Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_kabar menggembirakan


__ADS_3

setelah tau, Mahi langsung mengajak Fatin ke dokter, dia ingin tau calon bayi mereka.


saat sampai di rumah sakit, Fatin dan Mahi masuk ke bagian dokter kandungan


Fatin menjalankan USG untuk melihat calon anaknya, ternyata masih berusia enam Minggu.


dan Fatin di minta untuk istirahat dan makan makanan sehat dan tetap berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Mahi pun meminta dokter untuk memberikan vitamin kepada istrinya, sedang Fatin tertawa mendengar permintaan Mahi.


"mas... kamu juga seorang dokter loh," kata Fatin tersenyum.


"tapi aku kan dokter spesialis jantung sayang, bukan dokter kandungan," jawab Mahi.


dokter kandungan pun tertawa, pasalnya dia tak mengira jika dokter pun bisa bersikap lucu dan bodoh di depan istri yang di cintainya.


akhirnya keduanya pulang, Fatin pun di minta istirahat, sedang Mahi mengawasi semua persiapan.


keesokan harinya, rombongan Hendra dan Mela datang dari bandara pukul delapan pagi.


semua berebut untuk menyalami tangan Mela dan Hendra yang baru pulang.


Mahi dan Fatin menunggu sampai semua orang selesai baru mendekat dan menyapa ketiganya.


"assalamualaikum ayah, bunda," sapa Mahi bersama Fatin.


"waalaikum salam, aduh ternyata kalian di sini, Fatin bagaimana kabar mu nak?" tanya Mela.


"Alhamdulillah kami baik bunda," jawab Fatin.


Rosita juga langsung memeluk kakak iparnya itu, setelah itu para tamu di persilahkan untuk makan terlebih dahulu.


Mahi melarang istrinya melakukan hal yang berat-berat, bahkan mahi langsung menyuruh Fatin tidur siang.


"mas tapi gak enak dengan yang lain," protes Fatin.


"kamu milih tidur sendiri di sini dengan ku, atau aku akan tirlduri," kata Mahi.


"masih siang ah mas, ayo ke rumah utama dulu, aku tak akan capek-capek kok," kata Fatin memelas.


akhirnya Mahi pun mengalah dan membiarkan Fatin membantu, tapi Mahi terus mengawasi istrinya sambil menyapa para tamu.


siang menjelang sore, Mahi membawa istrinya ke rumah dan langsung mengajaknya makan dan beristirahat.


"sekarang istirahat dan mandi, sudah para tamu juga tak banyak, lebih baik kita telpon Husain," kata Mahi.


"baiklah mas," jawab Fatin patuh.

__ADS_1


ternyata Husain langsung mengangkatnya, dan terlihat rumah begitu ramai dengan para santri.


mereka juga tak bisa menyapa orang tua dari Fatin, tak hanya itu bahkan tamu di rumah ustadz Ahmad lebih banyak.


mereka pun hanya titip salam, Fatin langsung minum obat dan tidur, pasalnya tubuhnya begitu lelah.


Mahi pun menunggu di luar sambil menikmati beberapa kue basah yang tersedia.


Hendra datang menghampiri Putranya itu, dia juga lelah kalau setiap pulang umrah begini.


"kenapa kamu disini? mana menantu? ah .. aku belum menyapanya lagi, dan dia begitu sibuk," kata Hendra duduk bersama putranya.


"lebih gak usah pergi deh ayah, atau diam-diam saja, gak kasihan sama menantu mu itu, dia sibuk kesana-kemari," kesal Mahi.


"aduh jangan marah gitu lah, maaf ya nak, oh ya semoga kamu segera jadi ayah, terlebih kemarin mertuamu juga menitipkan buah zuriat pada ayah," kata Hendra yang ingat titipan besannya itu.


"buat apa ayah, tak perlu karena sebentar lagi, sekitar tiga puluh Minggu lagi dia akan lahir, jadi buah itu tak lagi di butuhkan," jawab Mahi tersenyum senang.


"apa, jadi menantu sudah," kata Hendra sambil menggerakkan tangannya membentuk perut besar.


"iya ayah," jawab Mahi.


