Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_ngunduh mantu.


__ADS_3

Adila terus berusaha menemui Mahi, terlebih setelah tanpa sengaja dia melihat Mahi bersama dengan wanita dan mereka terlihat begitu dekat.


"tidak boleh, dia hanya milikku!!" teriak Adila.


bahkan wanita itu membuang barang-barang di meja, "tidak ada yang boleh mengambil dia dariku, aku akan menyingkirkannya, lihat saja nanti,"


sedang di rumah, Fatin sedang mengerjakan skripsi yang dia buat, hanya dengan memakai daster batik pendek.


hingga kulit putih dan bersih Fatin terpampang nyata, bahkan rambut panjang itu di ikat.


Mahi pun melihat Fatin dari tadi karena melihat kecantikan istrinya yang hanya terlihat di depannya.


"sayang kamu jangan mengenakan pakaian begitu dong, aku ini laki-laki loh," kata Mahi.


"yang bilang mas wanita siapa? tunggu sebentar, sebentar lagi selesai kok," jawab Fatin yang benar-benar menyelesaikan tugasnya itu.


dia pun mendekati suaminya itu, Mahi pun langsung mundur dan menutupi bagian bawahnya dengan bantal.


"kenapa mas?"


"tidak apa-apa, tolong jangan mendekat ya dek, aku tak bisa terus mengendalikan diriku saat kamu melepas jilbab mu," mohon Mahi menahan lengan Fatin frustasi.


"maksudnya bagaimana mas? apa ada yang salah saat aku tak memakai jilbab?" tanya Fatin.


"bukan kamu tapi aku ..." jawab Mahi menunjukkan tubuh bagian bawahnya.


Fatin pun kaget dan langsung mundur dan nampak ketakutan, "itulah aku mohon jangan mendekat seperti itu,"


Mahi pun memutuskan masuk kedalam kamar mandi, Fatin pun merasa terkejut.


pasalnya bukan dia ketakutan karena trauma, dia hanya kaget karena tak pernah melihat bentuk tonjolan itu.


Fatin pun mengambil bajunya dan jilbabnya untuk mengambil air di dapur, sedang Mahi yang keluar kamar mandi.


dia memutuskan untuk tidur karena dia sudah tak ada tenaga untuk menjelaskan pada Fatin.


terlebih besok hari, mereka harus kembali ke Jombang untuk melakukan acara ngunduh mantu.


Fatin masuk kedalam kamar, dan melihat mahi susah tertidur, Fatin pun segera bergabung.

__ADS_1


Fatin pun memeluk Mahi dari belakang, Mahi yang merasakan hangat tubuh Fatin berbalik.


"diamlah seperti ini aku mohon ..."


malam itu kembali terlewati tanpa terjadi apapun, sedang semua sedang sibuk menyiapkan acara besok.


terlebih ini sebagai ajang untuk keluarga Dila yang juga pulang kampung.


keesokan paginya, Fatin ingin bangun tapi Mahi menahannya, "tolong tetaplah di sini, jangan bergerak,"


Fatin pun mengecup bibir Mahi dengan lembut, mahi langsung membalasnya dengan sangat buas.


tiba-tiba pria itu melemah, Fatin pun yang memang tak mengerti, memeluk Mahi.


keduanya pun bergantian untuk mandi dan menunaikan sholat berjamaah.


Adila terus mencari sosok Mahi di rumah sakit itu, tapi sudah di tunggu cukup lama tak terlihat batang hidung pria itu.


