
Tempel kertas pakai lem perekat
Kalau tak punya bisa pakai nasi saja
Reader, tolong berikan author semangat
Tambahkan favorit, vote, jempol, hadiah dan komentarnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Keributan telah berakhir menyisakan penyesalan. Pertemuan telah bubar, tinggal Nyonya Gita yang sedang berbicara dengan Nyonya Lita dan berniat meminta maaf pada temannya itu. Tuan Indra dan Tuan Yoga pun berbicara empat mata.
Kegelisahan tampak di wajah Tuan Indra, takut jika akhirnya Tara memutuskan membatalkan perjodohan ini.
"Yoga, kenapa kamu menyerahkan keputusan pada Tara?" Tanya Tuan Indra.
"Memangnya kenapa?" Tuan Yoga membalik pertanyaan.
"Jujur saja aku khawatir jika Tara membatalkan perjodohan."
"Aku yakin Tara tidak akan membatalkan perjodohan ini. Kamu tadi dengar sendiri 'kan? Tara sudah menyukai Aryan sejak pertama bertemu." Terang Tuan Yoga.
"Tapi aku tetap saja khawatir. Itu kan dulu waktu pertama bertemu, mungkin saja sekarang perasaan Tara berubah." Jelas Tuan Indra.
"Apa kamu tidak mengawasi anakmu sendiri?"
"Aku sudah kecolongan soal Anand. Aku tidak mau kecolongan lagi, Yoga."
"Ya, memang kadang kita tidak bisa membuat semuanya dalam kendali kita. Tapi percayalah, Tara pasti akan tetap melanjutkan perjodohan ini."
"Tapi aku rasa memang Tara dan Gala memiliki perasaan satu sama lain."
"Kalaupun mereka memiliki perasaan yang sama, saling mencintai, Tara pasti akan tetap memilih Aryan menjadi suaminya." Tandas Tuan Yoga.
"Ku harap perkataanmu benar, Yoga. Aku takut Aryan akan hancur, jika Tara membatalkan perjodohan ini." Tuan Indra menaruh harap.
Kunjungan keluarga Cakra Wangsa hari ini masih menyisakan tanya. Mereka pulang namun tanpa kemenangan. Keputusan Tara masih ditunda, entah apa yang akan Tara bicarakan dengan Aryan nanti.
.........
Malam ini bulan bersinar terang dan ditemani dengan bintang-bintang. Tara duduk di tepi kolam renang, sedikit merenung memikirkan apa yang telah dia ucapkan di pertemuan tadi. Kebimbangan datang mengusik, Tara masih tidak yakin dengan keputusannya.
"Tara, sayang," Bisik Gala dan mencipratkan air ke wajah Tara.
"Kenapa melamun? Awas kesambet loh!" Imbuhnya.
"Iya, kamu setannya!" Ucap tara kesal.
"Mana ada setan ganteng dan sixpack." Gala nyengir.
"Ada... Ini di sampingku." Tara mencubit lengan Gala.
"Aw... aw... aw... Tara kenapa penyakit mencubitmu kambuh lagi?"
"Aku sedang mengkhawatirkanmu, tapi kamu bercanda mulu." Ucap Tara.
"Khawatir?" Gala kaget.
"Ada kesempatan untuk membatalkan perjodohan ini. Namun aku tidak bisa menentukan pilihan. Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai mas Aryan."
__ADS_1
Kaki Tara memainkan air di kolam. "Seperti air kolam ini, hubungan kita bertiga akan menjadi rumit dan penuh gelombang."
Gala tahu di kediaman Maheswari ini mungkin saja akan ada yang memperhatikan mereka berdua. Gala tidak bisa memeluk dan meyakinkan Tara.
"Percayalah padaku." Hanya itu yang diucap Gala.
"Tapi... " Ucapan Tara terhenti.
"Percayalah padaku. Lakukan seperti yang sudah direncanakan. Aku akan tetap ada untuk kamu." Jelas Gala.
"Apa kamu yakin?" Tara khawatir.
"Sangat yakin. Sana masuk kamar! Ini sudah malam, apa kamu tidak dingin main air begitu?"
"Sudah tidak dingin lagi." Tara mengerlingkan matanya.
"Kamu jangan mengoda, bahaya kalau ada yang lihat."
"Okay, selamat malam." Tara pergi menuju kamarnya.
Ting...
Ponsel Gala berbunyi, ada pesan masuk dari Tara. "Cepat tidur selirku tersayang. Love you."
"Love you too." Balas Gala, tidak lupa dia menambahkan emotion love.
.........
"Kaatun kaise raatan oh saawre? Jiya nahi jaata sunn baawre. Ke raataan lambiyan lambiyan re, kate tere sangeyan sangeyan re."
