
keesokan harinya, Rusdy menyetir mobil menuju ke desa tempat tinggal orang tua Dila.
rombongan pun menempuh perjalanan jauh dengan santai, terlebih ustadz Ahmad tak ingin terjadi sesuatu selama perjalanan.
sedang di yayasan, Dila bersama para wanita lain melakukan semuanya dengan biasa saja.
pasalnya pesan ustadz Ahmad Yafi melarang siapa pun bilang jika mereka pergi.
Fafa mencari Fatin untuk membuat keluarga ustadz Ahmad terkesan, terlebih dia tak ingin ustadz Ahmad benar-benar menjadi milik dari Dila.
"assalamualaikum umi... kok sendirian kemana Fatin, biasanya ikut umi jalan-jalan untuk memeriksa para santri yayasan," tanya Fafa tersenyum lebar.
"tebtu saja dia sedang bersama dengan ibunya, karena Fatin tak bisa jauh dari ibunya," jawab umi Chasanah.
Fafa pun terdiam, bagaimana dia bisa membuat keluarga itu berkesan padanya jika Dila terus bersama Fatin.
"kenapa sih umi, mbak dila begitu posesif dan terus ingin bermain dengan Fatin. padahal kamu juga ingin main bersamanya, toh saat sakit kemarin aku yang menjaganya," kata Fafa.
"memang kenapa, orang Fatin merasa senang ikut ibu sambungnya, kalian tau sendiri jika mereka di pisah, Fatin akan sangat rewel, lagi pula Dila sepertinya marah saat tau jika Fatin sempat mengalami alergi dan ada beberapa kali cubitan di tubuh balita itu," jawab umi Chasanah melirik ke Fafa.
gadis itu pun terdiam, dia merasa takut, pasalnya dia yang merawat Fatin saat Dila di rumah sakit.
"benarkah, aku tak tau?" jawab Fafa.
"kamu yakin, Fatin kemarin sempat mengalami alergi dan juga bruntusan karena popok, beruntung Dila memiliki salep yang menyembuhkan luka itu, kamu tau Fafa Dila benar-benar marah, bahkan ustadz Ahmad saja dia marahi karena tak menjaga Fatin," tambah umi Chasanah.
Fafa makin tak percaya, jika seorang Dila berani memarahi ustadz pimpinan pondok.
__ADS_1
"bukankah dia keterlaluan karena berani memarahi ustadz, dia itu siapa sih kok bersikap seperti ibu beneran saja," kata Alexa.
"setidaknya Fatin bahagia, buat apa bersama orang yang hanya memanfaatkan Fatin agar bisa dekat dengan ustadz, kalau tak becus tak usah sok ide untuk menjaga Fatin, karena selama aku ada Fatin ku tak perlu bantuan siapa pun," kata Dila yang kebetulan lewat dan mendengar Semuanya.
Alexa dan Fafa terdiam, keduanya tak mengira akan melihat sosok Dila yang sedang marah, bahkan mata tajam itu begitu menusuk.
"sini cucu nenek, ayo kita jalan lagi," kata umi Chasanah mengambil Fatin dari gendongan Dila.
"Bu .. Bu ..."
"nanti ibu nyusul ya nak, sama nenek, dan kalian kenapa tidak sekolah malah hanya diam mematung disini, cepat pergi sekolah, atau-" kata Dila yang terhenti karena kedua gadis itu sudah berlari pergi untuk sekolah.
Dila pun menghela nafas, dia bukannya tak peka, jika Fafa menyukai ustadz Ahmad, Tao perlakuan gadis itu pada Fatin.
itu yang membuat Dila marah, karena bagi Dila Fatin adalah hidupnya.
umi Chasanah dan anisa juga sudah siap, kini mereka mulai berbagi cerita, dan Dila tak segan memberikan pelukan untuk menenangkan beberapa orang yang begitu sedih.
sesi ini berlangsung cukup lama hingga siang, bahkan Fatin kecil sampai tertidur di pangkuan Dila karena lama acara.
sedang rombongan Rusdy dan ustadz Ahmad sampai di desa Dila pukul sepuluh pagi.
mereka tak langsung mampir, tapi ustadz Yusuf dan Rusdy mampir dulu untuk memberikan sesuatu.
karena mereka baru tau jika adat di desa Dila adalah jika ingin melamar atau meminta anak gadis pada orang tuanya harus membawa gula dan biji kopi mentah.
dan juga beberapa kebutuhan dasar, itupun ustadz Yusuf tau dari temennya uang kebetulan juga orang desa Dila.
__ADS_1
sesampainya di rumah Dila, nampak banyak orang, ketiganya pun turun sambil kebingungan.
"aduh apa kita salah cari hari?" kata ustadz Ahmad.
"assalamualaikum ustadz!!" kata Arif pada ketiganya.
"waalaikum salam, bagaimana kabar mu saudara ku," kata ustadz Ahmad memeluk Arif.
"Alhamdulillah baik dan sehat, semua keluarga ku juga, ayo masuk," ajak Arif.
"tapi ini ada apa kok ada ramai begini?" tanya ustadz Ahmad.
"oh ini tetangga ada yang meninggal dunia, tapi jenazahnya masih di rumah sakit, masih di urus katanya," jawab Arif.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un ..." jawab ketiganya.
mereka semua pun masuk, pak Yono masih di pemakaman untuk membantu mengaku kubur.
Lela keluar sambil membawa minuman untuk para tamu, dan Bu Wati juga menyambut ketiganya.
"ibu, mohon duduk sebentar, saya ingin mengatakan hal serius pada semua keluarga," kata ustadz Yusuf.
"wah... ada tamu jauh, apa kabar nak ustadz, bagaimana kabar nak ustadz dan juga gadis kecil cantik itu, ya Allah terima kasih sudah membantu Dila sembuh ya," kata pak Yono yang baru datang.
"Alhamdulillah semua sehat pak, Fatin juga makin sehat karena mendapatkan kasih sayang dari ibu Dila kesayangannya," jawab ustadz Ahmad.
"Alhamdulillah ... setidaknya rasa bersalah bapak ini sedikit berkurang karena pernah memaksa putri baik seperti Dila," kata pak Yono dengan sedih.
__ADS_1
"pak Yono ... sebenarnya kedatangan kami kesini, saya ingin melamar putri anda untuk jadi istri saya dan ibu sambung untuk Fatin, karena saya tanpa sadar sudah mencintai putri bapak dan Fatin juga tak bisa jauh-jauh dari putri anda," kata ustadz Ahmad yang duduk bersimpuh di depan pak Yono.