Fatin sudah menyiapkan beberapa baju untuk di bawa, karena setidaknya mereka akan tinggal seminggu di Jombang.


rombongan berangkat dengan mengunakan dia bus pariwisata, karena berisi cukup banyak orang yang di ajak.


tak lupa dengan orang tua pengantin perempuan juga, meski tak mengenakan kebaya, tapi Dila tetap mengenakan brokat yang sama dengan besannya.


pasalnya Mela yang khusus memilih motif seragam satu keluarga itu, acara pun berlanjut dengan sangat meriah.


bahkan ada cucuk lampah untuk menjadi awal iring-iringan pengantin.


dan tak hanya itu, Hasan dan Husain juga harus rela jadi kembar Mayang bersama Husna dan Rosita.


pasalnya pesta ngunduh mantu dari juragan tahu Hendra ini akan di lakukan dua hari.


ustadz Ahmad sampai geleng-geleng melihat besannya itu menyiapkan pesta untuk putra dan menantunya.


pembacaan Tilawatil Quran di bawakan oleh ustadz Yusuf, ada seseorang yang menangis saat mendengar dan melihat pria itu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


saat ustadz Yusuf ingin duduk, dia tak sengaja bertatapan mata dengan wanita yang pernah mengusik hatinya.


"Khusna..." lirih ustadz Yusuf.

__ADS_1


gadis itu pun memilih bersembunyi, pasalnya dulu dia dengar jika ustadz Yusuf sudah menikah dan membuatnya hancur.


padahal dia rela membatalkan semua lebaran dan pernikahan yang tinggal hitungan hari karena hatinya hanya tertambat pada pria itu.


saat ustadz Yusuf ingin mengejarnya, dia ingat jika Khusna dulu akan menikah, saat dia memutuskan untuk membantu kakaknya mengembangkan yayasan.


dia pun memilih duduk kembali, melihat hal itu ustadz Ahmad memutuskan untuk turun dari pelaminan.


dia pun menarik adiknya itu dan mencari sosok gadis yang selama ini menjadi nama dalam doa ustadz Yusuf.


"Khusna... perkenalkan aku kakak dari Abdullah Yusuf, bisakah kamu memintanya untuk menikah karena dia belum menikah saat ini,karena dia tak bisa melepas nama mu yang sudah menikah ini," kata ustadz Ahmad gemas.


"salam kenal ustadz Ahmad, saya belum menikah, pernikahan itu saya batalkan karena ada pria yang mengisi hati saya, dan bagi saya tak baik menikah saat hati saya milik pria lain," jawab Khusna.


tanpa di duga, seorang pria langsung menonjok ustadz Yusuf, pasalnya pria itu adalah kakak kandung dari Khusna.


"mas apa-apaan," marah Khusna.


"karena pria ini kamu membuat keluarga kita malu, dan sekarang dengan kurang ajar dia datang dengan wajah tanpa dosanya," marah pria itu.


"apa kamu menyukai Yusuf," kaget ustadz Ahmad.


"maaf bapak ini siapanya?"


"ah... saya kakaknya, maafkan kebodohan adik saya yang sudah lemah karena mendengar orang yang dia cintai menikah," kata ustadz Ahmad merasa bodoh.


"dan demi ingin mengejar pria ini, adik saya membuat malu satu keluarga, dan dia mendapatkan kekecewaan saat mendengar jika pria itu sudah menikah dengan wanita lain di rumahnya," saut pria itu tak terima.


"jangan bilang, saat anda kesana ada pernikahan ku dan istri, karena memang yang Yusuf jadi saksi dari pihak ku, dan bocah ini memang selalu menggodaku," kesal ustadz Ahmad.


"jadi semua ini hanya salah paham," kata kakak Khusna yang juga merasa geli sendiri.


"jadi Khusna kamu belum menikah karena mencintaiku?"


"menurut mu,dasar pria bodoh seharusnya kamu datang dan bicara pada orang tuaku, bukannya kabur seperti pengecut.... tapi aku tak bisa melupakan mu," kata Khusna sedih.


ustadz Yusuf tersenyum senang, sedang ustadz Ahmad pun mengangguk.


"bagaimana jika pernikahan segera di laksanakan sekalian mumpung kami masih berada di Jombang," usul ustadz Ahmad.

__ADS_1


"boleh, karena sepuluh tahun sudah terlalu lama untuk mereka saling menunggu," jawab kakak Khusna.


__ADS_2