Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 63_Tanpa Kekasih


__ADS_3

Author ikut nangis ngetik part ini guys... 😭 Mantan author ada yang meninggal karena kanker, jadi ingat dia.


Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸


Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


"Aryan, bertahanlah!" Ucap Tuan Indra dengan keras.


Pagi yang indah berubah menjadi pagi yang mencekam.


"Ingatlah kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah!"


"Aryan, bertahanlah!"


"Kamu harus tetap sadar! Tara membutuhkanmu Aryan!" Tuan Indra mencoba memberikan semangat untuk Aryan agar tetap terjaga.


Tuan Indra dan Tara mendampingi Aryan di dalam mobil. Dia tidak mengijinkan Nyonya Gita ikut mendampingi Aryan. Nyonya Gita mengikuti dari belakang dengan mobilnya.


"Kalau saja Aryan tidak memakan makanan itu duluan, pasti sekarang dia baik-baik saja."


"Pak Alan, cepat! Kita harus segera sampai ke rumah sakit." Tuan Indra menginstruksi sang sopir.


"Baik, tuan." Pak Alan berusaha konsentrasi dengan kondisi jalan dan berusaha ngebut agar segera sampai rumah sakit.


Tuan Indra menelepon kepala rumah sakit terdekat.


"Iya, halo tuan Indra, tumben sekali menelepon." Jawab Tuan Pranoto sang kepala sekaligus pemilik rumah sakit Setia Hati.


"Tolong, ini keadaan darurat, To. Aryan ku keracunan makanan, dia memerlukan penanganan yang cepat. Ini aku sedang ngebut menuju rumah sakit mu. Tolong Aryan ku!" Mohon Tuan Indra.


"Tenanglah! Aku akan membantu semaksimal mungkin. Aku akan segera menyuruh dokter kepala untuk segera bersiap menangani Aryan."


"Jangan biarkan Aryan kehilangan kesadaran, dia harus tetap sadar dan usahakan dia memuntahkan apa yang sudah dia telan, bersihkan mulutnya." Tuan Pranoto menginstruksi.


"Baiklah, aku tutup teleponnya. Terima kasih."


Tara sekuat tenaga menguatkan hati, mental dan pikirannya. "Papa, ingat mama dan calon baby kita. Kamu harus kuat, pa! Bukankah kamu ingin mendengar anak kita memanggilmu papa."


Tuan Indra memiringkan tubuh Aryan dan berusaha membersihkan mulut Aryan dari sisa makanan yang masih tertinggal di mulut.


Tuan Indra lanjut menelepon keamanan di kediamannya yang paling dia percaya.


"Halo, tuan." Jawab Pak Warsito dari seberang telepon.


"Cepat tangani yang di rumah!"


"Jangan sampai ada yang terlewat!"


"Amankan makanan dan minuman tadi dan cepat bawa ke rumah sakit untuk dicek di laboratorium!"


"Pastikan cek CCTV dan copy datanya jangan sampai ada yang mengambil barang bukti!"


"Lacak kurir yang mengirimkan makanan tadi!"


"Pastikan kamu menemukan siapa orang yang mengirimnya!" Tuan Indra memberi instruksi dengan rinci.


"Baik, pak. Siap laksanakan."


Mobil Tuan Indra sudah sampai ke rumah sakit, Aryan langsung dilarikan ke IGD. Para tenaga medis sudah siap bergerak cepat menangani pasien VVIP.

__ADS_1


"Tara, kamu pelan-pelan saja mengikuti dari belakang! Ingat kamu sedang hamil muda!" Teriak Tuan Indra.


Aryan langsung di bawa ke ruang gawat darurat. Kesadarannya semakin melemah, begitu pula dengan detak jantungnya. Perawat segera memberikan oksigen karena Aryan menunjukkan gejala kejang dan susah nafas. Dokter segera menangani Aryan, mengupayakan yang terbaik untuk keselamatan Aryan.


Nyonya Gita mendekat dan mencoba menenangkan Tara yang terus menangis takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Aryan. Tara justru menepis uluran tangan dari mama mertuanya.


"Saya hanya ingin sendiri, ma!" Pelan namun menusuk.


"Tara, mama juga tidak tahu mengapa makanan tadi membuat Aryan seperti ini." Mencoba menjelaskan dan membela diri.


"Harusnya kamu tidak memberikannya pada Aryan! Kalau Aryan sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah memaafkan kamu! Bentak Tuan Indra.


