Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_jangan gerak dulu


__ADS_3

"tenang Dila, dia di rumah bersama umi, dokter bilang kondisimu sudah sangat baik tak perlu khawatir karena kamu berhasil melewati masa kritis," kata ustadz Ahmad.


"ustadz ... banyak omong ya..." lirih Dila.


"ini demi kamu, kamu tau hal tadi itu membahayakan, terlebih kenapa kamu merelakan dirimu terluka," kata ustadz Ahmad melihat Dila tajam.


"aku tak mau ustadz terluka karena kesalahan ku, jadi aku biarkan tubuhku yang menerima luka itu, tapi bagaimana mas Farid sekarang," tanya Dila.


"dia sudah di bawa ke kantor polisi, dan di pastikan oleh Ilham, pria itu tak akan bisa lolos," jawab ustadz Ahmad.


"jangan dendam ustadz... tak baik," kata Dila lemah.


"sudah ksmu istirahat saja, jangan berpikiran aneh-aneh," perintah ustadz Ahmad.


Dila pun menurut dan kembali menutup matanya, sedang ustadz Ahmad berbohong tentang Farid, pasalnya pria itu mati dengan membunuh dirinya sendiri.


terlebih setelah ada berita besar yang terjadi dan menghancurkan hati pria itu.


〰️seminggu yang lalu 〰️


Dila masih di rumah sakit baru menjalani operasi dan dokter mengatakan jika kondisinya sangat buruk.


bahkan Dila tak sadarkan diri meski operasinya berhasil, "apa ini hukuman untuk ku, aku mohon buat dia sadar ya Allah,"


sedang di kantor polisi, ustadz Ilham benar-benar mengurus semuanya dengan baik.


tapi saat dia masih memberikan kesaksian yang akan memperberat hukuman dari Farid.


setelah itu dia pulang, dan meminta Anisa untuk bergantian menjada Dila karena ustadz Ahmad memiliki jadwal yang tak bisa di tinggalkan.


di penjara rumah mewah itu, Bayu sudah berhasil membuat kunci dari sebuah kawat yang dia temukan.


dan dia bisa keluar dengan santai, "pria busuk, aku sudah keluar dari sini sekarang aku akan membunuhmu,"


Bayu pun mengambil balok dan menghajar semua penjaga ruangan yang di gunakan untuk mengurungnya itu.


Bayu pun meregangkan otot-otot tubuhnya, dan mengambil pistol dan Juga pisau yang di jadikan pajangan.


dia berjalan keluar dengan santai, dan langsung menembak mati ayahnya, dan hal itu mengejutkan untuk Anna.


"ayah!!! apa yang kamu lakukan mas!!!" kata Anna ketakutan.


"aku sudah bilang, jika aku keluar aku akan membunuhnya, dan juga dirimu, jadi kamu harus siap mati," kesal Bayu yang mendorong mayat ayahnya.


Anna sudah mundur karena ketakutan, para pelayan tak berani mendekat karena takut akan jadi korban juga.


Bayu mendekat kearah Anna, "tunggu mas, anda mau apa? tolong jangan mendekat, aku akan melakukan apapun untuk mu, tapi tolong jangan lukai aku, karena aku hamil putra mu," mohon Anna.


Bayu tanpa bicara langsung menampar pipi istrinya itu hingga tersungkur.


bahkan perutnya menghantam lantai, "argh.... sakit!!!" teriak Anna yang memegangi perutnya.

__ADS_1


bahkan darah keluar dari kaki wanita itu, pelayan yang biasanya menemani Anna tak tega.


"nyonya muda!" teriaknya dengan sangat keras.


batu dengan dingin melihat dan langsung menembak wanita itu dengan datar.


"sudah ku katakan jangan ikut campur,"


Anna pun tak sanggup lagi terlebih orang yang selama ini terus membantunya ikut terbunuh dengan kejam.


"mas aku mohon, tolong jangan sakiti aku, aku sedang hamil, tolong selamatkan bayi kita," mohon wanita itu menahan sakit.


"baiklah, aku akan menyelamatkan bayimu itu, bayi mu itu bisa matikan kalau tak di keluarkan," kata Bayu yang sudah menyeringai kejam.


pria itu langsung mengambil pisau yang dia bawa, dan membelah perut dari Anna.


wanita itu berteriak kesakitan hingga semua orang menutup kupingnya karena begitu pilu.


darah mengenang di mana-mana, dengan kejam Bayu mengangkat putranya yang baru dia keluarkan dari perut Anna.


suara teriakan Anna dan tangisan bayi itu menjadi satu di rumah mewah itu.


sedang Anna sudah meregang nyawa karena ulah Bayu, "kamu begitu menginginkan anak ini bukan, aku akan berikan padamu dan lihat ini," kata Bayu tersenyum.


tak terduga batu langsung membanting bayi yang tak berdosa itu ke lantai.


Anna hanya bisa menangis dan kemudian meninggal dunia, begitupun bayi kecil itu juga sudah tewas di tangan ayah kandungnya.


sedang Bayu mengambil cerutu milik sang ayah, dan mulai menghisapnya dan menikmati minuman beralkohol dengan santai setelah menghabisi semuanya.


tak lama dia pun menangis sendiri, "mama aku kangen ma... aku ingin menemui mu, aku sudah bosan hidup karena semua yang aku mau dan inginkan tak pernah bisa aku dapatkan," gumamnya.


