
kemarin sebelum keberangkatan Dila dan ustadz Ahmad umrah, di yayasan sedikit terjadi kekacauan karena baru di ketahui jika mrla sedang hamil janin dari hasil pemerkosaan itu.
Dila tau jika itu bayi milik abdi, tapi dia meminta ustadz Ahmad menghubungi keluarga dari Mela, dan meminta pria yang melakukan hal bejat itu untuk bertanggung jawab.
bagaimana pun kondisi dari Mela sekarang karena ulahnya, dan Ridwan pun berhasil meyakinkan keluarga besar istrinya itu.
bahkan tanpa terduga, saat Bu Eka tau, wanita itu sampai datang untuk memohon pada keluarga Mela.
meski awalnya di tolak tapi akhirnya semuanya pun setuju karena akan jadi aib jika Mela harus menikah dengan pria lain.
tapi semua keputusan ada di tangan Mela, sekarang dia sedang sangat syok kembali, gadis yang hampir pilih kini harus kembali memburuk keadaan mentalnya.
kulsum dan Anisa yang akan menjaga gadis itu selama Dila dan ustadz Ahmad pergi.
bagaimana pun gadis itu butuh pendampingan selama penyembuhannya.
__ADS_1
saat kepergian dari Dila pun mela mengantar sampai depan yayasan, dan selama tiga Minggu kedepan adalah fase dari penyembuhan dengan metode Anisa.
bebar saja selama Dila pergi, mereka membuat Mela sangat tangguh dan siap menghadapi ria yang sudah merusak masa depannya.
seperti hari ini setelah empat bulan kejadian itu, Mela sudah berani untuk mengunjungi penjara untuk menemui Hendra di sana bersama Ridwan.
meski awalnya Ridwan tak mau tapi Mela meyakinkan pria itu untuk mengantarkan dirinya menemui pelakunya.
mereka berdua pun masuk dan tak lupa membawa makanan untuk pria itu.
terdengar langkah kaki memasuki ruangan temu itu, seorang pria dengan potongan rambut cepak dan di wajahnya ada beberapa luka.
"jika bukan karena adik sepupuku aku juga tak mau datang kemari asal kau tau," ketus Ridwan yang tak kalah jengkel.
"assalamualaikum tuan, mungkin kamu tak mengenalku, tapi pasti bisa merasakan diriku hujan, gadis yang kalian lecehkan apa ingat?" kata Mela dengan suara tegas.
__ADS_1
"mau apa kamu, butuh bantuan ku memberikan nama, apa kamu lupa jika aku tak akan memiliki anak," kata Hendra mengejeknya.
"aku tau, bahkan aku tau semua kisah hidup mu, jika kamu ingin menebus kesalahan mu, coba besarkan anak ini, agar kamu bisa melihat dosa ku yang tumbuh dalam kehadiran setiap tarikan nafasnya, tak perlu kamu menikahiku, karena aku juga tak butuh pria tak berguna seperti mu," kata Mela.
"tutup mulut mu wanita!" bentak Hendra.
"kau yang tutup mulut mu, jangan bersikap sok hebat, kamu itu pecundang, dulu kamu menghancurkan hidupmu sekarang pun sama, aku bukan gadis bodoh lagi yang bisa kau tidak, aku sekarang ibu yang berjuang untuk bayinya, jadi pikirkan itu baik-baik, anggap saja itu penebusan dosa mu pada ku dan anak ini," kata Mela tegas.
Hendra pun diam, baru kali ini dia melihat wanita setegas ini, "memang seandainya aku menyetujui menikahimu, apa kamu tak malu punya suami seorang narapidana, pelecehan pula," kata Hendra menantang.
"aku tak butuh dirimu, aku hanya butuh namamu untuk bagiku, kamu tau itu, jika setelah kamu keluar kamu mau jadi apapun itu bukan urusan ku," kata Mela yang kemudia berdiri dan pergi.
tapi dia menghentikan langkahnya dan berbalik, "oh ya itu ada masakan dan kue yang kamu sukai, dan aku khusus meminta resep pada mbak Dila untuk membuatnya, karena aku tau benar kami masih terobsesi dan hampir gila karena mantan istrimu itu, dan asal kamu tau aku ingat nama yang kami ucapkan saat menodai ku, yaitu Dila ... Dila ... Dila .... hanya nama itu yang kamu sebut, dasar pria bodoh menyesal saat orang yang sudah kamu sia-siakan bahagia, kamu itu manusia paling bodoh di dunia ini mungkin," kata Mela yang kemudia pergi.
sedang hendra menatap oleh-oleh yang di bawa Mela dan Ridwan, "sudah ingat dan dengar, pikirkan demi bayi itu dan ibumu yang juga semakin tua, karena Mela juga gadis yang mengerti agama, jika sudah punya pilihan tolong hubungi aku," kata Ridwan tersenyum dan pergi.
__ADS_1
"dasar keluarga aneh, tapi ucapannya benar, aku sudah terlalu terobsesi dengan Dila, seharusnya aku mengikhlaskan Semuanya, dan harus melanjutkan hidupku," gumam f
Hendra yang kemudian masuk membawa bungkusan itu.