Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_kamu istriku


__ADS_3

"apa kamu Fatin?" tanya Mahi mengejutkan semua orang.


"minggir,anda salah orang, aku bukan Fatin," katanya mendorong Mahi


tapi Mahi mengenali suara dan mata milik istrinya itu, "jangan bohong, meski wajah mu berubah, tapi suara dan mata itu milik istriku,"


"dasar pria gila, minggir!" bentak Fatin mendorong Mahi.


Feby pun tau jika tak mudah jadi Fatin, terlebih atas hinaan yang di berikan Husain terakhir kali.


"bukankah kemarin kami mengaku menjadi neng Fatin,kenwoa sekarang kamu tidak mengiyakan, kamu hanya seorang penipu," kata Husain dengan keras.


"tutup mulut mu,kau tak berhak menghinanya, mau dia neng Fatin atau bukan," kesal Feby.


"jawab aku, kamu Fatin atau bukan," tanya Mahi yang masih belum mau menyerah.


Fatin mulai tak sanggup berbohong, tapi dia tak sanggup untuk mengiyakan, pasalnya dia sudah terlalu sedih.


"baiklah, jika kamu bukan Fatin, aku akan membunuhnya disini, buat apa dia hidup tapi seperti manusia tanpa jiwa," kata Hendra yang langsung menarik putranya.


Mahi pun terus melihat sosok wanita yang dia anggap itu Fatin. Hendra meminta mahi untuk duduk di berlutut.


"mbak Fatin dia benar-benar ingin membunuhnya," panik Feby melihat Hendra yang mengambil sebuah pedang dari mobil Farhan.


"lebih baik kamu mati Mahi, setidaknya kamu bisa bertemu istrimu di surga nantinya," kata Hendra yang mulai mengayunkan pedang itu.


sekuat tenaga Fatin berlari dan menahan pedang itu dengan keduanya tangannya.


"jangan melakukan itu, aku sudah terluka dengan wajah ini, dia merubah segalanya, aku takut kalian tak bisa menerima ku...." tangisnya pecah.


beruntung pedang itu tumpul dan tak melukai Fatin sampai parah, "kenapa kamu harus berbohong, aku akan percaya jika kamu bicara dan menemuiku," kata Mahi dengan tegas.


"bagaimana bisa, Husain yang tinggal bersama ku dari kecil yang juga saudaraku saja tak percaya jika aku adalah Fatin, bagaimana dengan mu dan keluarga yang lain juga," jawab Fatin.


"sebenarnya kami menemukan bukti jika pria brengsek itu melalukan sebuah Operasi di rumah sakit tempat mu di rawat, dan kebetulan berkas juga di temukan, ada foto lama dan wajah baru mu," kata Farhan.

__ADS_1


Husain pun tak mengira dengan hal itu, "tunggu dulu, apa maksudnya ini? terus mayat yang kita kubur itu?" tanya Dila yang belum mengerti Semuanya.


"sejujurnya beberapa hari lalu, kami menemukan penculik Fatin, Mahi menghajarnya sampai pria itu berkata jujur jika Fatin belum meninggal, dan mayat itu mayat orang lain, aku meminta bantuan Farah dan Fathan, dan berhasil menjebloskan Wihandoko yang kejam itu, dan kami juga tau jika pria itu menculik Fatin ingin menjadikan Fatin miliknya, dan itulah kenapa wajah Fatin di ubah agar kita tak bisa mengenalinya," terang Hendra dengan singkat.


"terus bagaimana bisa kamu berakhir disini?" tanya Dila yang masih nampak syok.


"aku Jabir, aku bertemu Feby dan Gadis itu menolong ku dan memberikan aku tempat tinggal," jawab Fatin.


"ya Allah putri umi ..." tangis Dila yang kemudian datang memeluk Fatin.


"umi... Fatin merindukan mu," tangis keduanya pecah.


akhirnya Fatin di minta untuk berganti baju oleh Dila, dan mereka akan pulang bersama.


terlebih ustadz Ahmad pasti akan sangat bahagia jika tau putri pertamanya sudah kembali.


Dila memeluk Feby dan mengucapkan terima kasih, dan untuk masalah lamaran, Dila tidak bisa mengatakan karena harus membicarakan hal ini dengan ustadz Ahmad.


