Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_duka lagi


__ADS_3

Husna terbangun dan melihat dirinya yang masih bersama dengan Abdul, bahkan pria itu juga masih tertidur nyenyak.


dia melihat ponselnya yang terus berdering pun panik, ternyata sudah sangat lewat dari jam yang di ijinkan oleh sang Abi.


"mas Abdul, bangun mas kita harus pulang, ini sudah jam setengah sepuluh malam," pnik Husna yang mulai memakai pakaiannya.


"hah...gawat kita ketiduran, maaf ya," jawab Abdul yang juga bergegas memakai pakaiannya.


mereka berdua bergegas pulang ke yayasan, pasalnya ustadz Ahmad pasti sangat marah, terlebih Abdul telah melanggar kepercayaannya.


"mas hati-hati, ini mulai hujan," kata Husna menginggatkan kekasihnya itu.


"iya sayang, aku tau, aku sudah terbiasa menyetir tenang saja," jawab Abdul yang tak memperdulikan ucapan Husna.


di rumah, ustadz Ahmad terus merasa cemas terlebih hujan turun cukup deras.


bagaimana pun Husna sekarang putri yang dia miliki, tentu dia tak ingin terjadi sesuatu padanya.


"Abi, apa perlu kita kirim Hasan untuk mencari mereka?" tanya Dila yang juga sangat khawatir.


"mau mencari mereka dimana umi, mereka saja tak ada kabar, dan ponsel pun tak bisa di hubungi juga," jawab ustadz Ahmad.


"umi takut terjadi sesuatu yang buruk pada keduanya Abi," jawab Dila yang duduk di samping ustadz Ahmad.


"kura doakan saja umi, semoga keduanya tidak terjadi apa-apa, dan bisa kembali dengan selamat," jawab ustadz Ahmad.


mobil Abdul menerobos hujan yang mulai deras itu, bahkan jarak pandang mereka juga semakin pendek, hingga tanpa terduga dari arah berlawanan datang sebuah truk yang tiba-tiba banting setir.


truk itu menghindari sepeda motor yang berbelok secara mendadak, dan karena itu truk itu menyeruduk mobil Abdul dan Husna hingga ringsek.


semua warga yang melihat pun langsung membantu para penumpang.


Husna masih bisa melihat Abdul yang sudah tak sadarkan diri, tapi perlahan kesadarannya mulai melemah dan akhirnya pingsan.


Mahi yang baru saja selesai jam praktek ingin pulang, saat sebuah telpon membuat panik ruang UGD.


dokter Rizal menghampiri Mahi untuk membantunya melakukan penyelamatan terhadap korban tabrakan adu banteng.


awalnya Mahi pun setuju, tanpa dia tau siapa korban dari kecelakaan itu, terdengar suara sirine mobil ambulan datang.


dua korban di bawa bergegas ke ruang UGD, ternyata itu Husna dan Abdul, kondisi Abdul sangat parah karena pendarahan di kepala dan terjepit setir.


begitu pun dengan Husna yang mengalami luka di kaki dan kepala, serta luka-luka pecahan kaca.


"perawat Dita, telpon rumah ku, maaf telpon pasien ku atas nama Sulaiman Ahmad, katakan jika putri dan calon menantunya mengalami kecelakaan," kata Mahi yang langsung masuk untuk menyelamatkan Abdul.


pasalnya dia harus melakukan ronsen untuk mengetahui kondisi bagian dada pria itu.

__ADS_1


tapi saat di lakukan pertolongan pertama, nyawa Abdul tak bisa tertolong, pria itu menghembuskan nafas terakhirnya di depan Mahi.


"dokter," panggil perawat.


"waktu kematian pukul dua puluh dua lebih tiga puluh menit," jawab Mahi yang meneteskan air mata.


pasalnya keduanya hari ini akan melakukan fitting baju pengantin, tapi Allah berkehendak lain.


sedang dokter Rizal dan dokter yang lain sedang berada di ruang operasi untuk menyelamatkan Husna.


lengan Husna patah dan juga mengalami syok di tulang leher, tapi beruntung kondisinya juga tak sepenuhnya baik.


gadis itu jatuh dalam keadaan koma, meski dokter sudah melakukan pertolongan semaksimal mungkin.


dan Mahi sedang mengurus dan mengobati supir truk yang hanya mengalami luka ringan.


Dila mendapatkan telpon dari rumah sakit tempat Mahi bekerja, "assalamualaikum... selamat makam," jawabnya.


"waalaikum salam... saya asisten dokter Mahi, ingin mengatakan jika putri anda dan calon suaminya mengalami kecelakaan dan putri anda sedang berada di ruang operasi,sedang untuk calon suaminya sudah meninggal dunia karena luka parah," kata perawat Dita.