"Tapi makanan itu yang pesan Anand, pa! Aku pikir tidak akan terjadi apa-apa."


"Apa kamu yakin itu dari Anand?" Tuan Indra menyeret istrinya menjauh dari Tara.


"Kenapa kamu lakukan ini? Apa segitu bencinya kamu pada Aryan anakmu sendiri? Kenapa kamu hanya mencintai Anand saja?"


"Apa salah Aryan padamu? Apa karena dia lebih patuh padaku? Ibu macam apa kamu ini!" Tuan Indra sangat marah pada istrinya.


"Pa, percayalah mama tidak bermaksud mencelakai Aryan. Mama benar-benar tidak tahu apa-apa, mama pikir itu makanan biasa saja." Berusaha meyakinkan Tuan Indra.


"Kita tunggu bagaimana hasil uji laboratorium dari makanan tadi. Jika benar ternyata makanan itu bermasalah, aku tidak akan memaafkan kamu. Sebaiknya kamu pergi menjauh atau sebaiknya kita bercerai saja!"


"Papa, ini bukan kesalahanku, kenapa kamu menghukum aku? Aku tidak mau dicerai."


"Kita urus itu nanti!" Tuan Indra pergi mendampingi Tara.


Tuan Yoga dan Nyonya Lita Maheswari telah menemani Tara. Mereka harap-harap cemas menunggu Aryan yang sedang ditangani dokter. Satu sisi mereka bahagia karena mendapat kabar bahwa Tara hamil dan di sisi lain mereka sedih dan khawatir dengan keadaan Aryan.


Tiga orang dari team keamanan Cakra Wangsa datang ke rumah sakit dan mengawal pemeriksaan sisa makanan dan minuman yang membuat Aryan keracunan. Team laboratorium berusaha secepat mungkin menguji makanan dan minuman itu. Hanya dalam waktu 20 menit team laboratorium sudah mendapatkan hasil. Diam-diam team keamanan memberitahukan hasil uji itu pada Tuan Indra. Wajah Tuan Indra pucat bagaikan nyawa telah di ujung tanduk. Belum sempat Tuan Yoga bertanya pada Tuan Indra, tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD. Semua berdiri dan menyerbu sang dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Panik karena melihat wajah sang dokter yang begitu suram.


"Mas Aryan…" Tara limbung, beruntung dengan sigap Nyonya Lita dan Tuan Yoga menopang Tara.


"Apa yang kamu katakan! Pasti kamu salah! Periksa sekali lagi!" Tuan Indra emosi dan membentak sang dokter.


Tuan Indra menerjang masuk ke ruang UGD dan mendapati Aryan yang terbujur kaku.


"Aryaaan…" Teriak Tuan Indra frustasi.


"Tidak mungkin, Aryan ku meninggalkan aku begitu saja."


"Bangun! Kamu harus bangun!"


"Sebentar lagi kamu akan menjadi papa! Kamu adalah calon CEO Cakra Wangsa, kamu tidak boleh pergi, Aryan!" Tuan Indra mengguncang tubuh Aryan yang telah kaku.


Tara mendekati Aryan. "Papa, ganteng ku! Papa bercanda kan?" Tara tidak bisa menerima kenyataan.


"Bangun, pa! Jangan becanda! Mama takut, pa!" Tara menangis memeluk Aryan.


"Pa, cepat bangun! Anak-anak mencari kamu, pa!" Tara terus berharap Aryan kembali bangun.


"Apa yang terjadi pada Aryan? Jelaskan padaku!" Perintah Tuan Indra pada dokter yang menangani Aryan.


"Aryan mengalami gagal nafas dan gagal jantung. Sepertinya jumlah racun yang menyebar ditubuhnya cukup banyak." Papar sang dokter.


"Orang gila mana yang berani meracuni Aryan ku, akan ku pastikan dia akan membayarnya dengan mahal!" Tuan Indra geram.


"Kamu yang memberikan makanan tadi pada Aryan! Kenapa tidak kamu saja yang makan sendiri? Pasti kamu sudah tahu jika makanan itu beracun, iya kan!" Tuan Indra membentak Nyonya Gita.


"Ndra, kamu harus tenang, kita harus mengurus Aryan dan Tara. Sebaiknya kita selesaikan masalah ini setelah kita mengurus Aryan dan Tara." Tuan Yoga mengingatkan.


"Papa Aryan…" Bisik Tara ditelinga suaminya.

