
Dila sedang di kantor bersama Anisa, dia sedang sibuk mengatur semua pengeluaran dari yayasan yang biasanya di pegang ustadz Ahmad,kini menjadi tanggung jawabnya.
sedang Anisa bermain dengan Fatin yang terus aktif merangkak dan serba ingin tau.
"nanti jam sepuluh kita harus mengisi PKK, sedang urusan pondok serahkan pada Ayas dan kulsum, tak masalah kan?" tanya Anisa pada Dila.
"tak apa-apa, apa mbak yakin mau ikut, takut nanti kamu kepanasan mbak," kata Dila yang takut terjadi sesuatu dengan Anisa.
"tenang saja, dokter bilang aku harus terus bergerak agar tak menjadi masalah saat nanti ingin melahirkan bayi ku," kata Anisa tersenyum.
"baiklah, kalau begitu untuk di kelurahan dekat dengan yayasan, jadi kita bawa mobil saja ya, karena begitu banyak barang yang nanti di bawa," kata Dila
"baiklah, terserah kamu saja, aku mah ikut saja," jawab Anisa.
"aduh Fatin, kenapa kamu membuat berantakan, nanti kasihan mbak Anisa loh," kata Dila yang melihat putrinya itu.
"tak apa-apa umi," kata Anisa.
"jangan panggil umi mbak, panggil ibu saja, karena bagaimanapun umi Fatin tetap mbak Khadijah," kata Dila lirih.
"kenapa begitu, kamu tak menerima Fatin?" tanya Anisa penasaran.
"bukan begitu, dari kecil impian ku itu di panggil ibu,bukan tang lain karena itu terasa lebih merakyat saja," kata Dila tersenyum.
"kamu memang unik Dila," kata Anisa.
Dila pun tersenyum, di tempat lain ini Chasanah mengajak ibu Salwa mengikuti pengajian pagi bersama ustadz Ahmad.
sedang Hendra membantu beberapa pemuda yang bekerja di yayasan untuk menyiapkan kegiatan untuk Dila dan Anisa nantinya.
di garasi pondok ada sebuah mobil yang sempat mencuri perhatian dari Hendra.
karena mobil itu milik Dila yang sekarang menjadi mobil dinas dari suaminya.
__ADS_1
pengajian berakhir dan ustadz Ahmad akan pergi mengisi acara di luar kota, dan semua kebutuhannya sudah disiapkan oleh Dila di mobil.
Dila berjalan bersama dengan suaminya menuju garasi, karena dia juga harus ada acara di luar.
"mas hati-hati ya, dan ingat jangan lupa makan dan makan buahnya, kalian berdua juga, dan jangan biarkan ustadz terkenal ini lupa akan dirinya karena terlalu sibuk," pesan Dila pada ustadz Ilham dan juga Ryan anak asuh yang selalu ikut ustadz Ahmad.
"baik umi," jawab Ryan.
"bukan umi Ryan, ibu panggil aku ibu seperti halnya Fatin nantinya," kata Dila tersenyum di balik cadarnya.
"maaf ibu, saya belum terbiasa, kalau begitu kami pamit," kata tuan yang sedang mengendong Fatin.
Dila mencium tangan ustadz Ahmad, dan ustadz Ahmad memberikan hadiah kecupan di keningnya.
begitupun dengan ustadz Ilham, bahkan pria itu berdoa di depan perut istrinya yang masih rata.
mereka bertiga pun pergi dengan mobil milik Dila, dan kini Dila juga sudah mulai berangkat untuk mengisi acara PKK.
"umi kami pamit, ibu Salwa mari ...."
"Dila?" tanya Hendra.
"iya, itu nama istri ustadz Ahmad," jawab umi Chasanah yang melihat mobil itu pergi.
tapi sebuah telpon membuatnya pamit menerimanya, "permisi saya ada telpon penting," pamit Hendra.
dia mencari tempat sepi dan langsung mengangkat pangilan itu, "assalamualaikum Vivi ada apa?" tanya Hendra.
"waalaikum salam, kamu dimana? aku mau memberikan undangan pernikahan ku," kata Vivi dengan senang.
"baiklah, nanti aku ambil cuti untuk mendatangi pesta mu itu, oh ya apa ada sesuatu lagi nyonya?" tanya Hendra dengan tawa.
"apa kamu tau jika bapak dari Dila meninggal dunia?" tanya Bu i dengan lirih.
__ADS_1
"apa? pak Yono mantab mertuaku?" kaget Hendra.
"iya kemarin aku menelpon Dila dan dia bilang baru sekitar sepuluh harian dari meninggalnya sang bapak," kata bibi yang berhasil membuat Hendra syok.
"kenapa berita besar seperti ini tak ada yang mengabarkan padaku," kata Hendra sedikit menyesal karena belum sempat bertemu lagi.
"aku juga tak mengerti mas Hendra,Dila setelah kematian suaminya Andri begitu tertutup, bahkan padaku dan iim dan hanya satu orang tang tau kenapa bisa begitu, yaitu Dila sendiri dan keluarganya," jawab Vivi.
"iya kamu benar, nanti aku coba untuk menghubunginya lagi, dan jika perlu aku akan datang ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa," kata Hendra.
ibu Salwa melihat Hendra dari jauh, "kenapa by, jatuh cinta dengan supir mu?" tanya umi Chasanah menggoda Bu Salwa.
"tidak kok umi, itu tak mungkin saya sudah tua," kata Bu Salwa.
"tidak kok,kamu masih muda dan berhak bahagia, terlebih masih cantik begini terus pengusaha juga," kata umi Chasanah.
"tidak mungkin dong umi, anda membuat ku malu saja," kata Bu Salwa malu-malu.
sedang Hendra nampak serius. dan datang menemui dua wanita yang sedang santai di pendopo.
"nyonya, bolehkah saya cuti seminggu mulai Minggu depan karena ada acara keluarga, dan saya dan ibu saya harus pulang," tanya Hendra.
"tentu, kamu sudah hampir setahun ini tak pernah libur, apa kamu butuh sesuatu yang lain bilang saja aku akan membantu," kata Bu Salwa.
"tidak ada nyonya, libur sudah cukup, terlebih urusan kali ini sangat penting dan tak bisa di tinggal," kata Hendra.
Dila dan Anisa sangat menikmati kegiatannya bersama ibu-ibu, bahkan Dila begitu cekatan meski sambil mengendong Fatin di punggungnya.
mereka sedang membuat beberapa alat hidroponik untuk lahan sempin, dan yang bisa di gunakan untuk timpang sari kolam lele dan juga untuk perkembangan dari sayur hidroponik.
tak hanya itu, Dila juga mengajari untuk membuat masakan yang bisa di jual dengan harga yang lumayan.
"mbak Dila begitu cekatan dan sangat pintar, ya Allah beruntung di yayasan ada mbak Dila," puji Bu lurah.
__ADS_1
"Alhamdulillah Bu, ilmu yang aku miliki bisa berguna untuk semua orang, dan membantu untuk memperbaiki perekonomian semua warga, dan tolong jangan buang gedebong pisang karena bisa di kripik, jadi kita gunakan apa yang di sediakan oleh alam," kata Dila tersenyum.
"baik mbak Dila," jawab semuanya