
Mahi mendapati kabar dari pihak kepolisian tentang dalang dan otak pembunuhan.
sedang di rumah sakit, tim yang menjadi anggota yang mengotopsi jenazah Fatin sedang tersenyum bahagia.
pasalnya mereka menerima uang dua ratus juta satu orang sebagai imbalan.
mereka tak menyangka jika akan melihat orang yang begitu berani, bahkan untuk membayar jumlah yang sangat besar seperti ini.
Nasya sedang menyiapkan baju Aliya, meski air matanya tak mau berhenti menetes, pasalnya dia baru saja kehilangan Putrinya.
Nasya pun bergegas pulang untuk membawakan semua barang milik Aliya.
dia pun naik ke mobilnya, sedang Mahi yang dapat kabar seperti itu langsung bergegas ke rumah sakit.
bahkan Mela kaget saat melihat Mahi yang turun dan pergi dengan buru-buru tanpa mengatakan apapun.
dia bahkan langsung bergegas pergi dengan mobil miliknya, bahkan Hendra tak bisa menghentikan putranya itu.
Hasan yang juga mendapatkan kabar dari pihak kepolisian, akan berangkat pergi bersama Husain.
Hendra memilih untuk kedua pemuda itu, pasalnya dia khawatir pada kondisi Mahi yang masih belum stabil setelah kejadian terakhir.
bahkan putranya itu nampak masih syok dengan kehilangan Fatin, kedua mobil itu berkejaran tanpa henti.
sesampainya di kantor polisi, ketiganya bergegas masuk terlebih Mahi sudah masuk duluan.
"selamat datang, mati ikut saya ke ruangan, karna kami sudah berhasil memulihkan semua data ponsel yang fi temukan di sekitar mayat, dan ternyata itu adalah milik eksekutor, dan ada beberapa bukti tentang percakapan hingga bukti permintaannya untuk menculik istri anda," kata pihak kepolisian.
"baiklah pak, saya ingin tau segalanya, tolong tunjukkan pada saya," mohon Mahi.
__ADS_1
"silahkan duduk dulu, nanti kamu akan menunjukkan semuanya," jawab pihak kepolisian.
mereka pun duduk, dan mulai terlihat beberapa chat dan percakapan antara penyuruh pembunuh itu.
"bagaimana kamu bisa membereskan wanita itu?" terdengar suara wanita yang mengirimkan voice note.
"tentu nyonya, asal bayarannya cocok, tapi setelah kami menculiknya dia milik kami, apa setuju, karena saya tergoda olehnya," jawab eksekutor itu.
"terserah padamu," jawab wanita itu.
"itu adalah bukti kongkrit, dan pemilik nomor itu adalah, nona Nasya Marcella, apa anda mengenalnya tuan?" tanya pihak penyelidik.
"apa, Nasya, aku tak percaya itu!!" kaget mshi yang melihat foto wanita itu.
"ada masalah Mahi?" tanya Hendra.
"berarti sudah di pastikan, dia ingin menyingkirkan istri anda agar bisa dekat dengan anda dan mengantikan istri anda, sebagai wanita anda," jawab polisi itu memberikan argumen.
Mahi terduduk lemah, sedang polisi langsung mengerahkan seluruh tim buru sergap.
mereka tak ingin kehilangan kesempatan untuk menangkap wanita itu.
sedang Hasan dan Husain mengirimkan pesan pada keluarganya agar tenang.
Mahi masih nampak tak percaya, Fatin yang selalu ingin menolong Aliya tapi dengan kejam.
wanita yang ibu dari gadis itu malah merencanakan semua hal buruk ini, dari mulai penculik dan pembunuhan.
mereka menunggu di kantor polisi, sedang para polisi sampai di rumah dari wanita itu.
__ADS_1
pembantu di sana terlihat kaget melihat rombongan polisi, "selamat sore, kami ingin menangkap nona Nasya atas dugaan perencanaan penculikan dan pembunuhan atas saudari Fatin Shidqia," kata polisi menunjukkan surat tugas mereka.
para polisi wanita langsung masuk dan mencari wanita itu, dan tak lupa mereka juga menggeledah rumah untuk mencari bukti.
"saudari Nasya mari ikut kami ke kantor polisi, anda terbukti menjadi otak dari penculikan dan pembunuhan atas saudari Fatin Shidqia," kata polisi wanita.
tapi saat mereka mendekati sosok Nasya, ternyata wanita itu sudah bunuh diri dengan minum racun dan mengiris nadi tangannya sendiri.
para polisi pun kaget, tapi mereka melihat rekaman CCTV ternyata wanita itu memang murni bunuh diri.
terlebih para pengurus rumah mengatakan jika wanita itu frustasi karena kehilangan putri kecilnya yang meninggal dunia beberapa hari yang lalu.
Mahi dan semua keluarga tak percaya dengan apa yang di dengarnya, pasalnya mereka tak menyangka jika wanita itu bisa memilih jalan singkat seperti itu.
Mahi pun pulang dengan sedih, sedang semua keluarga ustadz Ahmad sudah mulai tabah menjalani ujian ini.
terlebih semua harus tetap berjalan, karena pernikahan dari Husna dan Abdul juga semakin dekat.
Mahi pun menemui ustadz Ahmad, sesampainya di depan mertuanya itu, Mahi langsung bersimpu menangis sesenggukan.
pasalnya dia tak bisa jadi suami yang baik untuk istrinya itu, karena dirinya Fatin harus mengalami hal seburuk itu.
"yang sabar le, kami juga sedih, tapi pasti Fatin akan sedih saat melihat mu dalam kondisi seburuk ini, kamu harus bangkit dan jalani hidup mu," kata ustadz Ahmad.
"bagaimana bisa Abi, dek Fatin itu hidup dan kebahagiaan ku, bagaimana caranya?" tangis pria itu.
"kamu masih muda nak, kalau sulit abdikan hidup mu untuk membantu setiap orang yang membutuhkan, terlebih pekerjaan mu juga sangat mulia dengan mengobati orang," jawab ustadz Ahmad mengusap kepala menantunya.
"baik Abi...."
__ADS_1