Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_melakukan dosa


__ADS_3

"eh ... tapi bagaimana caranya kalian bisa dapat beginian?" tanya Husna penasaran.


"aku tadi dapat dari anak kelas satu, pas razia kabar, jadi aku bawa saja sebelum di bakar," jawab salah satu tim keamanan khusus kamar santriwati.


"hebat," jawab Husna tak percaya jika dia memiliki teman-teman yang cukup nakal.


Husna terus terbayang bentuk tubuh pria di gambar tadi, pasalnya di rubah semua saudaranya tetap menjaga aurat mereka jadi baru tadi Husna melihat tubuh Pria.


"alah... ini kok ada yang nabrak gimana sih," kata Anisa yang sedang membawa beberapa buku.


"maaf Tante, aku gak sengaja, aku bantu ya, sebagai permintaan maaf..." kata Husna.


"owalah kamu to nduk? ya sudah tolong bawa ini ke ruang guru ya, memangnya kamu dari mana? orang udah gak sekolah?" tanya Anisa.


"aku baru dari perpustakaan, sebelum itu aku tadi sempat ikut mengaji kitab bersama Abi, habis Tante tau kan syarat dari Abi untuk ku," kata Husna.


"ya biar Keluarga ku nanti sakinah mawadah warahmah to nduk, ya sudah ayo kita jalan,"ajak Anisa.


mereka pun sampai di ruang guru dan cukup sepi, tak lama Abdul masuk karena selesai mengajar kelas.


"assalamualaikum mbak Anisa, neng Husna yang cantik," sapa Abdul.


"waalaikum salam, tolong jangan memanggilku neng dong mas, panggil adek saja biar lebih mesra, kayak neng Fatin dan mas Mahi dulu," kata Husna.


"baiklah-baiklah maaf ya dek, mbak Anisa kebetulan tadi pagi aku di kasih brownis oleh salah seorang murid, apa anda mau?" tanya Abdul menunjukkan tiga kotak brownies itu.


"aku juga mau?" kata Husna.


"ya maaf adek mas, ini buat mbak Nisa, nanti kita beli sendiri ya, sekalian kita melihat dan fitting baju," kata Abdul


"ah iya aku lupa, baiklah kalau begitu aku menurut saja, nanti sore kan?" tanya Husna memastikan.


"iya adek, kita berangkat nanti sore," jawab Abdul.


Husna nampak begitu bahagia, sedang Husna tak mengira pernikahan itu benar-benar tak di undur sesuai permintaan Mahi.


tapi seakan tak pantas saja, baru saja berduka tapi malah akan mengadakan pesta pernikahan.


tapi Husna tak bisa mengatakan apapun terlebih itu bukan haknya juga, karena ini sudah atas musyawarah keluarga.


Abdul memang sudah izin kepada ustadz Ahmad untuk mengajak Husna keluar untuk melakukan beberapa kegiatan.

__ADS_1


ustadz Ahmad mengizinkan keduanya pergi asal tak pulang di atas jam sembilan malam.


Husna langsung berpamitan pulang telebih dahulu untuk menyiapkan diri nanti sore.


sedang Abdul hanya tersenyum saja melihatnya, "wah kamu begitu sabar ya menghadapi Husna, padahal gadis itu begitu manja,bahkan kadang membuat kedua orang tuanya saja pusing," kata Anisa.


"entahlah mbak, aku selalu ingin memanjakan gadis itu sebisaku," jawab Abdul.


"beruntung sekali jika itu benar, karena setelah kehilangan Fatin ustadz Ahmad dan Dila hanya memiliki gadis ceroboh itu sekarang," kata Anisa.


"Ita mbak, aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik," jawab Abdul dengan tegas.


Husain menghampiri seorang gadis saat dia sedang diluar pondok, pasalnya tadi dia bertugas untuk belanja kebutuhan koperasi pondok.


bahkan gadis itu sedang merokok dengan menaikan satu kaki, "ada apa lagi ustadz, mau menceramahi ku,pergi saja, Jia kamu tak mau memberiku uang, mending pergi deh," kata gadis itu.


