
Warning! Ada sedikit unsur dewasa 🔞
Jangan terlalu banyak makan mie instan
Agar badan tetap sehat dan semangat
Reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
"Maaas... Gendong!" Rengek Tara.
"Tadi nggak mau, sekarang minta gendong terus." Ledek Aryan.
"Jadi nggak mau nih? Emang aku gendut ya?" Tara ngambek.
"Bukan gitu, sayang... Mau gendong depan apa belakang?" Mata Aryan kedip-kedip mengoda Tara.
"Belakang aja, aku suka punggungmu."
Aryan pun menuruti keinginan Tara dan segera menggendongnya. "Jadi cuma suka punggungku aja nih?"
"Suka semuanya, mas." Tara menyandarkan kepalanya di bahu Aryan.
"Kalau di rumah nanti, apa mas Aryan juga akan menggendongku seperti ini?"
"Kapan pun kamu mau, pasti mas gendong, sayang." Janji Aryan.
"Awas aja kalau bohong!" Ancam Tara.
"Kapan-kapan kita naik motor touring mau nggak, mas?" usul Tara.
"Bukankah lebih nyaman pakai mobil? Emangnya kamu nggak apa-apa kalau naik motor?"
"Pengen pakai motor biar sepanjang jalan bisa peluk kamu dari belakang, mas." Jelas Tara.
"Kalau pengen peluk di kamar aja! Takut nggak kuat di jalan, sayang."
"Nggak kuat gimana?"
"Nggak kuat nahan kehangatan dari dua buah..." Aryan tidak melanjutkan ucapannya. Aryan kira Tara akan bilang dia mesum, ternyata dia salah tebak.
"Mas, kamu suka cewek agresif atau pasif?" Tara tidak mengatai Aryan mesum.
"Aku suka kamu, sayang."
"Mas gantengku, aku serius nih! Jawab yang benar dong!
"Aku juga serius, aku suka kamu."
"Maksudku, suka aku jadi istri yang agresif atau pasif?" Tara memperjelas.
"Aku suka kamu, sayang. Kalau kamu pasif, aku yang akan lebih agresif. Kalau kamu agresif, aku pasti lebih bahagia dan tambah cinta sama kamu."
"Aku cuma takut dan malu aja, kalau dibilang terlalu agresif, mas."
"Kenapa harus malu? 'Kan agresif sama suami sendiri. Yang penting jangan agresif sama pria lain!"
__ADS_1
"Entar mas ketawain aku nggak?"
"Mas seneng kamu jujur gini, memang butuh komunikasi yang baik untuk urusan ini, biar kita sama-sama nyaman."
"Mas nggak akan ketawain, yang ada malah kegirangan serasa jadi pria paling beruntung sedunia."
"Aku punya satu permintaan, mas."
"Satu juta permintaan pun akan ku turuti kalau itu masuk akal."
"Gombal iiih... Untuk saat ini satu permintaan dulu aja yaitu..."
"Apa, cepat katakan!" Aryan tidak sabar.
"Aku nggak mau mas Aryan jadi buncit seperti kebanyakan pria yang sudah menikah."
"What?" Aryan kaget.
"Kenapa? Mas nggak bisa?"
"Bisa dong... Dari dulu 'kan aku selalu jaga kesehatan dan jaga body. Pasti kamu nggak mau kehilangannya perut kotak-kotakku 'kan?"
"Ha... ha... ha... Ah ketahuan deh." Tara menyembunyikan kepala di ceruk leher Aryan.
"Tu 'kan bener! Dari tadi kamu memikirkan apa yang aku pikirkan."
Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di kamar. Aryan menurunkan Tara di sofa yang empuk.
"Sayang, kamu pakai kamar mandi duluan aja." Saran Aryan.
Tara pun beranjak menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu Tara jadi terpikir ide yang bagus. Tara membuka semua kancing kemejanya lalu berbalik menghadap ke arah Aryan.
"Mas, nggak mau barengan aja?" Goda Tara, sembari menyandarkan satu tangannya ke sisi pintu.
Aryan tersenyum dan langsung menghampiri Tara tanpa banyak bicara.
Tanpa basa-basi lagi, Tara langsung mengalungkan tangannya di leher Aryan dan memberikan ciuman yang dalam. Aryan pun tidak tinggal diam, dibalasnya ciuman yang panas itu sembari mengiring Tara ke bawah shower. Dalam sekejap mereka sudah menanggalkan semua pakaian mereka.
Kali ini bukan hanya Aryan yang aktif, namun Tara pun ikut aktif melakukan apa yang harus dilakukan. Saling menjamah dan mengabsen setiap inchi pasangan mereka.
"Sayang, kamu benar-benar membuktikan ucapanmu tadi, aku suka." Bisik Aryan di telinga Tara.
"Sayang, aku masuk sekarang ya?" Tanya Aryan tak sabar. Nafasnya memburu seakan berebut oksigen.
