Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_ tak bisa terima


__ADS_3

ustadz Ahmad pun memeluk putrinya Fatin, dia sangat bangga karena Fatin mau menceritakan semuanya.


karena dia hampir melakukan kesalahan besar, Fatin pun mencium tangan ustadz Ahmad dan pamit untuk bergilir masuk untuk menjengguk.


saat Fatin keluar, gadis itu menghela nafas panjang dan sebuah pelukan menyambutnya.


ternyata itu adalah Husna, "neng maafkan aku ..." tangis Husna.


"tidak perlu minta maaf, neng tak merasa Husna ada salah,dan sekarang kamu harus bahagia ya, karena neng berhasil membujuk Abi untuk menikahkan kami asik neng yang manis ini dengan mas Abdul, cinta mu," kata Fatin.


"benarkah neng, neng tak bohong?" tanya Husna yang tak percaya.


"neng tak bohong, sekarang neng minta kamu harus lulus dengan nilai terbaik ya," kata Fatin.


"iya neng, aku akan berjuang," kata Husna dengan sangat bahagia.


Husna memeluk Fatin dengan erat, tapi Fatin terlihat sedih terlebih tatapannya tak lepas dari Haris.


"ya Allah... semoga aku bisa ikhlas apapun yang terjadi nantinya, semoga keputusan nantinya akan jadi yang terbaik" batin Fatin yang kemudian tersenyum menutupi semua lukanya melepaskan pelukan Husna.


sedang Haris yang melihat tatapan mata dari Fatin merasa hatinya sakit, entahlah mata itu seperti penuh luka dan kesedihan.


"sudah-sudah, sekarang kita makan yuk, neng Fatin belum makan dari pagi, ayolah neng jangan siksa dirimu," kata Hasan.


"siapa yang bilang, neng sudah makan kok, kalau tak percaya kamu bisa tanya mas Haris," kata Fatin.


Hasan tak percaya dengan apa yang dia dengar, dan kini melihat sosok Haris yang dari tadi hanya diam memasang wajah dingin.


"benarkah?" tanya Hasan tak percaya.


"benar kok, kami makan bersama karena neng mu itu terlihat begitu lemah, bahkan saat pertama makan dia hampir muntah," kata Haris tanpa sadar.


"itu karena neng Fatin tak bisa makan nasi setelah perutnya kosong, jadi seharusnya neng Fatin minum susu dulu atau jus buah tanpa gula, jika tidak neng akan sakit bukan," kata Husain menerangkan.


"aku tak apa-apa, jangan berlebihan," kata Fatin mencubit adiknya itu.


Haris pun melihat Fatin, dan gadis itu mengalihkan wajahnya saat Haris menatapnya.

__ADS_1


"maaf aku mau cari cemilan, Ayo Husna," kata Fatin menarik tangan Husna.


"tunggu neng, aku ikut," panggil Husain


pria itu pun berlari mengikuti kedua saudaranya, sedang Hasan menghampiri Haris.


"mas Haris jika suatu saat aku minta, tolong jaga neng Fatin dengan hatimu dan hidupmu apa kamu mau?" tanya Hasan.


"tapi kenapa harus aku?" bingung Haris.


"karena yang sesungguhnya adalah, mas .... sudahlah tak guna juga, lupakan, silahkan masuk menemui Abi, biar kami makan bersama dulu, kasihan neng pasti sedang merasa tak nyaman," kata Hasan yang pamit pergi.


Haris di buat bingung dengan pemuda itu, tapi dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan rawat.


terlihat ustadz Ahmad sedang berbincang dengan Dila, "assalamualaikum apa saya menganggu?"


"waalaikum salam... tidak, kemarilah nak, ya Allah kenapa sepertinya kamu begitu muram?" tanya ustadz Ahmad tertawa.


"tidak kok ustadz, hanya sedikit lelah karena tugas di kampus, sedikit membuat saya kuwalahan," jawab Haris.


"kenapa tidak minta bantuan Fatin, insyaallah dia pasti tak akan menolak," kata Dila yang memberi saran.