"memangnya kenapa? aku bisa membeli waktumu dua jam dan temani aku untuk berbelanja," kata Husain.


"aduh ustadz, malu tuh sama kopyah mu, masak gadis panggilan seperti ku menemanimu," jawab gadis itu


"memang kenapa, toh kamu juga manusia makan nasi aku pun juga," jawab Husain.


"kalau begitu temani aku dua jam saja, ini untuk mu," kata Husain menunjukkan uang tujuh ratus ribu.


"boleh asal kau bisa memuaskan ku," kata gadis itu mendekat kearah Husain


"baiklah kalau begitu ambil saja aku tak butuh uang itu,karena aku hanya ingin waktu mu selama dua jam saja," jawab Husain yang kemudian pergi.


gadis itu hanya bisa melihat Husain yang berpenampilan seperti santri itu pergi.


hatinya pun meras nyeri, karena dia seakan di tolak mentah-mentah, padahal di tempat karaoke itu tak ada satu orang pun yang pernah menolaknya.


dengan Segera Husain mulai membeli semua yang di butuhkan oleh koperasi,bahkan untuk jilbab dan beberapa keperluan wanita.


setelah selesai dia pun bergegas pulang, karena tak ingin dia melihat gadis yang telah mencuri perhatiannya.


pukul setengah empat sore, Husna sudah siap tinggal menunggu jemputan dari Abdul.


mereka langsung berangkat menuju ke tempat penyewaan dekorasi dan fitting baju pengantin pesanan mereka.


setelah yakin Semuanya pas,mereka pun memutuskan untuk berbelanja pakaian.

__ADS_1


setelah itu Abdul ingin menunjukkan sesuatu pada Husna, mobil itu menuju ke sebuah perumahan elit.


"ini rumah siapa mas?" tanya Husna.


"ini rumah hadiah dari orang tuaku, ayo masuk biar kamu tau dalamnya, jika tak suka kita bisa mengisinya sendiri," ajak Abdul.


Husna mengangguk, ternyata semua rumah sudah terisi penuh oleh barang-barang mewah.


Husna baru tau jika Abdul adalah putera dari seorang pengusaha sukses asal kota sebrang.


mereka juga melihat-lihat area lantai dua, dan saat masuk ke kamar utama, Husna begitu terpukau.


terlebih ada ranjang besar yang ada di tengah ruangan itu, Husna pun mencoba untuk duduk dan bermain disana.


Abdul pun hanya tersenyum saja, dia pun mendekat kearah gadis itu, dan tak sengaja Husna jatuh ke arah Abdul.


keduanya pun berciuman bibir, saat Husna ingin mundur, Abdul menahannya.


akhirnya Husna pun larut dalam sentuhan dari Abdul, keduanya pun lupa dengan semua batasan


Abdul mulai mencumbu setiap inci tubuh dari Husna. bahkan Keduanya sudah tak memakai apa-apa lagi.


entah siapa yang memulainya, keduanya akhirnya melakukan hal yang sebenarnya haram itu.


Husna pun mencengkram dan mencakar punggung dari Abdul karena menahan sakit.


keduanya pun sudah melewati batas, setelah puas melakukannya, Abdul membisikkan perkataan yang umum.


"aku mencintai mu, aku akan menjadikan mu satu-satunya di hidupku," kata Abdul.


"tapi bagaimana jika aku hamil mas, atau jika orang tua kita mengetahui hal ini," kata Husna takut.


"tenang saja sayang, tiga Minggu lagi kita menikah jadi tak akan ada yang sadar tentang kejadian kali ini, jadi tenang saja," jawab Abdul.


Husna pun mengangguk, Abdul melihat jam di dinding, waktunya masih banyak bersama Husna.


dia pun kembali memeluk Husna dan kembali melakukannya, hingga keduanya tertidur tanpa sadar.


ustadz Ahmad dan Dila menunggu kepulangan dari putrinya yang belum pulang, padahal sudah di wanti-wanti agar tak pulang telat.


tapi ini sudah lebih dari jam setengah sepuluh malam, Dila terus menelpon putrinya itu tapi tak kunjung di angkat.

__ADS_1


__ADS_2