Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_kejahatan biadab


__ADS_3

Andi membawa wanita muda itu ke sebuah rumah kosong di daerah itu, ya dia tau karena beberapa kali datang ke desa itu dan tau ada rumah kosong.


mereka pun menaruhnya di atas kardus bekas sebagai alas, dan tanpa basa-basi mereka pun langsung melepaskan segalanya yang melekat.


di mata mereka wanita itu adalah Dila yang begitu mereka idamkan, bahkan mengunakan pakaian dalam miliknya.


Hendra menyumpal mulut gadis itu agar tak bisa berteriak, keduanya pun bergiliran untuk menikmati hal bejat itu.


entah berapa kali gadis itu di gagahi, bahkan dia yang sempat sadar pun akhirnya pingsan karena rasa sakit dan juga beberapa kali tamparan yang dia terima di pipinya.


"eh bego, sudah ayo pergi sebelum ketahuan warga, bisa di massa kita," kata Hendra yang menginggatkan Andi


"bentar, aku belum selesai, kamu duluan saja, lagi enak nanggung," kata Andi.


"terserah lu, aku duluan kampret, kepala kue pusing dan udah lecet adik kecilku," kata Hendra yang pergi.


dia pun pergi saat mulai terdengar suara di masjid, "wah gila sudah berapa jam, lebih baik aku pergi," gumamnya yang memeriksa semua barangnya.


Andi pun selesai dan meninggalkan gadis itu begitu saja, tapi dengan biadab pria itu menaburkan uang di atas tubuh gadis itu.


"semoga suami mu yang bodoh mau menerima mu," kata Andi yang juga masih terpengaruh miras.


terlebih tadi mereka juga sempat minum lagi untuk meningkatkan stamina tubuh.


Andi pergi dengan mobil miliknya dan menuju ke rumah keluarganya, Hendra yang pulang kerumah budenya langsung tidur tanpa mau mengatakan apapun.


sedang Andi yang baru pulang ke rumah orang tuanya pun langsung tidur dan mengunci pintu rumahnya.


keesokan paginya, Vivi yang kebetulan keluar rumah kaget melihat sepeda motor dari adik sepupunya.


"bibi, ini bukannya motor Mela, tapi aku tak melihatnya?" tanya Vivi.


"iya Bu, bibi juga heran semalaman dia gak pulang, terus ponselnya juga tak bisa di hubungi," kata bibi dari Vivi.


Ridwan yang mendengar ribut-ribut pun penasaran, pasalnya ini masih jam tujuh pagi.


"ada apa dek?" tanyanya lembut pada istrinya itu.


"ini mas, Mela tak pulang, tapi motornya ada disini, dan kami khawatir terjadi pada dia," kata Vivi.


"kenapa diam, minta bantuan warga kampung untuk menemukannya," kata Ridwan yang ikut khawatir.


akhirnya pencarian dari sepupu Vivi pun di mulai, Ridwan di bantu warga dan keluarga berpencar mencari Mela.


gadis berusia delapan belas tahun itu tidak sepertinya hilang seperti ini, tapi saat di sebuah kebun kosong.


Ridwan menemukan botol miras, dan dua tau botol milik siapa itu, dia pun segera membereskan botol-botol itu.


"brengsek, janhan bilang dua bajingan ini berulah setelah mabuk!" marah Ridwan yang melempar botol-botol itu ke lubang dan membakarnya bersama sampah.


tiba-tiba ada seseorang yang berteriak, "tolong... aku menemukannya!!" teriak pria itu


semua warga pun bergegas menuju kearah suara, keluarga Mela kaget melihat gadis itu terkapar tak berdaya dengan keadaan t*l*nj*Ng.


Ridwan langsung melepaskan bajunya untuk menutupi tubuh mela, "kenapa diam, tolong ambilkan selimut dan mobil!!" teriak Ridwan.


"iya mas," panik warga.


kebetulan tak jauh ada rumah, mereka pun meminjam selimut, dan ada warga yang mengambil mobil.

