Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 13_Lampu Hijau untuk Aryan


__ADS_3

Badan pegel dikerok pakai minyak kayu putih


Tidak lupa minum jamu pegel linu komplit


Reader yang terhormat dan terkasih


Jangan lupa masukkan Harem Sangat Janda Kaya jadi favorit


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


...


Gala bingung kenapa Tara bersikeras pulang dengan Aryan, apakah mungkin Tara berusaha menghindarinya setelah kejadian tadi. Padahal sedari tadi sikap Tara tidak berubah, sepanjang perjalanan Gala hanya diam. Anand yang ikut mobil Gala pun hanya diam karena merasa kalah dari Aryan. Tara dan Aryan justru tertawa bahagia di atas kegalauan Anand dan Gala.


"Mas Aryan, apa kita langsung pulang? Ini masih sore." Tara membuka pembicaraan.


"Bagaimana kalau kita nonton dulu sebelum pulang?" Usul Aryan.


"Aku tidak begitu suka menghabiskan waktu di ruang gelap hanya untuk nonton sebuah film. Apakah ada ide lain?" Tanya Tara.


"Jalan-jalan di taman, makan sate di warung kecil pinggir jalan, makan jagung bakar sambil menikmati malam. Pasti kamu nggak akan nolak kan?" Aryan tahu apa yang disukai Tara.


"100 buat mas Aryan." Tara memberi dua jempol pada Aryan.


"Kamu memang lain dari wanita lain. Padahal kamu bisa saja meminta apapun padaku."


"Nonton, jalan-jalan di mall, makan di restoran mewah, mau beli apa aja pasti akan aku belikan." Tutur Aryan.


"Ha... ha... ha... Kalau Mas Aryan nyari wanita seperti itu, berarti salah alamat."


"Daripada buat foya-foya, kasih uangnya ke Tara buat tambah modal usaha Tara Collection aja. Atau sumbangkan ke panti jompo dan panti asuhan punya papa." Tara memberi saran.


"Nanti kalau sudah nikah, semuanya jadi milik kamu, terserah kamu yang mengatur nanti." Aryan tersenyum.


"Ha... ha... ha... Siapa yang mau nikah sama mas Aryan?" Tara menggoda Aryan.


"Jadi kamu tidak mau menikah denganku? Baiklah aku akan memaksa." Aryan pasang tampang cemberut.


Tara tertawa melihat ekspresi Aryan. "Ini masih mas Aryan yang Tara kenal 'kan?"


"Ha... ha... ha... Aku tidak akan seperti ini, jika bukan karena kamu."


"Apa kamu suka pria yang dingin, jaga image dan diam-diam perhatian? Sayangnya aku bukan pria yang dingin, Tara."


"Apa aku mengatakan jika aku suka pria yang dingin?" Tanya Tara.


"Tidak, kamu tidak mengatakannya."


" Lalu, apalagi? Aku tidak suka pria dingin. Aku lebih suka pria yang hangat, ekspresif dan penuh perhatian seperti papa." Jelas Tara.


"Papa dan mamamu memang hebat bisa mendidik putri semata wayangnya menjadi sehebat ini. Betapa bahagianya aku saat bisa bersanding denganmu nanti."


"Kenapa nunggu nanti? Sekarang juga sudah bersanding." Tara tersenyum meledek Aryan.

__ADS_1


"Kamu terus saja meledekku. Kenapa tidak membuatku bahagia sedikit aja? Kamu tidak segera memilih aku."


"Aku penasaran apa yang dilakukan dua orang itu." Aryan ingat Anand dan Gala.


"Maksudnya mas Anand dan Gala?"


"Iya, memangnya siapa lagi? Mereka pasti sedang kesal sekarang."


"Mas Anand pasti kesal karena Gala diam membisu. Kebayang begitu dinginnya aura mereka sekarang." Tara terbayang wajah Anand dan Gala yang sedang kesal.


"Ha... ha... ha... Anand pasti mati kesal dibuatnya. Gala memang hanya berlaku hangat saat ada kamu. Apa kamu menyukainya?" Tiba-tiba Aryan melontarkan pertanyaan yang telah lama mengganjal hatinya.


"Hah, menyukai apa?" Tara bingung.


"Apa kamu menyukai Gala?" Tanya Aryan sedikit ragu.


"Tentu, aku menyukainya." Jawab Tara tanpa dosa.


Aryan kaget dibuatnya. "Jadi selama ini kamu menyimpan perasaan suka pada Gala?"


"Aku menyukainya. Kalau tidak suka mana mungkin dia menjadi sahabatku dari kecil sampai sekarang." Tara berusaha menjawab dengan tenang.


"Oh... Aku kira lebih dari itu." Aryan lega.


"Mas, jangan bengong! Cepat lewati lampu hijau di depan, tinggal beberapa detik lagi kuning. Kamu tidak mau 'kan jalan-jalan berempat lagi?" Tara menginstruksi.


"Tentu, dengan senang hati ratuku. Aku tidak mau Anand menganggu dan Gala memonopoli kamu lagi."


