Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_ wanita idaman.


__ADS_3

sudah empat hari ustadz Ahmad di rawat di rumah sakit, sekarang beliau sudah di izinkan untuk pulang.


sebelum pergi Fatin mencari maho untuk memberikan hadiah karena sudah menjaga ustadz Ahmad dengan sangat baik.


"loh neng Fatin, ada apa neng?" tanya Mahi sopan.


"aku hanya ingin memberikan kue kesukaan mu sebagai ucapan terima kasih telah menjaga dan merawat Abi, hingga beliau sudah membaik dengan cepat," terang Fatin.


"itu karena om sangat menurut, dan tolong jaga makanan dan emosinya ya neng, karena om tak boleh stres," kata Mahi mengingatkan.


"iya Mahi, terima kasih," jawab Fatin sopan.


"ayo neng, pasti mereka sudah menunggu kita, permisi ya dokter," kaya Hasan yang merangkul Fatin dan mengajaknya pergi.


"hei... jika kamu seperti ini, bisa di kira kekasih neng loh," kata Fatin tersenyum.


"gak papa kok neng, karena gadis idaman Hasan harus seperti neng Fatin, karena neng adalah gadis sempurna di mata ku, dan beruntung pria yang akan menjadi suamimu nantinya," kata Hasan dengan pasti.


"aduh aku jadi gak mau jauh nih dari adikku ini," kata Fatin gemas pada Hasan.


ternyata ada garis dan Abdul yang datang untuk ikut menjemput ustadz Ahmad.


"aduh kalian datang, Husna dan Fatin coba ikut mobil Abdul ya, Abi mau naik mobil Hasan saja," kata ustadz Ahmad yang melihat kedua pria itu.


"iya Abi," jawab kedua putrinya.


"kebetulan saya juga mau izin untuk mengajak keduanya berbicara di luar sambil mencari buku, apa boleh ustadz," izin Haris


"baiklah nak, tapi tolong jangan pulang terlalu sore, dan neng Fatin jika merasa tak nyaman, nanti bisa telpon Hasan untuk menjemput mu ya nak," kata ustadz Ahmad.


"baik Abi, neng mengerti," jawab Fatin sopan.


mereka pun mencium tangan sebagai izin dan keduanya ikut mobil dari Abdul.


selama perjalanan Fatin memilih membaca Alqur'an, sedang Husna terus berbincang dengan Abdul dan Haris.


"neng, mau ke mall, apa neng tak keberatan?" tanya Abdul.


"gak papa mas, kebetulan aku juga sedang butuh buku untuk skripsi akhirku," jawab Fatin.


Haris tak tau kenapa Fatin begitu hemat bicara seperti ini, dan dia memang tak ingin jika punya rumah tangga yang dingin.


"Fatin... apa aku boleh tanya, apa makanan kesukaan mu?" tanya Haris melirik kursi belakang.

__ADS_1


"neng Fatin tak pernah menyia-nyiakan makanan, tapi dia tak pernah makan nasi Padang loh, katanya porsinya terlalu banyak, hanya itu alasannya," jawab Husna tertawa


"aduh kamu manis ya, selalu perhatiin neng," kata Fatin.


Haris melihat kearah Fatin, padahal beberapa hari lalu mereka baru saja memakan makanan itu, dan Fatin sangat menyukai hal itu.


Fatin hanya tersenyum pada Haris, sepertinya Fatin menyembunyikan itu dari Husna.


mereka sampai di mall, Husna dan Abdul memisahkan diri karena mereka ingin mencari baju untuk Husna.


jadilah Fatin berjalan bersama dengan Haris, "jika mas tak nyaman, tolong jangan paksakan," kata Fatin.


"tidak neng, aku nyaman saja, ayo kita ke toko buku di depan dan tolong katakan buku seperti apa yang jamu butuhkan," kata Haris.


Fatin merasa senang meski hanya sekedar mencari buku dengan Haris, entahlah berjalan seperti ini saja sudah sangat membahagiakan untuknya.


mereka pun mencari buku, harus menunjukkan beberapa buku pada Fatin.


