
Kerja banting tulang memeras keringat
Demi sebuah kehidupan yang bahagia
Reader, tolong berikan author semangat
Tambahkan favorit, vote, jempol, hadiah dan komentarnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia
.........
Baru saja Gala meninggalkan ruangan Tara.
Ting…
Ada pesan masuk pada ponsel Tara.
"Tara, apakah kamu bisa bertemu dengan tante nanti di jam makan siang?" Pesan dari Nyonya Gita Cakra Wangsa.
"Tentu bisa tante, mau bertemu dimana?" Balas Tara cepat.
"Di kafe Karan’s Coffee, tidak terlalu jauh dari butik lamu."
"Tante harap kamu datang sendiri." Pinta Nyonya Gita.
"Baik, tante." Tara menutup pesan
Tara bingung dan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba nyonya Gita mengajaknya bertemu seorang diri, pasti ada sesuatu yang akan beliau sampaikan. Tara berpikir mungkin karena foto kontroversi kemarin lagi, kemungkinan terburuknya nyonya Gita tidak suka dengan pekerjaan Tara sebagai model untuk brand fashionnya sendiri.
"Gala, tante Gita ingin bertemu denganku seorang diri nanti di jam makan siang di kafe Karan’s Coffee." Tara mengirim pesan pada Gala.
"Aku tidak sibuk, aku akan mengantarmu nanti." Gala menjawab pesan Tara.
"Tante Gita memintaku datang sendiri, beliau pasti tidak suka melihatku bersama kamu."
"Hadapi saja, jangan takut! Aku akan datang seperti biasanya menggunakan mode penyamaran."
"Ha… ha… ha… Kamu memang selalu paham apa yang aku maksud."
"Tentu saja, Sayang."
"Okay, bodyguardku tersayang."
...…...
Di lain tempat di sudut kota itu di kafe dekat salah satu toko kain Cakra Wangsa, ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena kecemburuan. Siapa lagi kalau bukan Anand dan Indira kekasih gelapnya.
"Mas Anand, aku sudah tidak tahan melihat foto-fotomu dengan Tara yang beredar luas. Kenapa dia terlalu serakah dan tidak segera memilih Aryan saudara kembar mu itu?" Indi protes pada Anand.
"Kamu harus bersabar, tinggal sebentar lagi dan perjodohan ini akan segera berakhir dengan pernikahan Tara." Jelas Anand.
"Pernikahan Tara dengan siapa? Kenapa mas tidak bicara dengan jelas?"
"Apa mas sudah berubah pikiran dan akan ikut memperebutkan Tara?" Tanya Indi.
__ADS_1
"Kamu salah paham, jika aku menginginkan Tara, untuk apa aku masih bersamamu sampai saat ini?" Jawab Anand.
"Kamu upload foto saat liburan dengannya dan bahkan bersedia jadi modelnya. Apalagi kalau bukan karena kamu juga menginginkan Tara?"
"Itu hanya sebatas menjaga nama baikku saja. Aku tak mungkin menolak terang-terangan perjodohan ini, papa pasti akan memarahiku habis-habisan. Apa kamu mau kalau papa marah-marah padaku?"
"Tentu tidak, tapi semakin hari kamu semakin berubah. Apa mas mau meninggalkan aku? Mas lupa apa yang sudah kita lakukan selama ini?"
"Tentu aku tidak lupa, bahkan aku masih ingat betul kenyataan bahwa aku bukan yang pertama bagimu." Tanpa sadar Anand mengatakan kekecewaannya.
"Tapi kamu menikmatinya 'kan? Kita melakukanya juga karena sama-sama saling cinta."
" Benarkah kita saling cinta?" Tanya Anand sanksi.
"Pikirkan saja sendiri!" Anand berdiri dari duduknya dan ingin pergi, namun Indi memegang tangannya dan menahannya.
"Pembicaraan kita belum selesai, mas! Kamu jangan pergi seenaknya."
Anand duduk kembali dengan malas.
"Lihat 'kan! Kamu benar-benar berubah. Dulu Kamu tidak pernah mempermasalahkan perihal bukan yang pertama. Kenapa sekarang Kamu mengungkitnya?" Indi tidak mau kalah.
"Apa Kamu tidak ingin jujur padaku?" Anand menyindir.
Indi pun kaget, "Jujur gimana maksudmu, mas?"
"Kamu mengungkitnya sekarang karena mau ninggalin aku 'kan? Apa mas pikir, Tara bakal pilih mas kalau tahu selama ini mas pacaran sama aku?"
"Tara tidak akan tahu jika Kamu tidak memberitahunya," Ucap Anand santai.
"Kamu terus-terusan mencurigai aku. Kamu bikin aku nggak nyaman lagi sama kamu." Anand menyanggah.
"Itu hanya alibi kamu, mas. Aku curiga juga ada sebabnya, tidak akan ada asap kalau tidak ada api." Indi mulai tidak bisa menahan emosinya.
"Kami liburan nggak cuma berdua. Aku jadi modelnya pun karena Aryan yang meminta." Anand membohongi Indi.
"Kamu tidak bisa bohong padaku. Aku tahu mas Anand diam-diam bertemu dengan Tara." Indi berkata sinis.