__ADS_1


"Aku akan menjaga buah cinta kita, aku hanya akan mencintaimu seumur hidupku. Aku akan membesarkan anak kita seorang diri, aku akan ingat semua pesan darimu. Aku mencintaimu, mas Aryan." Tara berusaha tegar walau air mata terus membasahi pipinya.


Semua yang ada di situ tidak kuat melihat Tara. Mereka ikut merasakan sesak di dada karena kehilangan orang terkasih. Tuan Indra limbung dan dengan sigap Anand datang menopang papanya.


"Pergi…! Aku tidak membutuhkanmu, aku butuh Aryan." Membentak Anand.


"Kamu penyebab kematian Aryan, kamu yang sudah membunuh Aryan!" Tuan Indra kehilangan kendali dan memukul Anand dengan membabi buta.


Tuan Yoga dan team keamanan Cakra Wangsa berusaha menghentikan Tuan Indra yang mengamuk.


"Ndra, sadar Ndra! Belum tentu Anand yang salah, ini pasti ulah musuhmu!" Tuan Yoga berusaha menyadarkan Tuan Indra.


"Aryanku…" Tangis Tuan Indra pecah.


"Tara, kamu harus menjaga anak Aryan yang sedang kamu kandung. Dia harapan papa satu-satunya." Di sela isak tangisnya Tuan Indra teringat anak Aryan yang sedang Tara kandung.


Sore itu juga Aryan dikebumikan. Isak tangis Tara begitu menyayat hati. Tara enggan meninggalkan pusara Aryan hingga gerimis datang membasahi bumi seolah-olah ikut menangis bersama Tara.


"Sayang, ayo pulang! Pikirkanlah anak dalam kandunganmu!" Nyonya Lita mengajak Tara pulang.


"Tapi mas Aryan sendirian di sini, ma." Protes Tara.


"Apa kamu tidak kasihan dengan anak yang Aryan berikan padamu? Pasti Aryan ingin anaknya selamat dan terlahir di dunia ini dalam keadaan sehat." Nyonya Gita menasehati.


Anand hendak mendekati Tara untuk menghiburnya, namun Tara justru menghardiknya.


"Pergi kamu dari hadapanku! Kamu yang menyebabkan kematian mas Aryanku!" Teriak Tara penuh emosi.


Sontak perhatian para pelayat tertuju pada Anand dan mereka semua mulai kasak-kusuk.


"Tara, aku sudah bilang kan! Bukan aku yang memesan makanan itu, mana mungkin aku berusaha meracuni saudara kembarku sendiri." Anand mencoba membela diri.


"Kamu tidak pantas disebut saudara, apa kamu sudah lupa dengan apa yang kamu lakukan padaku waktu itu?" Kata-kata Tara memukul Anand dengan telak.


Hujan sedikit lebih deras, akhirnya Nyonya Gita berhasil membujuk Tara untuk pulang. Nyonya Gita menemani Tara di kediaman Aryan Cakra Wangsa.


Tara tertegun sendirian di kamar. Seminggu ini kehidupannya dengan Aryan terasa hangat dan penuh romantisme, bahkan Aryan bersedia bekerja dari rumah karena Tara merengek tidak mau ditinggal.


"Papa…" Air mata seakan tiada habisnya menetes dari kedua mata Tara.


"Bukankah mas Aryan senang dipanggil papa? Lalu kenapa kamu ninggalin mama sendirian?" Mengelus bantal yang biasanya Aryan gunakan.


Malam yang dingin berselimutkan gerimis begitu menyayat hati yang dirundung duka. Kekasihnya pergi untuk selamanya, bagaimana dia akan melepas kerinduan yang membunuh ini.


"Langit begitu gelap, hujan tak juga reda. 'Ku harus menyaksikan cinta ku terenggut tak terselamatkan."


"Ingin ku ulang hari, ingin kuperbaiki. Kau sangat kubutuhkan, beraninya kau pergi dan tak kembali."


"Di mana letak surga itu? Biar kugantikan tempatmu denganku. Adakah tanda surga itu? Biar kutemukan untuk bersamamu."


"Kubiarkan senyumku menari di udara, biar semua tahu kematian tak mengakhiri cinta."


"Apalah artinya hidup tanpa kekasih ku. Percuma aku ada di sini."


................


Bagaimana hasil laboratoriumnya? Kira-kira apa yang membuat Aryan sampai kehilangan nyawa?


Siapa yang telah mengirim makanan beracun?


Siapa sebenarnya yang ingin mereka racuni? Apakah benar mereka ingin meracuni Aryan?


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.

__ADS_1


__ADS_2