
tak terasa acara tujuh harian dari Fatin sudah selesai, saat ini Mahi sudah bersiap-siap untuk kembali pada rutinitasnya.
pasalnya keterpurukannya, juga tak akan bisa menghidupkan kembali istrinya.
dia akan menjalani hidupnya dengan semua kenangan bersama Fatin, kedua orang tuanya juga sudah kembali karena mereka juga tak bisa meninggalkan semua usaha di kampung.
pagi itu, semua orang di rumah sakit kget melihat mahi yang datang, meski wajah pria itu masih nampak kesedihan.
semua sudah menyapanya, tapi Mahi langsung menyibukkan diri dengan semua pekerjaan.
Adila yang mendapatkan kabar tentang kematian dari Fatin sangat bahagia.
pasalnya kini peluang dirinya untuk menjadi istri dari Mahi terbuka lebar, karena tak ada yang menghalanginya lagi.
dia yakin jika Mahi tak bisa menolak dirinya, terlebih dia sangat yakin jika Mahi sangat mencintai dirinya.
perawat Dita pun kaget pasalnya Mahi meminta semua jadwalnya di isi secara full.
dia tak ingin diam saja, bahkan saat malam hari ingin pulang pun dia sempatkan untuk melihat ruang UGD.
ya dia sekarang bukan dokter spesialis saja tapi juga seorang wakil direktur rumah sakit.
jadi tanggung jawabnya sangat banyak dan tak boleh ada kesalahan sedikit pun.
begitupun dengan Hasan dan Husain, keduanya juga mulai beraktifitas seperti biasa.
sedang Dila menjaga kondisi suaminya agar tak kembali drop, terlebih pernikahan Husna dan Abdul tinggal satu bulan lagi.
Dila memasrahkan Semuanya pada kedua calon pengantin, pasalnya Husna ingin mengadakan pesta kebun.
meski masih dalam suasana duka,tapi Mahi melarang jika pernikahan dari Husna di undur lagi.
terlebih keduanya sudah sering bersama, takutnya terjadi fitnah yang akan mencemari nama besar ustadz Ahmad.
itulah kenapa persiapan tetap di lanjutkan, meski tak akan sebesar pernikahan di awal.
tapi pasti akan mengundang semua teman dan semua kolega dari dua keluarga besar itu.
malam ini Mahi pulang ke rumah, dia yang biasanya akan melihat sosok istrinya yang tersenyum menantikannya kini telah tiada.
"sayang.... rumah ini penuh dengan kenangan kita," kata Mahi yang berjalan masuk kedalam rumah.
dia menyentuh kursi sofa, yang biasanya menjadi tempat dia bermanja saat Fatin sibuk membaca buku.
dia tersenyum saat ingat bagaimana dia mengajak Fatin melakukan hubungan suami istri di sofa itu.
awalnya malu-malu tapi istrinya itu selalu membuat Mahi tergila-gila.
__ADS_1
Mahi menaruh tas kerjanya di atas meja, "siapa yang menyuruh mas mengasuh tas ini di meja makan, tas kantor itu Tasya di kamar sayang," suara Fatin yang masih terdengar jelas.
Mahi pun menangis dengan tersedu-sedu, dia sangat merindukan Fatin, "kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini sayang, kenapa!!!" teriaknya dengan sedih.
Hasan yang mengantarkan makanan kaget mendengar suara teriakan, dia pun masuk dan melihat Mahi yang meringkuk di lantai rumahnya.
"mas Mahi!!" panggil Hasan.
Hasan pun merasa kasihan pasalnya kondisi Mahi sangat tak baik, kesedihan itu perlahan menggerogoti tubuh pria muda itu.
"Hasan... dia ada di mana-mana, aku terus bisa melihatnya," gumam mahi sambil sesenggukan.
"bangun mas, kita makan dulu, setelah itu lebih baik mas menginap di rumah kami terlebih dahulu," kata Hasan membangunkan kakak iparnya itu.
"tidak Hasan, aku hanya perlu berdamai dengan waktu, bismilah saja aku pasti bisa kok," jawab Mahi percaya diri.
setelah makan, Hasan menemani kakak iparnya itu bermain atau sekedar berbincang membahas kegiatan sehari-hari.
tak lama Husain datang juga ingin menemani Mahi, "loh ada kamu disini toh, tapi sayang aku cuma bawa martabak telur doang," kata Husain.
"gak masalah kok, karena aku juga menyukainya, sini gabung main karambol yuk," ajak Hasan.
"baiklah, biar aku taruh di piring dulu sambil buat minum, mas dan Hasan mau minum apa?" tanya Husain.
"kopi juga boleh dong, sama tolong panaskan dengan airfyer ada kebab di freezer," kata Mahi.
"oke kakak ipar," jawab Husain.