Feby juga berpamitan dengan fatin, keduanya sudah sangat dekat terlebih bagi Feby, Fatin sudah seperti kakaknya meski baru beberapa hari bertemu.


"baiklah mbak, nanti tinggal telpon saja, aku pasti akan datang," jawab Feby.


mereka semua pun pulang, tangan Fatin juga sudah di obati, meski hanya luka ringan.


tapi mahi takut akan terjadi sesuatu pada istrinya itu, Mahi terus merangkul istrinya itu tanpa mau melepaskannya.


Hendra pun senang bisa menemukan Fatin, terlebih wanita itu adalah hidup dari putranya.


rombongan itu sampai di area pondok pesantren Miftahul Jannah, mobil pun terus menuju ke rumah ustadz Ahmad.


terlihat ada Rosita dan nela yang ada disana, bahkan Mela dan Husna nampak begitu akrab.


semua orang turun, begitupun nahi yang mengandeng tangan Fatin, karena dia bercadar, jadi Mela dan Husna tak bisa melihat wajah Fatin.


"ada apa ini ayah? siapa wanita yang di bawa Mahi," tanya Mela

__ADS_1


"dia adalah gadis yang di cintai putra mu, jadi berhenti memikirkan hal gila itu," marah Hendra.


"tenang mas Hendra, jangan dahulukan emosi mu, ingat dengan tekanan darah tinggi yang kamu miliki," kata Dila.


"maaf, aku selalu lepas kendali belakangan ini,jadi bunda, berhentilah mengutarakan keinginan mu yang ingin menikahkan putra mu dengan Husna," kata Hendra melemah.


"tapi bagaimana bisa secepat ini, bukankah kemarin mas Mahi bilang tak ingin menikah dengan ku?" tanya Husna.


"apa, kenapa mas Mahi harus menikah dengan Husna? apa yang sudah kalian perbuat?" tanya Fatin kaget.


bahkan dia melepaskan genggaman tangan Mahi, "tidak sayang, aku tak pernah berhubungan dengan siapapun setelah tau kabar kematian mu, aku terjatuh dalam kesedihan dalam, dan itu hanya permintaan Husna sepihak yang ingin mengantikan neng-nya," jawab Mahi.


"sudah Abi katakan Husna, jangan meminta hal yang mustahil, lagi pula neng mu juga masih hidup, Fatin Shidqia putriku," kata ustadz Ahmad yang langsung memeluk putrinya itu.


ustadz Ahmad begitu bahagia, terlebih setelah tau jika Fatin masih hidup dan dalam perjalanan menuju ke sini.


Husna terkejut, bukankah mereka sudah menguburkan Fatin, bagaimana bisa wanita itu kembali hidup.


"Abi pasti ini penipuan, bagaimana bisa neng Fatin hidup lagi?" tanyanya.


"dia belum meninggal, dia di sekap oleh penjahat, meski pria itu juga merubah wajah Fatin tapi kami sudah jodoh yang di atur tuhan, jadi kami pasti akan di satukan bagaimana pun jalannya," jawab Mahi.


Mela mendekat dan melihat Mata itu tetap milik Fatin, dan saat dia membuka cadar Fatin.


wajah menantunya itu ternyata berubah menjadi sangat cantik, Mela pun memeluk tubuh Fatin


"maaf jika bunda sempat tak mengenali dirimu, bukan bunda ingin memaksa Mahi menikah, tapi bunda tak ingin Mahi terus larut dalam kesedihan yang mendalam, bahkan dia sampai kurus dan kehilangan keinginannya untuk hidup saat tau kamu meninggal dunia," kata Mela.


"iya bunda, tapi mohon maaf jika selama ini belum jadi menantu yang baik," kata Fatin yang kembali berpelukan dengan Fatin.


"tak masalah nduk, asal kan kamu bisa membahagiakan suamimu, itu cukup," kata Mela yang ukur bahagia.


akhirnya mereka ke area makam keluarga, Fatin pun mencabut nisan di kuburan itu.


tapi ustadz Yusuf meragukan, Fatin pun bersedia jika harus di tes DNA untuk menghapus keraguan pada pamannya itu dan masyarakat.

__ADS_1


terlebih dia membawa nama besar dari ayahnya dan juga suaminya.


__ADS_2