__ADS_1


ayah dari Mela pun hanya menangis melihat kondisi putrinya yang begitu buruk.


tubuh gadis itu penuh tanda merah bahkan bekas kekerasan juga ada, mulai dari bekas tamparan dan sulutan rokok.


Ridwan membungkus tubuh mela dan mengendongnya untuk di bawa ke rumah sakit.


"nak kamu tidak boleh berpergian dulu, pamali," kata seorang bapak menghentikan Ridwan


"bapak gila, gadis ini hampir mati dan anda masih membahas pamali, nyawa gadis ini lebih penting," bentak Ridwan marah.


akhirnya dia pun membawa Mela bersama keluarga ke rumah sakit, dan ada yang memberitahu keadaan gadis itu pada keluarganya.


seluruh keluarga pun menangis histeris mendengar kemalangan yang menimpa gadis seperti Mela.


sesampainya di rumah sakit, Mela di larikan ke UGD, dan mendapatkan pertolongan pertama.


semua keluarga datang Vivi langsung memeluk Ridwan, "bagaimana keadaannya mas?" tangis Vivi.


"berdoa saja sayang, semoga nela kuat untuk bertahan," kata Ridwan yang tau itu perbuatan siapa.


"siapa yang kejam melakukan ini pada putri kami yang masih kecil ini," kata ibu dari Mela.


dokter keluar dan menemui semua keluarga, "maaf kami harus melakukan operasi karena organ intim gadis itu robek parah, dan sepertinya ini pemerkosaan jadi segera hubungi polisi," kata dokter.


"baik dokter lakukan visum dan kami akan membuat para pelaku membayarnya," kata Ridwan yang marah.


pasalnya kali ini perbuatan kedua temannya sudah keterlaluan, Ridwan tak akan memberikan ampun.


"mas tapi bagaimana kita menemukan pelakunya?" tanya Vivi.


"itu mudah dek, orang yang frustasi saat pernikahan kita adalah pelakunya," jawab Ridwan yang langsung melepaskan pelukan Vivi.


keluarga Vivi tak mengira jika menantu baru mereka memiliki sisi kejam, karena selama ini Ridwan terkenal begitu sopan dan manis.


Ridwan pergi mengunakan mobil dan menuju ke rumah keluarga dari Hendra.


"keluar Hendra!!" teriaknya saat dia sampai.


"ada apa ini nak Ridwan, kenapa kamu marah?" panik Bu Eka.


"karena putra ibu sudah berani merusak masa depan seorang gadis, dan dia sepupu istriku!!!" teriak Ridwan jujur.


Bu Eka terdiam, Hendra yang baru selesai mandi pun bingung melihat Ridwan yang langsung memiting dirinya dan menyeretnya keluar rumah.


"kamu apa-apaan, lepaskan brengsek!" maki Hendra.


"kamu yang brengsek, kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya !!" teriak Ridwan yang langsung mengikat tangan Hendra setelah membuat pria itu tersungkur dengan bogem mentahnya.


saat pakde dari Hendra ingin membantu, Ridwan menatapnya tajam, "jangan ikut campur jika tidak ingin bernasib tinggal nama,"


akhirnya Ridwan berhasil membawa Hendra, dan kini tinggal Andi. Hendra masih kesakitan dan kepalanya masih pusing.


sedang saat sampai di rumah keluarga Andi, rumah itu sudah kosong, Ridwan pun makin marah, "sialan!!!" teriaknya.


ternyata orang tua Andi yang baru menerima kabar langsung membawa putra mereka kabur.


"berati kau yang harus bertanggung jawab brengsek," kata Ridwan pada Hendra.


"apa sih maksudmu, aku tak mengerti dan kenapa kamu memukulku seperti tadi sialan," kata Hendra.

__ADS_1


"tutup saja mulutmu dan jangan banyak bacot," marah Ridwan.


mobil Ridwan pun menuju ke rumah sakit, dan ternyata semua keluarga ada disana dan juga polisi.