Mobil Aryan melaju cukup kencang dan berhasil melewati lampu hijau yang tinggal 5 detik saja. Sedangkan Gala yang tidak terlalu fokus menyetir harus terima menunggu lampu hijau selanjutnya. Aryan pun segera membelokkan mobilnya menuju taman kota.


Aryan mendekati Tara, berniat mencari tahu perasaan Tara terhadapnya. Hampir saja bibirnya akan bersentuhan dengan bibir Tara. Namun tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Aryan kehilangan momennya, ternyata Anand yang menelepon.


"Iya, halo... " Jawab Aryan dengan malas.


"Kamu sama Tara dimana? Aku sudah sampai kediaman Maheswari. Bukannya tadi kalian duluan? Jangan-jangan kalian pergi berdua tanpa kami!" Ucap Anand kesal.


"Ha... ha... ha... Maaf Anand, kamu mintalah diantar Gala atau naik taksi atau panggil supir kamu. Jangan ganggu aku dan Tara! Bye..." Aryan langsung mengakhiri panggilan teleponnya, menata hati yang tadi sempat berdebar kencang.


"Ha... ha... ha... Kebayang wajah mas Anand yang lagi kesel. Mana mau dia minta diantar sama Gala, yang ada mereka bakal ribut." Tara tertawa membunuh rasa canggung karena adegan ciuman yang tadi gagal.


"Kamu tahu sekali mereka bakal ribut. Sepertinya Gala belum bisa memaafkan perlakuan Anand terhadapmu dulu."


"Perlakuan yang mana?" Tara pura-pura tidak tahu.


"Jangan ditutupi lagi! Sejak perjodohan kita saat itu, aku sudah mencari tahu apa yang terjadi di antara kalian bertiga." Terang Aryan.


"Mas Aryan tahu semuanya?" Tara kaget.


"Iya, aku tahu semuanya. Semuanya tentang kamu aku harus tahu."


Tara deg-degan, takut jika Aryan mengetahui kejadian di pantai tadi.


"Maaf, Tara. Sebenarnya aku mencari tahu apa yang terjadi antara kamu dan Anand waktu itu."


"Aku hanya diam karena kamu tidak mempermasalahkan ataupun mengatakan pada keluarga kami tentang kelakuan Anand padamu."

__ADS_1


"Bahkan kamu diam saja dan tak melaporkannya pada papa mamaku. Aku berterima kasih untuk itu, tapi... Apakah kamu menyukai Anand sehingga kamu menutupi kesalahannya?" Aryan khawatir Tara menyukai Anand.


"Mana mungkin aku menyukai mas Anand, pemikiran dari mana itu? bisa-bisanya mas Aryan bilang begitu." Sanggah Tara.


"Kamu sulit ditebak, Tara. Aku bingung dan ragu siapa yang akan kamu pilih." Ucap Aryan khawatir.


"Bukankah sudah jelas siapa? Apa kita tidak jadi jalan-jalan dan cari makan atau jagung bakar? Apa mas Aryan akan terus menginterogasi aku?"


"Kau belum memberi jawaban, Tara!" Aryan masih penasaran.


Tara keluar dari mobil dan Aryan mengikutinya.


Aryan mengejar Tara dan menggandeng tangannya. "Aku hanya takut kamu tidak memilihku."


"Apa seorang Aryan Cakra Wangsa sekarang punya rasa takut?"


"Iya, yang aku takutkan hanya dua hal yaitu tidak bisa memilikimu atau melihatmu memilih orang lain." Jawab Aryan sendu.


Tara pun mengeratkan gandengan tangannya dengan Aryan, dia berjalan sambil bersandar pada bahu Aryan.


"Kalau begini apakah mas Aryan masih bingung juga? Nggak peka banget sih mas!" Tara memberi kode.


"Maksudmu? Kamu memilih aku?" Tanya Aryan tak percaya.


"Kalau mas Aryan ribet, aku bakal pilih Gala nih!" Tara mengancam.


"No! Kamu hanya boleh jadi milikku, selama aku masih hidup tidak boleh ada yang mengambil kamu dari aku."


"Meskipun itu mas Anand?"


"Tara, berhenti menggodaku! Meskipun itu Anand, aku tak akan membiarkannya."


"Okay, kita jalani dulu sekarang. Masih ada waktu jika mas Aryan berubah pikiran."


"Tidak akan ada yang bisa merubah. Kenapa kamu seperti ingin menolak aku?"


"Ha... ha... ha... Mas Aryan sepertinya bakal jadi suami takut istri nih." Tara terus menggoda.


"Bukan takut istri, lebih tepatnya takut kehilangan istri yang sesempurna kamu."


"Ha... ha... ha... Gombal nih!"


Tara dan Aryan menikmati kebersamaan mereka malam ini, makan berdua dan jalan berdua tanpa ada yang mengganggu. Aryan mengantar pulang Tara jam 9 malam. Aryan pulang dengan hati yang penuh bunga-bunga. Sedangkan Gala menunggu kepulangan Tara dengan hati yang yang gelisah.


Gala menunggu Tara di pintu depan.


"Tara... " Panggil Gala saat Tara telah sampai di depan pintu utama.


................


Apa yang akan terjadi antara Gala dan Tara?


Bagaimana Tara akan menghadapi Gala?


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.

__ADS_1


__ADS_2