"Jadi apa yang kamu mau sekarang?" Tanya Anand.
"Mau aku?" Indi menatap tajam pada Anand.
"Jangan dekat-dekat dengan Tara! Atau aku akan berbuat nekat." Karena lelah dan marah Indi pun mengancam Anand.
"Kamu jangan gila! Jangan bertindak sembarangan. Kalau kamu nekat, aku pun bisa nekat." Anand balik mengancam Indi.
"Okay... Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menang, aku atau Tara?"
"Kamu tidak tahu detail perjodohan ini dan kamu juga tidak tahu apa yang akan papa berikan pada salah satu dari kami yang berhasil menikahi Tara." Anand terus mencari alibi.
"Oh... Hadi sekarang mas Anand ingin mengejar Tara dan menikahinya karena hadiah dari papa?" ujar Indi.
"Lalu Aku ini Kamu anggap apa Mas?" Kemarahan Indi memuncak, matanya menatap pada mata Anand.
"Pikirkan baik-baik! Aku akan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dan kekayaan yang lebih banyak jika berhasil menikahi Tara." Terang Anand.
"Jadi kamu akan membuang aku begitu saja? Setelah apa yang kita lalui selama ini." Mata Indi pun mulai berkaca-kaca, kini dia merasa takut ditinggalkan oleh Anand.
__ADS_1
"Jadi orang jangan berpikiran dangkal! Kalau pun aku berhasilkah menikahi Tara, aku tidak akan membuang kamu." Anand memberikan janji palsu.
"Apa sekarang kamu sudah bisa berpikir dengan baik?"
"Oh... Aku tahu." Wajah Indi berubah menjadi bersinar cerah karena berpikir bahwa Anand ingin menikahi Tara hanya demi harta saja.
"Tapi... Bagaimana kalau mas berubah mencintainya setelah sering bersama?" Indi masih meragu.
"Apa kamu tidak mempercayai aku? Kita sudah menjalin kasih 1 tahun lebih." Anand pun playing victim untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Baiklah, mas. Aku akan mengikuti permainanmu." Indi mengalah karena tidak mau berdebat lagi.
"Awas saja kalau kamu sampai mengkhianati aku karena Tara! Aku akan benar-benar bertindak nekat." Indi memberi peringatan pada Anand karena masih ragu. Indi takut jika akhirnya Anand jatuh hati pada Tara.
Anand pov: Tentu saja bukan karena sekedar harta yang membuatku mendekati Tara. Dia lebih dalam segala hal dibanding Indi. Selama ini Indi hanya seperti pelampiasan untukku dan aku tidak pernah memakai hatiku. Aku sadar kalau aku menyukai Tara, namun aku terlalu gengsi untuk mengakui itu. Andai saja waktu itu aku tidak gegabah marah-marah padanya di depan umum, mungkin saja saat ini Tara tidak akan bersikap tak acuh padaku.
Indi pov: Mas Anand pikir aku percaya padanya padahal jelas-jelas dia telah berubah. Aku tidak semudah itu dibodohi, akan aku pastikan kamu menerima akibatnya jika berani mengkhianati aku. Aku tidak akan membiarkan mas Anand mendapatkan Tara.
.........
Biru menjadi kelabu, langit berhias mendung yang menggantung, mungkin sebentar lagi dia akan jatuh terkulai ke atas tanah.
Gerimis perlahan datang membawa aroma tanah yang begitu khas, bercampur dengan aroma kopi yang begitu memikat. Di sudut kafe Karan's Coffee, seorang ibu-ibu cantik menunggu kedatangan calon mantunya.
"Selamat siang, tante. Maaf, saya membuat tante menunggu." Tara menyapa nyonya Gita dengan sopan.
"Nggak apa-apa, sayang. Belum lama kok, santai saja?" nyonya Gita menyambut Tara dengan penuh kasih, tidak lupa dengan cium pipi kanan dan pipi kiri.
"Jangan panggil tante dong! Panggil aja mama? Kan sebentar lagi Tara menikah dengan anak mama." Pinta Nyonya Gita.
"Oh iya tan-"
"Maaf, ma. Saya belum terbiasa." Tara sedikit gugup memanggil mama pada nyonya Gita.
"Jangan terlalu formal dong sama mama!"
"Iya, ma." Tara hanya bisa mengiyakan saja.
"Baiklah, karena kamu sudah datang mari kita pesan makan siang dulu."
Nyonya Gita memanggil pelayanan dan mereka berdua pun memesan makanan. Tara masih canggung karena belum pernah berduaan saja dengan Nyonya Gita. Sambil menunggu makanan siap disajikan, Tara pun menanyakan apa maksud Nyonya Gita ingin bertemu dengannya.
"Maaf tan-,"
"Maaf, ma. Apa ada yang ingin mama bicarakan denganku?"
"Kamu ini nggak sabaran ya." Nyonya Gita tersenyum.
"Mama ingin membicarakan perihal model untuk brand fashion kamu."
Deg...
Raut wajah Tara berubah, dia takut jika Nyonya Gita keberatan dengan pekerjaannya. Apalagi mengingat foto-fotonya yang cukup seksi, bisa saja Nyonya Gita akan mempersulitnya.
...............
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.
__ADS_1