
Mencari tempat makan di pinggir jalan
Eh... ketemunya warung bakso urat
Reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Pagi ini Tara malas berangkat ke butiknya dan memutuskan untuk membuat desain dari rumah saja. Aryan pun lebih senang jika sementara waktu Tara tidak kemana-mana, takut jika Anand berbuat nekat lagi.
Aryan melajukan mobilnya ke arah apartemen Anand, rasa kesal dan rasa benci memenuhi hatinya. Dia sudah cukup bersabar selama ini, namun Anand tidak mau mengerti dan hanya terus iri padanya.
Tok… Tok… Tok…
Aryan mengetuk pintu apartemen Anand, namun Anand tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Aryan mengira mungkin saja Anand tidak di situ, dia pun hendak pergi namun tiba-tiba Anand membuka pintu.
Bugh… Bugh… Bugh…
Aryan langsung memukul Anand. Belum sembuh lebam dan nyeri akibat pukulan Gala, Aryan sudah menambahkan luka baru pada wajah dan tubuh Anand.
Bugh… Bugh… Bugh…
Aryan dan Anand saling memukul, rasa kesal dan kecewa yang Aryan pendam selama ini akhirnya dia lampiaskan juga. Anand yang sudah terluka sebelumnya akhirnya jatuh dan kalah.
"Kurang bagaimana lagi aku selama ini terhadapmu, Nand?" Teriak Aryan.
"Mama selalu menyayangimu hingga kamu jadi arogan dan tak mau mengalah."
"Tara itu istriku, bukan harta atau benda yang bisa ku bagi dengan saudara kembar ku!"
"Kenapa kamu begitu egois?"
"Mama selalu memanjakan mu, memaafkan setiap kesalahan yang kamu perbuat dan bahkan berusaha menutupi kesalahan-kesalahan mu."
"Sedangkan papa selalu menuntut ku untuk berprestasi lebih dan tidak boleh mengecewakannya."
"Aku kurang bagaimana, Nand?"
"Papa selalu membangga-banggakan kamu!" Teriak Anand tidak mau kalah.
"Aku lelah selalu dibanding-bandingkan denganmu!"
"Aryan yang patuh, Aryan yang pintar, Aryan yang mandiri."
"Meski hanya sekali saja, papa tidak pernah membanggakan aku. Aku tidak terlihat!"
"Harusnya kamu katakan pada papa! Tunjukkan prestasimu! Bukan hanya sekedar iri terhadap hasil kerja kerasku!" Bantah Aryan.
"Bahkan aku membangun bisnisku sendiri, sedangkan kamu selalu ada mama yang membantumu dan diam-diam memberimu modal."
"Jangan pikir aku tidak tahu itu semua!"
"60 % yang akan papa berikan padaku, aku rasa tidak sebanding denganmu! Walaupun hanya 40 % tapi kamu telah lebih dulu mendapatkan semua kemewahan dan bantuan dari mama."
__ADS_1
"Selalu saja kasian Anand, Anand begini, Anand begitu."
"Bahkan mama tidak tahu bagaimana sulitnya aku membangun bisnisku sendiri."
"Kita kembar, namun aku seperti seorang kakak yang selalu dituntut mandiri."
"Kalau kamu menginginkan 60% saham dan kekayaan papa…"
"Ambil saja! Aku sungguh tidak peduli."
"Aku masih bisa hidup sendiri tanpa harta papa."
"Mintalah sendiri pada papa! Kalau kamu merasa layak mendapatkannya!" Sindir Aryan.
Aryan mengatur nafas, setelah sekian lama akhirnya dia bisa menyampaikan amarahnya pada Anand.
"Aku mencintai Tara." Ucap Anand sambil menyeka darah yang keluar dari bibirnya.
Bugh… Bugh… Bugh…
Aryan langsung memukul dan menendang Anand lagi karena emosi mendengar ucapan Anand.
"Kamu kira aku akan percaya dengan omongan mu itu?"
"Kamu hanya menginginkan apa yang aku miliki!"
"Kamu hanya terobsesi! Kamu serakah!" Bentak Aryan.
"Ha… ha… ha… Wajah kita sama, harusnya Tara juga mencintaiku." Anand tertawa.
"Kalau saja kamu tidak ada, pasti Tara mencintaiku!" Teriak Anand.
"Kalau kamu benar mencintai Tara, harusnya kamu tidak bermain cinta dengan pacarmu itu!"
"Bahkan Tara sendiri melihat bagaimana kamu berkencan di hotel dengannya."
"Apa kamu kira Tara adalah wanita bodoh yang akan mencintaimu setelah apa yang kamu lakukan?"
Anand hanya terdiam tidak mampu menjawab karena dia memang salah.
"Tara sudah menjadi milikku, selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya meskipun hanya seujung rambutnya saja."
