Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_maaf ya mas..


__ADS_3

Dila sedang menyuapi Fatin di rumah, dia juga sambil merebus telur untuk makan malam.


sedang ustadz Ahmad menghampiri ibu Salwa yang masih di pendopo, "assalamualaikum... apa sudah lama Bu, maaf,"


"iya ustadz, tak apa-apa saya tau jika ustadz sangat sibuk, dan Hendra tolong ambilkan hadiahnya," perintah ibu Salwa


"aku bantu bang," kata Alexa yang begitu semangat.


Alexa selalu nampak begitu antusias saat membantu Hendra, bahkan jika Alexa marah atau kesal, hanya butuh dengan sebuah kata dari Hendra langsung bisa luluh.


"apa-apaan ini Bu? kenapa merepotkan begini?" kata ustadz Ahmad yang menerima hadiah dari ibu Salwa yang cukup banyak.


"sudah ustadz, ini hanya sedikit untuk pengantin baru, terlebih terima kasih sudah mau menjadi guru dan pengasuh untuk putriku," kata ibu Salwa


"sama-sama Bu," jawab ustadz Ahmad yang kemudian menceritakan kemajuan dari Alexa.


"bagaimana kalau malam ini kalian menginap saja disini, toh banyak kamar kosong, siapa tau jika masih rindu dengan putri mu, boleh loh," kata umi Chasanah.


"wah benarkah, terima kasih loh, kalau begitu maaf merepotkan," kata Bu Salwa.


Dila sedang menjaga Fatin sambil memasak, ustadz Ahmad mencari istri dan anaknya ternyata mereka ada di dapur.


"assalamualaikum ibu, sedang memasak apa?" tanya ustadz Ahmad.


"ini mas, sedang memasak telur balado kesukaan ustadz Sulaiman Ahmad, dan juga sayur nangka muda, beruntung gadis kecil kita ini sangat tenang," kata Dila yang mencium tangan ustadz Ahmad.


"gadis pintar Abi, kalau begitu biar abi yang menjaganya, ibu lanjutkan memasaknya ya,"


ustadz Ahmad membawa Fatin bermain di ruang tengah sambil memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an.


Fatin pun bermain dengan permainan yang mengasah semua sistem motoriknya, dan itu adalah mainan yang sudah di pilihkan oleh Dila.


tak lama Dila sudah selesai, dan memilih mandi dulu, baru menemani Fatin bergiliran dengan suaminya.


"aduh dek aku lupa tadi ada tamu ibu dari Alexa, kamu sudah sempat bertemu belum?" tanya ustadz Ahmad.


"Alhamdulillah sudah mas, beliau wanita yang cantik dan baik karena menjadi donatur untuk yayasan," jawab Dila.

__ADS_1


"bagaimana kalau kita undang makan di sini? tapi tadi dia membawa supirnya, apa tak apa-apa?" tanya ustadz Ahmad takut Dila tak mengizinkan.


"tak apa-apa loh mas, biar aku gorengkan sedikit lauk lagi, untuk semua tamunya," kata Dila yang kembali beranjak dari tempat duduknya.


Dila pun benar-benar sangat bisa di andalkan, ustadz Ahmad pergi sambil mengendong Fatin.


Keduanya menemui para tamu yang sedang berada di rumah umi Chasanah berbincang dengan Anisa.


"assalamualaikum ... wah kebetulan ngumpul disini Semuanya, saya ingin mengundang semuanya untuk makan malam di rumah, kebetulan istri saya ingin menyambut kalian dengan masakannya," kata ustadz Ahmad.


"waalaikum salam ustadz, tentu kami bersedia terlebih kami ingin merasakan masakan dari istri ustadz yang cantik itu," kata ibu Salwa.


"alah paling juga masakan kampung kayak orangnya, dan lagi pasti tak akan seenak makanan buatan ku," batin bu Salwa menghina.


sedang Anisa yang mengetahui langsung bergegas melihat kakak iparnya itu.


ternyata sudah selesai memasak, "ada apa mbak Anisa?" tanya Dila kaget melihat Anisa yang terengah-engah.


