
Hidup janganlah diperbudak kemewahan
Dunia sementara dan kekal di akhirat
Reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Seberapa pun jumlah pembaca, like, comments, favorit dan vote nya insyaallah author tetap akan selalu update dan menyelesaikan novel ini sesuai planning. ☺
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Pagi yang cerah bagi jiwa yang sepi. Anand masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tendangan dan pukulan Aryan tidaklah main-main. Dokter yang dipanggil mamanya juga sudah memberikan obat pereda nyeri dan salep penghilang memar.
"Sebaiknya kamu tidak muncul di hadapan papa dulu!" Titah Nyonya Gita.
"Tapi, bagaimana jika Aryan mengatakan semuanya pada papa? Yang ada, papa bakal lebih marah nantinya."
"Tidak mungkin Aryan mengatakannya pada papa, pasti dia kasihan padamu dan pada mama."
"Tidak, ma! Kali ini berbeda. Aryan tidak akan menutupi kesalahanku karena ini menyangkut Tara."
"Sudah lah!"
"Percaya pada mama. Nanti mama akan bantu bicara pada papamu. Jangan khawatir! "
"Yang penting lukamu sembuh dulu. Jangan biarkan orang lain melihat lukamu ini!" Nyonya Gita memperingatkan Anand.
"Aryan keterlaluan sekali menghajarmu sampai memar-memar begini. Bagaimanapun juga kan kalian saudara." Nyonya Gita menggerutu.
"Mama jangan keterlaluan pada Aryan!" Anand sedih mendengar ucapan mamanya.
"Mama selalu menyayangimu hingga kamu jadi arogan dan tak mau mengalah."
"Tara itu istriku, bukan harta atau benda yang bisa ku bagi dengan saudara kembarku!"
"Kenapa kamu begitu egois?"
"Mama selalu memanjakanmu, memaafkan setiap kesalahan yang kamu perbuat dan bahkan berusaha menutupi kesalahan-kesalahanmu."
"Sedangkan papa selalu menuntutku untuk berprestasi lebih dan tidak boleh mengecewakannya."
"Aku kurang bagaimana, Nand?"
Suara Aryan terngiang-ngiang di telinga Anand.
"Kenapa kamu jadi membela Aryan? Bukankah dia telah menghajarmu sampai seperti ini?" Bingung dengan perubahan Anand.
"Aku juga keterlaluan."
"Aku juga ingin merasakan cinta Tara hingga aku pergi menemuinya sebagai Aryan." Papar Anand.
"Pantas tiba-tiba kamu merubah penampilan seperti Aryan, padahal kamu paling sayang dengan rambut gondrong mu itu." Mengingat kemarin pagi saat Anand merubah dirinya jadi seperti Aryan.
"Sungguh tidak ku sangka Tara mengenaliku hanya dengan satu kali tatap saja. Bahkan aku justru terus berbohong hingga aku tidak dapat menahan emosi." Melanjutkan cerita pada mamanya.
__ADS_1
"Jika hanya begitu, kenapa Aryan sangat marah? Apa yang kamu lakukan pada Tara hingga Aryan semarah ini?" Penasaran.
"Aku hanya ingin mencium dan memeluknya, aku ingin dia tahu kalau aku juga mencintainya. Namun dia terus melawan hingga aku tidak sabar dan memaksanya." Tatapan Anand kosong, merutuki kebodohannya.
"Harusnya kamu berlaku lembut jika ingin dicintai! Kamu merubah penampilanmu menjadi seperti Aryan, tapi tidak dengan perilakumu yang tidak sabaran itu." Nyonya Gita tidak sedikitpun merasa perbuatan Anand salah.
"Kenapa mama berkata seperti itu? Aryan itu kembaranku, ma! Dia anak mama juga."
"Aku pun pasti marah jika wanita yang ku cinta disentuh oleh orang lain, apalagi oleh saudaraku sendiri."
"Aryan hanya berpihak pada papamu saja, dia lebih sering bersama papamu daripada mama. Cuma kamu yang sayang sama mama."
"Mama selalu memanjakanku hingga aku jadi seperti ini. Harusnya mama biarkan papa mendidik aku dengan keras, seperti yang papa lakukan pada Aryan." Anand kecewa dengan mamanya.
"Mama selalu menyayangimu, tapi malah ini balasanmu?" Teriak Nyonta Gita.
"Aku menyayangi mama, tapi aku juga menyayangi papa. Aku juga butuh cinta dari papa, ma!" Membantah mamanya.
"Kalian berdua adalah orang tua kami, kenapa harus menyayangi salah satu saja? Harusnya mama menjadi jembatan antara papa dan aku. Harusnya mama mempersatukan kami semua."
"Aryan juga butuh cinta dan perhatian mama, dia juga merindukan kasih sayang mama. Semandiri apapun Aryan, dia tetap membutuhkan kasih sayang mama." Anand menyadari kesalahannya selama ini.
Nyonya Gita meninggalkan Anand tanpa bicara, antara kecewa dengan sikap Anand atau sedih karena mulai menyadari kesalahannya juga. Selama ini dia terlalu fokus dengan Anand saja tanpa peduli dengan kesulitan Aryan. Dia pikir Aryan sudah mampu mengatasi semuanya sendiri tanpa bantuannya lagi.
...…...
