Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_wanita tangguh


__ADS_3

Dila ikut bersama suaminya, ternyata ustadz Rasyid juga membawa seorang wanita cantik bersamanya.


"Alhamdulillah, akhirnya ada yang laku juga, tinggal dua ustadz muda yang masih menunda memiliki kekasih hatinya," kata ustadz Ahmad.


"Alhamdulillah ustadz, sayang perkenalkan ustadz Sulaiman Ahmad, dan istrinya?" kata ustadz Rasyid tak yakin


"Nurul Fadilah, panggil saja mbak Dila," kata Dila mengulurkan tangannya.


"Emy, senang bertemu dengan kalian semua," kata gadis cantik itu.


mereka pun menuju ke sebuah restoran, dan memilih tempat yang sedikit pojok.


ustadz Ahmad dan ustadz Rasyid membahas masalah pondok, sedang Dila dan Emy sedang membahas hal lain.


"mbak kegiatan sehari-hari selalu mengikuti ustadz Ahmad yang sangat sibuk ya," tanya Emy.


"tidak Emy, aku hanya ibu rumah tangga dan sesekali membantu di yayasan dan mengajar anak-anak di yayasan, jika nanti kamu pindah kesana, Alhamdulillah jika kamu mau membantu kami untuk membagi ilmu yang kamu miliki," kata Dila tersenyum.


"pasti mbak, saya pasti akan membantu, tapi jika suami saya mengizinkan," jawab Emy dengan lirih.


Dila pun merasa senang, saat keduanya berbincang tak sengaja ada seorang anak terjatuh di samping Dila.


"astaghfirullah, kamu tak apa-apa sayang?" tanya Dila segera membantu gadis kecil itu.


"iya Tante, terima kasih," jawab gadis itu tersenyum.


Dila pun mengangguk tak lama ada seorang wanita yang berlari mengejar gadis kecil itu.


"Aisyah, ya Allah nak, sudah bunda bilang jangan lari-larian, kamu tak apa-apa? terima kasih mbak," kata wanita itu menoleh ke arah Dila.


"iya mbak, anaknya cantik ya, masih kecil sudah menutup auratnya," puji Dila.


"Alhamdulillah, kalau begitu kami permisi," pamit wanita itu.


Dila pun mengangguk dan kembali duduk, Emy tersenyum melihat segalanya.


"baiklah ustadz Rasyid, kami akan menunggu kalian berdua bergabung, saya merasa sangat beruntung saat para pemuda yang akan menjadi pengurus pondok, terlebih kalian bertiga sangat berbakat," kata ustadz Ahmad.


"iya ustadz, saya juga berterima kasih karena sudah menerima kami," jawab ustadz Rasyid.

__ADS_1


mereka pun berpisah, Dila terus bergandengan dengan ustadz Ahmad, bahkan pria itu tak segan menunjukkan kemesraannya di depan umum.


mereka pun menuju ke rumah, ternyata fatin masih bangun, dan sangat antusias saat melihat kedua orang tuanya datang.


"assalamualaikum anak ibu," sapa Dila.


"waalaikum salam, ya Allah mbak ku kira kalian akan menginap, jika tidak aku tak akan sanggup lagi menjaganya, dia sangat aktif dengan merangkak kemana-mana, belum lagi saat ada pegangan dia akan berusaha berdiri," adu ustadz Yusuf.


"benarkah, ya Allah putri ibu sudah besar," kata Dila menciumi putrinya itu.


"anggap saja belajar tole, nanti kamu juga pasti juga jadi ayah," kata ustadz Ahmad enteng.


"mudah sekali anda bicara," kesal ustadz Yusuf.


"sudah-sudah, terima kasih ya sudah menjaga Fatin," kata Dila lembut.


"baiklah, aku mau istirahat dulu," pamit ustadz Yusuf.


mereka pun masuk, dan beberapa kali Fatin menguap, dan Dila pun langsung menimang dan menemani putrinya itu tidur.


benar saja, gadis itu sudah mengantuk, buktinya dia langsung terlelap di samping ibunya.


"ada apa mas?" tanya Dila.


"seandainya aku pensiun bagaimana dek? aku ingin menikmati waktu kita, terlebih aku selalu sibuk kesana kemari untuk mengisi ceramah, dan aku terus melewatkan kesempatan bersama kalian berdua?" tanya ustadz Ahmad yang sadar jika waktunya sangat sedikit untuk keluarganya.


