
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Nyonya Gita sudah tidak sabar untuk menjadikan Anand sebagai suami Tara, dengan begitu Anand akan menguasai dua keluarga besar sekaligus. Tara sebagai pewaris tunggal keluarga Maheswari dan Anand sebagai pewaris tunggal keluarga Cakra Wangsa.
"Aku harus segera bergegas membujuk tuan Yoga, jangan sampai aku terlambat dan ada pria lain yang menghampiri Tara. Janda kaya dan cantik pasti banyak yang mau. Anand ku harus mendapatkannya." Nyonya Gita bermonolog.
Secara khusus siang itu Nyonya Gita datang menemui Tuan Yoga di kantornya, kalau bertemu di kediaman Maheswari pasti akan direcoki oleh Nyonya Lita dan mungkin saja rencananya membujuk Tuan Yoga akan gagal.
"Selamat siang, tuan Yoga." Sapa Nyonya Gita.
"Selamat siang, tumben sekali anda menemui saya sendiri, nyonya Gita." Jawab Tuan Yoga.
"Kita kan besan, lebih baik panggil nama saja ya. Meskipun Aryan sudah tidak ada, kita tetap berbesanan 'kan?" Saran Nyonya Gita.
"Tentu, kita tetap berbesanan. Apalagi Tara mengandung anak Aryan." Tuan Yoga setuju.
"Angin apa yang membuat mu menemui aku di kantor? Biasanya kamu akan lebih suka bertemu dengan istriku." Tuan Yoga menanyakan maksud kedatangan Nyonya Gita.
"Jujur saja aku masih sedih dengan kepergian Aryan dengan cara yang tragis seperti ini." Pura-pura sedih dan menangis.
"Aku pun sedih karena anakku harus menjadi janda saat sedang mengandung. Aku juga kehilangan Aryan karena dia sudah seperti anakku sendiri." Air muka yang benar-benar sedih karena merasa kehilangan.
"Tapi kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan, Yoga. Bukan begitu?" Nyonya Gita mulai beraksi.
"Betul, kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan. Yang hidup harus tetap melanjutkan hidup dengan baik meskipun hati masih terluka karena kehilangan." Tuan Yoga mulai mengikuti alur yang Nyonya Gita ciptakan.
"Begitu pula dengan Tara. Dia tidak bisa boleh terlarut dalam kesedihan terlalu lama. Yang hidup berhak bahagia dan melanjutkan hidup dengan baik." Nyonya Gita mulai memberi umpan.
"Ya, Tara harus melanjutkan hidupnya dengan baik demi anak yang dia kandung." Tuan Yoga benar-benar khawatir dengan keadaan putrinya.
"Anak yang ada dalam kandungan Tara berhak mendapatkan kasih sayang yang lengkap, anak itu pasti membutuhkan sosok ayah."
"Aku masih cukup muda untuk dipanggil papa oleh cucuku sendiri. Aku tidak akan membiarkan cucuku kehilangan kasih sayang seorang ayah." Tuan Yoga memutuskan.
"Tidak...! Itu tidak benar. Kakek tetaplah kakek, bukan ayah." Sanggah Nyonya Gita.
"Apa maksud mu, Gita?" Tuan Yoga terperajat.
"Cucu kita membutuhkan sosok papa yang sebenar." Nyonya Gita sedikit takut mengatakan hal itu.
"Maksudmu Tara harus menikah lagi?"
__ADS_1
"Aku tidak setuju, belum tentu suami baru Tara mau menerima anak Tara dengan Aryan. Apalagi baru 10 hari Aryan meninggalkan kita, kenapa kamu membahas hal seperti ini?" Tuan Yoga bingung dengan sikap yang Nyonya Gita ambil.
"Aku tahu ini berat bagi Tara dan keluargamu, makanya aku mengatakannya lebih dulu. Jika aku tidak mengatakannya lebih dulu, pasti sebagai keluarga pihak perempuan kamu akan sungkan untuk mengatakannya terlebih dahulu."
