
Mela mengangguk, dia sekarang mengeluarkan semua yang di bawa, hendra tak mengira jika gadis yang dia rusak begitu polos dan baik.
"kamu takut aku kelaparan ya disini? kenapa membawakan begitu banyak makanan dan cemilan?" tanya Hendra heran.
"tidak apa-apa mas, ini juga aku belajar membuatnya, dan rasanya lumayan jadi di makan ya, jika tak mau kamu bisa membuangnya," lirih Mela.
"tentu saja tidak, sekarang bagaimana dokter bilang? apa baby di dalam baik-baik saja," tanya Hendra.
"iya dia baik-baik saja, baby dan aku berharap saat lahiran nantinya mas bisa menemani kami, tapi aku sadar diri jika itu mustahil kan?" lirih Mela.
sebenarnya Ridwan sedang mengupayakan jalan untuk mengurangi masa tahanan dari Hendra.
terlebih Hendra berhasil membuat beberapa tahanan yang sering membuat kerusuhan kini tak berani berkutik dan malah mengikuti Hendra.
mereka pun berbincang sampai siang, setelah itu Mela dan Bu Eka pamit pulang.
sebelum pergi Hendra mencium kening Mela dan memeluknya, dia pun sadar jika gadis di depannya ini adalah kebahagiaannya saat ini.
bu Eka tak langsung mengajak Mela pulang, melainkan belanja dulu untuk keperluan bulanan.
pak agus membantu membawakan belanjaan dari Mela dan Bu Eka, sedang keduanya memesan kebab yang kebetulan ada di depan parkiran supermarket itu.
bahkan Mela juga membeli Boba untuk menikmati nikmatnya hidup, terlebih dia pun tak memiliki pantangan untuk makanan.
"sudah ayo pulang nduk, nanti makin panas," ajak Bu Eka.
"inggeh Bu," jawab Mela.
keduanya pulang, dan saat sampai rumah ada orang tua dari Mela, Keduanya datang membawa makanan kesukaan putri mereka.
"bapak ibu datang, ya Allah padahal bisa minta aku ke rumah loh, Deket ini," kata Mela memeluk keduanya.
"ya gak papa, salam ibu besan, bagaimana putri kami tidak merepotkan Anda bukan?" tanya bapak Mela.
"Alhamdulillah Mela sangat baik dan tak merepotkan, dan saya begitu bersyukur punya menantu yang begitu sempurna seperti Mela, Monggo masuk Besan, kebetulan tadi kami beli cemilan, pak Agus tolong bawa belanjaan kami kedalam ya," kata bu Eka dengan sopan.
"baik Bu," jawab pak Agus.
mereka pun masuk dan mulai berbincang, Mela beberapa kali merasakan punggungnya tegang.
__ADS_1
ya mau bagaimana lagi, kandungan sudah tua, tapi dia terlalu lelah dan dokter memintanya untuk beristirahat.
Mela memakan kebab yang tadi di belinya dengan sangat lahap, "pelan-pelan Dila, nanti kamu tersedak loh," pesan Bu Eka.
"maaf Bu, habis enak," jawab Mela.
bapak Mela pun merasa senang jika hubungan putrinya dan mertuanya sangat baik, jadi kecemasan yang mereka khawatirkan tak pernah terjadi.
"bagaimana kabar suami mu Mela? apa dia baik-baik saja?" tanya ibu Mela untuk memastikan sesuatu.
"Alhamdulillah Bu, mas Hendra sangat baik, kami tadi bahkan merasakan pergerakan yang di lakukan calon jagoan kami ini, dia begitu aktif di dalam perut saat mendengar suara mas Hendra, dan itu membuat mas Hendra begitu bahagia," kata Mela dengan antusias.
ibu Mela juga ikut senang melihat begitu antusiasnya Mela saat bercerita.
"aduh nak pelan-pelan sayang," kata Bu Eka yang melihat menantunya itu yang begitu aktif.
