
Dila dan Vivi masih berbincang, sedang ustadz Ahmad dan yang lain mencari mushola untuk sholat dhuhur.
"apa ini gadis yang membantumu sembuh Dila?" tanya Vivi antusias.
"iya, dia putriku, dia segalanya, dan karena dua juga aku mendapat cinta lagi," kata Dila malu-malu.
"wah gak sangka kamu istri dari ustadz Sulaiman Ahmad, pasti kalau tau nih Iim pasti kecewa," kata Vivi tersenyum.
"tapi dimana dia? kok belum kelihatan?" tanya Dila mencari sosok temannya itu.
"dia sedang di malang, mungkin nanti malam baru pulang dan kesini," jawab Vivi.
"ya sayang kita tak bisa betemu, soalnya aku harus pulang sebentar lagi, karena nanti malam ada acara dan mas Ahmad harus mengisi acara tersebut," terang Dila.
"wah sekarang super sibuk ya, kamu tak ingin menyapa mas Hendra dan yang lain," tanya Vivi yang sempat melihat kekecewaan dari Hendra tadi.
"maaf aku harus izin suamiku dulu, karena aku tak ingin menjadi salah paham, dan sepertinya tak akan bisa waktunya kamu pulang, maaf perjalanan ke rumah memakan banyak waktu," pamit Dila buru-buru.
Fatin masih tenang di gendongan Dila, Ryan menjemput keduanya karena ustadz Ahmad sedang berbincang dengan keluarga pengantin.
saat Dila ingin pergi, Hendra dan abdi menahannya, "maaf mas-mas kami harus pergi, tolong jangan menghalangi jalan," usir Ryan.
"aku ingin bertanya sesuatu padanya, sebentar saja," kata Hendra melihat Dila dengan tatapan mata yang begitu dalam.
"maaf ... tapi tak bisa aku harus pergi, suamiku sudah menungguku," lirih Dila yang menunduk.
"kenapa, kenapa kamu mempermainkan ku, padahal aku sudah meminta mu untuk menerima ku kembali sebagai suamimu bukan!!!!" teriak Hendra yang membuat kaget semua orang.
"tolong berhenti, kamu menakuti putriku, dan membuat malu," kata Dila yang menenangkan Fatin yang menangis karena kaget.
"bagaimana bisa kamu menyuruhku tenang, kamu itu pembohong Dila, kamu menikah dengan pria itu karena kamu mandul dan tak bisa punya anak sendiri bukan!!" kata Hendra yang makin menjadi.
"tolong hentikan, kamu membuat malu ibu kami, jangan sampai aku memukulmu," kata Ryan tak terima.
"kau itu hanya anak yatim-piatu, tutup mulutmu," kesal Hendra.
"seharusnya anda yang tutup mulut anda, berani sekali menghina istri dan anak asuh ku," marah ustadz Ahmad
"kau-"
__ADS_1
"cukup Hendra, hentikan dan jangan buat keributan di pesta ku, inilah yang membuat mu kehilangan milikmu karena keegoisan dan juga sikap buruk mu," potong Ridwan yang tak bisa tinggal diam.
"lebih baik introspeksi diri, dan jangan berani menganggu istriku, karena jika tidak aku akan membuat perhitungan dengan mu," kata ustadz Ahmad yang kemudian pergi dari sana.
Andi hanya melihat saja, toh dia masih penasaran dengan Dila, tapi dia bukan pria bodoh seperti Hendra.
"kenapa kamu menghalangiku, dia itu selalu mempermainkan ku," marah Hendra pada Ridwan.
"apa mas Hendra lupa, kamu yang melukainya begitu dalam, dia berusaha bangkit dan dengan mudah kau memintanya kembali masuk ke dalam jurang luka itu, kau itu munafik mas, saat kau bersama Dila apa yang kamu berikan? tak ada satu pun kebahagiaan, bahkan kamu terus melukainya," kata Vivi yang tak bisa lagi tinggal diam.
Dila pun berhasil membuat Fatin diam, sedang ustadz Ahmad masih nampak marah.