Husain pun tau jika ada beberapa makanan kesukaan dari Rosita, "mungkin bunda Mela yang memastikan kulkas mas Mahi penuh, agar dia tak kelaparan," gumam Husain.
dia pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Mahi, setelah Semuanya selesai.
dia pun keluar dengan nampan yang begitu penuh, mulai dari kopi dan cemilan.
akhirnya ketiganya bermain sampai larut malam, dan memutuskan untuk menginap.
Mahi memilih tidur di lantai satu karena dia tak sanggup jika harus tidur di kamar miliknya.
keesokan harinya, Mahi bangun pagi dan memasak nasi baru sholat subuh.
setelah itu dia membuat nasi goreng sederhana untuk dirinya dan kedua adik iparnya.
Hasan dan Husain tak mengira jika kakak iparnya itu sangat cekatan, tapi Hasan juga membuatkan roti lapis cukup banyak untuk di bawa Mahi ke rumah sakit.
"aku makan tak sebanyak itu, tak perlu bekal, aku bisa makan di kantin rumah sakit, jadi tak perlu khawatir,"kata Mahi.
"aku tak percaya, karena mas sering lupa, jadi anggap saja ini cemilan, jika tak habis aku akan marah," jawab Hasan.
__ADS_1
"baiklah kamu menang,"jawab Mahi.
setelah sarapan dan mencuci piring, ketiganya pun berpisah untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Husna menyapa sosok Mahi yang akan berangkat ke rumah sakit, "selamat beraktifitas mas Mahi!!" katanya dengan melambaikan tangan.
"oke,kamu juga," jawab Mahi.
Husna memang sudah selesai mengikuti ujian negara, tapi dia tetap sibuk di Yayasan karena dia tak bisa menikah jika tak selesai mengaji kitab kuning.
itu syarat dari ustadz Ahmad, Mahi sampai di rumah sakit, dan langsung menuju ruangannya.
dia kemudian fokus untuk mengerjakan beberapa proyek yang akan di kembangkan, mulai dari perluasan rumah sakit, tapi ada juga beberapa pameran yang harus di ikuti untuk melihat jenis alat untuk kebutuhan rumah sakit yang lebih canggih.
perawat Dita mengantarkan beberapa berkat dari bagian penerima pegawai, Mahi pun akan menyeleksi mereka dari CV yang di kirimkan.
pasalnya untuk perawat saat ini harus sangat jerat karena Mahi tak ingin ada beberapa masalah lama terulang saat perawat kurang kompeten.
Adila datang ingin membuat janji dengan mshi tapi sangat sulit, karena Mahi membatasi pasiennya.
bukan karena apa, dua hanya ingin fokus pada pekerjaan yang sedang dia emban saat ini.
Adelia merasa kesal karena begitu sulit, jadi dia memutuskan untuk menyuap seorang perawat untuk mengatakan jika dokter Mahi pulang bekerja.
dia akan menemui pria itu dan mengajaknya bertemu di luar, karena dia tak bisa terus menunda untuk bertemu dan mendapatkan hati Mahi.
terlebih dia tidak boleh keduluan lagi seperti yang kemarin. "ah... Tuhan benar-benar sangat mendukung ku, lihat saja dia langsung menyingkirkan wanita busuk itu, karena Mahi itu hanya untuk diriku dan bukan untuk orang lain," kata Adila
Mahi masih berkutat, tiba-tiba dia merasa lapar, beruntung tadi Hasan memberikan bekal yang di buat secara dadakan semuanya.
setelah mengisi perutnya, Mahi langsung menuju ke ruang rapat untuk mengikuti rapat rutin.
ternyata penilaian dari rumah sakit mengalami penurunan karena sikap perawat yang kurang ramah.
jadilah ini tugas untuk para ketua untuk mengubah wajah rumah sakit agar semakin ramah kepada para pasien dan keluarganya.
setelah rapat yang berjalan tiga jam itu berakhir, dia langsung menuju ke ruang tempatnya praktik.
ternyata sudah banyak pasien yang menunggu, dia akan berjuang untuk bangkit dan semakin banyak menyelamatkan nyawa.
sesuai dengan keinginan istrinya itu, terlebih Mahi juga memiliki janji dengan ustadz Ahmad agar dia tetap berjuang untuk bangkit.
Husna sedang berada di perpustakaan, saat tak sengaja melihat segerombolan gadis berkerumun di pojokan.
"pada lihat apa sih?" tanya Husna lirih.
"sudah sini ikut lihat saja, ini menyenangkan tau, ikut saja," jawab salah seorang santriwati.
__ADS_1
ternyata mereka sedang melihat majalah popular tentang artis korea, bahkan di dalam majalah itu ada beberapa foto pria yang bertelanjang dada.
para gadis itu pun bersorak lirih, pasalnya baru kali ini mereka melihat hal seperti ini.