Aryan mendatangi papanya di kantor pusat Cakra Wangsa Group. Para karyawan heran dengan tampang Aryan yang sedikit terluka bekas perkelahiannya dengan Anand. Aryan yang biasanya ramah, datang dengan wajah yang kurang bersahabat.
Tok… tok… tok…
"Masuk…" Ucap Tuan Indra.
"Aryan? Aku kira pengantin baru masih bermesraan di rumah." Kelakar Tuan Indra.
"Pa, Aryan kesini untuk bicara hal penting." Jelas Aryan.
"Apa kamu ingin honeymoon ke luar negeri?" Tebak Tuan Indra.
"Bukan, pa! Ini lebih penting dari itu, ini soal keluarga kita."
"Sebentar... Wajahmu kenapa? Habis berkelahi dengan siapa? Ada masalah apa?" Penasaran kenapa ada bekas pukulan di wajah Aryan.
"Oh, ini tadi nggak sengaja jatuh." Mencoba merahasiakan pertengkarannya dengan Anand.
"Apa kamu sudah tidak menganggap papa? Sudah main rahasia-rahasiaan sama papa." Berjalan menuju sofa dan mengajak Aryan duduk.
"Aku mohon papa jangan tersinggung, ini urusan anak muda." Aryan masih berkilah.
"Urusanmu dengan Anand?" Mulai memancing.
"Ah, papa jangan asal menebak." Aryan masih menutupi.
"Aku kesini ingin bicara serius, pa."
"Papa juga serius dari tadi."
"Baiklah, katakan apa yang ingin kamu bicarakan!" Titah Tuan Indra.
"Aku mohon papa jangan tersinggung dan jangan emosi." Pinta Aryan.
__ADS_1
"Papa tidak janji, tergantung kamu mau ngomong apa."
"Pa, aku tidak menginginkan saham atau harta papa, sebaiknya papa berikan untuk Anand saja." Mencoba bicara setenang mungkin.
"Apa maksudmu, Aryan?" Tuan Indra kaget.
"Aku sudah punya bisnis sendiri, pa. Walaupun tidak sebesar punya papa, setidaknya itu sudah cukup untuk aku dan Tara." Jelas Aryan.
"Kamu tahu sendiri kan kalau papa sudah meyiapkan kamu sebagai CEO Cakra Wangsa Group?"
"Papa tahu kalau kamu mampu. Sayembara itu cuma akal-akalan papa agar papa bisa memberimu 60% saham dan kekayaan papa."
"Apa kamu tidak kasihan pada Cakra Wangsa Group? Akan jadi seperti apa perusahaan ini jika dipegang oleh Anand?" Tuan Indra gusar.
"Anand juga anak papa, kenapa papa tidak menyiapkannya sebagai calon CEO Cakra Wangsa Group?"
"Aryan, kamu tentu tahu Anand seperti apa!" Tuan Indra tidak setuju.
"Cobalah untuk memberi kesempatan pada Anand, pa! Aku sudah cukup puas dengan bisnisku sendiri." Terang Aryan.
"Apa Anand yang memintamu mengatakan ini semua padaku? Atau mamamu yang menyuruhmu?"
"Ini kemauanku sendiri, pa. Yang paling penting bagiku hanya Tara."
"Tidak mungkin kamu berubah pikiran kalau bukan karena Anand atau mamamu." Suara Tuan Indra mulai meninggi.
"Kamu habis bertengkar dengan Anand 'kan?"
"Pasti Anand tidak terima jika papa memberikan 60 % kekayaan dan saham padamu."
"Iya, 'kan?" Tuan Indra menuntut jawaban dari Aryan.
"Pa, aku sudah mendapatkan cintaku karena papa. Itu sudah cukup dan aku sangat berterima kasih."
"Papa juga sudah memberi bekal kemampuan berbisnis. Dulu aku merasa tertekan karena harus dewasa sebelum waktunya, tapi kini aku bersyukur karena didikan papa yang keras membuatku bisa menjadi seperti sekarang ini."
"Sekarang waktunya papa memberikan kepercayaan dan mengajari Anand untuk menjadi calon CEO yang baik." Aryan mengalah dan mencoba menjadi penengah.
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk Cakra Wangsa Group, tentu kamu juga menginginkannya 'kan?"
"Jadi jangan minta papa untuk mengubah keputusan. Anand harusnya mengerti kamu lebih mampu untuk menjadi pimpinan."
"Mamamu selalu memanjakannya. Dia jadi mirip sekali dengan mamamu."
"Mau mirip papa atau mama, kami berdua adalah anak papa dan mama, jadi tidak seharusnya dipermasalahkan." Aryan mengingatkan papanya.
"Papa hanya perlu memberi Anand kepercayaan dan mengajarinya seperti papa mengajariku. Anand merindukanmu, pa."
"Papa akan mengajarinya dan mencoba memperlakukannya seperti perlakuan papa padamu. Tapi keputusan papa untuk menjadikanmu pimpinan tetap tidak akan berubah."
"Papa harap kamu tidak akan mengecewakan papa! Kasihanilah orang tua ini." Tuan Indra menepuk-nepuk pundak Aryan.
Mereka berdua tidak sadar kalau Nyonya Gita sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Aryan, kamu hanya merendah untuk menjadi tinggi. Tapi aku cukup senang kamu memikirkan Anand dan masih menutupi kesalahan Anand." Batin Nyonya Gita.
Nyonya Gita pergi meninggalkan kantor pusat Cakra Wangsa Group tanpa bertemu dengan suaminya dulu.
.................
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.