"Bahkan jika aku mati, aku tidak akan membiarkan kamu memiliki Tara!"
"Kamu hanya duri bagi kehidupan Tara. Kamu tidak layak mendapatkan cintanya!"
"Kali ini hanya tubuhmu yang babak belur, lain kali mungkin nyawamu bisa melayang jika kamu berani mengusik Tara lagi!"
"Ingatlah! Kamu tidak hanya melawanku, tapi juga melawan keluarga Maheswari."
Aryan memotret Anand yang sedang meringis kesakitan lalu meninggalkannya. Beruntung sekali suasana apartemen yang Anand tinggali telah sepi ditinggal kerja oleh para penghuninya.
Aryan menoleh sebelum benar-benar meninggalkan Anand. "Ingatlah semua hal baik yang pernah kita lewati bersama, kita ini saudara, Nand!" Ucap Aryan sendu.
Ting...
Ponsel Gala berbunyi tanda pesan masuk datang. Ternyata pesan dari Aryan.
"Aku sudah membalaskan rasa sakit Tara." Bunyi pesan Aryan.
__ADS_1
Gala hanya tersenyum melihat foto yang dikirim oleh Aryan padanya. Puas rasanya melihat Anand dihukum oleh saudara kembarnya sendiri.
"Kali ini kamu selamat Anand! Lain kali tidak akan aku biarkan lagi. Kamu telah berani menyentuh Tara ku, maka jangan salahkan aku jika aku mendendam." Batin Gala.
Anand masih enggan berdiri atau memanggil siapapun untuk membantunya. Pikirnya menerawang bagaimana dulu dia dan Aryan adalah brother goals hingga dirinya dihinggapi rasa iri akan pencapaian saudara kembarnya itu.
Anand menyadari cinta mamanya yang begitu besar padanya, bahkan Anand pun tahu mamanya itu selalu membelanya. Sedangkan Aryan mendapatkan cinta dan didikan yang lebih keras dari papanya. Pahit untuk menerima kenyataan bahwa Aryan memang lebih layak menjadi penerus Cakra Wangsa.
"Kita ini saudara, Nand!"
"Kita ini saudara, Nand!"
"Kita ini saudara, Nand!"
Kata-kata Aryan terus terngiang di telinga Anand.
"Kita ini saudara, Nand!"
"Kita ini saudara, Nand!"
"Kita ini saudara, Nand!"
"Tara itu istriku, bukan harta atau benda yang bisa ku bagi dengan saudara kembar ku!"
"Tara itu istriku, bukan harta atau benda yang bisa ku bagi dengan saudara kembar ku!"
"Tara itu istriku, bukan harta atau benda yang bisa ku bagi dengan saudara kembar ku!"
Kata-kata Aryan membuatnya sadar, namun Anand masih terduduk di depan pintu apartemennya.
"Apa aku tidak boleh mencintai Tara?"
"Jika aku berubah jadi lebih baik seperti Aryan, apa Tara akan mencintaiku?"
"Kamu harus berhenti mencintai Tara!" Teriak Nyonya Gita.
"Kalau kamu masih mau mama bela di depan papa, maka kamu harus segera berhenti mencintai Tara."
"Atau kamu akan kehilangan segala kemewahan yang papa berikan!"
"Nanti akan mama carikan jodoh buat kamu, anak kenalan mama banyak yang cantik-cantik."
"Tapi tidak ada yang seperti Tara lagi di dunia ini, ma." Anand membantah.
"Kalau kamu punya harta, kamu bisa pilih wanita mana saja." Saran Nyonya Gita.
"Tidak, ma! Nyatanya seorang Tara tidak memilihku yang sudah menjalankan bisnis papa. Tapi dia justru memilih Aryan yang mengelola bisnisnya sendiri walaupun tidak sebesar milik papa." Anand mencoba berpikir waras dan tidak termakan omongan mamanya.
"Papa pasti akan memberikan semuanya pada Aryan."
"Tidak akan! Papa hanya akan memberinya 60 %, bukan semuanya!" Tegas Nyonya Gita.
"Kalau kamu tidak mau kehilangan 40% sisanya, kamu harus bangkit dan lupakan Tara!"
Nyonya Gita membawa Anand masuk ke dalam apartemen. Dia membersihkan dan mengompres luka-luka Anand karena tendangan dan pukulan Aryan. Nyonya Gita pun memanggil dokter pribadinya untuk datang mengobati Anand kesayangannya.
Rasa cinta orang tua itu harus adil bagaimanapun caranya. Jika tidak adil, secara tidak langsung orang tua telah membuat permusuhan di antara anak-anaknya sendiri. Persaudaraan harusnya lebih penting daripada harta, jangan sampai salah mendidik anak dengan hanya mementingkan harta.
.................
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.