Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 16_Cemburu


__ADS_3

Bayi menangis meminta makan


Diberi lauk sayur biar tambah sehat


Reader berikanlah author dukungan


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Tara tidak sempat mengganti bajunya, dia masih mengenakan baju yang dipakai pemotretan. Dengan cepat Tara membetulkan make-up dan rambutnya, dia menyambar kardigan panjang yang ada di ruangannya. Tara lewat pintu samping agar tidak bertemu dengan Karan. Tara memang sempat mengagumi Karan, namun sepertinya Karan berharap lebih.


"Mas Aryan, maaf nunggu lama ya?" Tara menghampiri Aryan yang menunggu di samping mobilnya.


"Buat kamu, aku rela nunggu selama apapun, cuma beberapa menit. Aku sudah menunggumu sejak dulu."


"Wow... Aku jadi merasa bersalah," Tara pasang tampang sedih.


"No! Ini bukan salahmu, cantik, memang kamu layak untuk ditunggu."


"Kamu mulai gombal lagi, mas," Tara tersipu.


"Bukan gombal, aku 'kan sudah pernah bilang, kamu tidak boleh kaget lagi karena ini sudah saatnya."


"Saatnya buat apa, mas?"


"Saatnya menunjukkan cintaku padamu. Aku sudah tak bisa berlaku jaga image atau sok cool di depanmu."


Aryan membukakan pintu, "Silakan masuk ratuku."


Aryan segera masuk ke mobilnya dan mulai memacu mobilnya menuju tempat makan.


"Mau makan dimana, mas?" Tanya Tara.


"Malam itu aku sudah mengikuti makan di tempat kesukaan kamu. Sekarang kamu harus nurut sama aku, terserah aku mau makan dimana."


"Ih... Kok mas Aryan gitu sih?"


"Masa kamu sudah secantik itu mau ku ajak makan di pinggir jalan, yang ada kamu dikira artis nyasar."


"Nurut aja sama mas," Aryan tersenyum lembut.


"Wow... Jantungku berhenti berdetak melihat senyum kamu, mas." Tara memegang dadanya sambil tertawa.


"Kamu ini... Meledekku terus." Aryan pura-pura merajuk.


"Beneran, mas manis banget sih kalau senyum, bikin cewek-cewek pada klepek-klepek loh!" Tara terus menggoda


"Apa iya? Tapi nyatanya kamu nggak klepek-klepek tuh." Tanya Aryan serius.


"Ha... ha... ha... Yang penting jangan senyum seperti itu di depan wanita lain mas!"


"Yes, kamu cemburu?" Aryan kegirangan.


"Ha... ha... ha... Nanti hati mereka langsung patah, mas, kasian."


"Kamu ini... Aku kira cemburu. Padahal aku senang kalau kamu cemburu." Aryan sedih.


"Ngapain capek-capek cemburu, aku percaya sama mas Aryan."


"Bukankah cuma aku yang ada di hatimu?" Ucap Tara dengan penuh percaya diri. Tara membuka kardigannya karena gerah.

__ADS_1


"Wow... Kamu tidak jadi ganti baju Tara?" Aryan kaget.


"Sengaja biar terlihat cantik di depanmu, mas. Kita belum pernah kencan dengan benar." Bohong Tara. Padahal dia tak mengganti baju karena tergesa-gesa.


"Aku sudah pesan private room untuk kita. Nanti sebelum turun dari mobil kamu harus pakai kardigan lagi!" Aryan mulai protektif.


"Ini baju yang aku pakai pemotretan tadi, mas. Besok kalau sudah launching iklan dan katalognya, semua orang juga akan lihat." Terang Tara.


"Yang penting mereka tidak melihat secara langsung kecantikan kamu, cukup dari foto aja." Aryan posesif.


"Kamu harus tahan itu semua, mas, karena sebentar lagi aku akan benar-benar debut dan menunjukkan kepada dunia, siapa aku ini." Pinta Tara.


"Apa mas Aryan keberatan dengan semua ini?" Tanya Tara.


Aryan mengingat lagi ucapan Gala. "Aku tahu itu sudah resiko punya calon istri yang cantik dan terkenal."


"Memangnya siapa yang mau jadi istri mas Aryan?" Tara tersenyum.


"Kamu ini menggodaku terus ya... Kamu senang sekali menggodaku."


"Dilamar aja belum, masa udah bilang calon istri." Tara memberikan kode.


"Oh, jadi ada yang pengen aku lamar nih." Goda Aryan.


"Nggak, nggak ada."


Aryan gemas dan mencubit pipi Tara dan mengelus kepalanya. "Duh... Gemes banget deh."


"Maaasss... Kalau make up-ku dan rambutku berantakan gimana? Entar nggak cantik lagi." Tara cemberut.


