Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 56_Nyaman Bersamanya


__ADS_3

Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Muncul banyak kenangan tentang dirinya dan Gala di paviliun itu. Apalagi momen terakhir saat dia ke paviliun Gala sangatlah romantis. Dengan gontai Tara melangkah keluar dari paviliun, rasa sedih dan takut begitu mengguncang hati. Tara menyuruh sopir mengantarkannya pulang ke rumah, bahkan Tara tidak ada niat masuk ke rumah orang tuanya apalagi untuk bekerja kembali. Matanya sedikit sembab karena menangisi kepergian Gala.


Bodyguard yang ditugaskan oleh Aryan segera menelepon dan melapor keadaan Tara saat ini kepada Aryan.


"Halo, ada apa sepagi ini menelepon? Apa ada yang tidak beres?" Jawab Aryan


"Halo, tuan Aryan. Mohon maaf, saya mau melapor kalau nona Tara saat ini kembali ke rumah dalam keadaan menangis."


"Kenapa Tara menangis? Apa kalian tidak menjaganya dengan baik?" Aryan kesal sekaligus khawatir.


"Kurang lebih 30 menit setelah tuan Aryan pergi, nona Tara minta diantarkan ke kantor Maheswari. Nona hanya sebentar di sana, tapi raut wajah nona jadi sedih. Nona buru-buru pergi ke kediaman Maheswari. Sesampainya di sana nona berlari-lari masuk dan tidak menghiraukan siapapun yang menyapanya, tuan. Menurut keterangan dari sopir, nona Tara buru-buru lari ke paviliun. Entah apa yang nona cari, sepertinya nona tidak menemukan apa yang dia cari. Saat ini nona menuju rumah dengan raut wajah sedih dan beberapa kali terlihat mengusap air mata." Sang bodyguard melaporkan dengan rinci.


"Pastikan Tara aman sampai rumah! Aku masih ada kerjaan penting, aku usahakan siang pulang."


"Baik, tuan. Siap laksanakan."


...…...


Tara menghapus air matanya yang berulang kali memaksa menetes membasahi pipinya. Dia mengompres matanya agar tidak terlihat membengkak karena habis menangis. Keraguan menghampiri, apakah dia harus jujur mengatakan pada Aryan atau dia akan menyimpannya sendiri. Kalaupun disimpan pasti suatu ketika Aryan juga akan tahu tentang kabar kepergian Gala.


Tara duduk di balkon kamarnya dan bermonolog.


"Mas Aryan pasti kecewa padaku jika dia tahu aku menangisi kepergian Gala. Aku juga takut kalau mas Aryan akan marah padaku."


"Sepertinya lebih baik jika aku berkata jujur pada mas Aryan. Aku akan menghadapi apapun reaksi mas Aryan nanti. Lebih baik jujur dan terbuka daripada berbohong dan semakin melukai hati mas Aryan." Ucap Tara mantap.


"Tara, sayang…" Panggil Aryan dengan lembut dan penuh kasih.


"Mas-Mas Aryan sudah pulang? Ini kan masih siang" Tara kaget.


"Apa mungkin mas Aryan mendengar ucapan ku tadi?" Batin Tara.


"Kalau masih siang, apa aku tidak boleh pulang? Aku 'kan kangen kamu." Tersenyum manis sekali.


"Aku juga tidak tega melihat kamu sendirian melamun di balkon. Pasti belum makan siang kan?"


"Mas Aryan pasti sudah tahu apa yang aku lakukan tadi pagi 'kan? Makanya mas Aryan jam segini sudah pulang, bahkan langsung tahu aku sedang termenung di balkon." Tebak Tara.


"Aku tadi ke butik dan kamu tidak ada, makanya aku pulang." Aryan masih menunggu kejujuran Tara.


"Mas Aryan tidak pandai berbohong ya. Biasanya mas Aryan kasih kabar via telepon atau kirim pesan dulu." Tara berdiri dari tempat duduknya dan mendekat pada Aryan.

__ADS_1


"Mas Aryan tidak perlu berbohong seperti itu. Aku akan bicara jujur padamu, mas." Seketika buliran air mata merembes dan memenuhi pelupuk mata Tara.


"Aku… Aku sedih karena Gala pergi begitu saja tanpa pamit padaku, bahkan dia tidak mengatakan ke mana dia akan pergi. Dia…"


Aryan memeluknya sebelum Tara menyelesaikan kalimatnya.


"Aku senang kamu mau berbicara jujur padaku. Aku akan salah paham jika kamu diam saja."


"Wajar saja kamu bersedih, karena Gala adalah temanmu sedari kecil. Aku pikir akulah yang paling mencintaimu, ternyata cintanya padamu juga sangat mendalam. Dia memastikan kebahagiaanmu, bahkan dia menguji cintaku padamu. Dia merelakan kamu bersamaku setelah aku lulus ujian darinya." Aryan mengungkap sedikit kebenaran yang dia dan Gala sembunyikan.


"Posisi Gala juga sulit, aku harap kamu membiarkannya pergi untuk menyembuhkan hati dan menjernihkan pikirannya. Bukankah dia juga berhak menemukan kebahagiaannya sendiri?" Tanya Aryan.


