
Mahi menunggu istrinya yang berganti baju dengan cemas, bahkan dia juga sudah melepaskan kaosnya karena gerah.
"mas kemarilah," panggil Fatin.
Mahi pun masuk kedalam rumah, dia terkejut melihat tubuh putih istrinya itu.
hanya berbalut gaun tipis, bahkan gaun malam itu seperti tak memiliki fungsi.
"sudah kan, aku ingin ganti," jawab Fatin yang malu.
tapi Mahi mebshan tangan Fatin dan mulai menyentuh wajah istrinya itu, "tunggu sebentar lagi ya sayang, kamu begitu cantik,"
Fatin pun pasrah, Mahi pun langsung memberikan ciuman pada bibir indah istrinya itu.
tak butuh waktu lama, Mahi sudah menanggalkan pakaian Fatin, "tunggu jangan disini," bisik Fatin yang malu.
"tenang tak ada orang, aku ingin mencoba hal baru," bisik Mahi yang punya ide gila.
Fatin tak mengerti lagi, bagaimana bisa mahi memiliki fantasi seperti ini, bahkan pria itu membuat Fatin berteriak karena mencapai kepuasaan.
Mahi mengendong Fatin dan kemudian keduanya melakukan hal panas itu berdua.
Mahi benar-benar liar, bahkan Fatin tak bisa mengimbangi kekuatan suaminya itu.
Fatin tau jika jiwa muda suaminya itu begitu menggelora, jadi sebisa mungkin dia melayani suaminya sebaik mungkin.
Mahi mengendong Fatin masuk kedalam kamar setelah puas, mahi terus menciumi wajah cantik istrinya itu.
"mas... time out dulu, nanti malam kita harus kembali ke rumah, karena besok mas harus mulai bekerja, jika mas terus begini, mas bisa kelelahan," mohon Fatin yang merasakan sesuatu menyentuhnya lagi.
"ah... sebentar saja sayang, terakhir untuk hari ini," mohon Mahi yang hanya bisa di angguki oleh Fatin.
keduanya pun tidur sambil berpelukan, tak hanya itu mereka berdua juga melewatkan kesempatan untuk menyaksikan live acara pernikahan Yusuf karena kelelahan.
acara di tempat pernikahan Yusuf sudah selesai, semua keluarga besarnya langsung menuju ke kita mereka.
pasalnya ustadz Ahmad susah membatalkan beberapa janji karena harus menambah panjang liburannya.
sedang keluarga Hendra juga pulang, Rosita langsung mengetuk pintu rumah samping untuk memberikan souvernir dan juga titipan hampers dari Khusna.
"nas mahi, mbak Fatin... bukan dong," gedor Rosita.
__ADS_1
"kalau gak di buka, mungkin mereka tertidur," kata Hendra yang melihat kegigihan Rosita.
"ya ayah, mas Mahi Mahi biasa, kalau mbak Fatin kayaknya gak mungkin deh, karena dia selama ini sangat sibuk," jawab Rosita.
Mahi yang mendengar panggilan dari Rosita pun terbangun dan langsung membukakan pintu.
"ada apa?" tanya Mahi yang masih acak-acakan.
Hendra tertawa melihat penampilan mahi yang selalu terlihat rapi,tapi kali ini penampilannya begitu awut-awutan.
"apa sih,berisik banget kami sita, mas lagi tidur ini, kamu bisa bangunin mbak mu juga," kata Mahi dengan suara serak.
"ya Allah mas, ini masih siang, ini ada titipan dari Tante Khusna untuk mbak Fatin, memang kalian habis ngapain sih, kok bau mas Mahi aneh?" tanya Rosita yang membuat Mahi sadar langsung.
"dasar bocah mau tau saja, sudah pulang sana, kamu kayak hantu begitu pakek make up tebal," usir Mahi.
sedang Hendra makin tertawa puas, pasalnya dia yakin pasti nahi melakukan hal-hal aneh, karena semalam dia bertanya tentang hal itu.
"sudah sita, sekarang kamu mandi dan hapus make up, setelah itu istirahat karena kamu pasti lelah," kata Hendra pada putri kecilnya itu.