"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...." kata Dila yang terduduk lemas.


"ada apa umi?" tanya ustadz Ahmad yang melihat istrinya itu.


"Abi... Hasan Husain, ayo kita kerumah sakit sekarang.... umi mohon...." tangis wanita itu.


"sudah ayo pergi, atau umi akan berangkat sendiri," ancam Dila yang nampak panik.


"baiklah, kita bawa mobil milik ku, meski tua, tapi setidaknya itu sangat aman saat hujan seperti ini," kata Husain.


mereka pun berangkat ke rumah sakit, ustadz Ahmad masih belum di beritahu tentang semuanya.


ustadz ilyas dan istri juga sudah berangkat ke rumah sakit karena mendapat kabar tentang Abdul.


mereka semua pun bertemu di rumah sakit, ustadz Ilyas nampak begitu terpuruk.


"ada apa ini umi, kenapa ustadz Ilyas juga datang dan menangis?" tanya ustadz Ahmad yang masih belum tau.


Mahi langsung menghampiri mertuanya, "maaf Abi... aku sudah berusaha menyelamatkan Abdul, dia tidak selamat, dan kondisi dari Husna juga tak baik," kata Mahi yang datang dengan wajah sedih.


"innalilahi...." kata ustadz Ahmad yang kemudian pingsan.


"Abi..." panggil semuanya panik.


"kita bawa ke UGD segera, tolong ambilkan oksigen!" teriak dokter Mahi yang panik melihat ustadz Ahmad.


pasalnya jika terjadi serangan jantung lagi, maka pria itu bisa tak selamat, Mahi pun berusaha sangat keras menyelamatkan mertuanya itu.

__ADS_1


sedang tak lama ada mobil mewah yang datang membawa seorang wanita yang sudah sangat lemas dan wajahnya memucat.


pria itu segera ke ruang UGD, dan dokter Rizal yang menangani wanita itu.


"ada apa ini tuan?" tanya dokter.


"dia sudah tidak makan tiga hari dan tadi dia berusaha bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai," jawab Wihandoko.


"baiklah, tolong keluar, biar kami melakukan pertolongan pertama," jawab dokter Rizal.


Wihandoko tak mengira meski sudah di tahan begitu lama, gadis itu tak pernah menyerah untuk melukai dirinya.


bahkan meski wajahnya sudah di rubah pun, dia tetap tak terima keadaan itu.


dokter pun mengeluarkan cairan pembersih lantai itu,dia orang sedang berjuang bersama.


beruntung ustadz Ahmad bisa tertolong, "Alhamdulillah Abi... akhirnya tidak dalam masa kritis lagi," kata Mahi cukup keras.


mendengar suara Mahi, gadis itu memberikan respon, dan kondisinya semakin membaik.


beruntung gadis itu bisa tertolong, dokter tak tau dia siapa, tapi dari luka di kakinya dan bekas operasi plastik yang masih belum sepenuhnya sembuh.


sudah di pastikan ini adalah orang yang mungkin di tahan atau mengalami kekerasan, karena pria itu terkenal sangat kejam.


luka di kakinya itu sudah pasti jika dia di ikat dengan erat, atau mengunakan barang yang keras hingga melukai kaki itu. bahkan bekas luka itu sudah membiru dan berbekas.


Wihandoko kaget melihat begitu banyak keluarga dari keluarga Mahi, "sialan, kenapa dokter ini lama sekali," gumamnya marah.


"apa kita perlu menerobosnya dan membawa nyonya keluar," tanya para pengawal.


"kalau sudah tau kenapa bertanya," kesal Wihandoko


pria itu menyuruh para pengawalnya masuk, tenyata dokter itu ingin lapor polisi, tapi telpon dan ponsel langsung di banting oleh para pengawal itu.


Wihandoko langsung mengendong gadis yang baru di selamatkan itu.


"tunggu tuan, kondisinya belum sepenuhnya membaik," panggil dokter itu.


"kalau begitu akan pindah rumah sakit," jawab pria itu tanpa menoleh.


para polisi pun menyapa hormat saat berpapasan dengan sosok Wihandoko.


dia dan seluruh anak buahnya pun pergi meninggalkan rumah sakit itu, sedang Mahi merasa bingung melihat reaksi pria itu.


tapi dia harus fokus pada mertuanya, sedang keluarga Abdul ingin putra mereka di makamkan di tanah kelahiran pria itu.


jadilah keesokan harinya, jenazah Abdul akan di terbangkan menuju ke kita kelahirannya.

__ADS_1


sedang kondisi Husna juga masih belum bisa di katakan baik, karena itu Mahi terus menjaganya.


__ADS_2