Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 65_Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3

Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸


Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


"Aku tidak bermaksud membunuh Aryan, dia orang baik. Harusnya yang sakit adalah nyonya Gita dan Anand anak kesayangannya menjadi tersangka."


Semua orang yang di situ kaget mendengar pengakuan wanita itu.


"Apa yang dilakukan istriku hingga kamu mendendam seperti itu?"


"Kamu layak dihukum mati karena menyebabkan Aryan ku yang tidak bersalah menjadi korban." Tuan Indra meminta keadilan.


"Sabar tuan, kita akan membicarakan tuntutan dan hukuman di pengadilan." Ucap Pak Wiranto pengacara keluarga Cakra Wangsa.


"Aku tidak bermaksud membunuh…"


"Aku bukan pembunuh…. Aku bukan pembunuh…" Teriak Indi mantan kekasih Anand.


"Kalau saja Gita mati saat kecelakaan itu, aku tidak akan meracuninya. Kamu yang salah Gita!"


"Kamu pembunuh anakmu sendiri…! Ha… Ha… Ha…" Indi tertawa penuh kemenangan.


"Kalaupun aku mati dieksekusi, aku senang karena kamu sendiri yang memberikan makanan itu pada anakmu. Kamu akan dihantui rasa bersalah karena membunuh anakmu sendiri."


"Ha… Ha… Ha… Kamu pantas mendapat hukuman itu karena kesombongan mu. Tidak semuanya bisa kamu beli dengan uang dan harta kekayaanmu!" Cerocos Indi.


Nyonya Gita terduduk lemas, dialah yang menyebabkan kematian anaknya. Andai saja Aryan tidak memakan makanan itu terlebih dahulu, mungkin saat ini dialah yang telah dikebumikan.


"Aryan… Aryan anakku…"


"Maafkan mama, nak…"


"Maafkan mamamu ini yang tidak bisa menjagamu." Menangisi Aryan.


"Kamu tidak perlu pura-pura menangisi kepergian Aryan, bukankah ini yang kamu inginkan?" Sindir Tuan Indra.


"Ini semua karena kamu Anand!" Teriak Nyonya Gita.


"Andai saja kamu tidak berpacaran dengan wanita ular ini, saat ini pasti Aryan masih hidup."


"Anand yang bodoh… Ha… ha… ha…" Tawa Indira penuh hinaan.

__ADS_1


"Lihatlah mama tercintamu sekarang menyalahkan dirimu. Mamamu hanya mencintai dirinya sendiri."


"Diam…!" Bentak Nyonya Gita.


"Aku mencintai Anand lebih dari diriku sendiri. Anand tidak pantas bersamamu yang seorang pelac-ur."


"Tapi Anand kesayanganmu itu juga menikmatinya, Gita… Ha… Ha… Ha…"


Anand hendak menerjang ke arah Indira, namun polisi menghentikannya.


"Tahan emosi anda, tuan. Atau kami terpaksa menahan anda juga." Kata salah satu polisi.


"Biarkan saja dia ikut ditahan, pak!" Ucap Davin, tersangka pria yang merupakan teman dekat Anand dulunya.


"Sekali arogan tetaplah arogan. Sungguh sayang sekali Aryan mati karena dirimu. Aku turut berduka untuk Tara dan dia harus terluka lagi karena kamu." Imbuh Davin.


"Apa salahku padamu, Vin? Kenapa kamu lakukan ini padaku? Bukankah kita teman dekat?" Anand sungguh tidak habis pikir sahabatnya itu tega terhadapnya.


"Kamu memiliki semua yang tidak aku punya dan kamu terlalu sombong. Berdiri di sampingmu membuat aku tidak terlihat."


"Andai saja waktu itu kamu tidak mempermalukan Tara dan Alma di depan umum, di depan kampus kita. Pasti Alma tidak membenciku dan semakin menjauh dariku." Papar Davin.


"Hahhh… Jadi ini karena Alma si cewek matre itu?" Bentak Anand.


"Ha… Ha… Ha… Karma mu dibayar instan. Apa kamu tidak tahu Indi itu siapa?"


"Dia adalah pacarku yang aku gunakan untuk mengambil keuntungan darimu. Kamu sama saja seperti diriku yang rela memberikan apa saja untuk Alma dan kamu rela memberikan apa saja untuk Indi."


"Apa kamu tidak sadar perbuatan mu jauh lebih buruk dariku? Bahkan kamu menjadikan pacarmu sendiri alat balas dendam?"


"Ha… Ha… Ha… Tentu karena Indi menyetujuinya. Aku tidak masalah berbagi kehangatan Indi dengan mu. Bukankah kamu menikmatinya!" Tertawa menghina.


"Kalau saja nyonya Gita tidak ikut campur dengan hubunganmu dan Indi, aku tidak akan sampai hati meracuni kalian. Ternyata sifat arogan mu itu turunan dari mama mu yang sombong itu."


