
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Hari Minggu yang indah yang tak seharusnya diawali dengan pertengkaran atau sesuatu yang membuat bad mood.
Ting… Tong… Ting… Tong…
"Paket…"
Terdengar suara seorang kurir mengantarkan paket. Pak satpam pun segera keluar dari pos dan membuka pintu kecil yang ada di samping pintu gerbang utama.
"Selamat pagi, pak. Saya mau mengantar paket." Sapa abang kurir.
"Selamat pagi, mas. Paket untuk siapa ya?" Tanya pak Toni, satpam rumah Aryan Cakra Wangsa.
"Paket untuk mbak Tara Cakra Wangsa, pak." Jelas abang kurir.
"Dari siapa, mas?" Pak Toni mengecek paket untuk Tara, namun tidak ada nama pengirimnya.
"Sepertinya nama pengirimnya tidak ditulis pak, hanya ada kartu ucapannya saja. Tolong tanda tangani tanda terimanya pak." Pinta abang kurir.
"Baik, tapi saya minta nomor kontak mas kurir ya? Sekalian saya foto sebagai bukti untuk non Tara." Pak Toni berjaga-jaga jika ditanya oleh Aryan atau Tara.
"Nomor saya 0821…….., nama saya Anto." Abang kurir memberikan nomornya.
"Terima kasih atas kerjasamanya ya, mas. Maklum saya harus hati-hati dan jaga-jaga kalau ditanya paket ini dari mana." Pak Toni pun tidak lupa memfoto abang kurir.
"Santai lah pak… Permisi, pak. Terima kasih ya." Abang kurir pun pergi setelah pak Toni menandatangani bukti tanda terima paket.
Pak Toni masuk dan mengunci pintu, berniat menyerahkan paket yang berupa bunga mawar merah untuk Tara. Pak Toni masuk ke rumah dan sementara meninggalkan pak Ranto berjaga sendirian di pos satpam depan. Kebetulan sekali Aryan sedang santai di ruang tengah, pak Toni pun menyerahkan bunganya kepada Aryan.
"Selamat pagi, tuan." Sapa pak Toni dengan hormat.
"Pagi pak." Jawab Aryan.
"Bunga dari siapa dan untuk siapa, pak?" Tanya Aryan.
"Maaf tuan, ini bunga untuk non Tara tapi nama pengirimnya tidak ada." Jelas pak Toni.
"Lalu siapa yang mengantarkan tadi?" Selidik Aryan.
"Tadi yang mengantarkan kurir, tuan. Saya sudah menyimpan nomor telepon kurirnya dan memfoto wajah kurirnya juga." Papar pak Toni.
"Ya, sudah. Nanti kirim nomor dan fotonya ke saya ya, pak." Pinta Aryan.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Pak Toni pamit undur diri.
"Bunga dari siapa sih? Bisa-bisanya mengirim bunga ke istri orang!" Gerutu Aryan
__ADS_1
"Bunga dari siapa, mas?" Tanya Tara yang baru saja bergabung dengan Aryan di ruang tengah.
"Dari pacarmu." Jawab Aryan sedikit ketus.
"Loh… Kok bisa? Pacar yang mana, mas?" Tara tidak sadar Aryan cemburu.
"Nggak tahu!" Jawab Aryan singkat.
"Nggak tahu tapi kok bisa bilang itu dari pacar aku? Mas Aryan kalau mau ngasih bunga yang romantis dong! Masa malah manyun gitu?" Tara mengambil bunga dari tangan Aryan.
Tara melihat ada kartu ucapan di dalam buket bunga itu, dia pun mengambil dan membacanya.
"Aku minta maaf atas semua ucapan dan tindakanku yang pernah menyakiti perasaanmu. Maafkan aku karena kebodohanku selama ini. Aku tahu permintaan maaf ini mungkin tidak lah cukup. Kalau kamu bersedia, tolong beri kesempatan padaku untuk berubah. Maafkan aku yang mencintaimu dengan cara yang salah."
Tara tahu itu bukan tulisan tangan Aryan dan itu bukan permintaan maaf dari Aryan. Mana mungkin Aryan minta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, selama ini Aryan tidak pernah menyakiti Tara.
Tara membuang buket bunga itu ke lantai. "Ini bukan dari kamu, mas?"
"Bukan!" Aryan cemburu.
"Hey… Kenapa mas Aryan jadi marah? Cemburu?" Goda Tara.
"Buat apa cemburu hanya karena bunga yang tidak jelas dari siapa. Sekalipun tahu dari siapa, aku juga tidak mau menerima bunga dari pria lain." Ujar Tara.