"Apa mas Aryan tidak marah padaku?" Tanya Tara ragu.


"Untuk apa aku marah jika kamu disini bersamaku. Kamu milikku saat ini."


"Tapi, aku akan marah jika kamu berusaha mencarinya dan mengejarnya. Selama aku masih hidup kamu hanyalah milikku, jika aku tidak ada mungkin hanya Gala yang pantas dan mampu menjagamu."


"Kita akan menua bersama mas, sampai kita menjadi kakek nenek. Kamu harus selalu ada untukku." Tara memeluk Aryan dengan erat.


"Apa kamu akan menangis jika aku yang pergi?" Aryan menggoda Tara.


"Kalau mas Aryan yang pergi, pasti air mataku sudah satu ember kalau ditampung."


"Aku pasti akan mengerahkan segala cara untuk mencari kamu, mas." Imbuh Tara.


"Ha… Ha… Ha… Mana ada air mata sebanyak satu ember, sayang? Kamu bisa bercanda juga ya?" Aryan tertawa senang.


"Awww… Sayang jangan dicubit dong! Kamu nggak sayang sama aku ya?"


"Mencubit itu termasuk tanda sayang, mas!"


"Aku takut kehilangan Gala temanku sedari kecil, tapi aku lebih takut kehilangan kamu mas. Aku mencintaimu, jadi kamu harus tanggung jawab."


"Aku berjanji akan selalu bertanggung jawab, mencintai kamu dan membahagiakan kamu selama sisa umurku."


"Kenapa mas Aryan selalu bicara seolah-olah akan pergi meninggalkan aku?"


"Tidak sayang, itu hanya perasaanmu saja!"


"Makan siang yuk… Udah lapar nih…"


Aryan melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata Tara yang masih membasahi pipinya. Aryan mengecup kening Tara lalu menggandengnya menuju ruang makan.


"Aku beruntung sekali memiliki suami seperti mas Aryan. Lembut penuh perhatian, bahkan dia tidak marah-marah atau cemburu buta. Dia membuatku nyaman berada di sisinya." Batin Tara.


Tara memeluk erat lengan Aryan. "Aku sayang kamu, mas. Jadi jangan pernah tinggalin aku atau menduakan aku. Aku janji hanya kamu yang aku cintai, tiada yang lain."


"Aku juga mencintaimu, Tara sayang. Aku tidak akan pernah menduakan kamu." Janji Aryan.

__ADS_1


"Meskipun aku berubah jadi gendut, menua dan tidak cantik lagi?"


"Iya, sayang. Aku akan selalu mencintaimu dan setia padamu."


"Aku bahagia sekali hari ini. Apalagi kamu berjanji hanya akan mencintaiku seorang." Batin Aryan.


"Kamu rumahku, tempat ternyaman bagiku, aku akan selalu mencintaimu dan setia padamu, mas."


"Aku adalah orang yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia ini karena akulah yang mendapatkan cinta seorang Tara Maheswari."


"Devi Tara Maheswari Cakra Wangsa. Namaku jadi panjang banget, mas."


"Singkatnya, kamu adalah nyonya Aryan." Mereka berdua tertawa bahagia.


"Tapi bagaimana Gala menguji mu, mas?" Tanya Tara penasaran.


"Kalau aku ceritakan pasti kamu marah." Aryan tidak mau cerita.


"Janji aku tidak akan marah. Cepat cerita 'kan!" Tidak sabar.


"Janji, ya!"


"Iya, janji tidak akan marah." Sahut Tara.


"Dia bilang kamu sudah tidak per*w*n dan dia mengaku kalau dialah yang mengambil keper*w*nan kamu. Mungkin dia pikir aku akan meninggalkan kamu karena hal itu." Ucap Aryan cepat.


"What!!!" Tara menghentikan langkahnya.


"Tadi udah janji nggak akan marah loh!" Aryan mengingatkan.


"Lalu mas Aryan percaya?" Sergah Tara.


"Aku sempat kecewa, tapi rasa cintaku padamu lebih besar dan aku putuskan tetap mencintaimu dan tetap melanjutkan rencana pernikahan kita."


"Ternyata Gala hanya mengujiku. Sudah ku buktikan waktu malam pertama, ternyata segel milikmu masih utuh. Rasanya sangat nikmat membuatku tergila-gila dan selalu ketagihan." Bisik Aryan di telinga Tara.


"Maaasss..." Tara memukul lengan Aryan.


"Jangan lupa nanti malam ya, sayang." Aryan mengedipkan mata menggoda.


...…...


Gala telah sampai ke Pakistan. Meskipun berat baginya meninggalkan Tara, namun lebih baik dia menghilang sementara waktu. Gala meminta Tuan Yoga untuk mengirimnya ke Pakistan, mengurusi projects di sana dan mendirikan kantor cabang baru di negara itu.


"Aku akan menyibukkan diri di sini dan berusaha hidup tanpamu, Tara. Meskipun aku tiada hasrat menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku akan selalu setia padamu, meski aku tidak bisa memilikimu."


.................


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2