Ridwan mendorong Hendra hingga tersungkur, "dia pelakunya dan yang satu sudah di bawa kabur keluarganya, tes saja jika tak percaya karena aku tau dari botol miras yang dia minum di tempat kejadian," kata Ridwan jujur.


"apa maksudmu, aku melakukan apa!" kata Hendra yang masih belum mengerti karena baru sadar dari mabuknya.


"kamu memperkosa adik sepupu ku mas Hendra, dan kondisinya sekarang sangat buruk!!" teriak Vivi.


Hendra pun terduduk lemas, "tidak ... semalam aku melihat Dila ... bukan adik sepupu mu ..."


"dasar pria bajingan, aku akan membunuh mu," kata ayah dari Mela yang tak terima.


"tidak pak, biar ini menjadi urusan kami, dan tolong jangan main hakim sendiri," kata polisi yang melerai keributan itu.


Hendra di gelandang ke kantor polisi, sedang keluarga Mela terpuruk, karena putri kebanggaan keluarga sudah hancur dengan cara seperti ini.


Hendra pun berjalan lemas menuju ke mobil polisi, Ridwan pun bersimpuh di depan keluarga istrinya.


"maafkan aku semuanya ... karena mereka adalah sahabatku, dan aku juga tak mengira jika keduanya bisa melakukan hal seburuk ini," mohon Ridwan.


Ridwan pun merasa begitu sedih dan malu, sedang hendra sempat melihat sahabatnya itu sampai harus memohon seperti itu.


"sudah kamu harus bertanggung jawab di kantor, lain kali jangan minum miras lagi, lihat kamu menghancurkan masa depan seorang gadis saat mabuk," kata polisi itu.


"sudah nak bangun, ini bukan salah mu, tapi ini salah mereka dan putri ku yang malang, bagaimana dia bisa menjalani hidupnya," kata ayah Mela yang bersikap lapang dada.


****


hari ini peresmian dari pondok pesantren dan juga yayasan pengobatan mental.


acara berjalan sangat meriah, ustadz Ahmad bersama keempat ustadz muda memotong pita.


bahkan ustadz Ahmad di minta untuk membubuhkan tanda tangan sebagai pendiri yayasan Miftahul Jannah itu pertama kali.


Dila pun sangat bangga terhadap suaminya itu, terlebih sekarang ustadz Ahmad juga sangat mengatur waktunya.


di tambah lagi putrinya yang sangat pintar dan sekarang sudah genap satu tahun.


Fatin juga sudah bisa berjalan meski masih di tuntun, "maaf ibu ustadzah istri ustadz Ahmad silahkan maju dan foto bersama," panggil fotografer.


Dila datang sambil mengandeng Fatin yang berjalan sendiri, ustadz Ahmad kaget karena putrinya itu susah bisa berjalan dan tersenyum kearahnya.


dia berlari kecil turun dari panggung dan segera mengendong putrinya, "putri Abi susah besar," kata ustadz Ahmad mencium Fatin.


dia juga merangkul dan mencium Dila, "tapi Abi harus siap, karena sebentar lagi harus bantuin ibu menjaga Fatin, karena akan ada adik Fatin," kata Dila tersenyum di balik cadarnya.


"Allahuakbar ... Alhamdulillah ...." kata ustadz Ahmad begitu senang.


semua orang pun mengucapkan hamdalah karena mendengar kabar baik itu.


keluarga kecil itu sungguh sudah sangat sempurna, saat Dila berbahagia.


berbanding terbalik dengan Hendra yang menjalani hidup sengsara di penjara karena kebodohannya.


terlebih Andi yang kabur, ternyata mengalami kecelakaan di tol Jombang Nganjuk, dan mobil mereka tertabrak truk gandengan yang mengalami rem blong.


semua yang ada di dalam mobil mati di tempat kejadian, karena mengalami luka parah.

__ADS_1


__ADS_2