"Mahi kunci pintu rapat-rapat," teriaknya menggoda putranya itu.
baju berserakan, ada beberapa bantal yang juga tak pada tempatnya, bahkan entah tapi bagaimana dia dan istrinya bermain.
"sudahlah, aku mau tidur lagi," kata Mahi yang menaruh hadiah titipan itu di meja.
dan saat masuk kedalam kamar, dia tak menemukan Fatin, ternyata wanita itu sedang mandi.
"mas lekas mandi, karena sudah dhuhur, kita sholat dulu mumpung sudah bangun," kata Fatin.
setelah sholat, Fatin ingin menyiapkan makanan untuk suaminya itu.
tapi Mahi menahan istrinya itu, dia pun kembali memeluk Fatin dengan erat.
"hentikan..." mohon Fatin.
"aku tak bisa, sebelum besok kita kembali sibuk, aku ingin menghabiskan semuanya dengan mu saat ini," bisik mahi.
Fatin tau kekhawatiran suaminya itu, pasalnya surat pengunduran diri Fatin juga di tolak jadilah dia tetap mengajar sebagai asisten dosen.
sore itu, Fatin nampak begitu lemas, sedang Mahi begitu senang dan terus mengumbar senyumnya.
__ADS_1
Hendra ingin sekali menjitak putranya itu, pasalnya mshi terlalu bisa di tebak saat ini dalam ekspresinya.
"mas, kamu gabus dapat lotre ya, kenapa senang begitu dih, kayak bocah edan saja," kata Rosita yang belum mengerti
"kenapa memangnya gak boleh ya," jawab Mahi singkat.
"dasar suami tak peka, lihat tuh mbak Fatin murung, mbak sedih ya mau pisah sama kamu?" tanya Rosita.
"iya dek, padahal aku ingin sedikit lama disini," kata Fatin sedih.
"lain kali kita bisa ketemu lagi ya mbak, atau aku akan menghabiskan waktu liburanku di tempat Mbak,sekalian belajar mondok singkat," kata Rosita.
"baiklah aku tunggu ya," jawab Fatin.
"sudah-sudah, sekarang makan sate kambingnya, kalian juga harus segera bergegas untuk kembali ke yayasan bukan," kata mrla mengingatkan.
"iya bunda," jawab keduanya.
"selama perjalanan hati-hati, ingat jika lelah berhenti, dan jangan sampai ada barang yang tertinggal," jawab Mela menginggatkan.
"baik bunda," jawab Mahi.
setelah makan sore bersama karena mereka semua melewatkan makan siang.
Mahi dan Fatin pun siap berangkat kembali ke kota yang akan menjadi tempat tinggal keduanya.
Mahi menyetir mobil sedan yang sudah lama tak dia pergunakan, telebih mereka kemarin datang bersama rombongan.
jadi terpaksa kembali membawa mobil sendiri, butuh tiga jam untuk sampai di kota tempat tinggal mereka.
"kita langsung ke rumah ku saja ya dek, tak mungkin Jan kita terus tinggal di rumah bersama Abi dan umi, serta adik-adikmu," kata Mahi.
"tentu mas, sekarang mas adalah imanku jadi kemana pun mas pergi aku ikut," jawab Fatin.
Mahi tersenyum senang, tapi tanpa di duga, Fatin kaget karena mereka berhenti di sebuah rumah minimalis modern yang masih satu kawasan dengan area yayasan milik keluarga ustadz Ahmad.
"tunggu dulu mas, bukankah ini rumah yang di bangun oleh pengusaha asal Surabaya, kenapa kita disini?" tanya Fatin bingung.
"ya aku membeli rumah ini, terlebih pengusaha itu juga tak jadi tinggal disini, karena alasan satu dan lain hal, aku juga tak ingin mengajakmu tinggal di rumah dinas, jadi lebih baik rumah kecil tapi milik kita bukan," jawab Mahi.
"ini tidak kecil mas, bahkan garasi saja muat empat mobil," jawab Fatin yang tak habis pikir.
__ADS_1