"mas kok ngomongnya begitu sih, mas kab menyebarkan agama jadi itu sangat baik, aku dan Fatin mendukung mu, jangan berhenti mas, karena sebisa mungkin kita membagi ilmu yang kita punya, dan untuk urusan yayasan, sebentar lagi akan di ambil alih oleh yang lain, jadi aku yakin jika nanti waktu mas untuk kami sangat banyak, jadi aku tak akan mendukung jika mas ingin berhenti, dari pada berhenti lebih baik mas mengatur jadwal dan memiliki libur dua hari dalam seminggu untuk kami, itu sudah sangat cukup," kata Dila memberikan saran.


"baiklah jika itu yang kamu inginkan, mulai tiga bulan lagi aku akan meminta Ilham mengatur jadwal ku lagi, agar semuanya seimbang," kata ustadz Ahmad.


"baiklah mas, sekarang lebih baik kita istirahat, dan tolong jangan pesimis, karena aku akan selalu mendukung mu," bujuk Dila.


"terima kasih, padahal waktuku sangat tersita untuk segalanya," Dila mengangguk.


keduanya pun bangun untuk ke kamar, tapi tak terduga ustadz Ahmad malam mengendong istrinya itu.


"mas aku berat loh," bisik Dila yang kaget.


"kamu sangat ringan dek, tolong buat hari-hari kami terus penuh tawa ya, karena kamu adalah kebahagiaan ku dan Fatin," jawab ustadz Ahmad.

__ADS_1


Dila pun mengangguk malu, Keduanya pun melewati malam dengan sangat nyenyak.


sedang di tempat lain, kedua pria itu sedang mabuk di sebuah kebun warga.


"eh anjrit, enak banget bro lama kita gak minum begini," kata Andi sambil mengacungkan botolnya.


"ya kamu benar, terlebih aku yang sudah belajar insyaf agar mantan istriku mau kembali padaku, tapi apa cih..." kata Hendra tertawa geli.


"kamu saja yang goblok, sudah tau Dila itu tak bisa di ulur, seharusnya perkosa saja, toh dia juga bekas istrimu," kata Andi yang sudah meracau.


"seharusnya ya, tapi tak seru lah, kamu kan tau bagaimana keluarganya," kata Hendra yang terus mengalir minuman haram tersebut.


"iya juga sih, tapi jujur saja, aku juga penasaran dengan rasa tubuh mantan istrimu itu, hingga membuat mu dan pria mati itu begitu bisa tergila-gila," kata Andi yang keceplosan.


"rasanya berbeda, tapi kenapa kamu bisa memiliki pemikiran kotor macam itu!" marah Hendra.


Andi melepaskan tangan Hendra, "santai bung, toh kamu juga bukan suaminya, karena tubuhnya yang mengkel membuatku sedikit penasaran saja," kata Andi tertawa.


"anjing lah, sudah ayo pulang, jangan sampai kita mati di sini setan, ayo ..." kata Hendra yang berdiri sambil sempoyongan.


pasalnya Keduanya sudah menenggak enam botol miras dan ciu.


bahkan mereka pun tertawa sambil berjalan dengan menabrak beberapa kali.


saat seperti itu, tanpa sadar mereka melihat sosok gadis yang mengenakan gamis panjang dengan jilbab panjang sebagai Dila.


Hendra mengucek matanya beberapa kali karena tak percaya, begitupun dengan Andi.


"anjing!! itu Dila," kata Andi yang langsung semangat meski tubuhnya sempoyongan.


"kamu benar, seret dia kita lakukan yang tadi kamu bilang, toh kapan lagi mencicipi istri ustadz terkenal bukan," kata Hendra yang sudah mabuk berat.


Andi pun langsung memeluk dan membekap mulut wanita itu, tapi perutnya di sikut hingga terlepas.


gadis itu kaget tapi saat ingin lari, tangannya di tarik oleh Hendra dan langsung di tampar hingga tersungkur pingsan.


"goblok lu, gitu kan dia diem," kata Hendra.


gadis itu tak mengira kedatangannya yang terlalu malam akan membuatnya menjadi petaka untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


apalagi harus bertemu dengan dua pria mabuk yang sedang kalut dan tak bisa berfikir jernih.


__ADS_2