"Sungguh, keluarga Cakra Wangsa tidak keberatan jika nanti Tara menikah lagi demi anaknya." Nyonya Gita meyakinkan.
"Tapi tidak secepat ini juga. Tara masih berkabung, masih bersedih karena kehilangan Aryan." Tuan Yoga belum setuju.
"Bagaimana kalau nanti kita nikahkan Tara dengan Anand? Dengan begitu, baik anak Tara maupun Tara sendiri tidak akan kehilangan sosok ayah dan suami. Apalagi Anand dan Aryan adalah saudara kembar yang sangat mirip." Jelas Nyonya Gita.
"Meskipun mereka kembar, tapi sikap dan sifat mereka pasti berbeda. Aku yakin Tara tidak akan mau. Itu semua terlalu terburu-buru." Tuan Yoga menolak.
"Kita tidak harus mengatakannya pada Tara saat ini juga. Kita bisa membicarakannya dengan Tara 1 sampai 3 bulan lagi, menunggu Tara tenang."
"Aryan juga meninggalkan bisnis yang tidak bisa Tara tangani seorang diri, apalagi Tara sedang hamil. Tara butuh partner hidup yang sesuai untuk urusan bisnis dan keluarga kecilnya. Aku rasa Anand 'lah yang paling tepat untuk Tara."
"Anand juga sangat mencintai Tara, sama seperti Aryan mencintai Tara." Nyonya Gita berbicara penuh keyakinan.
"Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu. Kita tidak boleh terburu-buru." Tutup Tuan Yoga.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Maaf telah menganggu pekerjaan mu."
"Aku melakukan ini demi Tara, calon cucuku dan bisnis yang Aryan tinggalkan. Kelak di masa depan bisnis Aryan akan diwariskan ke anaknya juga. Saat ini bisnis Aryan butuh pemimpin pengganti sebelum anak Aryan kelak bisa menjalankan bisnis warisan ayahnya sendiri." Nyonya Gita masih terus memprovokasi Tuan Yoga.
Nyonya Gita sangat yakin keputusannya berbicara dengan Tuan Yoga adalah keputusan yang paling tepat. Tuan Indra pasti akan setuju jika temannya itu juga setuju.
"Tuan Yoga, tuan Yoga..." Suara Pak Raji membuyarkan lamunan Tuan Yoga.
"Ah... Kamu Ji... Kenapa memanggilku tuan?" Kaget melihat Pak Raji sudah di depan mejanya.
"Ini sedang di kantor, sudah semestinya aku memanggilmu begitu." Canda Pak Raji.
"Maaf, maaf. Pasti karena aku melamun ya?" Sahut Tuan Yoga.
"Apa yang membuatmu sampai melamun dan terlihat sangat gelisah. Ceritakan pada temanmu ini, siapa tahu aku bisa membantu." Tawar Pak Raji.
"Bukan kamu yang bisa membantu ku, tapi Gala yang bisa membantu ku. Tapi aku tidak berani bertanya padanya. Dia pergi ke Pakistan juga karena aku yang memintanya menjauhi Tara. Aku tidak boleh egois hanya demi kepentinganku sendiri." Ucap Tuan Yoga pasrah.
"Hey... Gala sudah seperti anakmu juga. Kamu juga berhak atas Gala. Aku bersyukur bertemu dengan sahabat seperti mu. Jika tidak ada kamu dan istrimu, aku tidak tahu Gala sekarang seperti apa. Kalian berhasil mendidiknya menjadi pria yang hebat. Aku ayahnya, kamu juga ayahnya." Terang Pak Raji.
"Kalau saja aku membesarkan Gala seorang diri atau paling parah menikah lagi, pasti Gala tidak akan seperti saat ini."
Deg...
"Aku takut kamu akan marah padaku karena permintaanku ini." Tuan Yoga khawatir.
"Katakan saja, jika aku mampu pasti aku akan melakukannya." Janji Pak Raji.
