
Dila nampak lemas saat turun di bantu ustadz Ahmad, para warga pun langsung bahu membahu menurunkan jenazah.
setelah itu, Dila memilih mengaji sambil melihat jenazah sang bapak, dan kini jenazah akan segera di mandikan.
"maaf ... ini yang akan memangku masih kurang satu," tanya Mbah Mudin kematian.
"apa saya boleh?" tanya ustadz Ahmad.
"tentu nak, kamu menantunya, ambil tempat duduk dan Rozak, Jalu dan Edi tolong bawa jenazah kemari agar segera di mandikan," perintah Mbah Mudin.
"baik pak," jawab ketiganya.
mereka pun mulai memandikan, kemudian mengkafani jenazah pak Yono.
Dila mengambilkan baju ganti untuk ustadz Ahmad, "maaf hanya ada baju milik mas Andri, tapi ini baju Koko baru belum di pakai, jadi ustadz mau kan memakainya..." suara Dila terdengar serak.
"tebtu Dila, dan jangan sedih seperti ini, bapak akan berat meninggalkan kita nantinya," kata ustadz Ahmad.
"tapi bapak meninggalkan aku tanpa berkata apapun ustadz ..." tangis Dila.
ustadz Ahmad memeluknya sekilas, dan saat sudah tenang dia pun segera berganti baju dan akan memimpin sholat jenazah untuk mertuanya itu.
tanpa sadar tangis ustadz Ahmad pecah saat mengucapkan salam, bahkan saat berdoa suara ustadz Ahmad terdengar serak.
sholat jenazah yang kedua di pimpin oleh ustadz Yusuf, Bu Wati terlihat cukup tegar karena suaminya memang sudah sering mengatakan tentang kematian akhir-akhir ini.
akhirnya jenazah pun di berangkatkan ke makam desa, "bapak!!!" teriak Bu Wati yang kemudian pingsan.
Arif segera berlari untuk mengendong ibunya, sedang ustadz Ahmad mengajak Dila ke makam agar lebih merasa lega mengantar sang bapak ke peristirahatan terakhirnya.
"siapa yang mau turun," tanya Mbah Mudin.
Zainal dan ustadz Ahmad sudah turun ke dalam liang makam karena Arif tak ada, ustadz Yusuf yang mengantikan.
ketiganya pun menerima jenazah untuk di makamkan, ustadz Ahmad mengumandangkan adzan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
kemudian tanah pun di Uruk, Dila nampak sekuat tenaga tegar menyaksikan semua prosesi di temani keluarga dari sang ibu.
Mbah Mudin memimpin doa, setelah itu semua orang pamit pulang meninggalkan keluarga inti saja.
Zainal melihat ustadz Ahmad dan Dila yang masih nampak sedih atas kehilangan terbesar ini.
"maaf pak ustadz, semalam saya tak bisa menghadiri pernikahan kalian, sekarang Dila hanya memiliki mu sebagai sandarannya, maafkan aku Dila yang sempat membuatmu masuk kedalam neraka dengan memaksa mu untuk tetap tinggal di samping hendra, maafkan kebodohan dari mas mu ini," kata Zainal.
"Dila memaafkan mas Zainal, bagaimana pun mas Zainal tetap kakak pertama Dila," jawab Dila.
mereka pun pulang, Dila ingat jika mengajak Fatin, dia pun segera mandi dan menemui putrinya yang ternyata sudah di mandikan oleh Arumi.
beruntung fatin tidak rewel, Arumi di bantu sepupu Dila yang berusia lima belas tahun untuk menjaga Putranya.
"terima kasih Arumi, Fatin... maafkan ibu ya," kata Dila sedih.
Fatin langsung memeluk Dila, dan ustadz Ahmad membawa makanan yang di belikan oleh ustadz Yusuf untuk semua orang.
"Dila, makan dulu, jangan sampai sakit juga dan kamu harus kuat karena ada ibu yang juga harus kamu beri semangat," kata ustadz Ahmad.
setelah sarapan, Dila mengajak Fatin untuk bertemu Bu Wati, wanita itu masih nampak sedih.