Polisi segera membawa tersangka dan saksi ke tempat yang lain untuk menghindari keributan. Semuanya akan dibahas di persidangan. Polisi telah pergi dari ruangan itu dan membiarkan keluarga Cakra Wangsa menyelesaikan masalah keluarganya sendiri.


"Tara tidak boleh tahu akan hal ini, pasti dia akan tambah shock dan akan menganggu kesehatan janinnya." Ucap Nyonya Gita.


"Kamu memikirkan Tara dan janinnya atau kamu hanya memikirkan nama baikmu sendiri?" Sarkas Tuan Indra.


"Tara berhak tahu yang sebenarnya." Tegas Tuan Indra.


"Apa papa tidak memikirkan bisnis yang ditinggalkan Aryan?"


"Mama tidak mau bisnis itu jatuh ke tangan orang lain. Jika Tara menikah lagi, maka dia hanya boleh menikah dengan Anand saudara kembar Aryan." Tegas Nyonya Gita.


"Apa kamu masih waras? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan Tara saat ini?"

__ADS_1


"Kenapa di otak mu hanya ada harta saja?"


"Tidak 'kah kamu tahu kita masih di kantor polisi! Kenapa kamu malah membahas hal seperti itu?" Cecar Tuan Indra.


"Maka pelankan suaramu, pa!" Nyonya Gita tidak mau kalah.


"Tara hanya boleh menikah dengan Anand, entah dia mau atau tidak. Itu demi kebaikan bersama." Lanjut Nyonya Gita.


"Apa maksudmu? Tara pasti tidak akan setuju!"


"Bagaimanapun juga Tara harus setuju untuk menikah dengan Anand. Wajah Anand sangat mirip dengan Aryan karena mereka saudara kembar, harusnya Tara juga bisa mencintai Anand." Terang Nyonya Gita.


"Kamu jangan bicara konyol." Tuan Indra berlalu pergi untuk menemui polisi yang mengurus kasus mereka.


"Dengarkan penjelasan ku dulu, pa! Teriak Nyonya Gita, namun tidak digubris oleh Tuan Indra.


Sore itu di kediaman Cakra Wangsa setelah kejadian di kantor polisi. Anand, Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa berkumpul di ruang tengah untuk membahas masalah yang sempat mereka bicarakan di kantor polisi.


"Dengar, pa!" Nyonya Gita memulai pembicaraan.


"Tara harus menikah dengan Anand karena dengan begitu anak dalam kandungan Tara tidak akan kehilangan sosok papanya." Nyonya Gita berusaha memberikan alasan yang bisa diterima oleh Tuan Indra.


"Anak Tara adalah cucu kita dari Aryan, kita harus mendidiknya dengan baik untuk menjadi penerus keluarga Cakra Wangsa. Anand adalah orang yang paling tepat untuk menggantikan Aryan sebagai suami untuk Tara dan papa untuk calon anaknya." Nyonya Gita mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Kematian Aryan justru membukakan jalan bagi nyonya Gita untuk menjadikan Anand penguasa Cakra Wangsa dan Maheswari.


"Bukankah Anand juga mencintai Tara sama seperti Aryan yang mencintai Tara? Benar kan Anand?" Nyonya Gita tahu Anand akan menurut padanya.


"Iya, aku mencintai Tara. Aku juga akan mencintai anak yang Aryan tinggalkan." Mendukung mamanya.


"Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk memiliki Tara. Biarlah aku mengikuti permainan mama." Batin Anand.


"Bagaimana jika Tara tidak setuju? Dia masih bersedih dengan kepergian Aryan, apa kamu tidak memikirkan itu?" Tuan Indra mulai goyah.


"Pasti keluarga Maheswari setuju dengan pernikahan Anand dan Tara, demi anak yang sedang Tara kandung. Pasti mereka juga tidak ingin cucunya lahir tanpa ayah."


"Jika itu semua tidak cukup, maka kita tambahkan alasan bisnis. Tidak mungkin kita membiarkan bisnis yang Aryan rintis menjadi hancur."


"Tentu papa juga tidak mau kalau bisnis yang Aryan bangun jadi hancur karena tidak ada yang memimpin 'kan?" Menyerang kelemahan Tuan Indra.


"Baiklah, biar aku pikirkan dulu. Kita akan bicara pada Tara nanti jika dia sudah lebih tenang dan bisa menerima kepergian Aryan."


"Kenapa nasibmu seperti ini Aryan? Apakah papa benar-benar harus mengikuti keinginan mamamu dan Anand?" Dalam hati Tuan Indra masih bimbang dengan keputusannya itu.


.................


Bagaimana menurut reader? Tara lebih memilih menjanda atau menikah dengan Anand?

__ADS_1


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2