"Bukankah sudah jelas itu dari pacar atau penggemarmu!" Aryan memang belum membaca kartu ucapan yang ada di dalam buket bunga itu.
"Kalau dari fans aku terima karena keberadaan fans itu penting buat karir ke depan. Tapi kalau nggak jelas ya dibuang saja." Jelas Tara.
"Tara, apakah kamu sudah menerima bunga yang aku kirim? Aku harap kamu suka dan mau menerimanya." Bunyi pesan dari Anand.
"Sudah ku buang." Jawab Tara sadis.
"Aku akan mengirim bunga setiap hari sampai kamu mau memaafkan aku. Janji, aku tidak akan memaksakan perasaanku padamu dan tidak akan mengulang kesalahan yang telah lalu." Anand mengirim pesan lagi.
Tara tidak membalas pesan Anand, dia langsung memberikan ponselnya pada Aryan.
"Lihat pesan ini, mas!" Titah Tara.
Aryan tidak segera mengambil ponsel Tara atau pun membaca pesan yang Tara perlihatkan.
"Mas ganteng ku, baca dulu pesannya! Jangan marah karena hal yang bukanlah salahku!"
Tara duduk di samping Aryan dan menyodorkan ponselnya ke depan Aryan. Akhirnya Aryan membaca pesan dari Anand di ponsel Tara, sontak Aryan jadi marah karena tahu bunga itu dari Anand. Aryan beranjak ingin pergi, namun Tara menarik tangan Aryan.
"Mau kemana, mas?" Tanya Tara.
"Mau menghajarnya lagi." Aryan emosi.
"Ini hari libur, mas. Jangan mengotori tanganmu lagi!" Tara memeluk Aryan dari belakang.
"Kenapa kamu mencegahku? Apa kamu luluh hanya dengan satu buket mawar merah." Aryan kesal.
"Kalau lagi cemburu kamu gemesin banget, mas."
__ADS_1
"Aku serius! Kamu mau maafin Anand?"
"Bunganya aja aku buang, mas." Tara menyandarkan kepalanya di punggung Aryan.
"Kalau aku mau memaafkannya hanya karena satu buket mawar, aku pasti sudah memaafkannya sejak dulu."
"Maksudnya?"
"Dulu dia juga pernah datang ke rumah beberapa kali, membawakan mawar dan cokelat juga."
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" Cemburu lagi, kesel lagi.
"Mas ganteng ku, aku sayang kamu." Tara memeluk Aryan lebih erat.
"Itu kejadian beberapa tahun lalu, mas. Jangan dibahas lagi, ya!" Pinta Tara.
"Tapi dia mengirimkan bunga pada istriku, seolah-olah aku ini dianggap tidak ada." Aryan masih kesal.
"Mas, mumpung hari libur pengen naik motor berdua, biar bisa peluk mas Aryan dari belakang. Mau ya?"
"Kamu mengalihkan pembicaraan!" Tegas Aryan.
"Apa pentingnya membahas kembaran mu itu, mas?"
"Atau sekalian aja aku minta Gala menghajarnya, menurutmu gimana, mas?"
"Ck... Aku tidak tahan dengan kecemburuan ini, terlalu banyak pebinor." Gerutu Aryan.
"Mas, kalau kamu tidak percaya padaku, aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi, setiap saat. Aku akan merelakan pekerjaanku agar diurus orang lain." Tara mengalah.
Aryan diam sesaat. "Aku percaya, aku akan mengawal kamu dengan beberapa bodyguard. Mereka akan menjaga dan mengawasi kamu agar tidak ada kesempatan untuk para pebinor mendekati kamu."
"Terserah kamu, mas! Yang penting sekarang ayo touring tipis-tipis." Tara merengek.
"Kenapa kamu pengen banget peluk aku dari belakang? Mendingan peluk dari depan aja." Ucap Aryan.
"Peluk dari depan entar malam aja, sekarang peluk dari belakang. Kalau mas Aryan nggak mau aku minta mas Anand atau Gala aja, pasti mereka mau." Tara balik ngambek.
"Eit... Jangan ngancem-ngancem!"
"Ya sudah ayok siap-siap dulu." Ajak Aryan.
"Bener ya, mas? Kita touring tipis-tipis ke puncak ya?" Tara semangat.
"Iya, sayang." Aryan berbalik menghadap Tara lalu mencium keningnya.
(Ilustrasi Tara dan Aryan lagi romantisan naik motor berdua ya guys... ☺)
.................
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1