"Aku tahu kamu pasti menginginkan yang terbaik untuk Gala. Kalau kamu tidak setuju dengan permintaanku, aku harap kamu berkata jujur dan jangan takut atau sungkan padaku." Mohon Tuan Yoga.
__ADS_1
"Baiklah, maka katakan saja apa permintaan mu. Sahabat mu ini pasti berusaha memenuhinya."
"Tadi Gita ke sini..." Ucap Tuan Yoga.
"Iya, aku juga melihatnya. Lantas apa yang kamu minta? Apa ada hubungannya dengan Gita."
"Gita memberikan saran bahwa sebaiknya Tara menikah dengan Anand." Lirih Tuan Yoga.
"Apaaa?"
"Apa kamu menyetujuinya? Anand bukan pria yang baik. Kamu tahu itu kan?" Pak Raji khawatir.
"Aku belum menyetujuinya. Dia bilang dengan menikahkan Tara dan Anand, baik anak Tara maupun Tara sendiri tidak akan kehilangan sosok ayah dan suami. Apalagi Anand dan Aryan adalah saudara kembar yang sangat mirip." Terang Tuan Yoga.
"Tapi sifat dan perilaku mereka berbeda, Yoga. Aku rasa Tara tidak akan setuju. Bagaimana Gita memiliki ide segila itu?"
"Ck... Ibu macam apa dia itu? Dia menyuruh menantunya menikah dengan iparnya sendiri. Bahkan belum genap sebulan Aryan meninggal. Dia juga wanita, apa dia tidak memikirkan perasaan Tara." Pak Raji terbawa emosi.
"Aku takut kalau Tara tidak akan mendapatkan pria yang baik setelah kematian Aryan. Tapi aku juga tidak bisa mempercayakan Tara pada Anand, meskipun dia sudah sedikit berubah."
"Kamu tidak harus menikahkan Tara dengan Anand. Tara juga belum tentu mau." Tandas Pak Raji.
"Tapi Tara dan calon anaknya membutuhkan sosok suami dan ayah yang bisa melindungi mereka, mencintai mereka dan menjalankan bisnis Tara dan bisnis yang Aryan tinggalkan. Tidak mungkin Tara mengurus bisnis sendirian saat hamil, apalagi sekarang dia masih bersedih." Papar Tuan Yoga.
"Aku tahu ini terdengar egois, aku ingin Gala yang menjadi menantuku menggantikan Aryan." Akhirnya Tuan Yoga mengatakan keinginannya.
"Tapi aku juga sadar, belum tentu Gala mau dan belum tentu dia mau menerima anak Tara dan Aryan." Imbuh Tuan Yoga.
"Aku... Aku tidak bisa berkata apa-apa. Di sini aku hanyalah bawahan mu. Apakah pantas Gala bersanding dengan Tara?"
"Gala yang paling pantas dengan Tara. Dia yang berjuang merintis usaha dari nol bersama Tara. Selalu ada untuk Tara. Tapi aku juga tidak akan memaksa. Semuanya terserah padamu."
"Jika kamu merestui Gala dan Tara, kamu bisa menyuruhnya pulang ke sini. Gita hanya memberiku waktu 1-3 bulan. Pikirkanlah baik-baik. Jika Gala tidak pulang, aku terpaksa memaksa Tara menikah dengan Anand."
"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu." Lirih Pak Raji.
"Ingatlah, terserah apa keputusan mu dan keputusan Gala, aku akan menerimanya. Kita tetap bersahabat seperti biasa."
Tuan Raji pov: "Aku tahu Gala masih mencintai Tara, tapi aku tidak tahu apa Gala akan menerima anak yang Tara kandung. Aku takut Gala tidak bisa menerimanya. Aku takut Gala ku jadi jahat dan tidak menyayangi anak sambungnya, seperti wanita-wanita yang pernah ku kenal saat aku kehilangan istriku, mereka tidak menerima kehadiran Gala hingga aku pilih menduda sampai saat ini."
.................
Apakah Pak Raji akan menyuruh Gala pulang?
Akankah Gala menerima Tara dan anaknya?
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1