"wah ... ku kira belum selesai memasak mau bantu, eh ternyata sudah selesai, bahkan buat es sirup juga, wah ... hebat ya mbak," kata Anisa sedikit demi sedikit untuk memperbaiki nafasnya.


sedang Dila pun tersenyum, dan mengangguk, setelah sholat magrib Dila tak ikut makan karena harus menimang putrinya yang mengantuk.


"aduh beda sekali ya, saat rumah memiliki nyonya dan tidak, benar tidak Ahmad?" goda umi Chasanah.


"Alhamdulillah umi, istriku terbaik memang, dia begitu cekatan bahkan aku yang membantu pun sering di larang," kata ustadz Ahmad tersenyum malu


"tapi ustadz ngomong-ngomong dimana istrinya? kok gak kelihatan?" tanya Bu Salwa yang ingin mencari kesalahan Dila.


"maaf ya Bu, dan mas nya, istri saya sedang menidurkan putri kami yang sudah kelelahan karena bermain, jadi tidak bisa menemani makan malam," kata ustadz Ahmad.


"owalah.. tidak apa-apa ustadz," jawab Hendra tersenyum.


mereka pun duduk bersama di meja makan, saat ustadz Ahmad membuka tudung saji.


Bu Salwa mengejeknya dengan senyuman karena menu kampung sesuai tebakannya.


sedang Hendra malah menginggat bagaimana dia dulu begitu menyukai masakan Dila yang sederhana tapi rasanya juara.

__ADS_1


"mari semuanya, maaf hanya ada masakan sederhana," kata ustadz Ahmad.


tak lama Dila keluar dengan pakaian lengkap setelah Fatin tidur, dia pun menuangkan air dan minuman dingin untuk para tamu, sedang Anisa membantu para tamu mengambil menu di meja.


sedang Dila melayani suami dan mertuanya, setelah itu Dila dan Anisa memilih kembali masuk kedalam kamar.


sebenarnya tadi saat Dila melihat rombongan tamu, dia kaget kala ada Hendra, tapi dia berusaha bersikap biasa.


selepas makan mereka semua berbincang di ruang tamu, termasuk ustadz Ahmad, ustadz Yusuf dan ustadz Ilham.


karena malam ini semua santri bebas dari kegiatan, sedang di dapur Anisa sedang cuci piring dan Dila membuatkan cemilan.


Dila pun mengantarkannya kedepan, Hendra terus melihat wanita anggun yang sedang menyajikan makanan.


"bagaimana Bu Salwa, masakan menantu tersayang saya ini," tanya umi Chasanah.


"enak Bu, meski menunya sangat sederhana," kata Bu Salwa.


"terima kasih Bu," kata Dila sedikit serak.


"kamu sakit dek?" tanya ustadz Ahmad mendengar suara istrinya.


"tidak mas, aku baik-baik saja, permisi .." kata Dila yang bangun dan ingin pergi.


"tapi masakan tadi menginggatkan saya pada mantan istri pertama saya yang begitu saya cintai, tapi kebodohan saya, dia pergi meninggalkan saya sendiri," kata Hendra tersenyum.


"itu kisah lagi lama loh bang Hendra masih di ingat saja, move on dong," tegur Alexa.


"tak semudah itu, karena kesalahan ku aku kehilangan dia dan kebahagiaan ku, tapi aku juga belum sempat pulang karena terlalu malu pada mantan mertuaku," kata Hendra lagi.


"seharusnya nak Hendra tak memutus tali persaudaraan, siapa tau jika Allah membolak-balikkan hati manusia kan," kata umi Chasanah.


"iya umi," jawab Hendra.


arumi satang ingin bertemu Dila, diapun langsung menuju ke kamar karena ada Anisa juga.


sedang Rusdy bergabung di depan karena mengenal Bu Salwa juga, bagaimana pun mereka tergabung dalam ikatan pengusaha sukses asal Jawa timur.

__ADS_1


Dila, Anisa dan Arumi memilih makan nasi goreng di belakang saat semua sibuk di depan.


beruntung saat Hendra lewat untuk ke kamar mandi, Dila membelakangi pria itu hingga tak bisa melihat wajah Dila.


__ADS_2