"Alhamdulillah ya Allah, semoga putra putri kalian lahir sehat dan tanpa kekurangan satu apapun ya," doa Hendra.


"amiin...." jawab Mahi.


"iya ayah, iya..."


akhirnya Mahi melarang istrinya keluar, setelah dua hari para tamu pun berangsur tidak ada.


aktifitas seperti biasa, nahi mengantar Fatin ke rumah keluarga istrinya itu.


Hendra tidak mengatakan apa-apa pada Mela dan Rosita, pasalnya mereka masih menyembunyikan semua satu keduanya.


Fatin pun merasa begitu beruntung memiliki mertua seperti Hendra dan Mela yang menyayanginya.


mereka kembali untuk acara wisuda dari Fatin dan ada acara spesial untuk Husna.


siang itu mereka baru sampai di kawasan yayasan, terlihat mobil dari dokter Rizal juga baru datang.


"baru bisa datang bro?" tanya Mahi.


"iya, baru sempet, ya setelah kamu mengundurkan diri, semua heboh dan bingung mencari pengganti dirimu," kata dokter Rizal


"tenang aku yakin pasti akan ada besok, sekarang kita masuk dulu yuk, sepertinya semua sudah menunggu," ajak Mahi.


"baiklah," jawab dokter Rizal yang membawa sedikit buah tangan

__ADS_1


Rizal pun menyapa semua orang, sedang ustadz Ahmad begitu bahagia melihat pria itu.


Mahi tersenyum penuh arti, "mas ini ulah mu ya, kamu berhasil?" tanya Fatin.


"iya dong, siapa dulu," jawab Mahi berbisik.


"jadi Husna kenari nak, perkenalkan sahabat kakak ipar mu, dokter Rizal, dan ini adalah pria pilihan abi untuk mu," kata ustadz Ahmad.


"Alhamdulillah...." kata semua orang.


ustadz Ahmad tak mengira jika semua orang sudah setuju saat melihat pria itu.


sedang Husna tertunduk malu, "jadi Husna, apa kamu mau menerima dokter Rizal?" tanya Dila.


"iya umi," jawab Husna.


semua pun kembali mengucapkan hamdalah, karena persetujuan hubungan ini terjalin.


"baiklah, lebih baik jangan di tunda dulu, dan nak Rizal kamu bisa membicarakan semuanya dengan Husna," kata ustadz Ahmad.


"baik Abi, terima kasih banyak," kata dokter Rizal mencium tangan ustadz Ahmad.


"tunggu dulu Abi dan umi, kami berdua juga membawa kabar baik untuk kalian semua," kata Mahi yang membuat semua orang menoleh.


"kabar apa nak?" tanya ustadz Ahmad.


"bismillahirrahmanirrahim, sebentar lagi akan ada Mahi junior di dunia ini," kata Mahi menyentuh perut Fatin.


"Alhamdulillah ya Allah," kata semuanya senang.


ustadz Ahmad sujud syukur, kebahagiaannya sangat berkali-kali lipat, selain Husna dia akan punya cucu pertama.


Dila memeluk Fatin dengan erat, begitu pun dengan ustadz Ahmad yang memeluk menantunya itu.


"Alhamdulillah ya Allah, jaga istrimu ya le, kenapa kalian pindah padahal Abi ingin terus melihatnya," kata ustadz Ahmad.


"iya Abi, karena saya ingin mengembangkan bakat dan kemampuan saya untuk menolong orang, dan sekarang Abi lebih banyak waktu jadi bisa menjenguk kami di Jombang juga, dan Abi harus menjaga pola hidup sehat agar bisa bermain bersama cucu," kata Mahi.


"baiklah nak, Abi akan ingat itu semua," jawab ustadz Ahmad.


Husain dan Hasan merasa lega, karena dengan kedatangan calon cucu.


ustadz Ahmad dan Dila tak akan menyuruh mereka segera menikah, karena pada dasarnya keduanya belum siap juga.


malam hari pun di adakan makan bersama satu keluarga, dan para santri di bebaskan dari kegiatan khusus malam itu.


karena semua pengurus yayasan dan pondok sedang berada di rumah ustadz Ahmad untuk berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2