
Fatin dan Mahi mengendarai mobil mereka sendiri-sendiri, sesampainya di rumah, ternyata Hasan sedang menunggu mereka.
"wah ada apa ini?" tanya Fatin melihat adiknya itu.
"mau cari makan gratis, males di rumah, Husna makin resek," jawab Hasan kesal.
"kalau begitu kenapa tak masuk, aku sudah memberikan kunci cadangan pada Husain," kata Mahi tertawa.
"dia sedang ikut workshop di luar kota, tadi siang berangkat," jawab Hasan yang nampak begitu lelah.
"baiklah adikku yang tampan,kali ini kamu mau makan apa, biar neng siapkan?" tanya Fatin tersenyum.
"apa saja mbak, yang penting pedes," jawab Hasan yang ikut masuk ke dalam rumah.
"baiklah, sekarang mbak mandi dulu, dan mas Mahi tolong siapkan bahan-bahannya ya," kata Fatin tersenyum.
"siap sayang," jawab Mahi.
sedang Hasan sudah mencari beberapa item untuk memasak, "mas buat nasi goreng enak nih, sama sambel mattah,"
"boleh tuh, baiklah biar aku potong semua bahannya, dan cabenya di kasih sepuluh enak nih," kata Mahi yang sebenarnya suka pedas.
"di sambalnya oke, karena aku tak bisa makan makanan pedas," kata Fatin yang sudah mandi dan berganti baju.
"siap neng," jawab Hasan.
akhirnya keduanya pun menyingkir, kini giliran dari Fatin yang mulai memasak dengan tebang.
Mahi mandi sedang Hasan sedang menikmati PlayStation yang ada di ruang tengah.
tak butuh waktu lama untuk nasi goreng itu matang, begitu sambal dan juga lauk pendampingnya.
"dek, ayo kita makan, mas Mahi!" panggil Fatin.
"Iya sayang," jawab Mahi.
Mahi turun hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek, "ya Allah suamiku, kenapa kamu menebar aurat mu kemana-mana," kata Fatin tersenyum.
__ADS_1
"tidak masalah, orang tak ada wanita lain di rumah, hanya Hasan, dan aku selalu ingin kamu melihat suamimu ini seperti ini mulai sekarang," kata Mahi memeluk Fatin dan mencium pipinya.
setelah itu ketiganya untuk makan bersama, Mahi dan Hasan kaget melihat semua makanan di meja.
"nasi goreng Jawa siap, ayo makan," ajak Fatin.
"ini sih bener ya sayang nasi goreng Jawa sederhana, tapi lauk sampingannya banyak banget, ada sosis, telur ceplok, hingga lalapan," kata Mahi.
"ini mending mas, kalau umi yang buat, bisa ada ayam goreng, kerupuk dan juga bahkan serundeng," jawab Hasan
"wah... penuh sekali dong, ya sudah ayo kita makan," kata Mahi.
mereka bertiga pun makan bersama, Mahi dan Hasan berebut makan sambal matah itu, pasalnya sambalnya terasa begitu segar dan enak.
setelah itu mereka pun main PS bersama, sedang Fatin menyiapkan pisang goreng wijen, lumpia isi ayam dan kopi untuk keduanya.
"mas, aku tinggal ke rumah Abi ya, untuk mengantarkan makanan," pamit Fatin.
"baiklah sayang, hati-hati ya, oh ya tadi buah yang mas beli tolong di berikan juga ya, karena itu bagus untuk Abi," kata mahi.
dia pun keluar dengan baju yang sudah di ganti, dia terlihat sangat cantik meski tak memakai make up.
dia juga tak perlu berjalan jauh, pasalnya rumahnya masih di komplek yayasan juga.
Husna langsung memeluk Fatin yang terlihat berjalan dengan barang bawaan, "neng... bawa apa itu?"
"tolong bantu dulu, sekarang kita masuk dulu kedalam rumah, ini hanya pisang goreng dan buah khusus untuk Abi, kemana abi dan umi? apa mereka di rumah?" tanya Fatin.
"tentu, Abi sedang tak ingin kemana-mana, ya hanya sedang nderes Al-Qur'an bersama umi," jawab Husna.
Fatin dan Husna pun masuk kedalam rumah, ternyata benar kedua orang itu sedang bersama-sama.
terlihat ustadz Ahmad sedang menerangkan beberapa terjemahan dan pengertian dari salah satu hadis.
"assalamualaikum Abi.. umi .." salam Fatin mencium tangan kedua orang tuanya.
"waalaikum salam nduk, tumben kok malem-malem datang, sendirian?" tanya ustadz Ahmad mengakhiri kegiatannya.
__ADS_1
"iya Abi, orang hanya beberapa meter ini, oh ya tadi mas Mahi khusus membeli sesuatu untuk abi dan umi, oh ya ada di belakang," kata Fatin.
"wah apa itu, kenapa Abi jadi tak sabar untuk melihatnya," jawab ustadz Ahmad.
Fatin tersenyum melihat reaksi dari Abi-nya itu, ternyata makanan dan buah kesukaan dari ustadz Ahmad.
ada buah tin, jeruk dan stroberi import. ustadz Ahmad tak mengira jika menantunya itu begitu perhatian.
"Fatin, apa Hasan di rumah mu, ah... pemuda itu benar-benar tak mengerti umi, pasalnya kami tak habis pikir lagi, bagaimana dia bisa begitu sensitif," kata Dila yang menghela nafas
"apa uni sudah coba tanya, takutnya dia punya kekasih dan sedang bertengkar, pasalnya Hasan adalah tipe pemuda yang menyimpan Semuanya sendiri tak mudah untuk berbagi isi hatinya," kata Fatin.
"ah kamu benar neng, seharusnya umi mengajaknya bicara?" jawab Dila sedih.
"sudah umi, nanti kita bahas nanti ya, sekarang umi istirahat,umi sudah dua hari ini kurang tidur," kata ustadz Ahmad.
"umi kenapa? apa umi sakit?" tanya Fatin khawatir.
"tidak apa-apa, hanya saja umi memang sedang banyak pikiran, terlebih teror dari beberapa sahabat umi yang ingin meminang Hasan sebagai menantunya," kata Dila frustasi.
"tenang umi, kita bisa menolaknya, terlebih kita akan mempersiapkan pernikahan Husna dan Abdul bukan," kata Fatin.
"iya nak, jadi kita fokus satu-satu dulu ya umi, dan kita tolak saja lamaran untuk dua pemuda itu, pasalnya dari penglihatan Abi, sepertinya keduanya belum ingin menikah juga," jawab ustadz Ahmad.
"iya Abi," jawab Dila
Fatin pun memeluknya dengan erat, pasalnya saat ini wanita itu butuh pelukan hangat.
setelah itu, Fatin pamit pulang, terlihat suasana sekitar yayasan sudah sangat sepi.
terlebih ini juga hampir setengah sebelas malam, dari jauh beberapa orang sedang mengawasi kawasan itu.
mereka pun tersenyum saat melihat sosok Fatin yang berjalan sendirian, mereka pun sekarang mengerti jika hanya ada dua satpam setiap malam.
dan ada beberapa penanggung jawab dari santri yang juga berjaga, dan itu mudah untuk di atasi oleh para pengawal terlatih seperti mereka
tapi sekarang belum waktunya untuk mereka melakukannya, pasalnya mereka harus menunggu waktu yang tepat.
__ADS_1