"Kamu, tetaplah cantik dan selalu cantik buatku."


"Mas Aryan juga selalu ganteng buatku."


Aryan terdiam tak mampu lagi berkata-kata, pipinya merona karena tersipu.


Tara mengirim pesan ke Gala. "Gala, nanti malam Kamu harus mentraktirku sate plus jagung bakar seperti biasanya di taman."


Gala tersenyum membaca pesan Tara dan segera membalasnya. "Sepertinya kamu tak bosan makan di sana. Apa kamu tidak mau makan malam romantis denganku?"


"Di bawah sinar rembulan, duduk di taman sambil makan sate atau jagung bakar, itu suasana romantis yang ku harapkan, sesederhana itu sudah cukup."


"Bukankah saat ini mas Aryan membawamu ke restoran mewah? Mungkin dia juga sudah pesankan private room."


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tara kaget.


"Aku tahu segalanya tentangmu. Apa kamu tak ingin aku membawamu ke restoran mewah juga?"


"Kamu jangan tersinggung. Aku lebih nyaman makan di taman bersamamu. Kamu tahu sendiri aku bagaimana 'kan?"


"Sudah ya, pokoknya nanti malam kamu wajib bawa aku ke taman, kalau nggak!!!"


"Iya ratuku." Tara tersenyum melihat balasan dari Gala.


"Kamu senyum-senyum sendiri, sedang kirim pesan ke siapa?" Kepo Aryan.


"Ha... ha... ha... Ini Gala sedang mengatasi Karan." Tara berbohong.


"Karan sepertinya suka padamu." Aryan berubah mood karena cemburu mengingat pose Karan dan Tara.


"Mas Aryan cemburu?"


"Nggak, 'kan harus profesional."


"Jadi bener nih nggak cemburu?"

__ADS_1


"Kamu ini... Aku selalu kalah darimu, aku memang cemburu." Aryan terus terang.


"Aku melihat pose terakhirmu dengan Karan."


Tiba-tiba Tara mencium pipi Aryan sekilas. "Apa masih cemburu, mas?"


"Nggak, sudah padam dalam sekejap." Aryan tersenyum bahagia.


Mereka telah sampai di restoran, Aryan pun membukakan pintu untuk Tara. Pelayanan langsung menyambut mereka dan mengantarkan ke private room yang Aryan pesan. Makanan pun sudah selesai disiapkan dan pelayan pun meninggal mereka berdua menikmati makan siang romantis.


"Wow...Mas Aryan sudah persiapan ya?"


"Gimana kamu suka nggak?" Aryan menggandeng tangan Tara.


"Suka, mas, tempatnya juga nyaman."


"Apa Anand juga mengajakmu bertemu?"


"Belum, mas, memangnya kenapa?"


"Aku kira dia juga akan mengajakmu kencan."


"Ha... ha... ha... Mas Aryan takut kalau aku pergi dengan mas Anand?"


"Kamu jangan bercanda terus dong! Wajar dong aku takut atau cemburu, secara dari segi wajah kami mirip banget."


"Beda dong, mas!"


"Beda dari mana, orang-orang sering salah panggil."


"Beda, mas, sekarang aja beda 'kan?Jambang kamu lebih lebat dan aku pun tak peduli meskipun dia mirip dengan mas Aryan."


"Kamu tidak menyukai Anand?"


"Aku tidak bilang kalau aku tidak menyukainya."


"Mungkin lebih tepatnya, aku tidak perlu menghabiskan energi untuk tidak menyukainya."


"Aku tak paham maksudmu."


"Kalau aku jelaskan, mas Aryan akan kecewa dan marah pada mas Anand dan aku tak mau itu terjadi."


"Maksudnya? Ala dia melakukan hal buruk padamu dan aku tidak tahu?"


"Tidak, dia tidak pernah berbuat buruk padaku."


"Lalu apa yang dia lakukan? Please, ceritakan padaku." Pinta Aryan.


"Aku janji tidak akan marah-marah pada Anand." Janji Anand.


"Aku tidak yakin, bukankah mas Aryan marah saat mengetahui perlakuannya padaku dulu sebelum mengenalku."


"Jika dia tidak melukaimu, aku tidak akan marah."


"Okay, akan aku ceritakan, tapi aku lapar."


"Maaf, karena penasaran malah lupa."


"Makan dulu, mas. Aku nggak mau kalau mood kita berubah dan jadi malas makan."


"Sepertinya bukan cerita yang bagus." Aryan menerka.


Mereka pun makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan cerita tentang Anand. Sebelum mood berubah buruk, lebih baik makan terlebih dahulu bukan?


...............

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.


__ADS_2