Bayu mengambil pistol miliknya, dia pun mengarahkan ke arah mulutnya, dan menekan pelatuk pistol membunuh dirinya sendiri karena sudah merasa frustasi.


para pelayan yang ketakutan pun langsung menghubungi polisi, dan berita tentang kematian itu membuat berita gempar satu kota.


bahkan berita itu terus menghiasi berita seminggu ini, Weni bahkan tak bisa percaya dengan apa yang terjadi.


karena pas kejadian berdarah itu terjadi, dia sedang berada di Singapore untuk melakukan operasi dan merawat diri.


dia pun mengantarkan keluarganya ke peristirahatan terakhirnya, sedang ustadz Ahmad datang untuk menemui Farid di penjara dengan Rusdy.


"wah ada apa ini ustadz dan tuan Rusdy yang terhormat, kenapa kalian datang kesini? ingin menghinaku hah?" tanya Farid ketus.


"tidak, kami hanya ingin menemui dan melihat mu, dan semoga kamu merenungkan segalanya, dan tak bertindak bodoh lagi," kata ustadz Ahmad.


"itu bukan urusan mu ustadz, karena aku tak peduli dengan siapapun kecuali Anna, wanita yang harusnya bisa bebas dari belenggu iblis itu, tapi karena kebodohan wanita itu, aku malah harus berakhir di sini," kata Farid tertawa.


"entahlah, apa ini akan baik, semuanya sudah menjadi bubur Farid, karena wanita yang ingin kau lindung susah mati," kata pak Rusdy.


"jangan asal bicara, dia pasti akan sehat, aku yakin itu!!" bentak Farid tak terima.

__ADS_1


Rusdy mengeluarkan beberapa koran dari tas yang dia bawa, Rusdy menaruhnya di meja.


"entah sekarang jika tidak keberatan, kau bisa membaca dan melihatnya sendiri," kata Rusdy yang kemudian pergi bersama dengan ustadz Ahmad.


Farid mengambil koran itu dan mulai membaca barisan berita di koran itu, dan Farid kaget melihat berita tentang kematian keluarga Bayu dengan cara di bantai dengan kejam.


"tidak mungkin itu terjadi, tidak mungkin, tak mungkin mereka mati," kata Farid sedih.


pria itu sangat syok berat, dan tak mengira jika anna akan mati dengan cara yang begitu kejam.


farid pun merasa frustrasi,


dia pun tengelam dalam depresi terdalam, membayangkan apa yang telah di lakukan oleh Bayu pada Anna dan kandungannya.


karena terlalu sedih dan frustrasi, Farid pun melakukan hal gila dengan membenturkan kepalanya sendiri setelah mengiris nadinya.


akhirnya pria itu mati di dalam penjara karena bunuh diri, dan polisi juga mendapatkan surat terakhir pria itu.


ustadz Ahmad yang tau pun memilih diam, dan fokus untuk membuat Dila tersadar.


karena wanita itu sudah lima hari koma, bahkan tak ada tanda-tanda akan sadar.


tapi hari keenam, Anisa mengajak Fatin untuk untuk mengunjungi dila, dan saat sampai di sana.


Anisa menaruh Fatin di samping dila, balita itu pun memukul-mukul dada Dila pelan


ustadz Ahmad pun meminta Anisa mengajak putrinya pulang, karena tidak baik untuk bayi itu terus disana.


ustadz Ahmad menghela nafasnya pelan, tak lama umi Chasanah datang bersama Anisa serta si cantik Fatin.


"Bu.. Bu..." celoteh Fatin saat melihat sosok Dila.


ustadz Ahmad menyapa kedua wanita itu dan mengendong Fatin yang terus berontak menunjuk Dila.


"lihat sayang ibu sedang tidur," kata ustadz Ahmad.


tapi bocah itu sudah berkaca-kaca, dan ustadz Ahmad pun tau jika putrinya itu sangat merindukan Dila.


ustadz Ahmad pun mulai menidurkan putrinya itu di samping Dila, dan Fatin menepuk pipi Dila.


"em... siapa?" gumam Dila yang melirik sekitar.


dia pun ingin bangun saat melihat Fatin yang tidur di dadanya, tapi ustadz Ahmad mengeleng sambil menatapnya tajam.


"Fatin..." lirih Dila.


umi Chasanah dan Anisa pin mendekat, "Alhamdulillah ya nak, akhirnya kamu sadar juga," kata umi Chasanah.


"iya umi, tapi memangnya saya tidur berapa lama, kok kayaknya Fatin rindu sekali?" tanya Dila penasaran.


"seminggu Dila, kamu terlalu lama tidur, kasihan Fatin yang terus menangis jika merindukan mu," kata Anisa.

__ADS_1


"sudah tak perlu sedih, yang penting sekarang Dila sudah sehat dan tak dalam bahaya lagi," kata ustadz Ahmad.


mereka pun setuju, Fatin benar-benar tak ingin lepas dari ibu asuhnya itu, dan Dila juga meski harus berhati-hati karena jahitannya juga belum kering.


__ADS_2