Tara hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Aryan pun menggendong Tara di depan dan mulai menyelesaikan tugasnya. Beberapa kali Aryan mengubah posisi hingga akhirnya dia berhasil menyiram bunga telang milik Tara dengan cairan ajaibnya. Pertempuran yang panas meskipun di bawah guyuran shower.
"Terima kasih, sayang. I love you my queen."
"Kembali kasih, mas ganteng. I love you more."
"Sayang, aku benar-benar bahagia banget bisa menjadi suamimu."
"Aku juga bahagia menjadi istrimu, mas gantengku."
Mereka segera menyelesaikan acara mandi mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, waktunya makan siang untuk mengisi tenaga kembali.
.........
Hari ini hari terakhir mereka berdua honeymoon. Lima hari di resort digunakan untuk jalan-jalan dan tentunya juga untuk berbagi kehangatan di ranjang. Rutinitas baru pengantin baru, maklum masih panas-panasnya memadu kasih.
Aryan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dan Tara bersandar di dadanya.
"Sayang, ini hari terakhir kita di sini. Kamu mau perpanjang nggak?" Tawar Aryan.
__ADS_1
"Nggak usah, mas. Ada pekerjaan yang menunggu juga." Tara menolak.
"Okay, besok kita pulang. Lain waktu kita honeymoon ke tempat lain mau nggak?" Aryan memberikan ide.
"Mau banget... Daripada jauh-jauh lebih baik kita pergi yang agak dekat dan pakai motor kaya touring gitu, mau nggak mas?"
"Yakin? Kalau kamu capek gimana?"
"Kalau capek istirahat dong! Mau ya, mas. Please..." Mohon Tara.
"Gimana kalau kita bawa beberapa orang team keamanan dan asisten kamu? Kita pakai mobil dulu, begitu jarak sudah tidak terlalu jauh, baru kita naik motor." Saran Aryan.
"Boleh, mas. Ngomong-ngomong, kita akan balik ke kediaman Maheswari atau Cakra Wangsa, mas?"
"Rahasia, sayang. Tidur 'lah! Besok kita pulang."
"Kejutan menanti Tara, semoga kamu suka." Batin Aryan.
.........
Di sebuah warung makan di depan salah satu toko kain Cakra Wangsa, ada seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan Anand. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Anand datang lalu duduk di depan Indi, namun dia hanya diam saja. Dia hanya menatap Indi dengan jengah.
"Setelah apa yang kita lalui selama ini, kamu mau menyingkirkan aku begitu saja, mas?"
"Aku sudah tidak punya perasaan padamu. Jadi jangan membuang waktuku lagi!"
"Kita sudah melakukan itu dan kamu dengan mudahnya bilang sudah tidak punya perasaan padaku!" Indi marah.
"Jangan berteriak atau bikin keributan yang membuatku malu! Atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak kamu bayangkan." Ancam Anand.
"Kita pacaran sudah cukup lama dan sudah melakukan itu setiap waktu. Kamu hanya mau enaknya. Habis manis sepah dibuang!" Indi tidak terima.
"Jangan kamu kira akau tidak tahu kelakuanmu di belakangku! Aku tahu kamu melakukannya tidak hanya denganku saja dan aku punya buktinya." Terang Anand.
"Aku hanya melakukannya denganmu!" Indi menutupi kebusukannya.
"Oh... Lalu siapa Randy? Bukankah dia juga pacarmu! Kamu juga sering bermalam dengannya bukan!" Sindir Anand.
"Atau kamu juga sudah ditinggal olehnya? Makanya kamu berusaha bertahan denganku juga."
"Kamu keterlaluan, mas! Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu mencintai aku?" Indi emosi.
"Bukankah kamu juga bilang cinta dengan Randy? Aku yang bodoh, bisa-bisanya aku dikelabui olehmu. Kalau kamu nekat! Aku akan mengambil semua yang pernah aku berikan pada keluargamu."
"Termasuk uang, motor dan perabotan rumah tangga yang telah kamu minta dariku." Papar Anand.
"Satu hal lagi... Aku punya bukti perselingkuhan mu dengan Randy. Kalau kamu tidak mau aku menyebarkan kebusukan mu, maka lebih baik kamu tidak menggangguku lagi."
Indi hanya diam, tidak mampu berkata apa-apa lagi. Memang benar dia hanya memanfaatkan kebaikan Anand selama ini. Tapi saat ini Indi sudah benar-benar sayang sama Anand dan dia berniat putus dengan Randy.
Anand pergi meninggalkan Indi termenung sendirian. Tanpa dosa Anand melemparkan semua kesalahan pada Indi saja, padahal mereka berpacaran dan melakukan hal-hal di luar batas juga atas keinginan bersama.
...………....
Kemanakah Aryan akan membawa Tara pulang?
Apa yang akan dilakukan Indi selanjutnya?
Terus ikuti ceritanya ya.
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.