup kening Tara lalu membiarkannya pergi.


.................

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.


__ADS_2