"tapi dia tak akan keberatan membantumu jika hanya untuk memeriksa semua jawaban dari mahasiswa mu nak, percayalah," kata ustadz Ahmad.


"tapi aku tak mau melihatnya sibuk, tadi pagi saja aku terkejut melihatnya yang begitu lemah dan pucat, ternyata dia lupa tak makan," jawab Haris.


"gadis itu pasti sedang sedih, umi tolong lihat putrimu itu, aku ingin bicara berdua dengan Haris," kata ustadz Ahmad.


"baik Abi, Haris titip Abi sebentar ya," kata Dila yang pergi.


"hati-hati umi," jawab Haris sopan.


"bagaimana menurut mu melihat istriku Haris?" tanya ustadz Ahmad.


"begitu sempurna ustadz, baik, sopan dan sangat penuh kasih sayang," jawab Haris.


"bagaimana jika kamu menikahi wanita seperti ini, tapi ada perilaku buruknya yaitu tak pernah mengatakan isi hatinya,atau bahkan memiliki sikap yang menurut pada orang yang dia cintai," kata ustadz Ahmad.

__ADS_1


"saya mungkin akan mengiyakan ustadz, tapi siapa wanita yang bisa seperti ini Dila?" tanya Haris penasaran.


"Fatin Shidqia Sulaiman Ahmad," jawab ustadz Ahmad.


mendengar itu, Haris tak tau harus mengatakan apa, dia tak mencintai Fatin sedikit pun tapi Husna yang telah merebut hatinya.


"sebenarnya aku tak bisa memilih pria yang tepat untuk putriku itu Haris, dia terlalu rapuh, dan begitu mudah terpuruk, hatinya tak sekuat uminya, meski dia anak tertua dia selalu mengalah untuk adik-adiknya terutama Husna, aku kira Husna mencintai mu, itulah kenapa aku menjodohkan kalian, tapi nyatanya Fatin mengatakan semuanya, jika adiknya itu menyukai Abdul, maafkan aku ya nak, seharusnya aku tak menentukan jodoh siapa, tapi apa kamu mau menikah dengan Fatin, karena hanya padamu aku bisa memasrahkan dan mempercayakan putri kesayangan kami karena tak ada siapapun pria yang bisa menerima wanita seperti Fatin bukan," kata ustadz Ahmad dengan sedih.


"aku bukan pria seperti itu Abi," jawab Haris.


"jadi kamu menolak, berarti Fatin harus menunggu pria yang melamarnya, dan semoga pria itu akan sangat membantu jika terjadi,"kata ustadz Ahmad.


"kenapa ustadz bicara seperti itu?" tanya ustadz Ahmad.


"karena sangat sulit mengerti wanita seperti Fatin, dan aku hanya percaya padamu," kata ustadz Ahmad terdengar sedih.


"tolong berikan waktu ustadz, biar saya memantapkan hati dulu, seminggu beri waktu saya," mohon Haris.


"baiklah saya berikan waktu, jika anda tak bisa menerima perjodohan ini, tak masalah nak," kata ustadz Ahmad.


Haris mengangguk patuh, sedang Dila bergabung bersama anak-anaknya yang sedang bersama di kantin rumah sakit.


"umi mau minum apa,biar Husna pesankan?" tanya putri kecilnya itu.


"tolong jus mangga tanpa gula ya, dan pisang goreng ya sayang," kata Dila.


"baiklah umi," jawab Husna yang bergegas pergi.


Dila pun menekuk Fatin erat, sedang dua putranya sibuk dengan ponselnya, "sayang, sebaiknya kita apakan dua pria ini yang sibuk dengan ponselnya dari tadi?"


"kemarikan ponsel kalian berdua, tolong hargai kami ini," kata Fatin mengulurkan tangannya.


"maaf ya neng, aku sedang memeriksa pesan dari beberapa cabang cafe," jawab Hasan.


"dan kamu Husain,"


"aku sedang melihat semua email dari anak murid ku yang punya tugas makalah, tapi maaf jika aku menjadi cuek pada neng dan umi ya," kata Husain dengan memegang telinganya.

__ADS_1


"aduh lucunya..." kata Dila pada putra-putranya.


__ADS_2