Terjemahan. "Bagaimana ku habiskan siang dan malam ku? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Malam-malam panjang ini, seharusnya dilewati bersamamu."
Ponsel Tara bernyanyi lagu rindu, tanda ada panggilan masuk.
"Apa aku tidak bisa mendengar kamu memanggilku sayang lagi?" Ucap Aryan sedih dari seberang sana.
"Ha... ha... ha... Sepertinya belum waktunya mas."
"Aku gelisah dan kamu tertawa. Apa kamu tidak khawatir dengan hubungan kita?"
"Untuk apa khawatir dengan hal yang sudah jelas." Jawab Tara santai.
"Maksudnya?"
"Besok jemput aku di butik ya mas, terus kita ke taman buat bicarakan ini semua."
"Apa kamu tidak bisa mengatakannya saat ini juga? Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan ini semua."
"Salah sendiri tidak tidur, ha... ha... ha... "
"Tara, kenapa kamu kejam sekali?"
"Aku tidak berniat kejam, mas. Jujur saja aku masih kesal karena mama kamu."
"Apa kamu tahu kalau sekarang aku sedang sakit?"
"Sakit! Sakit apa mas? Mas Aryan baik-baik aja 'kan? Atau perlu ke dokter? Ada yang nganterin nggak?" Tanpa sadar Tara memperlihatkan kepeduliannya.
"Dokternya tidak mau memberi obat."
"Hah...! Dokter mana yang nggak mau kasih obat? Atau Tara panggilin dokter pribadi Tara aja?" Tara emosi.
"Dokter Tara, apa bisa anda berikan obatnya sekarang? Pasien bernama Aryan, mulai sesak dan kekurangan oksigen karena kecemasan berlebih."
__ADS_1
"Mas Aryaaaan... " Teriak Tara.
"Aw... aw... " Teriak Aryan
"Mas Aryan beneran sakit?" Tara panik.
"Iya, gangguan kecemasan karena dicuekin dokter Tara."
"Mas Aryan, ini nggak lucu." Tara kesal.
"Iya, nggak lucu, tapi hatiku benar-benar sakit. Dadaku sesak karena cemas. Aku takut kehilangan kamu." Suara Aryan terdengar menyedihkan.
"Aryan Cakra Wangsa bisa sekacau ini." Tara masih bisa meledek.
"Iya, aku kacau tanpamu, Tara. Kamu adalah oksigen bagiku, tidak mungkin aku bisa hidup tanpa oksigenku."
"Yaudah, aku beliin tabung oksigen ya?" Canda Tara.
"Kenapa susah sekali menjelaskan padamu. Aku benar-benar tidak bisa dengan wanita lain selain kamu."
"Iya, aku tahu, karena itu aku tidak pernah cemas dengan hubungan kita. Aku salut melihat mas Aryan tadi berani memohon pada papa."
"Tidak cukup dengan salut, Tara."
"Mas Aryan, tidurlah dengan nyenyak malam ini, jangan lupa makan dulu. Aku tahu kamu tidak selera makan sejak kemarin."
"Tara, beri aku jawaban dan beri aku obat!Agar selera makanku kembali."
"Cepat makan! Aku tidak mau kalau mas Aryan jadi kurus dan pemandangan indah dari perut kotak-kotakmu itu menghilang."
"Tara, kamu mesum." Aryan mulai bisa tertawa.
"Ha... ha... ha... Aku tidak bisa munafik mas, mataku tidak bisa menolak pemandangan bagus."
"Apa kamu juga melihat pemandangan bagus punya orang lain?" Aryan cemburu.
"Tuh 'kan! Posesifnya mulai deh... Sempat liat punya yang lain, tapi cuma mas Aryan yang bikin hilang fokus."
"Ha... ha... ha... " Tara tertawa lepas karena menyadari otaknya yang sedikit mesum.
"Ha... ha... ha... Kalau gitu, kita harus cepat-cepat menikah." Aryan senang.
"Lamaran dulu baru nikah. Jangan buru-buru dong!"
"Kalau tidak buru-buru, banyak singa yang siap menerkam dan merebut kamu."
"Setelah pembicaraan besok, aku harap mas Aryan tidak akan berubah."
"Katakanlah sekarang! Apapun akan aku terima." Pinta Aryan.
"Aku tidak bisa mengatakannya lewat telepon." Bantah Tara.
"Kamu membuatku tidak akan bisa tidur lagi malam ini."
"Jangan cemas. Bye... Mas Aryan, sayang." Tara buru-buru menutup teleponnya.
Aryan harap-harap cemas karena Tara sulit sekali ditebak. Namun setidaknya Tara memanggilnya sayang lagi.
................
Apa yang akan dikatakan Tara pada Aryan?
Apakah kira-kira Aryan tidak akan goyah? Atau justru goyah dan meninggalkan Tara?
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.