"ini bukunya," kata Haris memberikan buku yang di cari.


"terima kasih mas, ini untuk mas Haris, bukankah suka membaca buku ini," kata Fatin menyodorkan sebuah buku tentang agama.


"apa kamu seorang cenayang?"


"kamu begitu perhatian padaku?" kaget Haris.


"seandainya mas ingat, tapi mari kita bayar, biarkan kali ini aku yang bayar ya mas," kata Fatin tersenyum


"jangan neng," kata Haris yang tak sengaja memegang tangan Fatin.


Fatin menarik tangannya kaget, dan langsung terduduk, "jangan menyentuhku, menjauhlah..." lirih Fatin yang ketakutan.


"ada apa neng, ini aku Haris," kata Haris yang tak mengerti.


Fatin pun mengambil buku yang jatuh Sam segera ke kasir, meninggalkan Haris yang masih kebingungan.


"ada apa, kenapa dia ketakutan dan histeris seperti itu, padahal tadi dia terlihat begitu senang," batin Haris.


"kenapa, aku belum bisa melupakan hari buruk itu, dan semoga mas Haris mengerti, aku harus pulang," panik Fatin yang langsung mencari ponselnya.


Hasan yang setelah mengantar sang Abi pulang, sengaja langsung menuju ke mall, karena dia takut Fatin merasa tak nyaman.


"ya neng, assalamualaikum..." jawab Hasan yang baru masuk mall.

__ADS_1


"tolong jemput neng Hasan, neng mau pulang," panik Fatin terdengar dari suara wanita itu.


"neng dimana?" tanya Hasan yang panik.


"neng menuju lobi," jawab Fatin yang masih gemetar.


Hasan melihat Fatin yang jekuar dari lift, langsung memakaikan jaket miliknya pada wanita itu.


menutupi semua wajah dan tubuh Fatin, "tenang neng aku disini," kata Hasan.


"bawa aku pergi, aku tak nyaman dek, tolong...." kata Fatin.


terlihat Haris mengejar Fatin, tapi saat mendekat Hasan memberikan kode pada pria itu.


"neng, bukankah bilang ingin membelikan mas haris buku?" tanya Hasan yang berhasil membuat Fatin nyaman.


"ini bukunya, tolong berikan,aku tak sanggup melihatnya karena aku buruk dek..." tangis Fatin lirih.


harus pun kaget, kenapa Fatin menangis, dia tadi hanya tak sengaja menyentuhnya, tapi reaksi Fatin berlebihan.


"baiklah neng, kita pulang, biar nanti mas harus ke pondok saja, biar aku yang jelaskan," jawab Hasan.


Hasan memberikan buku itu dan membawa Fatin pulang, Haris masih bingung kenapa Fatin seperti itu.


apa yang di sembunyikan wanita itu, gadis yang kuat kini nampak ketakutan dan lemah.


dan hanya bisa bertanya pada Hasan karena hanya pria itu yang bisa menjelaskan.


Haris menelpon Abdul agar segera selesai belanja dan segera ke pondok karena dia butuh penjelasan secepatnya.


terlebih dia sudah memantapkan diri untuk menerima Fatin, jadi dia tak boleh memiliki rahasia saat sudah menikah.


karena itu bisa mempengaruhi pernikahan mereka nantinya, terlihat dari jauh abdul dan Husna terlihat begitu bahagia.


tapi keduanya kaget saat melihat sosok Haris yang sedang menunggu Keduanya dengan wajah dingin dan muram.


"cepat Abdul,aku sudah kehabisan kesabaran," kata Haris.


"tapi mas, mana neng Fatin?" tanya Husna


"dia sudah pulang di jemput oleh Hasan,dan sekarang aku harus bertanya pada ustadz Ahmad, jadi tolong jangan buat aku menunggu lagi," ketus Haris menjawab Husna.


Abdul pun bergegas menuju ke mobil, dan mengarahkan mobil itu menuju pondok.

__ADS_1


dia merasa panik melihat tatapan dari Haris yang begitu mengintimidasi dan dingin.


__ADS_2