"maaf Bu, aku .. aku sangat senang hari ini," kata Mela.
mereka pun makan bersama, dan Bu Eka seta besannya masak berdua, sedang nela dan sang bapak mengawasi pembuatan tahu karena sudah jadwal para pekerja pulang membawa tahu untuk di jual.
******
sedang di pondok ada ustadz Ilyas yang sedang pusing mengatur seorang santriwati yang begitu tak bisa di atur.
Dila pun tak mengunakan pendekatan dengan cara keras, tapi Dila mendekati gadis itu dengan cara yang sangat baik.
"assalamualaikum Manda," sapa Dila yang duduk di samping gadis itu.
"waalaikum salam ustadzah, pasti di minta tolong ustadz Ilyas ya,"tebak Mansa tertawa.
"kenapa bisa tau, sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan ya dek?" tanya Dila penasaran.
"sebenarnya aku itu di sini karena di minta mengenal calon suami, tapi pas tau siapa pria itu, makanya aku selalu membuat masalah untuknya, he-he-he," jawab Manda.
Dila mengerti dan mendukung gadis itu, jadi dia tak bisa melakukan apapun.
Fatin langsung memeluk kaki Dila saat melihat sosok sang umi yang kembali ke rumah.
sedang Bu Wati dan umi Chasanah yang menjaga dua Putranya, ustadz Ahmad pulang ke rumah dan hanya melihat Dila dan Fatin.
__ADS_1
"assalamualaikum umi dan neng Fatin, dimana nih adek-adeknya kok sepi?" tanya ustadz Ahmad.
"adek di culik nenek anah dan nenek Wati, Fatin di tinggal di rumah bareng Bu Ning Abi," jujur gadis kecil itu.
"aduh kasihan sekali putri cantik Abi, kalau begitu neng Fatin bareng abi dan umi ya,"
"iya abi," jawab Fatin yang berada di gendongan ustadz Ahmad.
mereka pun mandi sore, Fatin kemudian ikut Dila mengajar di masjid seperti biasa.
saat selesai mengajar, Dila kaget melihat ustadz Ilyas yang dayang, dan dia tau untuk apa ustadz Ilyas datang.
"neng Fatin di temenin mbak kulsum ya, main di taman dulu ya nak," kata Dila lembut.
"iya umi," jawab fayinnyang menurut, dia pun pergi bersama kulsum untuk bermain.
"assalamualaikum ustadzah," salam ustadz Ilyas.
"waalaikum salam ustadz Ilyas, apa anda datang untuk bertanya tentang hasilnya?" tanya Dila sedikit tersenyum.
"ya begitulah ustadzah, saya hanya bisa meminta tolong pada anda," kata ustadz Ilyas yang nampak frustasi.
"jawabnya cuma satu ustadz, tolong tanya orang tua anda, karena hanya mereka yang berhak menjawab pertanyaan itu, terlebih mereka yang tau yang sesungguhnya," jawab Dila ingin tertawa.
"eh kok gitu,memang apa hubungannya ustadzah," tanya ustadz Ilyas yang bingung.
"saya tak bisa menjawabnya karena bukan ranah saya, karena itu ranah pribadi keluarga ustadz Ilyas," tambah Dila yang menjelaskan.
"kalau begitu terima kasih ustadzah, saya akan segera bertanya pada orang tua saya, meski saya masih belum tau apa yang sesungguhnya," kata ustadz Ilyas.
"iya ustadz Ilyas, kalau begitu saya pamit dahulu ustadz, assalamualaikum..." pamit Dila.
"waalaikum salam ustadzah," jawab ustadz Ilyas.
Dila pun mengajak putrinya untuk kembali ke rumah, dan bersiap untuk sholat magrib berjamaah.
sedang kulsum terus melihat kearah ustadz Ilyas yang tetap diam di teras masjid.
kulsum pun memilih pergi sambil menunduk, dia sadar jika dia tak sebanding dengan ustadz Ilyas yang terlahir dari keluarga berasa dan lulusan luar negri.
__ADS_1
"ada kulsum?" tanya Dila nampak khawatir.
"tidak ada ustadzah, mari kita pulang," kata kulsum.