"maafkan aku mas, seharusnya aku jujur jika pria itu adalah mantan suami pertama ku," kata Dila lirih.
"ya itu bukan salahmu karena pria itu yang tak tau malu, maafkan aku yang sedikit terbawa emosi tadi," kata ustadz Ahmad merangkul Dila.
"Bu ... Bu ..." kata Fatin menyentuh pipi Dila
"iya nak, tapi coba sebut Abi .." kata Dila.
"pa ... pa ...."
ustadz Ilham dan Ryan saling lirik, setidaknya ustadz Ahmad tidak menjadi tergesa dan langsung marah.
"ustadz jadi kangen mbak anisa ya?" tanya Ryan.
"iya nih, istriku yang bawel dan cerewet itu selalu membuatku rindu," jawab ustadz Ilham tersenyum malu.
"lah kenapa bisa, masak punya istri cerewet itu menyenangkan, bukannya bikin ilfil ya, kata anak-anak gitu," kata Ryan.
"bener kok, lagi pula istri cerewet itu tandanya dia itu sayang dan perhatian sama kita, eh kita berhenti beli oleh-oleh," kata ustadz Ilham menepuk bahu Ryan.
"iya ustadz, iya ...." jawab pria itu kaget.
ustadz Ahmad dan Dila menunggu di mobil, sedang yang turun hanya ustadz Ilham dan Ryan.
Dila ingat jika tak membawa cemilan milik Fatin, "mas aku ke minimarket sebentar ya, untuk membeli cemilan khusus milik Fatin ya," pamit Dila.
"baiklah, hati-hati ya," kata ustadz Ahmad.
__ADS_1
"ya Allah mas ku sayang, minimarketnya ada di depan mobil kita," jawab Dila tertawa.
Dila pun bergegas pergi dan membeli cemilan di minimarket itu, tak terduga Andi ternyata mengikuti mobil mereka.
"kau di biarkan sendiri, mana suamimu itu?" kata Andi di samping Dila.
"mau apa kamu, jangan mendekat ke arahku," kata Dila yang sedikit kaget.
"kenapa tak jawab, kamu malu karena suamimu itu tak sepenuhnya mencintaimu, tapi hanya membutuhkan mu," kata Andi terus membuat dila bimbang.
Dila tak perduli, dia terus mengambil apa yang dia butuhkan, setelah selesai Andi terus mengikuti Dila hingga ke arah kasir.
saat giliran belanjaan Dila di hitung, dengan santai Andi berteriak "mbak k*nd*m lima!"
semua orang kaget, Dila pun menoleh kearah pria itu, "mau di jadikan satu dengan istrinya tuan?"
"dia bukan suamiku, dan aku tak mengenalnya, orang mesum ..." kesal Dila yang langsung pergi dan tak menunggu kembaliannya.
"kamu menarik Dila," kata Andi yang mengejar Dila.
saat dia membuka pintu mobil Andi melempar benda itu ke dalam dan tepat di pangkuan ustadz Ahmad.
"semoga barang mu bisa berdiri, setidaknya untuk memuaskan istrimu!" kata Andi tertawa.
Dila pun marah mendengar ucapan pria itu, sedang ustadz Ahmad yang mengambil benda itu pun tercengang melihatnya.
Dila pun masuk tanpa bicara lagi, "apa kamu mengenalnya?"
"dia itu sahabat mas Hendra dan mas Ridwan, dan orang yang paling menyebalkan di dunia, lebih baik aku buang mas benda itu," kesal Dila.
"tidak perlu, ini adalah benda yang dia berikan padaku, anggap saja kita menerima hadiah,"jawab ustadz Ahmad.
"baiklah terserah mas saja," jawab Dila tak bisa menolak.
padahal ustadz Ahmad sadar jika sedang di hina oleh teman hendra itu,tapi dia harus tenang karena dia tak boleh terbawa amarah.
ustadz Ilham dan Ryan segera kembali mereka pun melanjutkan perjalanan menuju yayasan.
sesampainya di yayasan sudah sore hari, Anisa langsung menyambut kepulangan suaminya itu.
__ADS_1
"mas akhirnya pulang," sapanya dengan lembut.