Fatin kecil merangkak dan memeluk Bu Wati seakan mengerti jika wanita tua itu butuh pelukan.
Bu Wati pun memeluk Fatin dan menciumnya, " ya Allah... terima kasih susah memberikan cucu yang baik dan cantik ini, nak... bapak pernah bilang, jika bapak yakin pada seseorang yang akan melamar mu, dia sendiri ingin menikahkan mu dan pria itu, baru bapak mu merasa tenang meski Allah mengambil nyawanya saat itu juga," kata Bu Wati yang langsung membuat Dila menangis.
melihat itu Fatin kecil juga ikut menangis sambil di peluk oleh Bu Wati dan Dila.
akhirnya siang itu ustadz Yusuf dan pak Rusdy memutuskan untuk kembali ke yayasan bersama Arumi.
awalnya di tahan, tapi karena di yayasan tidak ada pengurus, jadi mereka memutuskan untuk kembali terlebih dahulu.
sedang ustadz Ahmad memilih menemani istrinya sampai tujuh harian sang mertua.
ustadz Ahmad juga meminta pengacara segera melakukan pengajuan sidang isbat nikah agar mereka segera memiliki dokumen sah.
__ADS_1
keluarga pakde gun yang me dengar tentang kematian pak Yono juga segera pulang.
mereka juga sudah tau tentang pernikahan Dila dan merelakan segalanya karena gila juga berhak bahagia.
malam hari pengajuan di lakukan bergiliran karena bersamaan dengan tetangga yang juga baru meninggal dunia kemarin.
ustadz Ahmad benar-benar menjalankan kewajibannya menjadi seorang menantu.
bahkan dia tak segan untuk bertanya atau melakukan apapun untuk kelancaran tahlilan selama tujuh hari.
selepas tujuh harian, ustadz Ahmad dan Dila harus pamit untuk kembali ke yayasan karena mereka sudah terlalu lama pergi.
bahkan ustadz Ahmad juga membatalkan beberapa undangan ceramah di luar kota demi menemani istri dan keluarganya.
Dila dan ustadz Ahmad berpamitan pada semua orang, Bu Wati pun memberikan hadiah kecil untuk cucu perempuannya itu.
"nanti kalau ibu sudah bisa keluar, main kesini ya, karena ibu pasti akan merindukan cucu cantik ini," kata Bu Wati.
"insyaallah ya Bu, kalau begitu kami pamit," kata Dila.
ustadz Ahmad menyetir sendiri menuju ke yayasan, selama perjalanan terasa begitu indah.
mereka benar-benar seperti keluarga sempurna, "terima kasih mas sudah mau dan menemani ku tinggal di sawi, terima kasih ...."
"kenapa berterima kasih,aku menantu keluarga itu, aku punya kewajiban untuk itu dek, dan Fatin juga sangat mudah dekat dengan keluarga mu," kata ustadz Ahmad tersenyum.
"ibu bilang, bapak akan menjadi wali saat benar-benar percaya pada pria yang meminang ku, dan beliau sendiri yang akan menikahkan aku dengannya, dan itu terbukti saat mas yang menjadi suamiku," kata Dila.
"benarkah? terus selama ini?" tanya ustadz Ahmad kaget karena baru mengetahui kebenaran ini.
"selama ini aku selalu di wakilkan kepada kakak-kakak ku, pernikahan pertama mas Zainal dan pernikahan kedua mas Arif, dan keduanya berakhir dengan caranya sendiri," jawab Dila meneteskan air mata.
"ya Allah bapak .... semoga keinginan beliau menjadi nyata ya dek, dan jika kamu belum siap jadi istri kita bisa saling mengenal terlebih dahulu," kata ustadz Ahmad.
"itu akan jadi dosa terbesar ku mas, saat aku menerima mas sebagai suamiku, maka aku sudah siap lahir batin, karena sekarang mas adalah ladang ridho dan pahalaku," jawab Dila.
__ADS_1
"Alhamdulillah jika kamu mengatakan itu," kata ustadz Ahmad yang tersenyum sekilas.